Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Luka dan Kesempatan
"Kau... Fana... melihat saja dari kejauhan."
Luo Mei berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Beruang Langkah di depan mereka. Nada suaranya tetap dingin, tetapi kali ini tidak terdengar meremehkan. Justru ada sedikit keseriusan di sana.
Huang segera mengangguk. "Baik, Nona Luo."
Dia mundur perlahan mencari tempat aman di dekat dinding goa. Langkahnya ringan dan hati-hati. Huang tahu dirinya tidak cukup kuat untuk ikut bertarung melawan makhluk seperti itu.
Namun tepat saat dia menjauh...
Mata biru raksasa Beruang Langkah perlahan terbuka.
GRRRRRRRHH!
Suara geramannya mengguncang seluruh goa. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit. Udara dingin meledak keluar dari tubuh besar itu seperti badai musim dingin.
KRAKKK!
Es mulai membeku di lantai goa dengan cepat. Dinding batu tertutup lapisan kristal es kebiruan. Bahkan napas Huang langsung berubah menjadi kabut putih tipis.
Lei Shan segera melangkah maju, sambil mengayunkan pedangnya. "Binatang sialan!"
BOOM!
Pedang besarnya menghantam tanah. Gelombang energi spiritual menyebar keras, menghancurkan lapisan es di depannya.
Sementara itu Luo Mei membentuk segel tangan. Beberapa bilah cahaya putih kebiruan muncul di udara lalu melesat menuju tubuh Beruang Langkah.
SWISH! SWISH! SWISH!
Namun beruang itu hanya mengayunkan cakarnya.
BRAK!
Seluruh bilah cahaya pecah seketika.
Mata Huang sedikit menyipit. Ini pertama kalinya dia melihat pertarungan kultivator secara langsung. Energi spiritual yang saling bertabrakan membuat udara di sekitar terasa berat dan menyesakkan.
Beruang Langkah itu meraung lagi. Lalu tubuh besarnya tiba-tiba bergerak cepat.
BUMM!
Tanah retak ketika ia menerjang Lei Shan.
Lei Shan mengangkat pedangnya untuk menahan.
DUARRR!
Benturan keras menggema di seluruh goa. Tubuh Lei Shan terpental beberapa langkah ke belakang hingga kakinya menciptakan jejak panjang di lantai es.
"Binatang ini kuat sekali..." geramnya.
Di sisi lain, Luo Mei melesat ringan seperti bayangan putih. Telapak tangannya dipenuhi energi spiritual dingin.
"Segel Embun Beku!"
WHUSSH!
Kabut es berputar di sekitar tubuh Beruang Langkah lalu mencoba membekukannya. Namun mata beruang itu justru bersinar semakin terang.
KRAAAK!
Es biru keluar dari mulutnya seperti ledakan badai. Kabut Luo Mei langsung dihancurkan mentah-mentah.
Tubuh Luo Mei terpental ke belakang.
"UGH!"
Kakinya menyentuh tanah es, tetapi terlambat. Lapisan es biru tiba-tiba merambat naik dari lantai dan membekukan kaki kanannya.
Luo Mei membelalak. "Tidak bagus!"
Beruang Langkah langsung meraung keras lalu mengangkat cakarnya tinggi-tinggi. Energi es berkumpul di ujung cakar besar itu. Udara di sekitar mendadak menjadi sangat dingin.
Lei Shan mencoba bergerak membantu, tetapi saat itu juga dinding es muncul dari samping.
BRAKK!
Tubuh Lei Shan menghantam dinding batu. Es tebal langsung mengurung tubuh bagian atasnya.
"Sial!"
Dia mencoba menghancurkan es itu dengan tenaga kasar, tetapi energi dingin terus menekan tubuhnya.
Huang yang melihat dari kejauhan langsung menegang. Jantungnya berdetak cepat.
'Kalau dua orang ini mati... bagaimana denganku nanti?'
Mereka adalah sumber bantuannya saat ini. Orang pertama yang memberinya tempat tinggal, batu roh, dan kesempatan memasuki dunia luar.
Tatapan Huang berubah cemas. Beruang Langkah sudah mengayunkan cakarnya ke arah Luo Mei. Kalau serangan itu mengenai...
Tanpa berpikir panjang lagi, Huang langsung melesat.
"Beruang jelek! Rasakan ini!"
Tubuh Huang melompat tinggi. Seluruh energi spiritual di tubuhnya mengalir ke kakinya secara naluriah. Huang mengayunkan kakinya dari atas kebawah.
DUAKK!
Tumit Huang menghantam kepala Beruang Langkah sekuat tenaga.
Beruang besar itu tidak menyangka akan diserang oleh manusia lemah yang tadi diabaikannya. Kepalanya langsung terhuyung ke samping. Meskipun serangan Huang tidak melukainya serius, momentum itu cukup membuat arah cakarnya meleset.
BOOM!
Cakar besar itu menghantam lantai goa dan menciptakan ledakan es besar.
Luo Mei langsung memanfaatkan kesempatan itu.
WHUSSH!
