Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WANITA YANG MELAMPAUI BATAS
____
Di tempat lain, seorang lelaki duduk membisu di balik meja kerjanya. Jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya tertuju pada layar yang terus menampilkan berita yang sama berulang kali.
Berita itu menyebar di media sosial dengan kecepatan yang mengerikan.
Nama Damian dan Sophia memenuhi berbagai judul artikel, unggahan, hingga kolom komentar. Banyak yang membicarakan rencana pernikahan mereka, seolah semuanya sudah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.
Bagi orang lain, itu mungkin hanya gosip.
Namun bagi Arkan, berita tersebut terasa seperti cambuk yang menghantamnya tanpa ampun.
Harapan kecil yang sempat muncul saat pertunangan itu dibatalkan kini perlahan hancur. Sedikit demi sedikit, harapan itu mengerucut menjadi sesuatu yang nyaris mustahil untuk diraih.
Arkan menutup matanya.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi, mencoba menenangkan pikirannya yang semakin kacau. Namun semakin ia berusaha, semakin banyak bayangan Sophia memenuhi kepalanya.
Perlahan, matanya terbuka kembali.
Ia tahu Damian bukan orang yang akan membiarkan sesuatu terjadi tanpa alasan. Jika pria itu membiarkan rumor tersebut berkembang begitu liar, bahkan tidak berusaha menghentikannya, berarti ada tujuan tertentu yang sedang ia kejar.
Arkan tahu persis apa kemungkinan tujuan itu.
Damian sedang membangun sangkar.
Sangkar yang semakin lama semakin rapat.
Ia ingin mengurung Sophia di dalam pengawasannya sendiri.
Pikiran itu membuat rahang Arkan mengeras.
Beberapa wartawan bahkan masih berjaga di depan rumah Damian hingga sekarang. Mereka berharap bisa mendapatkan foto atau pernyataan baru mengenai hubungan keduanya.
Semuanya berjalan sesuai rencana Damian.
Pandangannya kini beralih pada ponsel yang tergeletak di atas meja.
Layar percakapan dengan Sophia masih terbuka.
Deretan pesan memenuhi layar.
Pesan-pesan yang tak pernah mendapatkan balasan.
Sudah lebih dari satu bulan.
Lebih dari satu bulan sejak terakhir kali Sophia memberinya kabar.
Berkali-kali ia mengetik pesan.
Berkali-kali pula ia menunggu.
Namun yang ia dapatkan hanyalah tanda centang tunggal yang seakan mengejek kesabarannya.
Arkan tersenyum pahit.
Apa yang sebenarnya ia harapkan?
Mungkin Sophia masih marah.
Mungkin wanita itu sudah tidak ingin berhubungan dengannya lagi.
Atau mungkin...
Sophia memang sengaja menghilang dari hidupnya.
Pikiran terakhir itu membuat dadanya terasa sesak.
Arkan mengusap wajahnya kasar sebelum menekan tombol interkom di atas meja.
"Rowan."
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.
Seorang pria bertubuh agak gemuk masuk sambil membawa tablet di tangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Arkan menatapnya sejenak sebelum berkata datar,
"Suruh Fio datang ke sini."
Rowan mengangkat kepala.
"Sekarang?"
"Ya."
Arkan kembali menyandarkan tubuhnya.
"Suruh dia berhenti di depan Hotel Grand Meridian terlebih dahulu. Pesankan satu kamar atas namanya. Setelah itu, akan ada seseorang yang menjemputnya ke sini."
Kening Rowan langsung berkerut.
Ia jelas tidak memahami alasan di balik perintah tersebut.
"Kenapa tidak langsung dibawa ke sini saja, Tuan?" tanyanya hati-hati. "Bukankah itu lebih cepat dan menghemat waktu?"
Arkan terdiam beberapa saat.
Tatapannya berubah dingin.
"Ikuti saja perintahku."
Suasana ruangan langsung membeku.
Rowan segera menegakkan punggung.
"Baik, Tuan."
Meski begitu, ekspresi bingung masih terlihat jelas di wajahnya.
Arkan memperhatikannya sesaat.
Kemudian ia kembali mengalihkan pandangan ke arah jendela.
