Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan yang Sudah Dimenangkan
...Chapter 30...
“Lihat itu?” bisik Huan Zheng pelan kepada Ling Xu, dagunya mengisyarat ke arah seorang politisi wanita dari faksi oposisi yang mendadak bangkit dan melontarkan sanggahan tajam terhadap usulan tiga sekte—padahal sehari sebelumnya ia hanya diam membeku di sudut ruangan seperti patung tanpa suara.
“Dia salah satu dari tiga orang yang kusentuh tadi pagi. Sekarang ia berbicara seakan semua itu lahir dari pikirannya sendiri.”
“Aku suka cara kerjamu, Zhao Wei," jawab Ling Xu dengan senyum tipis di balik tudungnya, "tapi jangan lupa—kita hanya butuh 40 persen cadangan makanan untuk kita bawa pergi. Sisanya terserah mereka mau bertengkar sampai mati."
Dan ketika malam mulai merayap masuk melalui jendela-jendela tinggi balai kota, setelah berjam-jam perdebatan sengit yang membuat beberapa politisi kehilangan suara dan yang lainnya hampir saling mencekik di lorong belakang, hasil akhirnya akhirnya diumumkan.
Seluruh politisi—meskipun para perwakilan dari tiga sekte tersebut terlihat sangat kecewa, dengan wajah yang pucat pasi seperti orang yang baru saja kehilangan warisan—memilih untuk tetap melanjutkan rencana budidaya petani yang menghasilkan makanan berkualitas bagi para kultivator Pondasi Lintang, tetapi dengan satu syarat yang membuat hati mereka bergetar seperti genderang yang dipukul oleh tangan yang gemetar.
Efisiensi anggaran akan dimulai dengan masing-masing perwakilan dari tiga sekte bertugas sebagai pelaksana aturan ini—sebuah kemenangan kecil bagi mereka, karena setidaknya mereka masih memiliki kekuasaan—namun setiap perwakilan harus diawasi langsung oleh para anggota suruhan dari masing-masing anggota penguasa kekuasaan fana yang tidak berasal dari ketiga sekte dan tidak terafiliasi dengan sekte mana pun, sebuah kompromi yang terasa seperti belati yang ditusukkan perlahan ke punggung mereka.
"Dan yang terpenting," ucap seorang tetua pemerintah dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan, matanya menyapu para perwakilan sekte satu per satu seperti hakim yang sedang menjatuhkan vonis mati, "setiap pengawas telah diberikan sumpah serapah. Jika mereka berkhianat—jika mereka berani bersekongkol dengan para pelaksana untuk mencuri hak rakyat—maka racun di tubuh mereka akan aktif seketika, dan kematian mereka tidak akan cepat atau manusiawi."
Huan Zheng, yang sedang menyapu lantai di sudut ruangan dengan gerakan malas yang khas, tersenyum kecil—karena ia tahu bahwa usulan sumpah serapah itu adalah idenya, yang ia bisikkan pada seorang politisi tua yang mudah dipengaruhi tiga hari yang lalu, dan sekarang ide itu telah menjadi kenyataan yang akan mengikat tangan dan kaki tiga sekte besar itu selama bertahun-tahun ke depan.
Di lorong belakang balai kota Yonglan yang sunyi, hanya diterangi oleh satu lentera minyak yang hampir habis sumbunya, Ling Xu berdiri dengan tubuh membeku—bukan karena dingin, melainkan karena di telapak tangannya yang terulur, puluhan miliar keping Lintang Kemanusiaan terus berhamburan masuk seperti hujan cahaya yang tak kunjung reda, mengalir dari kantong kulit yang diberikan oleh bendahara kota yang buta mata karena terlalu sibuk berterima kasih pada dua "pelayan rendahan" yang telah menyelamatkan kotanya dari kelaparan.
Seratus miliar keping, tepatnya—100.000.000.000—jumlah yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, membuat dadanya terasa sesak oleh kehangatan yang aneh, membuat matanya yang redup tiba-tiba berkaca-kaca karena ia tahu bahwa dengan tambahan ini, ia akan melesat melewati batas-batas yang dulu terasa seperti mimpi.
"100 miliar," bisiknya, suaranya bergetar seperti dawai kecapi yang dipetik terlalu keras, "ditambah 55 juta yang sudah ada... aku akan tembus ke Supranatural Lintang Tingkat ke-30. Hanya dua tingkat di bawahmu, Zhao Wei."
Huan Zheng yang berdiri di sampingnya dengan sapu masih tergenggam di tangan kiri, hanya mengangguk malas sambil menguap—tapi di balik kemalasannya, matanya memantau setiap keping yang masuk ke tubuh Ling Xu, memastikan tidak ada yang salah, memastikan bahwa proses kenaikan tingkat itu berjalan mulus tanpa gangguan, karena di saat-saat seperti ini, seorang kultivator paling rentan terhadap serangan dari luar.
