NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:64.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 12

Lampu-lampu Jakarta Selatan menyala seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi ketika mobil yang dikendarai oleh Pak Vito akhirnya berhenti di depan sebuah hotel. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jalanan masih hidup, tapi tubuh mereka tidak.

Dipta membuka pintu mobil lebih dulu, menghela napas panjang. Wajahnya lelah, kemeja yang sejak pagi rapi kini sedikit kusut. Laras turun beberapa detik setelahnya, menggenggam tas kecilnya erat- seolah itu satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap tenang.

"Tuan, saya pamit dulu," ujar Pak Vito, sedikit menunduk. "Saya langsung ke tempat anak saya. Besok pagi saya standby."

Dipta mengangguk singkat. "Iya, Pak Vito. Terima kasih."

Mobil itu pun pergi, meninggalkan mereka berdua di bawah cahaya lampu hotel yang terang- terlalu terang untuk situasi yang terasa...tidak seharusnya.

Beberapa detik mereka diam.

"Masuk," ucap Dipta pada akhirnya datar.

Laras hanya mengangguk kecil, mengikuti langkah pria itu tanpa banyak bicara.

~

Lobi hotel tidak terlalu ramai. Hanya ada satu resepsionis perempuan yang berdiri di balik meja, tersenyum profesional saat melihat mereka mendekat.

"Selamat malam, Pak. Selamat malam, Bu. Ada yang bisa di bantu?"

Sapaan itu membuat langkah Laras sedikit terhenti. "Bu."

Dipta tetap tenang. "Kami ingin memesan dua kamar."

Resepsionis itu mengetik cepat di komputernya, lalu ekspresinya berubah sedikit ragu.

"Mohon maaf, Pak...malam ini kami hanya memiliki satu kamar yang tersedia."

Seketika suasana membeku.

"Satu...kamar?" ulang Dipta pelan, alisnya sedikit berkerut.

"Iya, Pak. Untuk tipe deluxe. Hotel-hotel sekitar sini juga sedang penuh karena ada beberapa acara," jelas resepsionis itu.

Dipta melirik Laras sekilas.

Laras langsung mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdetak tidak nyaman. Ini bukan situasi yang pernah ia bayangkan- atau mungkin...yang mungkin ia hindari.

"Kalau kamu cari hotel lain?" tanya Dipta.

Resepsionis itu tersenyum tipis, sedikit ragu. "Kemungkinan juga penuh, Pak. Apalagi sudah larut malam seperti ini."

Hening lagi.

Dipta diam beberapa detik. Rahangnya mengeras, seperti sedang menimbang sesuatu yang sebenarnya sudah ia putuskan.

"Baik. Kami ambil satu kamar."

Resepsionis itu tersenyum kembali, kali ini lebih hangat. "Baik, Pak. Untuk satu malam, ya?"

"Iya."

Saat proses check-in berlangsung, resepsionis itu sesekali melirik mereka berdua- cara mereka berdiri berdampingan, jarak yang terlalu dekat untuk orang asing tapi terlalu jauh untuk pasangan.

"Untuk kartu identitas, Pak...dan ibu," ucapnya sopan.

Laras sedikit kaku untuk menyerahkan KTP-nya.

Resepsionis itu melihat sekilas, lalu tersenyum ringan. "Baik, Pak Dipta...dan Bu Laras. Kamar akan kami siapkan, selamat menikmati waktu bersama."

Kalimat itu terdengar biasa. Tapi entah kenapa terasa...salah.

Laras langsung menunduk. Tangannya mencengkram tasnya lebih erat.

Dipta tidak menanggapi. Wajahnya datar, tapi sorot matanya berubah- lebih tajam, lebih dingin.

~

Beberapa menit kemudian, mereka berdiri di depan pintu kamar.

Dipta membuka pintu akses. Pintu terbuka. Hanya ada satu tempat tidur besar di tengah ruangan.

Sunyi.

Laras melangkah masuk perlahan, matanya menyapu ruangan itu, lalu berhenti di ranjang. Nafasnya tertahan sesaat.

Dipta masuk setelahnya, menutup pintu.

Klik.

Suara kunci itu terasa jauh lebih keras dari seharusnya.

"Kamu di sini saja," ucap Dipta akhirnya, menunjukkan ke arah tempat tidur. Suaranya tegas, menjaga jarak. "Saya bisa di sofa."

Laras menoleh cepat. "Tidak, aku saja di sofa-"

"Saya bilang saya di sofa."

Nada itu tidak tinggi. Tapi cukup untuk menghentikan perdebatan.

Laras terdiam.

Beberapa detik mereka tenggelam dalam keheningan yang canggung.

Dua orang dengan masa lalu yang belum benar-benar selesai... dipaksa berada dalam satu ruang yang sama, di waktu yang tidak tepat.

Dan entah kenapa, malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

~

Malam di Hyarta residence terasa terlalu sunyi.

Lampu kamar masih menyala, sementara jarum jam perlahan mendekati tengah malam. Di atas ranjang, Rana belum juga memejamkan mata. Ia duduk bersandar, satu tangan memegang ponsel, satu lagi terlipat pangkuannya.

Layar itu kembali ia nyalakan.

Chat terakhirnya pada Dipta masih berstatus terkirim.

Belum di baca.

Rana menatapnya cukup lama. Biasanya, sesibuk apa pun suaminya, Dipta tidak pernah benar-benar mengabaikan pesannya- setidaknya ada balasan singkat.

Namun malam ini...tidak ada.

Ia menarik napas pelan.

Ada sesuatu yang tidak nyaman. Bukan sekadar khawatir- lebih seperti...sesak yang perlahan menjalar di dada, tanpa sebab yang jelas.

Rana menekan tombol panggilan.

Ponsel itu berdering.

