NovelToon NovelToon
A

A

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Perperangan / Thriller / Tamat
Popularitas:174.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danu Banu

"Aku ingin bertanya kepada kalian yang menyebutkan tidak waras. 'Apa yang kalian berikan untuk orang yang kalian cintai?' Aku memberikan segalanya."

Gilang akhirnya menemukan kode terakhir dari Lutfi yang mengarah ke Jepang. Namun kode selanjutnya tersembunyi di antara perseteruan polisi dan mafia. Akankah Gilang berhasil menemukan Lutfi di tengah waktu yang terbatas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danu Banu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Gerobak Sampah

i

Pulang sekolah, aku dan Gyan belajar bersama di depan ruang OSIS yang sedang sepi saat itu, sekaligus tempat itu adalah salah satu yang sinyal Wi-Fi paling lancar.

Kami belajar cukup serius demi menghadapi soal LCC yang bakal diadain besok di jam pelajaran terakhir. Untung saja, kata Kelvin, Bu Yuni, wali kelas X-11, siap membantu kami. Katanya juga, beliau akan menyiapkan soal dan mengawasi ujiannya besok.

Entah mengapa, aku jadi bersemangat. Aku juga ingin mendapatkan nilai yang memuaskan di ujian besok, meski sebenarnya aku emang ga mau ikut LCC.

Dan di depanku, Gyan. Siswi yang menurutku memang pintar di kelas, juga ingin dapat nilai bagus, meski dia juga ga pengin ikut LCC, kayak aku.

Sekitar setengah jam kami belajar, mendadak Gilang muncul entah dari mana.

“Besok mau ada ujian, apa?” Dia nanya.

Kulihat Gyan tidak merespons, dan jelas tidak akan menanggapi. Tampak dia sedang hanyut dalam belajarnya. Jadi aku yang menjawab.

“Iya.”

Gilang menengadah kepala, sepertinya sedang berpikir. Kemudian tak lama kembali memandangku. “Aku ga ingat, kalau besok ada ujian.”

Ya jelas engga! Tiap hari aja kamu tidur! Ah, ngeselin.

“Besok ujian LCC,” kata Gyan akhirnya. “Kamu ga belajar?”

“Buat apa?”

Gyan menatapnya kesal dengan menutup buku keras lalu menghembuskan napas. “Dengar, kalau besok kamu dapat nilai tertinggi. Kamu bisa ikut LCC sekolah bulan Agustus.”

“Oh gitu.”

“Iya.”

“Jadi kalian belajar supaya bisa ikut itu?”

Kami menggeleng kompak.

“Lah, ya ngapain belajar?”

Kulihat Gyan makin jengkel, jadi aku menyerobot.

“Selain buat lolos seleksi, kan senang rasanya kalau dapat nilai bagus.”

“Oh. Semangat, ya?” ujarnya dan berlalu.

“Makasih.” kata kami kompak.

“Eh, kamu mau ke mana?” tanyaku akhirnya setelah melihat dia menuju halaman belakang.

Dia menoleh dan kembali melangkah mendekat. “Bersih-bersih.”

“Kenapa?”

“Karena kotor.” jawabnya santai.

Aduh, benar juga. Gilang pasti bakal jawab gitu. Aku salah ngomong lagi deh.

Sempat aku mendengar Gyan tertawa lirih. Tapi aku tidak tahu, soalnya dia nutupin mukanya pakai buku.

“Maksudnya, selain kotor, kamu ngapain bersih-bersih?”

“Soalnya ga ada yang bersihin.”

Aku menyerah! Kututup pembicaraan itu dan membiarkannya pergi. Kupandang ke arah Gyan.

“Kalian udah mulai dekat, apa?”

Aku kaget. “Maksudnya?”

“Ya, aku ngerasa dia jadi aktif ngomong gara-gara sama kamu.”

“Ga lah.” kataku dengan mengambil buku paket. Menutup wajahku yang kegirangan.

♥ ♥ ♥

ii

Saking asiknya belajar, tak terasa adzan berkumandang. Kami langsung merapikan buku-buku dan bergegas menuju masjid. Di sana, aku bertemu Ateg yang juga mau shalat. Tapi Gyan pamit, karena sedang ada tamu bulanan.

Tak lama, iqomah berkumandang setelah aku selesai berwudhu dan melaksanakan shalat sunnah. Suara itu, bagiku sangat tidak asing.

Dan ketika kudengar lebih seksama. Aku semakin yakin, itu adalah suara Gilang. Dan paling mengejutkannya, dia juga yang jadi imam!

Saat sedang shalat, aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari kebenaran pemilik suara itu. Jika benar itu dari Gilang, aku senang. Ditambah karena suaranya jadi imam sangat menentramkan hati.

