Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Para petugas pemeriksa menerima penjelasan tersebut dengan mudah dan tidak lagi mempersoalkan keberadaan pemuda itu. Setelah menganggukkan kepala tanda mengerti, mereka pun keluar dari kamar untuk melanjutkan pemeriksaan ke ruangan lainnya.
Sesaat setelah pintu tertutup, Kapten Wang menghela napas panjang dengan perasaan lega. Ia menoleh ke arah Shen Yu yang masih tampak pucat dan menepuk bahu pemuda itu pelan.
"Jangan takut, semuanya sudah aman," bisik Kapten Wang dengan nada menenangkan."Biarlah urusan ini menjadi tanggung jawabku. Kau tenang saja di sini."
Shen Yu menganggukkan kepalanya berulang kali, matanya memancarkan rasa syukur yang tak terhingga.
"Terima kasih banyak, Tuan Kapten.Sungguh...saya tidak tahu harus berkata apa lagi,"ucapnya tulus.
"Sudah, tidak perlu dipikirkan panjang lebar,"sahut Kapten Wang santai. Ia pun segera berbalik dan berjalan keluar untuk mengantar serta mendampingi para petugas tersebut agar segala sesuatunya berjalan lancar.
Di ruangan itu kini tersisa Shen Yu sendirian, namun tidak lama kemudian Dong Ma muncul kembali di ambang pintu.
Penjaga kapal itu tersenyum ramah seraya berkata,"Makananmu masih ada kan? Silakan dilanjutkan makannya, jangan terlalu cemas, di sini aman terkendali."
Shen Yu mengangguk patuh. Dong Ma pun menutup pintu kamar itu kembali dengan perlahan, meninggalkan keheningan dan ketenangan bagi pemuda itu untuk melanjutkan istirahatnya.
Perjalanan berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Seperti yang telah dijadwalkan, keesokan harinya saat matahari baru mulai menampakkan diri di ufuk timur, kapal besar yang ditumpangi Shen Yu pun perlahan merapat dengan aman di dermaga utama Ibu Kota.
Suasana di sana sungguh luar biasa megah dan ramai. Deretan bangunan bertingkat, gerbang kota yang kokoh, serta hiruk-pikuk manusia dan kendaraan terlihat jelas dari atas geladak.
Shen Yu memandangi pemandangan itu dengan napas tertahan. "Akhirnya... aku benar-benar sampai di sini."
Namun, ia tidak langsung beranjak. Mengingat kejadian semalam dan janji yang pernah terucap, Kapten Wang menepati kata-katanya dengan sungguh-sungguh.
"Ikutlah denganku, Shen Yu," ajak Kapten Wang ramah. "Sebelum kau pergi berkelana di kota besar ini, kita uruskan dulu hal yang paling penting."
Kapten Wang membawanya berjalan menuju sebuah pos pemeriksaan dan pendaftaran yang terletak tidak jauh dari area pelabuhan.
Karena Kapten Wang adalah orang yang dikenal dan memiliki kedudukan, prosesnya berjalan sangat cepat dan mudah.
Dengan jaminan dari Kapten Wang sebagai penjamin, serta keterangan bahwa pemuda ini adalah warga baik yang ingin menetap di kota, para petugas setempat pun dengan senang hati memproses pembuatan surat jalan dan kartu identitas sederhana untuk Shen Yu.
Tidak butuh waktu lama, sebuah lempengan kayu ukiran dan selembar kertas bertinta hitam resmi pun tersaji di tangan Shen Yu.
Di sana tertulis jelas: Shen Yu, pemuda lajang yang berdomisili dan kini resmi tercatat.
Shen Yu memegang dokumen itu dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca.
"Ini... ini sungguhan?" bisiknya tak percaya."Aku punya identitas resmi sekarang. Aku bukan lagi orang gelap!"
Rasa lega yang luar biasa menyelimuti hatinya. Masalah terbesar yang ia khawatirkan kini telah terselesaikan berkat kebaikan hati Kapten Wang.
"Terima kasih, Tuan Kapten! Sungguh, kebaikan Tuan tidak akan pernah saya lupakan!" ucap Shen Yu dengan suara bergetar, lalu membungkuk dalam-dalam.
Melihat pemuda itu kini memiliki identitas resmi yang sah, wajah Kapten Wang pun tampak lega dan ikut bahagia. Ia menepuk bahu Shen Yu dengan penuh keakraban.
"Baiklah, mulai hari ini kau adalah warga yang tercatat secara resmi. Hiduplah dengan baik dan benar di Ibu Kota ini," pesan Kapten Wang dengan nada tulus. "Jika nanti kau mengalami kesulitan atau butuh bantuan apa pun, carilah aku di Pelabuhan Sungai. Aku pasti akan menolongmu."
Shen Yu menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat dan mantap, matanya dipenuhi rasa syukur. Ia merasa dirinya sungguh beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik Kapten Wang di tengah perjalanan ini.
"Terima kasih atas segala kebaikan Tuan. Saya tidak akan pernah melupakannya," ucap Shen Yu tulus.
Setelah saling berpamitan, keduanya pun berpisah jalan. Kapten Wang kembali mengurusi urusan kapalnya, sementara Shen Yu melangkah membelah kerumunan menuju arah pusat kota.
Namun, baru berjalan beberapa saat, Shen Yu menyadari satu hal yang sangat nyata.
Jaraknya sangat jauh!
Dari kejauhan, menara dan istana di pusat kota tampak megah, tapi letaknya berada sangat jauh dari area dermaga. Mustahil baginya untuk menempuhnya dengan berjalan kaki di tengah terik matahari dan keramaian ini.
Kakinya bisa pegal parah dan waktu pun akan terbuang sia-sia.
