Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.Pelajaran Matematika
Suara kapur yang mengikis papan tulis tiba-tiba berhenti, tepat pada saat Ren berhasil melompati ambang jendela belakang kelas yang terbuka selebar telapak tangan. Gerakannya seolah tanpa suara sama sekali – tumitnya menyentuh lantai kayu dengan lembut seperti kucing yang sedang menjelajahi tempat baru, lalu menggeser berat badan ke ujung kaki dengan keahlian yang hanya bisa didapat dari berjam-jam berdiri di depan kompor panas di dapur. Ia langsung merosot ke kursinya di pojok paling belakang, tepat di samping jendela yang menghadap taman sekolah, berusaha menyatu dengan bayangan lemari buku kayu yang besar.
Di depan kelas, Ibu Yumira Keiko berdiri tegak dengan sikap yang tak bisa diganggu gugat. Rambut cokelat panjangnya yang dikuncir rapi dengan pita berwarna biru laut tampak begitu kontras dengan kemeja putih polosnya yang selalu terlihat rapi dan sedikit kaku. Ia menyesuaikan posisi kacamata bingkai logam yang selalu berada di jembatan hidungnya, lalu perlahan membalikkan badan. Sepasang mata yang tajam dan penuh perhatian menyapu setiap sudut ruangan yang kini sunyi seperti makam.
"Ada yang merasa baru saja membawa aroma bawang putih yang kuat masuk ke ruangan belajar kita?" suara Ibu Keiko terdengar datar dan jelas, namun ada kekuatan tersembunyi di dalamnya yang membuat setiap siswa terdiam seketika.
Seluruh kelas menahan napas. Hana, yang sudah duduk di bangkunya dua baris di depan Ren, segera membolak-balik halaman buku teks Matematika dengan tangan yang sedikit tergesa-gesa. Meskipun ia tampak sibuk membaca, ujung telinganya yang merah jelas menunjukkan bahwa ia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut guru itu.
Ren tetap diam dengan wajah yang datar seperti biasa. Ia menatap keluar melalui celah jendela, menyaksikan bagaimana sinar matahari menyinari dedaunan pohon beringin di taman – seolah-olah bentuk awan yang terbentuk di langit biru Jayapura jauh lebih menarik daripada rumus integral fungsi yang memenuhi setiap inci papan tulis.
"Akira Ren," panggil Ibu Keiko dengan nada yang tidak bisa ditolak.
Ren menghela napas pendek yang hampir tak terdengar, lalu perlahan berdiri dengan gaya yang terlihat sangat malas. "Ya, Bu?"
"Ke depan sini. Selesaikan soal nomor tiga yang ada di papan tulis," ucap Ibu Keiko sambil meletakkan kapur tulis di atas meja guru yang bersih dan rapi. Ia kemudian melipat kedua tangan di depan dadanya, dengan tatapan yang menyelidiki. "Atau kalau kamu lebih suka, jelaskan padaku mengapa hari ini kamu memilih jalur jendela daripada pintu masuk resmi kelas."
Ren berjalan dengan langkah lambat menuju depan kelas. Setiap langkahnya diikuti oleh bisikan halus dari teman-temannya yang menyebar seperti angin. Saat ia melewati meja guru, hidungnya yang terbiasa dengan berbagai aroma di dapur langsung menangkap bau kopi pahit yang sangat kuat – jenis kopi yang biasanya diminum ketika seseorang harus bekerja hingga larut malam. Ia bisa membayangkan bagaimana Ibu Keiko mungkin menghabiskan malamnya untuk menyusun soal kuis dan memeriksa tugas siswa.
Tanpa banyak bicara, Ren mengambil kapur yang diletakkan di mejanya. Namun bukannya langsung menghadapi soal nomor tiga seperti yang diminta, ia berjalan sedikit ke kanan dan menghapus satu angka kecil di baris kedua penjelasan yang sudah ada di papan tulis sejak awal pelajaran.
"Ibu salah memasukkan variabel y di sini. Ini seharusnya adalah fungsi turunan dari x, jadi simbolnya harusnya berbeda," gumam Ren dengan suara yang rendah namun jelas, tanpa menyembahkan pandangan ke arah guru.
Ibu Keiko tertegun sejenak. Ia melangkah mendekat dengan cepat, matanya yang biasanya tenang kini penuh dengan rasa ingin tahu saat menatap bagian papan tulis yang baru saja Ren ubah. Keheningan di kelas semakin mencekam – bahkan suara jatuhnya jarum pun akan terdengar jelas di ruangan itu. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri berdampingan dengan Ren, cukup dekat hingga Ren bisa merasakan hawa hangat dari napasnya dan melihat garis halus yang terbentuk di dahinya akibat kelelahan.