♥ ♥ ♥

iii

Selepas shalat, aku segera mengangkat tirai penghalang shaf putri dan shaf putra. Aku juga mendengar Ateg nanya aku lagi ngapain. Tapi tak kuhiraukan.

Aku tidak melihat seorangpun di sana. Mungkin dia sudah pergi. Aku ga habis pikir, kenapa kebanyakan pria shalatnya cepat banget selesai.

Kemudian, aku membereskan mukena dan meletakannya kembali di dalam almari. Setelah itu, keluar dan mengenakan sepatu.

Ateg tidak mengajakku pulang saat itu. Katanya dia minta ditemani makai Wi-Fi di depan ruang OSIS. Persis kayak yang aku lakuin sebelumnya.

Aku mengangguk. Dan kami pergi ke sana berdua.

Sesampainya, kami duduk sejajar menghadap lapang basket. Di ujung sana aku melihat sebuah bola plastik tergeletak. Entah siapa pemiliknya.

Tadi ga ada, sekarang ada. Aduh! Aku jadi pengin main.

Aku bilang sama Ateg kalau aku mau main basket. Dia mengangguk dan membiarkanku pergi. Tak lama, Ateg menyusul dan meminta maaf karena harus mengerjakan tugas dulu.

“Tak apa.” kujawab.

Akhirnya kami main bersama. Tertawa sembari melempar bola ke dalam ring basket, namun tidak kunjung masuk.

Saking asiknya, aku sampai-sampai menghirau-kan anak-anak putra yang mendadak berdatangan dan main futsal di lapangan sebelah. Untungnya mereka tidak mengganggu kami.

Tak terasa, hari makin larut, perlahan rintik-rintik air turun dari langit. Aku dan Ateg bergembira dibuatnya. Seragam batik merah-putih kami basah diguyur hujan kecil.

♥ ♥ ♥

iv

Saat itu, langit telah berubah warna jingga keemasan, menunjukan hari sudah sore. Di sisi lain, aku melihat anak-anak tadi membubarkan diri dan menuju parkiran. Menemui kendaraan mereka.

Aku sebenarnya juga ingin pulang, tapi mendadak kakiku sangat sakit ketika digerakan.

“Kamu kenapa?” Ateg bertanya dengan nada khawatir.

“Kayaknya, flu tulangku kambuh.”

“Kamu punya flu tulang?” Dia kembali bertanya lebih panik.

Aku menjawabnya dengan anggukan.

“Aduh, berarti kamu ga kuat dingin?”

“Iya.”

“Terus ngapain hujan-hujanan?”

“He he he.”

Ateg bergegas menuju ruang OSIS buat ngambil tasku dan tas dia. Lalu kembali dan memapahku.

“Aduh, maaf, kamu jadi kerepotan.”

“Ga papa. Namanya teman ya harus saling membantu.”

Aku senyum mendengarnya. Sungguh senang, ada juga orang yang mau mengerti aku.

Perlahan, hujan mulai reda, kami juga hampir keluar dari pintu lapangan di sisi Barat. Memang lapangan basket dan futsal dikelilingi oleh tembok berlubang kecil. Bagiku, itu adalah pengaman, supaya ketika siswa bermain bola tidak keluar lapangan.

Mendadak seorang siswa yang mengenakan motor besar berwarna merah berhenti di depan kami.

“Hai.”

Aku diam karena merasa tidak kenal.

“Rangga,” sapa Ateg.

“Ya.” jawabnya.

“Kamu kenal dia?” tanyaku berbisik.

“Iya, dia teman kelasku. Oya, ngomong-ngomong, Rangga naksir sama kamu.” jawabnya dengan suara yang sama lirihnya.

Aku terkejut, kulirik ke arahnya. Sungguh, di mataku dia cuma siswa berandalan. Bagaimana tidak? Dandanannya saja berantakan. Sudah sangat jelas aku pasti akan menjauhinya.

“Duluan ya bro!” seru teman-temannya yang mendahului dengan sepeda motor berisik, membuatku takut.

“Rabu depan, lagi!”

“Ya.”

“Kenapa Teg?”

“Tolonglah, Lutfi kakinya sakit.” kata Ateg sembari menunjuk ke arahku dengan tatapannya.

Dia melihatku, tampak matanya cukup nakal bagiku. Sontak aku menggeleng. Mana sudi aku diantar sama cowo kaya dia.

Tak ada jawaban darinya. Cowo itu langsung tancap gas dengan keras, makin membuatku kesal dan jijik kepadanya.

“Tunggu, Rangga!” Ateg berseru.

“Udahlah biarin.” kataku.

Ateg menghembuskan napas panjang lalu kembali memapahku keluar dari lapangan, tepat menghadap Ruang Serba Guna. Mendadak seseorang melewati kami dengan menarik gerobak. Agak penasaran, aku melirik ke arahnya.