Sekali. Dua kali.

Lalu-

Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi.

Rana terdiam.

Matanya tidak berkedip beberapa detik. Lalu perlahan ia menurunkan ponsel itu, menatap kosong ke depan.

Tidak panik.

Tidak juga terburu-buru.

Namun hatinya...mulai bertanya.

Dengan gerakan tenang, ia kembali membuka kontak dan memilih nama lain.

Pak Vito.

Panggilan tersambung lebih cepat.

"Selamat malam, Pak Vito-" ucap Rana lembut.

Namun suara yang menjawab bukan suara pria paruh baya yang ia kenal.

"Selamat malam... maaf, ini siapa, ya?"

Rana sedikit terdiam. "Saya Rana...istri Pak Dipta. Ini dengan siapa?"

"Oh, ini saya anaknya Pak Vito, Bu. Bapak lagi istirahat, tadi habis dari perjalanan jauh."

Rana mengangguk kecil, meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihat.

"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan...suami saya dan Pak Vito sudah sampai di Jakarta."

"Iya, Bu. Tuan dan bapak sudah sampai jam sebelas kurang lima belas menit. Bapak juga langsung ke kost saya."

Seketika, ada kelegaan kecil yang menyelinap di dada Rana.

"Syukurlah..."

Setidaknya, suaminya sudah sampai dengan selamat.

Namun suara di sebrang sana kembali bicara, santai tanpa beban.

"Soalnya tadi Bapak cerita, Tuan Dipta datang dari Yogyakarta sama perempuan... Saya kira ibu yang ikut. Makanya saya agak heran kenapa ibu telpon Bapak selarut ini."

Kalimat itu membuat seolah waktu berhenti.

Rana langsung tidak menjawab.

Jari-jarinya yang memegang ponsel sedikit mengeras, tapi wajahnya tetap tenang- terlalu tenang.

"...begitu, ya," ucapnya akhirnya, lembut seperti biasa.

"Iya, Bu. Saya juga nggak lihat langsung sih, cuma dari cerita Bapak saja..."

"Baik, terima kasih informasinya."

Nada suara Rana tetap halus. Tidak berubah. Tidak goyah.

"Saya tidak ingin mengganggu istirahat Pak Vito, tolong sampaikan salam saya..." Rana menelan ludahnya. "Untuk masalah tadi, tolong rahasiakan. Jangan sampai Pak Vito atau pun suami saya tahu jika saya menelepon."

"Baik, Bu."

"Selamat malam."

"Ya, Bu. Selamat malam."

Sambungan terputus.

Rana menurunkan ponselnya perlahan.

Ruangan kembali sunyi.

Tidak ada suara selain detak jarum jam dan napasnya sendiri yang kini terasa sedikit lebih berat.

Ia tidak menangis.

Tidak juga marah.

Perempuan itu hanya duduk diam, menatap layar ponselnya yang kini gelap.

Kata-kata tadi terngiang pelan di kepalanya.

Datang dari Yogyakarta bersama istrinya...

Rana menghela napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak.

Bukan karena tidak percaya. Namun karena ia memilih... untuk tidak berprasangka. Perlahan ia meletakkan ponselnya di samping.

"Nanti saja," bisiknya pelan.

Nada suaranya tetap tenang. Elegan. Terjaga.

Seolah apa pun yang ia rasakan saat ini, tidak berhak keluar sebelum waktunya. Rana menarik selimut, merebahkan tubuhnya dengan anggun seperti biasa. Namun matanya tetap terbuka, menatap langit-langit kamar.

Dan malam itu-

Tidur terasa jauh lebih sulit dari biasanya.

...****************...

Bersambung...

1
Bundanya Pandu Pharamadina
kak Author, terimakasih cerita bagus...
❤❤❤❤
Cheng Nyo
👍👍
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta Rana mungkin kurangnya komunikasi , semoga ga ada drama perempuan lain dalam rumah tangga kalian❤❤
Rosita Tumbelaka
Aq suka coment yg serius ajaa krn bikin Adrenalin ku naik..deg... deg... deg..
Rosita Tumbelaka
Ayoo Thor.... lanjut ...aneh istri nya bicara dgn pria lain di muka Umum marah. tapi suami berdua an dgn perempuan lain di tempat private mkn di resto ... apa itu pantas...
Bundanya Pandu Pharamadina
aduh Dipta gimana sih.... nggapeka dgn istri yg cemburu
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta jangan main api.. ingat istri juga anak² yg menunggu kepulanganmu
Bundanya Pandu Pharamadina
Laras ga tepat waktu klo telfon.. ga lihat waktu,
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga ga ada drama kegoda masa lalu, tetap jadi keluarga harmonis Dipta Rana❤
Bundanya Pandu Pharamadina
masa lalunya Dipta kah laras....
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin marathon kak Author🙏
Ririn Nursisminingsih
kereen rena👍👍
Ririn Nursisminingsih
syukurin Dipta terus aja bahagiain mntan kmu itu
Ririn Nursisminingsih
dipta kmu mulai main hati rena jg mudah percaya ini juga sang mntan ganggu aja
Sayekti 0519
baguss dan nyata sakitnya
Memyr 67
𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗃𝖺𝗇𝖽𝖺. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗇𝗂 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂
Memyr 67
𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖽𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗋𝖺𝗃𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗌𝗎𝖺𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗇𝗒𝖺𝗆𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗈𝗍𝖺𝗄 𝖽𝗂 𝖻𝗈𝗄𝗈𝗇𝗀
Nha_A
IRT apa thoor? Ibu Rumah Tangga? kirain kalo pembantu itu ART, Asisten Rumah Tangga
🍀 YEHPPEE 🍀: typo kayak nya hehe makasih koreksinya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart/
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih
total 1 replies
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!