Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasca Badai Ditengah Malam
Episode 10
Pagi itu, suasana di Akademi Elang Hijau terasa sangat berbeda. Biasanya, jam-jam awal sebelum kelas dimulai adalah waktu bagi para murid untuk bersantai di lapangan atau sekadar mengobrol di kantin. Namun hari ini, barisan penjaga berseragam zirah lengkap tampak berpatroli di setiap sudut koridor. Wajah-wajah mereka tegang, dan setiap murid yang lewat diperiksa dengan sangat teliti.
Reno duduk di pinggir tempat tidurnya, mencoba mengatur napasnya. Tubuhnya terasa seperti baru saja dipukuli oleh ratusan orang. Efek dari ledakan energi fragmen jiwa semalam ternyata jauh lebih berat dari yang ia duga. Punggungnya memar kebiruan, dan setiap kali ia menarik napas dalam, dadanya terasa nyeri.
"Reno, kau yakin tidak apa-apa?" Dito bertanya sambil memakai sepatu botnya. Matanya yang bulat di balik kacamata tebal menatap Reno dengan penuh kekhawatiran. "Wajahmu sangat pucat sejak tadi malam. Mungkin kau tertular demam yang sedang beredar di kota?"
Reno memaksakan sebuah senyuman kecil, meski itu membuat otot pipinya terasa kaku. "Aku hanya kurang tidur, Dito. Suara gaduh penjaga tadi malam membuatku sulit memejamkan mata. Kau tahu sendiri, aku orang desa yang terbiasa dengan keheningan hutan."
Dito mengangguk mengerti. "Iya, kau benar. Tapi kau dengar tidak? Kabarnya ada penyusup yang mencoba mencuri sesuatu di bawah patung Elang Perunggu. Penjaga bilang ada bekas ledakan besar dan pohon-pohon di sana hangus hitam. Seram sekali, ya? Siapa yang berani masuk ke akademi ini dan berbuat onar?"
Reno berpura-pura terkejut. "Ledakan? Di bawah patung Elang? Pantas saja penjagaannya seketat ini."
"Hmph... Manusia gendut itu terlalu banyak bicara," sebuah suara lemah dan serak bergema di kepala Reno.
Reno tersentak. Ia meraba area di bawah bantalnya. Nidhogg masih berada di sana, namun tubuhnya terasa sangat panas, seolah olah cacing itu sedang terbakar dari dalam.
"Reno... jangan banyak bergerak... aku sedang... mencerna fragmen itu... energi ini... sangat liar..."
"Apa yang harus kulakukan untuk membantumu?" bisik Reno pelan saat Dito sedang berada di kamar mandi.
"Salurkan... energi mentalmu... ke dalam kontrak jiwa... aku butuh penyeimbang... agar jiwaku tidak meledak..."
Reno segera menutup matanya. Ia kembali ke posisi meditasi. Di kehidupan sebelumnya, ia belajar cara fokus di tengah kebisingan rapat pemegang saham yang ricuh. Sekarang, ia menggunakan kemampuan fokus itu untuk masuk ke dalam lautan jiwanya sendiri.
Di sana, ia melihat Nidhogg yang sedang berguling guling di tengah kabut hitam. Fragmen jiwa yang semalam tertelan kini berbentuk seperti bola api merah yang berada di dalam perut Nidhogg. Setiap kali bola api itu berdenyut, Nidhogg akan menjerit kesakitan.
Reno membayangkan energinya sendiri sebagai air dingin yang menenangkan. Ia mengalirkannya perlahan, membungkus bola api itu agar panasnya tidak merusak tubuh Nidhogg. Ini adalah proses yang melelahkan. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam bagi Reno. Keringat dingin mulai membasahi seragam hijaunya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk dengan keras. Reno tersentak dan terpaksa memutus meditasinya.
"Pemeriksaan rutin! Semua murid keluar ke lorong untuk verifikasi binatang kontrak!" suara berat seorang penjaga terdengar dari luar.