Ya ampun! Itu Gilang, bawa gerobak. Buat apa?

“Butuh tumpangan?” tawarnya dan berhenti di depan kami.

Aku diam, bingung harus menjawab apa. Dan akhirnya Ateg sontak bertanya: “Kamu ngapain bawa gerobak?”

“Mainan.”

Aku tetap tidak merespons. Bagiku, cuma orang bego yang percaya sama alasan anehnya. Dan mendadak Ateg tertawa, membuatku terkejut.

“Kamu percaya?”

Dia mengangguk semangat. “Ya.”

“Aneh,”

“Benar, Gilang emang aneh orangnya.”

Yang aneh itu kamuuuuuuu! Aduh, gimana sih?

Aku menatap ke arahnya. Dia juga mengenakan seragam yang sama seperti kami. Baju dan celananya basah kuyup, entah mengapa, aku ga bakal nanya. Persis seperti orang habis kecebur. Dan yang sangat menjadi khas dari Gilang: dasi yang dikenakan rapi tapi ujung hingga sepertiga bagiannya dislempangkan ke pundak kiri.

Aku tidak mengerti kenapa dia begitu, maksudku, buat apa pakai dasi kalau disematkan terus? Masa iya, suka makai syal, jadi dasi dibawa-bawa?

“Butuh tumpangan?” Gilang kembali menawar-kan bantuan.

Aku hanya melengos. Tumpangan apa? Naik gerobak? Kamu kan sering bawa sepeda, harusnya nawarinnya pakai sepeda dong! Eh, kok aku ngarep yah?

“Ikut Gilang, ya?” Ateg berbisik.

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

Tak bisa kujawab apa alasannya. Memang aku bingung. Jadi, saat itu, aku kembali memaksa diri untuk melangkah.

Seakan mengetahui mauku, Ateg meminta maaf pada Gilang dan kembali membantuku.

“Jangan memaksakan diri.”

Aku berhenti sejenak, menoleh kepada pria di belakangku sesaat, dan melangkah pergi begitu saja.

Seakan tidak menyerah, dia menghentikan gerobaknya tepat di depanku. Memaksaku harus bergeser agak jauh untuk menghindarinya.

Diam. Kupikir dia menyerah, ternyata tidak.

“Jangan buat flu tulangmu lebih parah.”

Aku berhenti karena kaget. Saat itu, selain keluarganya, di SMA cuma Ateg yang tahu tentang penyakitku yang satu ini. Dan, aku baru memberitahunya tadi. Jadi, kenapa Gilang tahu aku punya flu tulang? Apa dia lihat hasil tesku tadi pagi?

Aku menatap Ateg. Tampak dia juga kebingung-an.

Seketika Gilang, lagi-lagi menghentikan gerobak-nya di depan kami. “Naiklah.”

“Ikut aja, ya?” bisik Ateg

Aku menyerah untuk menolak. Jadi aku mengangguk. Namun tiba-tiba Gilang berlari pergi entah kenapa.

Eh?

Tapi, tak lama kemudian dia kembali membawa terpal, lalu dia gunakan untuk melapisi alas dan tiap sisi gerobaknya.

Selesainya, Gilang berdiri sempurna dan memandangku.

Bagiku, di matanya saat itu, dia hanya melihat aku seorang. Tapi, entahlah.

“Maaf, aku ulangi: naiklah.” katanya mempersilahkan.

Aku menaiki gerobak itu dengan bantuan Ateg, sedang Gilang memegangi gerobaknya agar tidak gerak-gerak.

Setelah semua beres, dan aku duduk dengan nyaman bersama tasku. Gilang menarik gerobak dengan Ateg di sisinya. Entah kenapa ada sedikit rasa cemburu.

“Lang, kamu sih dapat gerobak ini dari mana?” Ateg nanya.

“Oh, ini gerobak sampah sekolah.”

Deg! Sungguh, sebenarnya ingin sekali aku berteriak marah. Tapi, bagaimanapun, gara-gara ini aku jadi tertolong. Dan ketika kutimbang-timbang lagi, gerobak ini ga bau sampah.

“Ha ha ha.” Mendadak hp Ateg berbunyi. “Eh, bentar.” Pintanya dan melangkah menjauh untuk mengangkat telpon.

Gilang menghentikan laju roda dengan sangat pelan. Lalu menatapku.

Aku melengos. Kenapa? Ya karena malu lah.

Sekitar lima menit kemudian Ateg kembali. “Maaf, aku harus pergi.”

“Kenapa?” tanyaku kaget.

“Ada teman kelas di fotocopy depan minta file buat tugas besok.”

“Ta-tapi Teg.”

