NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelaparan

"Assalamualaikum!"Itu suara  Elang. Suara yang kini terasa seperti melodi penyelamat di tengah malam yang dingin. Arumi segera bangkit dengan sisa tenaga yang ada, berusaha menahan perih di perutnya yang terus melilit. Dengan tangan gemetar sedikit, ia membuka pintu kos yang sederhana itu.

"Waalaikumsalam, Mas," jawab Arumi berbinar, meski wajahnya masih pucat.

"Maaf, aku pergi terlalu lama. Tadi ada obrolan sedikit dengan pemilik kos soal tagihan listrik bulan ini," ujar  Elang sedikit berbohong , saat melangkah masuk sambil membawa helm di tangan kanannya. Ia menutup pintu dengan pelan, lalu menatap Arumi lebih saksama.

Arumi hanya mengangguk kecil, namun tangannya tak lepas dari perut yang terus melilit seperti ada yang memilin-milin dari dalam. Wajahnya  mungkin terlihat pucat pasi seperti mayat hidup, bibirku kering, dan keringat dingin menetes di pelipis.

"Kamu kenapa, Arumi? Perutmu sakit?" tanya Elang seketika. Raut wajahnya berubah panik dalam sekejap. Ia mendekat dengan langkah cepat, menatap kearah Arumi  dengan sorot mata penuh kekhawatiran yang tulus, alisnya bertaut, dan tangannya hampir terulur untuk menyentuh dahi Arumi .

"Iya, Mas ...  sedikit perih," jawab Arumi  sambil meringis, berusaha tersenyum tipis agar tidak terlihat terlalu lemah.

"Ayo kita ke dokter! Sekarang juga! Aku takut kamu kenapa-napa," katanya dengan nada mendesak yang membuat hati Arumi  berdegup kencang. Elang sudah bersiap untuk membalikkan badan kembali ke motor, tangannya meraih kunci yang masih tergantung di pinggang celananya.

Melihat kepanikan di wajahnya yang biasanya tenang itu, hati Arumi  terasa hangat sekali. Aneh sekali. Pria yang baru  ia kenal ,bahkan baru beberapa jam menjadi suaminya  secara sahnya ,begitu khawatir melihat Arumi  kesakitan. Sementara ayah kandung Arumi  sendiri sering tidak peduli ketika ia  jatuh sakit di rumah. Bahkan dulu, saat demam tinggi, Ayah hanya bilang, "Minum obat saja, biar cepat sembuh," lalu pergi ke warung kopi dengan teman-temannya. Tapi Elang berbeda ia langsung panik seperti ini.

"Tidak usah ke dokter, Mas. Aku tidak apa-apa, sungguh," Arumi mencoba menenangkan Elang , suaranya pelan dan sedikit bergetar.

"Mana bisa sembuh sendiri kalau tidak diobati? Ayo, jangan keras kepala," desak Elang lagi, suaranya semakin mendesak sambil tangannya sudah memegang gagang pintu.

Arumi menundukkan kepala, merasa malu harus mengakui ini di depan pria yang baru saja menikahinya  secara siri malam ini. Pipinya  terasa panas, seperti ada api kecil yang menyala di sana."Bukan begitu,Mas ... perutku sakit bukan karena penyakit. Tapi karena ...  aku sangat lapar."

Suasana hening sejenak. Arumi  bisa merasakan  Elang menatapnya  lekat-lekat, matanya melebar sedikit karena terkejut. Lalu perlahan raut paniknya berubah. Ia tersenyum tipis, hampir seperti tawa kecil yang tertahan di tenggorokannya.

"Oh, jadi kamu sakit karena kelaparan?" tanyanya lembut, nada suaranya berubah menjadi penuh kehangatan yang membuat Arumi semakin malu.

"Hehe, iya Mas.Terakhir makan jam dua belas siang tadi. Bakso bakar yang kubeli juga tidak sempat kumakan karena tertinggal di rumah Ayah," Arumi  menjelaskan dengan wajah merona merah karena malu. ia  menunduk lebih dalam, jari-jarinya saling meremas ujung baju kaos longgar yang ia pakai. ("Ya Tuhan, malunya bukan main. Baru saja menikah, sudah merepotkan suami karena kelaparan seperti anak kecil yang lupa makan.")

Elang tertawa kecil, suara tawanya terasa sangat renyah di telinga, seperti angin sejuk yang menyapu kegelisahan Arumi "Ya sudah, sebentar. Sepertinya ada sisa nasi dari makan soreku tadi, tapi maaf, lauknya sudah habis. Cuma ada sambal terasi sedikit di kulkas."

"Tidak apa-apa, Mas! Pakai nasi putih saja tidak masalah, yang penting perutku terisi agar aku bisa tidur nyenyak malam ini," sahut Arumi cepat, masih dengan wajah yang memerah. ia  berusaha tersenyum, tapi pasti terlihat kikuk sekali.

"Jangan hanya nasi putih, mana enak? Tunggu sebentar, sepertinya stok bakso bakarku masih ada beberapa tusuk di gerobak dagangan. Biar aku hangatkan sebentar untukmu," ujarnya penuh perhatian sambil sudah berbalik ke arah pintu. Ia tidak terlihat kesal sama sekali, malah matanya berbinar seperti senang bisa membantu.