Reno mengumpat dalam hati. Waktunya sangat tidak tepat!
Ia segera mengambil Nidhogg dan memasukkannya ke dalam saku rahasia di balik ikat pinggangnya, bukan di saku baju seperti biasanya. Ia tidak ingin aura panas Nidhogg terdeteksi.
Di lorong asrama, puluhan murid sudah berbaris. Di depan mereka berdiri Instruktur Raka dan beberapa petugas keamanan akademi. Di tangan salah satu petugas, terdapat sebuah alat yang menyerupai kompas perunggu itu adalah Alat Pendeteksi Energi Gelap.
"Setiap murid, tunjukkan binatang kontrak kalian. Kami mencari sisa-sisa energi dari penyusup semalam. Jika ada binatang yang menunjukkan reaksi aneh, pemiliknya akan dibawa untuk diinterogasi," ucap Instruktur Raka dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
Satu per satu murid maju. Dito menunjukkan Kelinci Pengendus nya. Alat itu diam, tidak ada reaksi. Bagas maju dengan Serigala Berduri nya. Serigala itu tampak gelisah karena banyak penjaga, tapi alat itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda energi gelap.
Kini giliran Reno.
Reno melangkah maju dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit gontai, seolah ia benar-benar hanya murid desa yang kelelahan.
"Reno, tunjukkan cacing mu," perintah Raka. Matanya yang tajam menatap Reno seolah ingin menembus isi kepalanya.
Reno merogoh sakunya dan mengeluarkan Nidhogg. Cacing itu tampak lemas, warnanya kusam, dan sama sekali tidak bergerak. Nidhogg sengaja berpura-pura mati atau pingsan untuk menekan auranya sedalam mungkin.
Petugas mendekatkan alat pendeteksi ke arah Nidhogg.
Tiktak... Tiktak...
Jarum di alat itu bergetar sedikit, membuat jantung Reno hampir berhenti berdetak. Namun, jarum itu tidak menunjuk ke arah warna merah (bahaya), melainkan tetap di warna abu-abu (normal).
"Binatang mu terlihat sangat lemah, Reno. Kenapa dia seperti ini?" tanya Raka sambil menyipitkan mata.
"Sepertinya dia sakit sejak ujian kemarin, Instruktur. Menghancurkan batu obsidian sepertinya menguras seluruh energinya. Saya berencana membawanya ke tabib binatang hari ini," jawab Reno dengan wajah yang tampak sangat khawatir.
Raka diam sejenak, memperhatikan Nidhogg dengan seksama. "Seekor cacing memang tidak punya daya tahan yang besar. Masuk akal jika dia kelelahan. Tapi tetaplah waspada. Jika terjadi sesuatu padanya, segera lapor."
"Baik, Instruktur."
Reno kembali ke barisannya. Ia bisa merasakan tatapan Bagas yang penuh kebencian dari kejauhan, tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah Nidhogg yang kini detak jantungnya semakin tidak beraturan di telapak tangannya.
Setelah pemeriksaan selesai dan murid-murid dibubarkan, Reno tidak pergi ke kantin. Ia segera menuju ke taman belakang akademi yang jarang dikunjungi orang. Di sana ada sebuah kolam tua yang ditumbuhi teratai. Reno duduk di bawah pohon beringin besar, tempat yang cukup tersembunyi.
"Nidhogg, kita aman sekarang. Apa kau bisa bertahan?"
Nidhogg tidak menjawab lewat suara, melainkan lewat perubahan fisik yang nyata. Tiba-tiba, kulit merah Nidhogg mulai mengelupas. Di bawah kulit yang lama, muncul sisik-sisik baru yang berwarna hitam pekat, namun memiliki kilau metalik seperti baja. Tubuhnya sedikit memanjang dan menjadi lebih berotot.
Ini adalah proses Evolusi Paksa akibat menyerap fragmen jiwa naga.