Energi spiritual meledak dari tubuhnya. Lapisan es di kakinya pecah berkeping-keping. Matanya langsung menatap Huang sesaat. Ada keterkejutan di sana. Dia tidak menyangka Huang benar-benar nekat membantu.
Namun Huang tidak berhenti. Begitu mendarat, dia langsung melesat menuju Lei Shan yang masih terkunci es.
Huang mengangkat tinjunya lalu menghantam lapisan es itu berkali-kali.
DUK! DUK! DUK!
Tangannya langsung berdarah. Kulit jarinya robek. Darah merah menetes di atas es biru. Namun Huang terus memukul tanpa ragu.
"Ayo hancur!"
KRAKK!
Akhirnya lapisan es itu retak besar.
Lei Shan langsung mengerahkan tenaga spiritualnya.
BOOOM!
Es pecah berkeping-keping. Lei Shan keluar dengan napas berat. Matanya langsung menatap Huang dengan ekspresi rumit.
"Bocah gila..."
Di sisi lain, Beruang Langkah meraung marah. Mata birunya kini penuh niat membunuh ke arah Huang. Namun sebelum ia sempat bergerak, Lei Shan dan Luo Mei melesat bersamaan. Aura mereka meledak penuh.
Lei Shan mengangkat pedang besar dengan kedua tangan.
"Gunung Pembelah!"
Pedangnya dipenuhi cahaya kuning kecokelatan yang berat dan ganas.
Sementara Luo Mei membentuk segel tangan cepat.
"Teratai Es Membeku!"
Puluhan bunga es muncul di udara lalu berputar mengelilingi tubuh Beruang Langkah. Beruang itu mencoba melawan. Namun sudah terlambat.
BOOOOMMM!
Pedang Lei Shan menghantam leher beruang dengan brutal. Di saat yang sama, bunga-bunga es Luo Mei meledak bersamaan di seluruh tubuhnya. Darah biru dingin menyembur ke mana-mana.
GRRRRHHH...!
Raungan Beruang Langkah mengguncang goa untuk terakhir kalinya. Tubuh raksasanya akhirnya roboh keras ke tanah.
BUMMM!
Seluruh goa bergetar.
Hening.
Hanya suara napas berat Lei Shan dan Luo Mei yang terdengar.
Huang berdiri diam sambil memegangi tangannya yang berdarah. Napasnya juga berat. Tubuhnya terasa nyeri karena tadi memaksakan tenaga spiritual terlalu keras. Namun saat melihat Beruang Langkah benar-benar mati, dia tersenyum kecil.
Lei Shan tertawa keras sambil duduk di atas batu. "Hahaha! Kita benar-benar berhasil!"
Luo Mei juga tampak jauh lebih rileks dibanding biasanya. Wajah dinginnya sedikit melunak. Dia berjalan mendekati kepala Beruang Langkah lalu membelah bagian dadanya menggunakan bilah es tipis.
Tak lama kemudian, sebuah inti spiritual berwarna biru putih diambil keluar. Cahaya lembut mengalir dari dalam inti itu. Aura air dan es murni menyebar ke seluruh goa.
Mata Lei Shan langsung berbinar.
"Inti spiritual kualitas tinggi..."
Luo Mei mengangguk perlahan. "Esensi air dan esnya sangat murni."
Keduanya tampak benar-benar senang.
Sementara itu Huang hanya duduk sambil melihat tangan kanannya yang berdarah. Kulitnya pecah di banyak bagian akibat menghantam es tadi. Namun dia tetap tersenyum tipis melihat dua orang itu bahagia.
Setidaknya... bantuannya tidak sia-sia.
Lei Shan kemudian berdiri lalu memasukkan seluruh tubuh Beruang Langkah ke dalam cincin ruang miliknya.
"Bulu, tulang, darah, daging... semuanya berharga."
Luo Mei juga mengangguk setuju. "Bahkan cakarnya bisa dijadikan bahan senjata."
Setelah semuanya selesai, mereka bertiga segera keluar dari goa. Udara luar terasa jauh lebih hangat dibanding bagian dalam goa tadi.
Luo Mei kembali mengeluarkan perahu spiritual. Mereka bertiga naik ke atasnya.
Saat perahu mulai melayang membelah langit, Lei Shan tiba-tiba menoleh ke arah Huang. Tatapannya kali ini jauh berbeda dibanding sebelumnya.
"Terima kasih."
Huang sedikit terkejut lalu segera menangkupkan tangan.
"Saya hanya membantu sebisa saya, Tuan."
Luo Mei yang duduk di ujung perahu juga berbicara pelan.
"Kalau tadi kau tidak bergerak... mungkin kami benar-benar terluka parah."
Huang hanya tersenyum kecil. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Lei Shan kemudian tertawa pendek lalu menepuk bahu Huang cukup keras. "Tenang saja. Nanti aku akan membantumu menjadi murid tetap Sekte Yunwu."
Mata Huang sedikit membesar.
Lei Shan melanjutkan sambil menyeringai.
"Tapi kau harus berjuang dari awal. Awalnya itu... ya murid luar."
Dia menyilangkan tangan sambil menatap Huang. "Bagaimana?"