"Tapi masalahnya... aku tidak punya uang koin Wen sama sekali di sakuku," gumam Shen Yu sambil menggaruk kepalanya. "Emas tael itu terlalu besar nilainya, tidak mungkin aku mengeluarkannya sembarangan di jalanan untuk membayar becak atau kereta kuda. Bisa-bisa aku dirampok!"
Ia pun memutuskan untuk mencari tempat yang aman terlebih dahulu. Ia perlu menukar sebagian hartanya menjadi mata uang kecil yang bisa dibawa-bawa dan digunakan sehari-hari.
Matanya mulai mengamati sekeliling, mencari tanda-tanda toko perhiasan, pegadaian, atau tempat penukaran uang yang terpercaya.
"Oke, rencana pertama: Cari tempat tukar emas jadi uang tunai. Setelah punya dompet tebal, baru aku bisa naik kendaraan dan cari rumah sewa yang enak!"
Shen Yu terus melangkah menyusuri jalanan kota yang lebar dan ramai. Sesekali ia berhenti dan menyapa penduduk setempat dengan sopan, menanyakan keberadaan tempat gadai atau penukaran barang.
Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya seorang ibu penjual sayur yang baik hati memberinya petunjuk yang jelas.
"Nak, kalau mau ke pegadaian, jalan saja lurus terus ke depan. Nanti belok kanan, ada dua blok bangunan toko dari sini. Di situ ada toko besar bernama 'Bao Qing Tang', pasti bisa menukarkan barang," jelas Bibi itu ramah.
Wajah Shen Yu langsung berseri-seri. "Oh, terima kasih banyak, Bibi! Terima kasih!"
Ia pun segera mempercepat langkahnya menuju arah yang ditunjukkan.
Sepanjang jalan itu, pikirannya terus bekerja memikirkan strategi.
"Gadaikan apa ya? Kalau gadaikan kain atau pakaian, harganya pasti murah. Kalau gadaikan emas... sayang sekali, itu aset berharga. Lagipula aku butuh uang receh dulu buat jalan-jalan," gumamnya pelan.
Tiba-tiba, sebuah ide cemerlang melintas di benaknya. Matanya berbinar-binar cerah seolah menemukan harta karun.
"Ya ampun! Kenapa aku lupa sama itu?!"
Ia teringat akan tumpukan barang di supermarketnya, khususnya di bagian toko mainan dan hobi. Ada satu benda yang sangat sempurna untuk situasi ini!
Sebuah kelereng kaca besar yang sangat bulat sempurna seukuran bola tenis, bening seperti kristal air, dan jika dilihat ke dalamnya ada pola warna-warni yang sangat indah dan memikat mata.
Di dunia modern itu hanyalah mainan anak-anak yang harganya murah. Tapi di zaman kuno ini, kaca yang bening dan bulat sempurna seperti itu adalah barang yang sangat langka, mahal, dan bisa dianggap sebagai permata atau batu giok berkualitas tinggi!
"Wah! Ini pasti laku dengan harga mahal!" Shen Yu tersenyum lebar sangat lebar.
"Daripada gadaikan emas yang nilainya gede banget, mending aku jual atau gadaikan 'batu permata' ini saja. Pasti cukup buat aku dapat uang banyak buat sewa rumah dan naik kereta kuda sampai kota!"
Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa ide ini brilian. Ia pun berjalan dengan semangat baru menuju lokasi pegadaian tersebut.
Shen Yu berdiri di depan bangunan tersebut, menatapnya dengan napas tertahan. Gedung pegadaian itu berdiri megah dengan cat yang bersih dan ornamen ukiran yang indah, terlihat sangat mewah dan terawat.
Bao Qing Tang
Berbeda dengan penampilannya saat ini. Baju goni yang lusuh, topi jerami, dan keranjang bambu di tangannya membuatnya terlihat sangat kontras dan mencolok di tempat semewah ini.
Saat ia melangkah masuk, suasana di dalam yang tadinya tenang seketika menjadi hening. Beberapa orang pembeli dan pegawai yang ada di sana langsung menoleh ke arahnya.
Tatapan mereka bukanlah tatapan ramah, melainkan pandangan jijik, meremehkan, dan penuh selidik.
"Wah, dari mana datangnya orang miskin begini?"
"Jangan dekat-dehati bajuku, nanti kotor!"
"Pergi saja sana, ini bukan tempat pengemis!"
Suara bisik-bisik pedas terdengar di sekitarmya. Beberapa orang bahkan segera mundur dan menjaga jarak seolah Shen Yu membawa penyakit.
Namun, Shen Yu sama sekali tidak mempedulikannya. Ia sudah terbiasa dengan pandangan itu sepanjang perjalanan tadi—yang penting baginya adalah menyelesaikan urusan ini.
Ia berjalan mendekati meja pelayan di bagian depan.
"Permisi," sapanya pelan namun tegas."Bolehkah saya bertemu dengan Tuan Pemilik atau ahli penaksir barang di sini? Saya ada barang penting yang ingin ditukarkan."
Pelayan yang berjaga di sana adalah seorang pria muda yang berpakaian rapi dan bersombong. Ia menatap Shen Yu dari ujung kepala sampai kaki dengan alis yang terkulut rapat.
"Hah? Bertemu Pemilik?" ejeknya dengan nada sinis. "Kau lihat tempat ini apa? Tempat sampah? Orang berpakaian seperti kau pun mau seenaknya bertemu Tuan Besar?"
Wajahnya berubah masam dan kasar.
"Pergi sana sebelum aku panggil penjaga! Jangan merusak suasana toko kami dengan bau tanah dan kemiskinanmu! Cepat keluar!"
Ia sudah mendorong bahu Shen Yu untuk mengusirnya keluar pintu.