Reno memegang Nidhogg, dan tiba-tiba sebuah sensasi aneh mengalir ke tangannya. Ia melihat penglihatan sekilas sebuah kerajaan besar yang terbakar, naga raksasa yang menutupi langit, dan ribuan orang yang berteriak ketakutan. Itu adalah ingatan masa lalu Nidhogg.
"ARGGHHH!" Nidhogg mengeluarkan suara pekikan kecil yang hanya bisa didengar oleh Reno.
Tiba-tiba, dari tubuh Nidhogg keluar sebuah kepompong bening yang membungkus seluruh tubuhnya. Nidhogg sekarang berbentuk seperti sebongkah batu hitam kecil yang hangat.
"Reno... aku harus... masuk ke dalam fase kepompong... selama tiga hari... jangan biarkan... kepompong ini pecah... atau jiwaku akan hilang..."
Reno tertegun. Tiga hari? Itu berarti selama tiga hari ke depan ia tidak akan memiliki binatang kontrak yang bisa ia tunjukkan di kelas. Jika ada guru yang memintanya memanggil binatangnya, ia akan dalam masalah besar.
"Baiklah, aku akan menjagamu. Tapi kau harus janji, setelah keluar dari sini, kau harus benar-benar kuat," bisik Reno sambil memasukkan kepompong hitam itu ke dalam tas kecil yang ia ikat di dadanya, tersembunyi di balik baju seragamnya.
Reno kembali ke gedung utama untuk mengikuti kelas teori. Di sana, ia bertemu Lani. Gadis itu tampak sangat cemas.
"Reno! Kau tidak apa-apa? Kudengar asrama mu diperiksa sangat ketat tadi pagi," tanya Lani sambil menarik tangan Reno ke sudut koridor.
"Aku baik-baik saja, Lani. Hanya sedikit lelah," jawab Reno.
"Reno, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu," Lani merendahkan suaranya, matanya melirik ke kiri dan kanan. "Tadi pagi, aku melihat Bagas berbicara dengan salah satu pengawal kota yang memakai jubah hitam di dekat pintu belakang akademi. Mereka menyebut namamu. Aku rasa Bagas sedang merencanakan sesuatu yang buruk."
Reno mengernyit. Jubah hitam? Apakah itu pria yang ku lawan semalam atau kawanannya?
Jika Bagas bekerja sama dengan orang-orang yang mencari fragmen jiwa, maka situasi Reno jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Ia sekarang tidak hanya berhadapan dengan bully sekolah, tapi dengan organisasi rahasia yang mengincar Nidhogg.
"Terima kasih informasinya, Lani. Kau harus hati-hati juga. Jangan sampai mereka tahu kau bicara padaku tentang ini," ucap Reno dengan nada serius.
Lani mengangguk, wajahnya tampak sangat bertekad. "Aku akan membantumu sebisa mungkin, Reno."
Setelah Lani pergi, Reno berdiri diam di koridor yang ramai itu. Ia merasakan berat kepompong Nidhogg di dadanya. Reno sadar, ia tidak bisa hanya diam menunggu Nidhogg bangun. Ia harus memperkuat dirinya sendiri secara mandiri.
Jika aku tidak bisa mengandalkan Nidhogg untuk sementara waktu, aku harus menggunakan cara lain, pikir Reno. Di perpustakaan kemarin, aku melihat buku tentang teknik pernapasan untuk penjinak tanpa binatang. Aku harus mempelajarinya malam ini.
Reno berjalan menuju ruang kelas dengan langkah yang lebih waspada. Ia bukan lagi sekadar penjinak cacing yang beruntung. Ia adalah penjaga fragmen jiwa yang dicari oleh organisasi gelap. Dan untuk mencapai bab-bab berikutnya dalam hidupnya, ia harus belajar bagaimana cara bertarung sebagai manusia, bukan hanya sebagai majikan binatang buas.
Tiga hari ke depan akan menjadi ujian kesabaran yang sesungguhnya bagi Reno. Satu langkah salah, dan semuanya akan berakhir di sini.