NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Suami Bucin

Menikahi Mantan Suami Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kopii Hitam

Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.

Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.

Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.

Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.

Suasana duka begitu kentara, aroma kembang dan kapur barus samar-samar masih tercium di ruang tengah kediaman Ahmad. Rumah besar itu kembali sunyi setelah para kerabat berpamitan dan kembali ke luar kota.

Ahmad menghembuskan nafas terakhir di usia 89 tahun, hari ini malam ketiga setelah jasad beliau dikebumikan.

Rumah yang tadinya ramai dikunjungi kerabat dan para tetangga kini kembali sepi, asisten rumah tangga sudah masuk ke kamar belakang setelah membersihkan ruangan dan dapur, meninggalkan Bella yang masih terpaku di ruang makan mengenang sosok Ahmad yang selama dua tahun ini begitu menyayanginya, kepergian orang tua itu menjadi pukulan berat baginya. Bagaimana tidak, sepanjang hidup baru kali ini dia merasakan kasih sayang yang begitu tulus.

Dalam lamunannya yang panjang, Bella terperanjat mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Dengan wajah sembab dan mata yang masih merah, Bella mencoba bangkit dari kursi, berniat menuang air putih untuk Fahri yang baru saja pulang usai mengantar sang kakak ke bandara.

"Tidak usah!" ucapan Fahri itu membuat kaki Bella yang sudah separuh berdiri terpaku sejenak, dia kembali duduk setelah Fahri menunjuk ke arah kursi. Setelah Bella duduk, Fahri pun ikut duduk, keduanya saling berhadapan.

Sejenak ruangan menjadi sangat hening, keduanya hanya diam saling mematut. Tatapan Bella yang sayu berbanding terbalik dengan Fahri, sorot mata pria itu nampak tajam mendominasi, rahangnya yang tegas membuat Bella panik namun berusaha tenang sambil meremas jari.

"Kakek sudah pergi, soal perjanjian..." Fahri terdiam sejenak, tenggorokannya tercekat, sulit melanjutkan kata-kata.

Deg...

Darah Bella berdesir mendengar kata perjanjian yang terlontar dari mulut Fahri, dadanya terasa sesak seketika, mata yang tadi sudah kering kini kembali basah, sekuat tenaga dia coba menahan, menekan jari-jari agar air matanya tidak jatuh di hadapan Fahri.

Melihat reaksi Bella, Fahri menghela nafas panjang, rasanya tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia tau Bella masih terpukul kehilangan sang kakek, dua tahun ini hubungan keduanya sangat dekat layaknya cucu dan kakek kandung. Namun setelah memikirkannya lagi, Fahri kembali bersuara. "Soal perjanjian waktu itu..."

"Aku tau..." potong Bella dengan sedikit anggukan sebelum Fahri menyelesaikan perkataannya.

Fahri mengernyit, keningnya mengkerut membentuk lipatan tipis, sepertinya Bella sudah tau maksud ucapannya.

"Ini dokumen yang Bapak minta," seorang pria dengan tubuh tegap tiba-tiba datang dan mendekat, menyodorkan sebuah map ke tangan Fahri. Setelah Fahri mengambil map tersebut, pria itu beranjak pergi.

Dengan wajah dingin dan kaku, Fahri menyodorkan map yang ada di tangannya ke arah Bella. "Baca dulu sebelum tanda tangan!"

"Tidak perlu!" Bella meraih map itu dan membukanya perlahan, seolah tidak merasakan apa-apa dia dengan sigap menyambar pena yang ditaruh di atas meja lalu menandatangani surat cerai yang sudah disiapkan Fahri untuknya.

Melihat Bela menggoreskan tinta di atas kertas tersebut, dada Fahri bergetar, rahangnya mengeras, tangannya mengepal, perasaannya tidak karuan. Dia tidak tau apakah harus senang atau sedih menghadapi perceraian ini, bagaimana pun mereka sudah hidup bersama selama dua tahun penuh, meski tanpa cinta namun hubungan keduanya cukup harmonis layaknya suami istri di luar sana.

"Ini kunci rumah, kunci mobil dan kartu ATM untukmu, setiap bulannya aku akan mentransfer..."

"Tidak usah, aku tidak punya hak atas semua ini." sebelum Fahri selesai bicara, Bella memotong dan bangkit dari kursi. "Terima kasih untuk waktu dua tahun ini," sambung Bella dengan wajah datar, mengembalikan kertas yang sudah dia tandatangani lalu melangkah pergi, mengabaikan barang pemberian Fahri yang tergeletak di atas meja makan.

Dua tahun lalu, kakek Ahmad memang memaksa Fahri menikahi Bella. Bukan tanpa alasan, beliau sudah terlalu tua dan sakit-sakitan, sementara kedua orang tua Fahri sudah meninggal lebih dulu.

Meski Fahri mempunyai seorang kakak, namun wanita itu memilih menetap di luar negeri, adapun kerabat lain tinggalnya jauh di luar kota. Kakek Ahmad tidak ingin meninggalkan Fahri seorang diri di rumah mereka yang cukup besar itu, dia tidak ingin cucunya kesepian.