Ia sudah menjadi asisten Damian berbulan-bulan, setidaknya itu cukup untuk mengamati kebiasaan apa yang sering lelaki breng** itu lakukan. Rencana ini cukup aman dilakukan.
____
Begitu menerima kabar dari Rowan, Fio langsung bersiap-siap.
Ia berdiri di depan lemari pakaiannya sambil melipat kedua tangan di dada. Tatapannya menyapu deretan gaun yang tergantung rapi di sana. Sebagian besar adalah pakaian yang biasa ia kenakan saat bekerja. Tidak ada yang benar-benar sopan. Hampir semuanya dirancang untuk menarik perhatian lelaki.
Pada akhirnya, tangannya berhenti pada sebuah gaun hitam ketat tanpa lengan.
Gaun itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mengikuti setiap lekuk tubuhnya tanpa menyisakan banyak ruang untuk imajinasi. Bagian dadanya terbuka secukupnya, tidak terlalu vulgar, tetapi cukup membuat siapa pun yang melihatnya sulit mengalihkan pandangan. Roknya berhenti beberapa senti di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih dan mulus.
Fio mengangkat gaun itu sambil mengamati dirinya sendiri melalui cermin.
Sejujurnya, saat pertama kali menerima instruksi dari Arkan, pikirannya sempat melayang ke arah yang salah.
Ia bahkan sempat mempertimbangkan mengenakan pakaian yang jauh lebih berani. Di lemarinya masih banyak tersimpan lingerie yang belum terpakai. Ia akan dengan senang hati memperlihatkannya pada Bosnya itu.
Tetapi mengingat Bos-nya sangat menjaga batas. Jadi ia memikirkan kemungkinan lain.
Kalau memang ingin bertemu, pria itu bisa langsung mengirim mobil dan membawanya ke lokasi.
Tidak perlu berputar-putar.
Saat itulah Fio akhirnya memahami maksud sebenarnya.
Arkan sedang bermain permainan kecil.
Permainan yang melibatkan Damian.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Lelaki licik."
Ia tahu Damian pasti memiliki orang-orang yang mengawasi pergerakan orang di sekitar Arkan.
Karena itulah Arkan sengaja membuat jalur yang rumit.
Jika seseorang melihat Fio masuk ke hotel lalu dijemput orang lain, mereka akan mengira ia hanya seorang wanita malam yang sedang menemui pelanggan.
Apa yang bisa ia harapkan? Arkan menempatkan bidak caturnya dengan baik. Ia harus memujinya.
____
Sebelum menuju hotel, ia memutuskan mampir ke minimarket yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Udara siang itu terasa panas.
Tenggorokannya kering sejak tadi pagi.
Ia masuk ke dalam minimarket sambil memainkan ponselnya, lalu berjalan santai menuju lemari pendingin. Baru saja, ia ingin membukanya, ketika matanya menangkap siluet tak asing yang berdiri di mesin ATM.
Jack? kenapa dia bisa berada di sekitaran daerahnya? Padahal rumahnya dan rumah lelaki itu sangat berlawanan. Seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Fio jelas tak ingin menyia-nyiakan waktu.
"Kenapa kau di sini?" tanya Fio antusias, merangkul lengan Jack. Tetapi segera ditepis kasar olehnya. Fio hanya mengerucutkan bibirnya kesal. "Galak sekali, aku 'kan cuman bertanya. Apa salahnya dijawab?"
Bukannya menjawab, Jack malah berlalu pergi. Yang tentu langsung diikuti Fio di belakangnya.
Sebenarnya mereka tidak terlalu dekat, hanya pernah beberapa kali bertemu ketika Jack datang memeriksa berbagai bisnis yang dulu berada di bawah kendali Julian.
Saat Damian mulai mengambil alih semuanya, Jack juga beberapa kali muncul untuk membantu menyelesaikan berbagai urusan.
Karena itulah Fio cukup mengenalnya.
Ketika Jack sudah di luar lebih dulu, ia sempat melirik Fio. Jelas wanita itu langsung melambaikan tangan.
Senyumnya begitu cerah seolah mereka adalah sahabat lama.
Sementara ekspresi Jack berubah seperti seseorang yang baru saja melihat bencana datang dari kejauhan. Tidak mau ambil pusing, lelaki itu kembali berjalan menuju mobilnya tanpa berniat menoleh lagi.
