Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tara baru sampai di rumahnya pukul delapan malam. Gunawan sudah sadar. Sebenarnya Mia memintanya untuk menemaninya menginap di rumah sakit.
Dengan berat hati, Tara menolaknya. Bukan karena ia marah dengan Devan setelah pembicaraan mereka setelah makan siang. Melainkan karena mulai besok Tara akan menyiapkan berkas-berkas perceraian dan mencari pengacara untuk mendampinginya selama prosesnya.
“Udah pulang, Dek? Kirain nginep di rumah sakit.”
Tara menoleh. Haris duduk di sofa sembari bermain ponsel. Tara ikut duduk di sofa sebelah Haris.
“Tadinya sih disuruh nginep. Cuma aku nggak mau Mama berharap aku sama Devan balikan. Mama pasti bakal berusaha bujuk aku.”
Haris meletakkan ponselnya dan memiringkan tubuhnya menghadap Tara.
“Tapi Papa Gunawan udah sehat?”
“Masih sakit di bekas operasinya. Tapi Papa udah sadar kok.”
“Devan nggak macem-macem kan sama kamu?”
Tara menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. “Dia kayak berubah jadi cowok normal yang lagi ngrayu ceweknya ngajak balikan. Ada aja gombalannya. Kayak bukan Devan yang ku kenal.”
Haris tertawa pelan. “Terus respon kamu gimana?”
“Cuek aja. Kalau aja dia nglakuin itu di tiga tahun pernikahan kami, mungkin aku bisa bahagia dan percaya kalau dia cinta sama aku. Tapi sayangnya, dia bilang cinta setelah kepergok mesum sama cowok lain. Nggak mungkin juga aku jambak-jambakan sama tuh laki.”
Haris tertawa kencang. “Abang bayangin kamu jambak-jambakan sama tuh laki, Dek.”
Tara mendengus. “Nggak bakalan lah, Bang. Gila kali.”
“Terus kapan kamu mulai ngurus perceraian kalian?”
“Besok. Aku mau ke pengadilan agama dan cari pengacara.”
Haris mendekat, menarik Tara ke dalam pelukannya. “Maafkan Abang ya. Abang yang udah bawa Devan ke hidup kamu. Abang juga merestui pernikahan kalian. Abang yang buat hidup kamu menderita karena Devan yang nggak normal. Maafkan Abang yang udah jerumusin kamu ke dalam dunia itu. Maaf karena Abang, kamu harus menjadi janda di usia yang masih muda. Maafkan Abang, Dek. Abang udah gagal menjadi pelindung kamu. Abang gagal jadi orang tua buat kamu.”
Tara terdiam. Matanya berkaca-kaca. Bohong kalau dia juga tak menyalahkan Haris. Bohong kalau dia menyangkal semua ucapan Haris karena semuanya adalah benar. Haris adalah sumber kekacauan dalam hidupnya. Abangnya sendiri lah yang menjadi andil utama dalam hidup Tara yang berantakan ini.
“Kalaupun kamu benci sama Abang, Abang pasti akan terima. Kalaupun kamu nggak mau ngakuin Abang sebagai kakak, Abang juga akan terima. Abang tahu yang terjadi ke kamu adalah kesalahan Abang. Abang sedih. Kecewa sama diri sendiri saat kamu lebih milih menghubungi David ketimbang Abang waktu kamu kecelakaan. Abang ngerti kamu kecewa banget sama Abang. Maaf aja nggak akan cukup menebus semua penderitaan kamu selama menikah sama Devan, Dek. Abang pantas kamu benci.”
Tara melepas pelukan dan menatap lekat Haris. “Tahu dari mana aku ngehubungin David pas kecelakaan? David yang bilang?”
Haris menggeleng, tersenyum lirih. “Reaksi kamu sama kayak David pas aku bilang ke dia ngucap terima kasih karena udah nolong kamu.”
“David cerita apa aja sama Abang?” Tara mengernyitkan dahi.
“Nggak ada. Abang cuma menduga aja. Ternyata dugaan Abang benar.”
Tara mengembuskan napas lega. Syukurlah David tak cerita macam-macam. Melihat ekspresi Tara justru membuat Haris mengernyit curiga.
“Kamu nggak ngapa-ngapain sama David kan, Dek selama kalian berduaan?”
Tara terbelalak lalu menggeleng cepat. “Eh… Enggak kok. Aku kan lagi sakit karena terkena benturan waktu itu.”
Haris menyipitkan matanya. “Serius?”
“Ih Abang curigaan banget sama adiknya sendiri. Aku bisa jaga diri lah.”
Haris mengembuskan napas. “Syukurlah kalau begitu. Abang cuma nggak mau ini jadi masalah ke depannya. Selama dalam proses perceraian, jangan temuin David dulu. Jangan beri celah Devan untuk bisa mengelak dari perceraian kalian. Abang yakin Devan akan terus ngawasin kamu.”