“Tenang. Gilang bakal nganter kamu sampai kost kok. Aku juga ga lama, bentar doang. Nanti ketemu di kost.”

Aku diam. Tidak berani merusak urusan pentingnya.

“Dah,” katanya dan berlalu dengan lari-lari kecil.

Sungguh, aku sangat bingung sekarang harus bagaimana. Aku terjebak di dalam gerobak sampah yang dikendarai oleh Raja Tidur.

♥ ♥ ♥

v

Sesampainya di depan gerbang kost. Seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman terkejut lalu menghampiri kami.

“Astaghfirullah, ada apa ini?”

“Kaki Lutfi sakit.” Gilang menyerobot sebelum aku sempat menjawab. Dia juga tetap menarik gerobak hingga masuk lebih dalam.

“Kok bisa?”

“Cuaca dingin.”

Loh? Dari mana dia tahu?

Sampai di teras roda gerobak dipaksa berhenti menggelinding. Kemudian memutar gerobak dan membuat pintu gerobak menghadap tepat ke teras.

“Oooh.... aduh, sini-sini ibu bantu.” kata ibu kost dan membantuku turun. Lalu membuatku duduk di kursi tamu perlahan.

“Makasih ya mas udah mau bantuin.”

Dia mengangguk dan pergi gitu aja sambil bilang. “Permisi.”

Selanjutnya, ibu kost menghampiriku dan bertanya: “Itu tadi pacarmu?”

“Bukan!” jawabku cepat.

“Tapi dia yang ke sini kemarin sore, kan?”

Aku mengangguk.

“Dia juga yang nelpon malam-malam, kan?”

Aku mengangguk malu.

“Pasti dia naksir sama kamu.”

Aku makin malu dibuatnya. Diam. Bingung harus menjawab apa.

“Ya sudah, ayo masuk dulu. Nanti ibu siapin air panas buat kamu mandi.”

Aku senyum gembira mendengarnya. Selain Ateg, di sini, ibu kost juga sangat mengerti aku.

Namun harus kuakui. Saat itu, mataku terus memandang ke arah terakhir Gilang menghilang seakan ditelan oleh jalan. Apa saat itu aku tidak ingin pisah dengannya?

1
Yanih Wahyuni
aku suka ceritanya😊
siska
kak author terakhir updet tanggal 08-06-2020 dah lama banget apa author hiatus atau pindah platfrom jika iya bisa saya tau kalo hiatus kapan akan kembali lagi membawa cerita novel ini jika pindah platfrom pindah kmana saya sangat penasaran dengan kelanjutan novel ini bukankah belum tamat masih ada 2 bagian lagi dan bagian 3 blum selesai
saya berharap author membalas nya
Penulis Noname: halo kak siska, untuk novel Lutfi Gilang sudah kembali lanjut dengan judul yang sama. Namun menggunakan akun yang berbeda.

bisa langsung dicek ya kak.
total 2 replies
siska
kak author lanjuuttt ceritanya
aku tunggu sampai tamatt
sampai gilang ketemu lagi sama lutfi
sampai mereka nikah dan punya anak


aku tunggu dan bakal menanti sampai author lanjut lagi cerita nyaaa
Dan Banu: Sudah ada ya, bisa dibeli karena hanya ada di buku cetak saja
total 1 replies
v,v
aku mampir dan membawa like ya kak.

buat kaka kaka jika berkenan, mampir yuk ke lapaknya #AING MACAN🐯
Gribelion
bisa luang kan waktu anda untuk membaca novel ku Hidden Feeling 😁✌️
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Khusnul Maratus Soliah
menganti oowh menganti....
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Muhammad Ari
keren thor, ijin promo ya, jgn lupa mampir di novel dg judul "sudden kiss" 😇😇😇
Aku
💕👍
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
😊
so sweat
😊: Pasti,,, semangat thor
total 2 replies
😊
bikin baper nihhhhh
😊: Ok Kaka
total 2 replies
Bu$u®🌼
novel yg indah, ga bikin halu
Dan Banu: terima kasih atas pujiannya.
Semoga selalu menikmati novel Lutfi Gilang
total 1 replies
Epron Putra
jngn lpa main ke crita aq ya kak ni udah aq tinggalin like dan komen jga smngt kak
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Aku
👍👍💕💕
Dan Banu
uhuy, siap
Tika
muncul lagi kata-kata baru. ga ngulang kata-kata yg sama jadi ga bikin bosen.

lanjuuuut!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Lutfi
gilang kan jago silat! hihihi
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Dinda
serem
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Nurrizky
bingung jomen apa. udah bagus
🆙🆙🆙🆙
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Mr. R
wohohooo menang!!!!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Black Sword
mantap berantemnya

up terus
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!