NovelToon NovelToon
Sovereign Asura

Sovereign Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilfar Aksara

‎"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."

‎Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
‎Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
‎Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.

‎Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
‎Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
‎Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
‎Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.

‎Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
‎Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.

‎Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
‎Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.

‎Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.

‎"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 - Pengorbanan Sunyi

‎Langit di atas Pulau Emberwind masih diselimuti kegelapan.

‎Angin malam berembus pelan membawa debu dan abu dari bekas pertempuran yang baru saja berakhir. Tidak ada suara selain reruntuhan yang sesekali bergeser dan percikan api kecil yang masih menyala di antara puing-puing aula.

‎Tubuh Vaelor tergeletak di atas tanah yang retak.

‎Darah mengalir dari sudut bibirnya.

‎Napasnya semakin lemah.

‎Kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan.

‎Vaelor merasa hampa. Banyak penyesalan yang belum ia tuntaskan. Vaelor merasa dirinya tidak bisa mati seperti ini.

‎Namun di tengah kehampaan itu, Vaelor melihat sesuatu.

‎Sebuah padang rumput luas yang diterangi cahaya keemasan.

‎Ia berdiri di sana dalam keadaan utuh. Kedua tangannya kembali ada, dan luka-luka di tubuhnya menghilang.

‎"Tempat apa ini...?"

‎Vaelor mengerutkan kening.

‎Langkah kaki terdengar dari belakang.

‎Saat menoleh, kedua matanya membelalak.

‎"Zagred..."

‎Kakek tua itu berdiri dengan senyum yang sama seperti terakhir kali Vaelor melihatnya.

‎Tidak ada luka.

‎Tidak ada darah.

‎Tidak ada aura mengerikan.

‎Hanya seorang lelaki tua yang tampak damai. Senyum khasnya membuat Vaelor merasa hangat.

‎"Aku sudah mati, jadi jangan menatapku seperti itu," ucap Zagred sambil tertawa kecil.

‎Vaelor mengepalkan tangannya.

‎"Kau masih sempat bercanda?" teriak Vaelor dengan sejuta pertanyaan dikepalanya.

‎Wajah Zagred berubah serius, "Karena aku tidak punya banyak waktu. Kau melihat sebagian ingatanku saat menyerap ledakan tadi, bukan?"

‎Vaelor terdiam. Ia mengingat kilasan-kilasan yang muncul dalam pikirannya.

‎Perang.

‎Pengkhianatan.

‎Tangisan.

‎Dan sosok yang selama ini berada di balik semua tragedi.

‎Noctis. Di Kerajaan Flameheart, ia dikenal sebagai Tetua Vipera salah satu dari Lima Sage Api, sedangkan di Kerajaan Slyph, ia dikenal sebagai Tetua Aleazea.

‎Noctis memiliki tujuan untuk membangkitkan sosok Raja Iblis Astaroth di Kerajaan Slyph, dengan mengorbankan seluruh nyawa penduduk disini.

‎Mengetahui itu, Vaelor mengepalkan tangannya dan kepalanya menunduk lemah saat mengetahui kebenaran yang disembunyikan Zagred.

‎Kebenaran tentang kematian Ayahnya. Vaelor merasa putus asa dan kecewa saat mengetahui kebenarannya.

‎"Jadi semua itu benar..." gumam Vaelor.

‎Zagred mengangguk.

‎"Ayahmu tidak dibunuh karena aku menginginkannya."

‎Vaelor menatap tajam Zagred dan berteriak, "Kau tetap menusukkan tombak itu!"

‎"Tidak." Jawaban Zagred membuat Vaelor membeku.

‎"Aku bukan orang yang mengendalikan tubuhku saat itu."

‎Vaelor merasakan dadanya sesak.

‎"Kau berbohong."

‎"Aku berharap itu benar." Tatapan Zagred menjadi suram.

‎"Selama puluhan tahun, Noctis menanam benih kegelapan di dalam diriku dan Ayahmu. Sedikit demi sedikit. Hingga pada akhirnya aku kehilangan kendali, begitu juga dengan Ayahmu."

‎Vaelor menundukkan kepala.

‎Potongan-potongan ingatan yang ia lihat mulai tersusun.

‎Ia melihat Zagred berusaha melawan.

‎Melihat Kakek tua itu menangis.

‎Melihat dirinya memohon kepada mendiang Ayahnya untuk membunuhnya sebelum semuanya terlambat.

‎Namun semua sudah terlambat.

‎"Kenapa kalian tidak mengatakan yang sebenarnya kepadaku?" suara Vaelor bergetar.

‎"Karena ayahmu melarangnya."

‎"Ayah?" Vaelor melemah tubuhnya dan terhuyung lemas.

‎Zagred tersenyum pahit.

‎"Pesan terakhir Ayahmu adalah menjauhkanmu dari kebencian."

‎Vaelor terdiam.

‎"Kau tahu apa yang paling ditakutkan ayahmu?"

‎"Tidak." Vaelor menggelengkan kepalanya.

‎"Bahwa suatu hari kau akan tumbuh menjadi orang yang hanya hidup demi balas dendam." Zagred memberitahu kebenarannya.

‎Angin lembut berembus melewati mereka.

‎Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Vaelor tidak merasakan amarah.

‎Hanya kesedihan.

‎Kesedihan yang sangat dalam.

‎"Aku merindukannya..." bisiknya.

‎Zagred tertawa kecil. Ia juga merindukan sosok sahabat yang telah lama tiada itu.

‎"Aku juga..." ucap Zagred singkat.