“Abang setuju aku cerai sama Devan? Nggak mau ngeyakinin aku buat ngasih kesempatan ke dia?”
Haris menggeleng. “Waktu pesta anniversary pernikahan kalian yang ketiga kemarin, Abang janji akan bawa kamu pergi kalau kamu nggak bahagia sama dia. Dan sekarang, kamu kembali pulang ke rumah ini. Abang nggak akan ikut campur masalah pribadimu lagi, Dek. Setelah ketok palu, kamu bebas memilih pilihan hidupmu sendiri. Selama itu membuatmu bahagia, Abang akan selalu mendukung. Termasuk kalau kamu ingin balikan lagi sama David.”
Pipi Tara bersemu merah dan meremat jemarinya sendiri. “Kenapa sama David lagi?”
Haris tersenyum melihat perubahan wajah Tara. “Ya kalau dia sanggup bahagiakan kamu, kenapa tidak? Abang lebih percaya sama dia ketimbang Devan.”
“Tapi dia udah nyakitin aku di masa lalu kalau Abang lupa,” sanggah Tara.
“Walaupun begitu, pas kamu kecelakaan, dia lah orang pertama yang kamu hubungi. Itu artinya kamu percaya sama dia. Dan mungkin masih cinta juga.”
Tara mengeser duduknya, menjauh dari Haris. “Apaan sih. Ngaco Abang nih. Cerai juga belum udah mau ngrestuin hubungan baru aja.”
Haris terkekeh senang melihat tingkah Tara yang malu-malu. Ia yakin, sesuatu telah terjadi di antara mereka berdua selama Tara menghilang pasca kecelakaan.
Tapi apapun itu, selama Tara bahagia, Haris tak peduli apapun. Fokusnya sekarang adalah sang adik. Ia akan menebus semua rasa bersalah di masa lalu dengan memberikan kebebasan untuk Tara melakukan apa yang adiknya itu mau.
***
“David?”
David yang tengah melamun di teras rumahnya tersentak pelan lalu menoleh.
“Eh, Ibu.”
Lia tersenyum, duduk di sebelah sang putra sulung.
“Ngapain malam-malam melamun sendirian? Nglamunin apaan hayo?”
David terkekeh. “Seneng aja nglamun, Bu. Suasana malam yang tenang, sunyi, dan sepi bikin siapapun betah buat melamun.”
“Eum, apa ada perempuan yang lagi dekat sama kamu, Nak?”
David tersenyum, menggeleng pelan. “Dekat nggak ada, Bu. Tapi yang di pikiran baru ada.”
Raut wajah Lia mendadak sumringah. Ia menatap David penasaran.
“Siapa? Kenapa nggak didekatin aja?”
“Ada lah, Bu. Belum waktunya aja.”
“Emang kenapa? Dia masih jadi pacar orang?”
David tersenyum, tak menjawab.
Mata Lia membulat. “Oh Tuhan, jangan-jangan istri orang. Iyakah, Vid?”
David terdiam.
“Kalau istri orang jangan didekati, Nak. Secantik apapun dia, kalau milik orang lain, jangan kamu rebut. Dosa, Nak.”
David menoleh, menatap Ibunya dengan senyuman manisnya. “Ibu ini kebanyakan lihat media sosial makanya panik begini. Ibu tenang aja. David nggak mau juga kok deketin perempuan yang punya suami.”
“Bener loh ya, Vid. Ibu emang nggak bakal ngatur kamu lagi urusan jodoh. Tapi kalau kamu ngerebut istri orang, tentu saja Ibu bakal menentang keras.”
David menggenggam jemari Ibunya. “Aku tahu, Bu. Aku nggak akan ngelakuin hal itu. Aku juga takut nanti kalau dihajar suaminya. Nggak dapat jodoh malah wajah tampanku ini rusak ya bahaya. Yang ada calon istriku yang cantik nanti nggak mau sama aku.”
Lia menatap lekat wajah bahagia David saat mengatakan kalimat terakhir. Pipi David juga sedikit bersemu dengan tatap mata berbinar seolah membayangkan wajah seseorang.
Lia tersenyum. Ia tak bertanya lagi sekarang. Tapi ia tahu, sebentar lagi ia akan mendapatkan seorang menantu. Entah apa yang ditunggu David, tapi Lia akan bersabar. Ia tak kan mengulangi kesalahannya di masa lalu yang menjodohkan David dengan gadis pilihannya dan berakhir kabur di malam sebelum pernikahan.
“Ibu akan menunggunya, Vid. Cepat bawa calon menantu Ibu,” ucapnya pelan penuh kasih.
Bersambung …