Namun kejutan belum berakhir—karena ketika Ling Xu baru saja selesai merasakan gelombang Qi ke-30 mengalir di nadinya, merasakan setiap sel di tubuhnya berdenyut dengan kekuatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, Huan Zheng dengan gerakan malas yang khas mengeluarkan sesuatu dari dadanya.
Bukan dari kantong, bukan dari balik jubah, melainkan langsung dari dalam poros kultivasinya, dari tempat di mana 9.888.888.888.888.888 keping Lintang Kemanusiaan berdenyut seperti lautan cahaya yang tak bertepi—lalu melemparkannya ke pangkuan Ling Xu tanpa ekspresi, seperti orang yang membuang sampah ke tong yang sudah terlalu penuh.
"Apa—"
Ling Xu terbelalak ketika 677.777.777.777 keping cahaya mulai berhamburan di udara di sekelilingnya, berputar seperti galaksi kecil yang menari di lorong sempit balai kota, dan sebelum ia sempat bertanya, keping-keping itu sudah masuk ke dalam dadanya dengan sendirinya, menyatu dengan 100 miliar yang baru saja ia terima, meledak menjadi sesuatu yang lebih besar, lebih kuat, lebih dalam, mengangkatnya dari Supranatural Lintang Tingkat ke-30 yang baru saja ia capai... ke tingkat yang sama dengan Huan Zheng.
"Kau gila?!" desis Ling Xu, suaranya setengah berteriak setengah berbisik, matanya membelalak ke arah Huan Zheng yang kini berdiri dengan tangan di saku, wajahnya datar seperti batu nisan yang tidak peduli pada apa pun.
“Kenapa kau berikan ini padaku? Kau bisa naik ke Tingkat 33! Kau bisa menuju Langit Terang! Kenapa—"
Huan Zheng mengangkat tangannya, menghentikan pertanyaan Ling Xu yang berantakan itu dengan gerakan malas yang sama seperti saat ia menghentikan serangan musuh, lalu menjawab dengan suara yang terdengar seperti orang yang baru bangun tidur di tengah malam dan masih setengah sadar.
"Tubuhku bisa menghasilkan keping lebih banyak dari ini jika aku benar-benar serius," ucapnya, matanya yang setengah terpejam menatap langit-langit lorong yang retak di beberapa tempat.
“Tapi aku setengah malas. Dan aku tidak ingin meninggalkanmu di tingkat 32 sendirian. Nanti kau dikerjai orang."
Ling Xu terdiam, mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali seperti ikan yang kehabisan air di daratan, karena ia tidak tahu harus marah atau tertawa atau menangis mendengar alasan yang begitu... Huan Zheng.
Di dalam dadanya, setelah semua keping itu menyatu dan ledakan transformasi usai, Ling Xu bisa merasakan denyutan yang berbeda.
Bukan lagi denyut Supranatural Lintang Tingkat ke-23 yang dulu, melainkan denyut Tingkat ke-32, dengan total keping 777.777.777.777, jumlah yang persis sama dengan yang ia butuhkan untuk berdiri sejajar dengan Huan Zheng di ambang gerbang menuju Langit Terang.
Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran Qi yang begitu deras, begitu kuat, begitu... berbeda, seperti sungai yang tadinya hanya mengalir pelan kini berubah menjadi air terjun yang menghantam batu karang dengan kekuatan yang tidak bisa diukur dengan angka biasa.
"777 miliar," bisiknya, matanya menatap telapak tangannya sendiri yang kini bercahaya redup oleh sisa-sisa cahaya transformasi.
“Aku tidak pernah membayangkan... bakal secepat ini…."
Huan Zheng yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum tipis.
Bukan senyum bangga, bukan senyum puas, melainkan senyum yang anehnya lembut, seperti seorang lelaki yang melihat pujaannya berhasil memanjat pohon yang dulu ia pikir terlalu tinggi untuk dijangkau.
"Dan aku," ucapnya pelan, sambil menekan dadanya sendiri, merasakan denyut dari 9.888.888.888.888.888 keping yang tersisa—masih kurang 111.111.111.111.111 keping untuk mencapai batas Supranatural Lintang Tingkat ke-33, "masih di tingkat yang sama denganmu, Liu Xin. Hanya beberapa belas triliun lagi sebelum aku bisa melangkah ke gerbang berikutnya. Tapi untuk sekarang…."
Ia menguap lebar, lalu berjalan keluar menuju halaman balai kota yang mulai disinari cahaya fajar.
“Untuk sekarang, aku ingin Mie Esensi Unggas Roh. Porsi besar. Dengan telur tambahan."
Bersambung….