"Begitu ya..." bisik Ibu Keiko dengan suara yang pelan, nyaris tak terdengar oleh siswa lain yang sedang menatap mereka dengan mata membelalak. Ia mengambil kembali kapur dari tangan Ren, dan jemari kanannya sempat menyentuh kulit bagian pergelangan tangan Ren yang terasa dingin. Guru itu sedikit tersentak, merasakan tekstur tangan Ren yang tidak halus seperti siswa seusianya – kasar di beberapa bagian akibat sering mencuci piring, memegang pisau dapur, dan bekerja keras di dapur. "Baiklah, lanjutkan saja soal nomor tiga. Jangan berpikir kamu sudah hebat hanya karena bisa melihat kesalahan kecil seperti ini."
Ren hanya mengangguk dan mulai menulis di papan tulis. Kapur di tangannya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa namun tetap presisi. Ia tidak mengikuti cara penyelesaian yang panjang seperti yang diajarkan di buku teks. Sebaliknya, ia memecah setiap bagian logika matematika dengan cara yang sama seperti ketika ia memilah bahan masakan – memisahkan yang penting dan yang tidak, dengan langkah yang cepat, efektif, dan hasilnya bersih tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Dalam sekejap mata, soal yang dianggap sulit oleh sebagian siswa sudah selesai. Ren menatap hasil kerjanya sebentar, lalu mulai berbalik untuk kembali ke kursinya. Saat itu pula, ia melihat gelas kopi putih milik Ibu Keiko yang berada di tepi meja mulai bergetar dengan kuat. Sebuah siswa yang baru saja mengumpulkan tugas tidak sengaja menyentuh ujung meja, membuat gelas itu miring perlahan – cairan kopi hitam pekatnya sudah mulai menyentuh tepi bagian bawah gelas, siap tumpah ke atas tumpukan kertas ujian yang belum dikoreksi yang terletak tepat di bawahnya.
Tanpa berpikir dua kali, tangan Ren bergerak dengan kecepatan refleks yang hanya bisa didapat dari pengalaman menangkap pisau yang hampir jatuh ke lantai dapur atau menangkis wajan yang tiba-tiba bergoyang karena api terlalu besar. Ia menggeser gelas itu kembali ke tengah meja dengan satu gerakan yang halus, tepat sebelum tetesan kopi bisa menyentuh kertas-kertas berharga itu.
Ibu Keiko terbelalak. Kejadian itu berlangsung kurang dari satu detik – bagi kebanyakan siswa di kelas, Ren hanya terlihat seperti sedang merapikan barang-barang di mejanya. Tapi bagi guru itu, ia melihat dengan jelas seberapa cepat dan presisi gerakan tangan Ren itu – bukan kecepatan yang bisa dimiliki oleh siswa biasa yang hanya menghabiskan waktu di sekolah dan rumah.
"Hati-hati, Bu. Kertas-kertas ini jauh lebih penting daripada kebutuhan akan kafein," ucap Ren dengan nada yang tenang seperti biasa, lalu berjalan kembali ke belakang kelas tanpa pernah melihat ke belakang.
Ibu Keiko tetap berdiri mematung di samping mejanya, matanya tetap tertuju pada punggung Ren yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang tidak biasa dengan anak itu – bukan sesuatu yang salah, melainkan sesuatu yang luar biasa yang tersembunyi di balik sikap acuh tak acuh dan wajah yang selalu tampak dingin. Ia menghela napas perlahan, lalu merogoh saku roknya yang panjang. Saat kelas mulai sibuk menyalin jawaban dari papan tulis, ia berjalan perlahan menuju kursi Ren yang berada di pojok belakang.
"Ini," ucapnya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, menjatuhkan sebuah permen gula kecil dengan bungkus warna merah ke atas meja Ren yang sedikit berantakan. "Wajahmu terlihat sangat pucat. Jangan sampai kamu pingsan di kelasku hanya karena tidak sarapan dengan benar."
Ren menatap permen itu dengan mata yang sedikit membesar, lalu melihat ke arah Ibu Keiko yang sudah berbalik dan kembali ke depan kelas dengan wajah yang kembali kaku seperti biasanya. Namun sebelum guru itu benar-benar menghadap papan tulis, Ren sempat melihat sudut bibirnya sedikit bergetar – seolah sedang menahan sebuah senyum kecil yang tersembunyi di balik kesungguhan dan kedisiplinan yang selalu ia tunjukkan.
Ren membuka bungkus permen dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis yang pekat dan sedikit gurih menyebar ke seluruh lidahnya, mengusir rasa pahit dari aroma kopi yang masih mengendap di hidungnya. Di depannya, Hana menoleh sebentar ke belakang dengan tatapan mata yang seolah berkata "sudah kubilang kamu harus sarapan", membuat Ren hanya bisa mendengus pelan sambil mengangkat bahu.
Dunia sekolah memang masih terasa membosankan baginya, dengan aturan yang banyak dan pelajaran yang seringkali tidak menarik. Tapi setidaknya, rasa manis dari permen ini dan perhatian kecil yang diberikan membuatnya merasa bahwa mungkin tidak semua hal di sekolah itu buruk.