‎Keduanya terdiam cukup lama. Kemudian tubuh Zagred mulai memudar. Partikel-partikel cahaya muncul dari tubuhnya.

‎Waktu mereka hampir habis.

‎"Vaelor." Kakek tua itu memanggil Vaelor.

‎"Masih ada sesuatu yang harus kau lakukan."

‎"Apa?" Vaelor bertanya dan memberitahu kondisi tubuhnya yang seharusnya telah mati.

‎"Noctis belum mencapai tujuan akhirnya." Tatapan Zagred berubah tajam, "Aku berhasil mempertahankan kesadaranku disaat-saat terakhir dan mungkin untuk momen ini."

‎"Ia sedang mencari Gerbang Abyss."

‎Jantung Vaelor berdetak kencang.

‎Gerbang Abyss.

‎Nama itu pernah muncul dalam catatan kuno kerajaan.

‎Sebuah gerbang yang konon menghubungkan dunia manusia dengan tempat asal para iblis.

‎"Jika gerbang itu terbuka sepenuhnya..."

‎"Dunia akan berakhir. Sama halnya dengan apa yang terjadi di Benua Avalon."

‎Zagred menjelaskan tujuan Noctis dan tujuan akhirnya ada kebangkitan Raja Iblis Astaroth.

‎"Dan hanya ada tiga orang yang dapat menghentikannya," ucap Zagred.

‎"Tiga orang? Apa aku salah satunya?" Vaelor bertanya.

‎"Kau adalah salah satunya."

‎"Yang kedua?"

‎"Eldrin."

‎Vaelor terdiam.

‎"Lalu yang ketiga?"

‎Zagred memberitahu jika orang yang paling ditakuti oleh Iblis adalah orang yang dapat mengontrol kekuatan Astral Sang Monster Roh.

‎"Cucu Penjaga Hutan Emberwind dan orang-orang yang dirasuki Astral."

‎Setelah memberitahu kebenarannya, Zagred menatap Vaelor cukup lama. Tubuhnya perlahan seperti lenyap dihempas oleh angin dan menghilang diudara.

‎"Zagred!" Vaelor berteriak.

‎"Masih banyak hal yang belum kau jelaskan."

‎"Kalau aku menjelaskan semuanya, novel ini akan selesai terlalu cepat." Zagred tersenyum hangat dan tertawa kecil sebelum tubuhnya benar-benar menghilang.

‎Untuk pertama kalinya sejak lama, Vaelor tertawa. Meski hanya sebentar. Vaelor mengetahui maksud dari ucapan Zagred jika dirinya yang memiliki tekad murni melindungi Kerajaan Slyph dapat melawan kebencian Iblis.

‎"Dasar kakek tua."

‎Vaelor tertawa puas. Kemudian ekspresinya menjadi lembut.

‎"Terima kasih sudah memaafkanku."

‎Vaelor membeku. Suara Zagred terdengar ditelinganya sebelum hawa keberadaannya benar-benar lenyap.

‎Ia ingin menyangkalnya.

‎Namun tidak bisa.

‎Karena jauh di dalam hatinya, kebencian itu memang telah menghilang.

‎"Pergilah dengan tenang. Mahaguru Zagred..." ucap Vaelor sambil menyeka air matanya dan tersenyum hangat.

‎Kemudian tubuhnya berubah menjadi jutaan partikel cahaya. Perlahan menghilang bersama angin.

‎Lalu semuanya lenyap.

‎Di dunia nyata.

‎Kelopak mata Vaelor bergerak. Ia merasakan tubuhnya dipenuhi mana yang hangat, namun ia tidak bisa melihat apapun.

‎Gelap.

‎Sangat gelap.

‎‎Tubuh pria itu nyaris tidak berbentuk.

‎Kedua lengannya hancur.

‎Kulitnya hangus.

‎Tulang-tulangnya patah.

‎Namun yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa ia masih hidup. Walaupun nyaris kehilangan nyawanya, Vaelor menyerap seluruh mana milik Zagred dan mana itulah yang menyelamatkan hidupnya.

Detik demi detik mulai membisu. Dalam senyap yang tak bertepi, Vaelor bertahan dalam kegelapan yang sunyi.

Tak ada riuh tepuk tangan, tak ada saksi atas kepedihan. Hanya dingin malam yang memeluk erat, saat ajal datang mendekat.

Vaelor ingin mengucapkan sesuatu namun suara tercekat.

Dingin.

Hampa.

Tanpa suara.

Malam merayap begitu kelam. Aula yang hancur menjadi puing-puing adalah saksi paling bungkam.

Saat dada ini dihantam sesak yang dalam. Nafas terputus di ujung tenggorokan. Tanpa ada yang tahu, di sini ada satu nyawa yang hampir tiada.

1
Protocetus
kirain llywelyn
Green Nord 1927
💪💪💪💪💪💪
Maung Bandung
👍👍
Green Nord 1927
👍
Green Nord 1927
lanjut
The Cigs
Baru baca chapter pertama udah merinding. Ashura pasti punya kekuatan tersembunyi yang lebih kuat dari Saga atau Ark!
Maung Bandung
Mantap Kang👍
Green Nord 1927
up cak
Republik Orange
Lanjut
Protocetus
Seperti air yang mengalir
Republik Orange
Lanjut Wal
Green Nord 1927
lanjut
Green Nord 1927
👍
Green Nord 1927
Kreen cak👍
Jakarta Stay High
Stay
Haikal Blues
Lanjut💪
Haikal Blues
Lanjut
Samarindans
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Haikal Blues
Paus Terbang/Joyful/
Maung Bandung
okeee💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!