Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Hati
Udara masih dingin tapi aroma embun dan kicau burung mulai terdengar, membuat pagi itu terasa hangat dengan cara yang paling sederhana.
Althaf menatap jalur tanah yang sedikit menurun, masih licin oleh sisa embun semalam, tak memungkinkan bagi Farin untuk berjalan sendiri, hal itu hanya akan memperlambat perjalanan dan mengundang bahaya.
Mau tak mau Althaf pun menggendongnya kembali, raga masih terasa lelah, beberapa luka masih perih, tapi beban keduanya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Sesekali burung-burung hutan menyapa dengan kicau yang nyaring, sinar mentari pun mulai menembus celah dedaunan, menggantikan dingin yang semalaman berselimut.
Melewati akar-akar besar, bebatuan lembap, dan celah sempit di antara dua tebing, Erhal terus melangkah. Keringat mulai membasahi pelipis, tapi semangat tak pudar.
Hingga akhirnya, dari kejauhan, samar-samar mulai terdengar kehidupan, suara kendaraan yang lalu-lalang, kokok ayam bersahut-sahutan, dan riuh yang menandakan akhir dari sepi panjang.
Althaf menghentikan langkahnya, membiarkan udara pagi memenuhi dadanya. Matanya menatap lurus ke depan, menyimpan sesuatu yang tak terucap.
"Itu… kampung," bisiknya lirih.
Farin menundukkan wajahnya di bahu Althaf, jemarinya perlahan mencengkeram kain jaket lelaki itu, seolah takut langkah berikutnya benar-benar akan mengakhiri semuanya.
“Kita… sudah sampai?” tanyanya pelan, suaranya nyaris pecah.
“Belum,” jawab Althaf lembut. “Tapi kita sudah sangat dekat.”
Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuat dada Farin terasa sesak.
Sangat dekat, artinya… sangat dekat pula dengan perpisahan.
Althaf kembali melangkah perlahan menuruni jalan setapak terakhir. Pepohonan mulai merenggang, cahaya matahari terasa lebih hangat menyentuh kulit. Di kejauhan tampak hamparan sawah menghijau, suara anak-anak kecil samar terdengar bercampur deru motor yang sesekali melintas.
Dunia yang selama ini terasa hilang bagi Farin… kini perlahan kembali mendekat.
Namun anehnya, semakin dekat mereka dengan keramaian, hati Farin justru semakin dipenuhi ketakutan yang tak bisa dia pahami. Takut kehilangan tempat pulang yang selama ini diam-diam dia temukan.
Beberapa langkah kemudian, Althaf berhenti di bawah pohon besar di pinggir jalan kecil berbatu. Nafasnya mulai berat. Bahunya masih terasa nyeri akibat benturan semalam, tapi sedari tadi dia menahannya seolah tak terjadi apa-apa.
Pelan-pelan dia menurunkan Farin untuk duduk di atas batu datar. “Aku mau lihat keadaan jalan depan dulu,” ucapnya pelan. “Mungkin ada kendaraan warga yang bisa kita minta bantuan.”
Farin langsung meraih ujung lengan Erhal refleks, jemarinya gemetar. “Jangan lama-lama…” lirihnya spontan.
Kalimat itu membuat Althaf diam sesaat. Tatapannya jatuh pada tangan Farin yang masih menggenggam lengannya erat, seolah takut ditinggalkan sendiri walau hanya sebentar.
Ada rasa yang tiba-tiba menghantam dadanya pelan, bukan karena genggaman itu. Tapi karena dia tahu… cepat atau lambat, gadis ini memang harus dia tinggalkan.
Dengan hati-hati Althaf melepaskan genggaman Farin, lalu tersenyum tipis meski Farin tak dapat melihatnya. “Aku tidak pergi jauh.”
Farin mengangguk kecil. Namun setelah langkah kaki Althaf mulai menjauh, tiba-tiba dunia terasa kembali sunyi baginya.
Padahal hanya beberapa detik, padahal lelaki itu masih ada di dekat sana, tapi kenapa rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat besar?
Farin menunduk. Bibirnya bergetar pelan menahan tangis yang sejak tadi terus mendesak keluar. “Ya Allah…” batinnya lirih. “Kalau memang pertemuan ini hanya sementara… kenapa Kau buat hatiku merasa sedalam ini?”
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki kembali mendekat. “Ada mobil pick up warga di depan,” kata Althaf. “Mereka mau membantu kita ke klinik.”
Farin tersenyum kecil mendengarnya, tapi hatinya justru makin terasa rapuh. Karena bantuan itu berarti… perjalanan mereka benar-benar hampir selesai.
Althaf kembali berjongkok di hadapan Rachel.
“Bisa naik pelan-pelan?” tanyanya lembut.
Farin mengangguk.
Namun ketika Althaf membantu menopang tubuhnya, tanpa sadar air mata Farin jatuh lagi.
Hangat, membasahi punggung tangan Althaf.
Lelaki itu terdiam. “Farin…”
“Maaf…” Farin buru-buru menghapus air matanya. “Aku nggak tau kenapa akhir-akhir ini aku gampang nangis.”
Althaf tersenyum kecil. “Karena hati manusia memang nggak selalu bisa diajak kuat terus.”
Kalimat itu sederhana, tapi justru membuat air mata Farin semakin sulit dibendung. Karena untuk pertama kalinya… ada seseorang yang memahami rapuhnya tanpa membuatnya merasa lemah.
Perjalanan singkat menuju kampung itu terasa begitu panjang bagi hati mereka.
Farin akhirnya di naikkan ke bak belakang mobil pick up, di temani Althaf. Angin pagi menerbangkan helaian rambutnya perlahan.
Sementara di sepanjang jalan, suara kehidupan mulai ramai menyambut mereka, ada ibu-ibu yang sedang menyapu halaman, anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki, bau kayu bakar dari dapur warga, dan langit pagi yang terasa begitu hidup.
Farin tersenyum kecil, sudah lama sekali dia tak merasakan dunia sehangat ini. Namun di antara semua rasa syukur yang memenuhi hatinya… ada satu rasa asing yang diam-diam tumbuh semakin sakit.
Perpisahan.
Farin menunduk pelan. “Kalau nanti aku sudah bersama keluargaku…” suaranya lirih tertelan angin, “apa kakak akan langsung pergi?”
Althaf tak langsung menjawab, tatapannya lurus ke depan, pada jalan panjang yang terus membawa mereka menuju keramaian. “Ada orang-orang yang memang ditakdirkan hadir,” katanya pelan, “bukan untuk dimiliki… tapi untuk menguatkan satu sama lain di sebuah persinggahan.”
Deg.
Hati Rachel seperti runtuh perlahan, dia tersenyum… tapi air matanya jatuh lagi tanpa suara. Dan pagi itu, di tengah perjalanan menuju klinik, ada dua hati yang sama-sama diam.
Sama-sama memahami bahwa sebentar lagi… mereka mungkin benar-benar harus saling melepaskan.