"Terima kasih, Mas ...  maaf kalau merepotkan," kata Arumi  pelan, suaranya hampir hilang karena rasa malu yang semakin menumpuk. ("Kenapa aku harus lapar di malam pertama seperti ini? Harusnya aku bisa lebih siap. Sekarang Mas Elang pasti menganggapku anak kecil yang tidak bisa jaga diri.")

Elang kembali tersenyum manis senyum yang membuat Arumi  terpaku sejenak. Dalam balutan kaos sederhana berwarna hitam yang sedikit kusut karena seharian bekerja, dan cahaya lampu neon yang redup di kamar kos ini, ia terlihat sangat tampan. Ada ketulusan yang memancar dari wajahnya yang tegas tapi lembut. Rahangnya yang tegas, mata sipit yang hangat, dan senyum yang sedikit miring di sudut bibir.

("Gila, senyumnya benar-benar berbahaya. Aku hampir lupa kalau dia ini suamiku sekarang. Kok bisa ya, pria seperti ini mau nikahin aku yang cuma ...") batin Arumi sambil terbengong, mata tak lepas dari wajah Elang

"Heh,malah melamun lagi! Malam-malam begini jangan bengong, nanti kesambet lho!" goda  Elang sambil menyentuh bahu Arumi  pelan dengan ujung jarinya. Sontak Arumi tersentak, tubuhnya seperti tersengat listrik kecil. Sentuhan itu ringan, tapi terasa hangat menjalar ke dada.

"E-eh, maaf Mas!" sahut Arumi  kikuk, pipinya  semakin panas seperti tomat matang. ia  cepat-cepat menunduk, tangan kanannya mengusap-usap lengan baju sendiri untuk menyembunyikan kegugupan. ("Ya ampun, Arumi! Kenapa kamu melamun di depannya? Pasti dia pikir aku aneh atau ...  atau suka banget sama dia. Padahal baru beberapa jam tahu dia sebagai suami.")

"Kenapa harus minta maaf ,kamu kan nggak salah ."

"Aku merepotkan mas ,dan mulai sekarang aku akan menjadi beban untuk Mas Elang ."

Elang tersenyum lembut ,dan menggelengkan kepalanya ."Aku tidak merasa direpotkan ,dan kamu juga bukan menjadi beban ,kamu adalah istriku ,sudah kewajibanku sebagai suamimu ."

Arumi ,terdiam dan tak mampu berkata -kata

"Ya sudah, aku ke depan dulu sebentar ya. Mau ambil sisa bakso dan sekalian memasukkan tabung gas ke dalam rumah. Takut hilang kalau ditinggal di luar semalaman," pamit Elang  sambil melangkah keluar menuju motornya yang diparkir di halaman kos. Suaranya masih terdengar riang, seolah-olah kejadian tadi tidak membuatnya terganggu sama sekali.

Arumi menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Bahunya lebar, langkahnya mantap meski lelah setelah seharian berjualan bakso bakar keliling. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arumi merasa bahwa mungkin ,hanya mungkin keputusan nekatnya  malam ini adalah langkah awal menuju kebahagiaan yang selama ini hilang dari hidupnya  Kabur dari rumah, menikah siri dengan  Elang yang baru ia kenal  beberapa menit semua terasa gila. Tapi melihat perhatiannya tadi ...  rasanya ada harapan kecil.

1
Neng Saripah
lama2 istrimu bisa curiga kamu belanja sebanyak itu ,lang 🤭
MayAyunda: he .he. .Iya kak
total 1 replies
Dwiwinarni
suatu saat nanti gilang akan membahagiakan arumi, sabar ya arumi sapa tahu gilang anak horang kaya😃
MayAyunda: he he
total 3 replies
Dwiwinarni
Arumi tidak sudi menikah sama juragan dirga, mending hidup jadi gembel dijalanan.. Elang bersedia menikah sama arumi...
Dwiwinarni
Bagus arumi jangan mau menikah juragan dirga sibandot tua itu🤭
Dwiwinarni
Elang hanya penjual bakso tusuk bakar, dihina abis2an...
Dwiwinarni
bagus itu baru pria gentmen elang...
Dwiwinarni
Kasian arumi yg jadi korbannya menikah sama bandot tua botak🤣🤭
MayAyunda: iya kak😄😄
total 1 replies
Rosmenti Sitanggang
lanjut thor💪💪
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Dwiwinarni
Ini mah kebalik cewek ngelamar cowok🤣dasar arumi belum kenal dah berani ngelamar😃
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Nanik Arifin
semoga pernikahan kalian samawa & langgeng. baik tinggal dikontrakan petak maupun di mansion
MayAyunda: aamiin
total 1 replies
Nanik Arifin
tenang Arumi, suamimu ceo, pemilik perusahaan t4 kamu kerja
MayAyunda: iya kak .he.he
total 1 replies
Nanik Arifin
puas"in senyumnya Bu Lastri, krn setelah kepergian Arumi, gaya hidupmu & anakmu minta dilunasi. klo tak ada uang, ya udah bayar aj putrimu atau dirimu sendiri. lumayan kan, jadi istri Tuan Dirga yg kaya...😜
MayAyunda: .he .He ..betul itu kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
enak aj suruh Arumi yg membuat hutang lunas, kan yg pakai uangnya kalian? suruh aj tuh Rina nikah sama juragan Dirga, lagian pacarnya yg direktur blm tentu mau nikahi juga kan ? y ogahlah punya istri + mertua benalu
Nanik Arifin: masama. semangat thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!