Mengingat usia sang kakek yang sudah sangat renta dan penyakit yang dideritanya, Fahri terpaksa menurut. Sebelum menikah, dia dan Bella membuat perjanjian secara tertulis, Fahri akan bertanggung jawab sebagai seorang suami, begitupun dengan Bella. Sayangnya di atas kertas tersebut juga tertulis bahwa setelah kakek Ahmad meninggal, pernikahan mereka pun harus berakhir, keduanya menyetujui perjanjian tersebut.

Selama dua tahun ini, bagi Bella Fahri merupakan suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Meski tanpa cinta, hubungan keduanya terlihat rukun, tidak pernah bertengkar dan saling menghormati.

Fahri benar-benar sudah melakukan yang terbaik, begitupun Bella yang tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang istri, mulai dari pakaian, kebutuhan sehari-hari hingga makanan, Bella yang menyiapkannya sendiri, sayang sekali ketika di ranjang keduanya selalu kaku seperti kayu, tidak pernah saling menyentuh.

Di kamar, Bella duduk di tepi ranjang dan memandangi setiap sudut dengan mata berbinar. Dia tidak menyesal menikah dengan Fahri, dia justru bersyukur bisa keluar dari jurang terjal di masa lalu, Fahri memberinya kehidupan yang layak, dia merasa dilindungi dan dihormati sebagai seorang istri.

Dari awal, Bella sudah tau kemana arah hubungan mereka, dia sudah lebih dulu mempersiapkan diri, hanya saja menurutnya pergerakan Fahri terlalu cepat seolah-olah sudah tidak sabar meraih kebebasan, padahal kuburan kakek Ahmad masih basah.

Sambil menghela nafas berat, Bella beranjak menuju lemari, menurunkan koper dari atasnya dan mengemasi barang-barang miliknya. Tidak banyak, hanya beberapa stel pakaian, peralatan makeup dan pernak-pernik seadanya, selama ini dia memang tidak pernah membeli barang yang aneh-aneh, uang jatah dari Fahri sebagian dia tabung karena tau pernikahan mereka tidak akan bertahan lama.

...****************...

Pagi hari...

"Bella mana, Bik?" tanya Fahri kepada Yanti, asisten rumah tangga yang sudah belasan tahun ikut dengannya.

Fahri duduk di kursi kayu seperti pagi-pagi sebelumnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan menyisir setiap sudut ruang makan, hanya punggung Yanti yang terlihat sedang menyiapkan sarapan di dapur.

Mendengar suara Fahri, Yanti cepat-cepat mencuci tangan dan membawakan secangkir kopi beserta nasi goreng ke meja makan.

"Bella belum bangun ya, Bik?" tanya Fahri lagi, tidak biasanya Bella seperti ini, setiap pagi dia selalu lebih dulu masuk ke dapur menyiapkan sarapan. Lagipula selama menikah baru kali ini keduanya tidur di kamar terpisah.

"Pagi-pagi sekali Bu Bella sudah pergi, beliau membawa koper dan menitipkan ini untuk Bapak." Yanti menyodorkan lipatan kertas kecil titipan Bella kepada Fahri.

Deg...

Jantung Fahri berdegup kencang, rahangnya mengeras menatap lipatan kertas yang disodorkan Yanti ke arahnya, segera dia ambil dan membukanya terburu-buru.

Setelah membaca isi surat tersebut, Fahri terperangah dengan punggung tersandar di kursi, tangannya terasa lemas dan terkulai ke sisi tubuhnya, menjatuhkan selembar kertas yang tersurat hanya dengan beberapa kata, kata terima kasih yang berulang kali Bella sampaikan padanya.

1
Uthie
Begitulah laki tuhh,.. sendiri nya gak nyadar udah bikin istrinya cemburu dengan interaksi nya pada wanita lain, sedang saat istrinya interaksi juga dengan laki2 lain sendiri nya lebih terbakar lagiii oleh api cemburu 😁😁
Kopii Hitam: huahaaa, benar ya kk🤣
total 1 replies
Uthie
akhiiirrnyaaa.. buka puasa juga yaa 😂
Kopii Hitam: asekkkk😄
total 1 replies
Uthie
Bahagia selalu yaaa kalian berdua 👍👍😍🤗🤗🤗
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Bella tanda-tanda Hamidun kahh 😁😍
Uthie: 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Uthie
Duhhh.. dasar orang tua lucknut bisa nya cuma cari-cari Masalah aja 😡😡
Kopii Hitam: bikin kesel ya kk🤭
total 1 replies
Uthie
niceee 👍😍
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
muhammad ihsan
kok cuma satu bab thor
Kopii Hitam: besok ya KK 2 bab
total 1 replies
Uthie
Bagussss.. Hama emang harus di bersihkan 👍👍👍🤩
Kopii Hitam: bersihkan 🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Nahhh....bagus itu 👍😡
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡
Kopii Hitam: ok kak👍👍
total 1 replies
Uthie
Nahhh....gitu dong 👍👍😁
Kopii Hitam: siap🙏🙏🙏
total 1 replies
Uthie
senyum-senyum bacanya
Kopii Hitam: hmm😄🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Waowwww😂😂
Kopii Hitam: kak🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
Kasihan nya Bu Sari 😢
Kopii Hitam: iya /Sob//Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
Uthie
terlalu lemah 😌
Kopii Hitam: iya kak🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
coba mampir 👍🙏
Kopii Hitam: siap makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!