"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengintai di Atas Dahan
Alvin dan Bagas terus berjalan santai, melangkah masuk ke dalam koridor temaram yang mengarah ke area toilet pria di lantai dasar. Suasana di sekitar mereka mendadak berubah drastis dibanding koridor kelas atas yang bising. Di sini, udara terasa lebih lembap dan pengap.
Alvin memperlambat langkahnya sedikit, matanya diam-diam bergerak lincah menyapu koridor. "Gas, kok di sini sepi ya? Jarang banget ada yang lewat sini," tanya Alvin, suaranya terdengar kasual tapi sebenarnya dia sedang membaca situasi.
Bagas melirik Alvin sambil terkekeh pelan. "Ya kalau lo mau rame mah tuh di kantin, Vin. Rame banget sampai senggol-senggolan!"
"Hmm..." Alvin bergumam pendek. Tatapannya meneliti setiap sudut lorong, dari plafon beton yang agak berjamur sampai sudut-sudut gelap di dekat ventilasi. "Hmm... suram."
"Ada-ada aja lo. Ya iyalah suram, namanya juga lorong mau ke toilet bawah!" timpal Bagas logis.
"Tapi aura di sini beda, Gas," sahut Alvin lagi, nadanya datar namun sarat akan kewaspadaan yang tinggi. Sebagai orang yang bertahun-tahun hidup di dunia bawah, Alvin tahu betul kalau lorong sepi dan terisolasi seperti ini adalah tempat paling sempurna untuk melancarkan sebuah penyergapan atau eksekusi senyap.
Bagas menghentikan langkahnya sejenak, mengernyitkan kening menatap teman sebangkunya itu dengan heran. "Aura-auran apa lagi sih, Vin?"
Melihat reaksi Bagas yang kebingungan, Alvin langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi santai kembali, tidak mau membuat Bagas curiga. "Enggak, maksud gue sepi aja. Biasanya kan kalau toilet sekolah itu banyak anak yang beser, haha... jadi kudunya rame."
Tawa Bagas langsung meledak mendengar analisis kocak Alvin. "Hahaha! Ya elah, kalau rame mah di sini cocoknya dikasih kotak sumbangan sekalian, di-lem di deket pintu keluar toilet, terus ditulis tarif dua ribu rupiah!"
Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan idenya sendiri. "Nah, terus di depan juga dikasih orang yang jaga biar lorongnya gak suram kayak yang lo bilang tadi. Lumayan kan buat kas sekolah?"
"Hahaha! Gila lo, Gas!" Alvin ikut tertawa lepas mendengar ide bisnis toilet dari Bagas. Tangannya terulur menepuk-nepuk bahu Bagas dengan akrab.
"Udah yuk buruan," ucap Bagas. "Bercanda terus, jadi laper gue."
Begitu berbelok dan ingin melewati toilet pria, Alvin mendengus sesuatu yang menyengat. Alvin berkata dalam hatinya, 'Sepertinya bau rokok... hmm, dan mungkin bau karbol.'
Alvin melirik ke arah wastafel yang berada di luar pintu toilet, lalu melangkah mendekatinya.
"Kenapa, Vin?" tanya Bagas sambil memberhentikan langkahnya.
Alvin melihat wastafel itu dan kembali berkata dalam hatinya, 'Wastafelnya basah.' Alvin menyipitkan matanya, menyadari di pinggiran wastafel itu ada gumpalan abu rokok yang masih baru.
"Kenapa, Vin?" tanya Bagas lagi, bingung melihat gelagat temannya.
"Enggak," ucap Alvin santai sambil memutar keran wastafel itu lalu mencuci wajahnya.
Setelah selesai, Alvin membalikkan badannya sambil menundukkan kepalanya. Tepat di depan kakinya, ada sebuah puntung rokok yang baru saja diinjak hingga gepeng, dan di sekitarnya terdapat bekas samar-samar dari beberapa jejak sepatu yang mengarah ke satu sudut.
Alvin memperhatikan ke mana arah jejak sepatu itu pergi. "Hmm..." gumam Alvin dalam hati. Matanya kemudian menangkap ada beberapa tetesan air di lantai beton yang berdebu.
Alvin mendekati tetesan air itu, lalu membungkuk dan menyentuh cairannya dengan ujung jari. Alvin mendekatkan jarinya ke hidung lalu mendengus. 'Bau karbol.'
Bagas melangkah mendekat, memperhatikan Alvin yang sedang berjongkok memeriksa lantai. Dia kembali bertanya dengan heran, "Kenapa, Vin? Ada yang salah?"
"Enggak ada kok, Gas," ucap Alvin.
Setelah itu, mata Alvin menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sangat sulit diartikan oleh Bagas.
"Kenapa lagi lo, Vin?" tanya Bagas yang menjadi semakin bingung melihat gelagat aneh teman barunya itu.
"Itu, GAS! Ada pohon jambu air, buahnya banyak banget!" seru Alvin sambil menunjuk ke arah halaman di dekat sudut koridor.
Bagas langsung berbalik, mengikuti arah telunjuk Alvin. Matanya berkedip begitu melihat pohon jambu air yang lebat tidak jauh dari sana. Bagas kembali melirik Alvin dengan mata berbinar. "Yuk, panjat!"
"Ayok, Gas!" sahut Alvin bersemangat.