Namun Fio tidak berniat menyerah semudah itu.
Begitu Jack membuka pintu mobil, wanita itu langsung menutupnya kembali dengan telapak tangan.
Brak!
Jack mengembuskan napas berat, malah memilih membuka pintu mobil yang lain. Namun, Fio tidak kehabisan akal, ia ikut masuk ke dalam mobil Jack lalu duduk dengan tenang di sana.
Lelaki itu melihatnya heran. "Bisa kau keluar? Aku mau pergi. Aku tidak punya waktu lagi untuk mendengar setiap ocehanmu di sini."
Bukannya tersinggung, Fio malah terkekeh kecil, kemudian membuka jaketnya dan menyimpannya di kursi mobil. Ia memiringkan badan agar bisa berhadapan dengan Jack.
Lelaki itu segera mengalihkan tatapannya ke depan.
"Apa kau tak merindukanku? Kita sudah lama tidak bertemu." Fio ingin memegang bahu lelaki itu. Lagi-lagi ditepis kasar olehnya.
"Mari kita bicara. Aku punya banyak waktu untukmu."
"Aku yang tak memiliki waktu, jadi sebaiknya enyahlah dari sini," perintah Jack, masih tak mau melihatnya sama sekali.
"Jack .... "
"Keluar."
Fio akhirnya memangut-mangut, tak mau menggodanya lagi. "Baiklah, baiklah, aku tak akan mengatakan omong kosong lagi."
Jack membuka kemeja lalu melemparkannya tepat ke muka Fio.
"Pakai itu. Lihat pakaianmu, manusia mana yang akan memakai kurang bahan seperti itu," tegur Jack jengkel.
Wanita itu menurunkan kemeja Jack dari kepalanya, lalu dengan sabar menggulungnya kemudian menyimpannya di atas dasbor.
Ia melihat Jack yang hanya bisa mendengus sebal dengan kelakuannya. Lagipula ia suka memakai pakaian ini. Jack tak perlu mengomentarinya.
"Ngomong-ngomong," ucap Fio, seolah mengingat sesuatu. Wajahnya mulai berubah serius.
"Aku dengar atasanmu sekarang tinggal bersama Tunangannya satu rumah. Katanya mereka mau menikah, benarkah?"
"Menikah atau tidak itu tidak ada urusannya denganmu."
Tidak mau memedulikannya, Fio kembali bertanya, "Apa wanita itu hamil? Kenapa menikah terburu-buru sekali?"
Jack langsung melihatnya tajam.
"Wanita yang kau katakan hamil itu, orang yang memegang teguh prinsip. Dia bahkan selalu menjaga jarak. Jadi jangan mengatakan omong kosong," belanya tajam.
"Oh ... benarkah?" jawab Fio tersenyum tipis. "Lalu kenapa tidak diklarifikasi? Dia wanita baik-baik. Bukankah itu akan mencemarkan nama baiknya? Seharusnya mereka berpisah rumah untuk menghindari tuduhan orang-orang."
Untuk sesaat Jack terdiam, seakan membenarkan perkataan Fio. Wanita itu yang menangkap ekspresi Jack semakin semangat untuk memancing keluar semua rencana di kepalanya. Ia membutuhkan informasi dari lelaki di hadapannya ini.
"Kecuali kalau Tuanmu memiliki rencana lain?" sambungnya hati-hati.
Jack menoleh, ia mencondongkan tubuh membuat gadis itu merapatkan punggungnya ke kursi. Fio menahan napas, sebelum Jack melihatnya, lalu tangannya membuka pintu mobil. Kedua manusia itu saling menatap.
Sampai tatapan Jack seolah berkata, apalagi yang kau tunggu, aku sudah membuka pintunya. Segeralah menyingkir dari hadapanku!
"E-nyah-lah dari hadapanku. Sekarang juga!"
Fio mendengus sebal, melihat mobil Jack sudah pergi begitu saja. Ia menendang kerikil di kakinya. Dia pikir, ia melakukannya dengan sukarela, kalau bukan karena Arkan memintanya mencari informasi. Ia pun tak sudi harus berhadapan dengan lelaki menjengkelkan itu.
B E R S A M B U N G .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih!(◍•ᴗ•◍)❤