Pohon jambu itu terletak hanya beberapa meter dari bangunan gudang belakang. Dengan gerakan yang sangat cekatan, Alvin dan Bagas langsung memanjat dahan-dahan pohon tersebut untuk mengambil buahnya.
Sementara itu, dari balik celah pintu gudang, Rahman yang sudah bersiap-siap terpaksa mengintip dengan dahi berkerut. Dia melongo melihat Alvin dan Bagas malah asyik memanjat pohon jambu dengan lincah.
Dua antek Rahman yang sudah bersiap memegang ember penuh air karbol di balik pintu mulai menggerutu kesal sambil ikut mengintip ke luar. "Alah... ngapain lagi tuh dua bocah? Mau ngerujak kali ya?"
Salah satu antek yang memegang ember—yang tangannya sudah mulai gemetaran karena pegal menahan beratnya air campuran karbol—protes dengan nada jengkel. "Alah, mana berat lagi nih ember!"
Mendengar keluhan itu, antek Rahman yang berbadan gempal mendengus mengejek. "Suruh siapa lo angkat dari tadi?"
"Lah, biar gercep! Pas tuh bocah lewat, langsung gue guyur!" bela si pemegang ember tidak mau kalah.
Antek berbadan gempal itu langsung menimpali dengan ketus, "Dasar PAOK!"
"Apa lo bilang?!" ucap antek yang memegang ember penuh karbol itu dengan nada tidak terima. Karena emosi, tubuhnya menyenggol pintu gudang hingga pintu tua itu terdorong sedikit dan mengeluarkan suara nyaring, “Riiitttt...”
Di saat situasi di balik pintu mulai ricuh, antek Rahman yang berambut ikal itu,yang berada di lorong sempit justru tampak acuh tak acuh. Di sendiri malah asyik merokok dan mengembuskan asapnya santai ke atas langit-langit.
Melihat fokus anak buahnya buyar dan malah berantem sendiri, Rahman langsung menoleh dan membentak dengan suara berbisik yang tajam. "Diem lo pada! Nanti bisa ketahuan!"
Sumpah, Yan! Bagian ini makin memperlihatkan level kecerdasan taktis Alvin yang berada di kelas yang berbeda jauh dari Rahman cs. Dari atas pohon jambu, posisi Alvin berubah menjadi seperti penembak jitu (sniper) atau pengintai yang memetakan seluruh posisi musuh dengan sangat detail:
Dia mendengar derit dan getaran pintu.
Dia melihat kepulan asap rokok di lorong sempit.
Dia melihat pancingan alat pel dan ember sengaja ditaruh di depan pintu.
Dia bahkan menganalisis buah jambu yang hancur terinjak di tanah.
Dan puncaknya, dia melihat kepala plontos Rahman mengintip dari atas! Panggilan "si amplas plontos" itu kocak banget dan bikin karakter Alvin terasa sangat tenang meskipun dikepung.
Berikut adalah kelanjutan ceritanya dengan mempertahankan semua detail penting yang kamu berikan secara runtut, tanpa tambahan narasi yang berlebih:
Lalu di atas pohon, Alvin mulai memetik beberapa buah jambu air. Beberapa di antaranya langsung dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Begitu juga dengan Bagas yang sibuk memetik buah di dahan lain.
"Coba kita bawa kantong plastik ya," celetuk Bagas sambil terkekeh.
Alvin hanya tertawa singkat merespons ucapan temannya. Namun, fokus utamanya sama sekali bukan pada jambu. Sepasang matanya bergerak tajam, memperhatikan setiap pergerakan sekecil apa pun di area gudang tersebut.
'Suara pintu... terus pintunya bergetar,' ucap Alvin dalam hati, menganalisis suara derit halus yang terdengar beberapa saat lalu.
Pandangan Alvin kemudian beralih melirik ke sudut lorong gudang yang sempit. 'Hmph, ada asap rokok di ujung itu.'
Alvin tersenyum kecil penuh arti. Detik berikutnya, pandangannya turun ke depan pintu gudang. 'Ooh, rupanya alat pembersihnya udah disiapin ya.' Alvin melihat sebuah gagang pel dan ember kosong sengaja disandarkan di dinding dekat pintu, seolah-olah memancing dirinya untuk mendekat.
Alvin kemudian melihat ke arah tanah di bawah pohon, memperhatikan buah-buah jambu yang telah berjatuhan. 'Hmm, ada beberapa jambu yang telah diinjak. Sepertinya dilewati beberapa orang.' Insting Alvin terbukti 100% akurat. Ditambah lagi, karena antek-antek Rahman yang bersembunyi itu selalu berisik dan tidak bisa diam, kepala plontos Rahman tiba-tiba menyembul sedikit, terlihat jelas dari posisi Alvin yang berada di atas pohon.
'Alah... si amplas plontos lagi,' batin Alvin geli melihat musuhnya yang mengintip dari balik celah.
Alvin kembali tersenyum tipis. Dia memetik beberapa buah jambu lagi, lalu melirik ke arah Bagas yang berada di dahan sebelah. "Gas, lo di sini dulu ya. Gue mau ambil pel sekalian nyari plastik, siapa tahu di dalam gudang itu ada plastik."
"Okeee," ucap Bagas santai sambil mulai mengunyah jambu air hasil petikannya, sama sekali tidak menyadari kalau area di bawah pohon sudah dikepung oleh lima orang berandalan sekolah.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya