Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEDAN HITAM
Langkah kaki Yasmin menghantam aspal dengan ritme yang kacau, seirama dengan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari dada. Restoran—tempat yang baru saja dua minggu ini ia anggap sebagai rumah kedua, tempat yang bau bumbu dapurnya selalu menenangkan, dan tempat yang menjadi tumpuan hidupnya, ternyata adalah sebuah penjara yang baru saja ia jebol. Ia tidak menyangka bahwa di balik dinding-dinding hangat itu, ada pengkhianatan yang begitu dingin.
Udara petang yang lembap menyapu wajahnya, namun tak mampu mendinginkan amarah dan kekecewaan yang membakar di dalam. Air mata dan keringat bercampur menjadi satu, mengalir melewati pipi, menciptakan jejak asin yang menyakitkan saat menyentuh luka kecil di sudut bibirnya.
"Tunggu, Yasmin! Berhenti!" Pekikan itu membelah kebisingan jalan raya. Suara pria itu terdengar seperti parau yang memuakkan.
Yasmin tidak menoleh. Ia justru menambah kecepatannya, membelah kerumunan pejalan kaki di trotoar yang tampak seperti bayang-bayang buram di matanya yang basah.
Ia mengira, restoran itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Setiap piring yang ia sajikan adalah harapan untuk membayar kontrakan dan biaya sisa hidupnya. Namun, kenyataan pahit yang baru saja ia saksikan di ruang belakang tadi meruntuhkan segalanya. Tempat yang harusnya menjadi sumber biaya sehari-hari, ternyata hanyalah kedok untuk sesuatu yang jauh lebih gelap.
Bagaimana bisa aku begitu buta? batinnya terisak.
"YASMIIIIN!" Seru pria lainnya.
Yasmin tak berhenti berlari. Ia semakin terus menambah kecepatannya.
Brug!
"Au." Ringis Yasmin. Aspal yang kasar menyambut lutut dan telapak tangannya dengan kejam. Keseimbangannya goyah, napasnya yang memburu tak lagi mampu menopang tubuhnya yang gemetar hebat.
"Hey, Yasmin!" Suara itu kini semakin mendekat, hanya terpaut beberapa meter saja.
Gigi Yasmin gemeletuk, menahan perih yang menusuk hingga ke tulang. Ia tidak sudi menunduk untuk melihat seberapa parah luka di lututnya, meski ia bisa merasakan cairan hangat—darah yang kental yang mulai merembes di balik kain skirt pastelnya.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksakan diri untuk berdiri. Tubuhnya sempat limbung, namun ia mencengkeram tiang lampu jalan di dekatnya agar tidak kembali tersungkur. Baginya, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan pengkhianatan yang baru saja menghantam dadanya.
Ia kembali berlari, menyelinap di antara bahu-bahu asing, mengabaikan tatapan heran orang-orang. Ia merasa jika ia berhenti sedetik saja, dunia yang sudah retak ini akan benar-benar hancur menimpanya.
"YASMIIIIN!"
Yasmin menoleh ke kanan dan kiri dengan napas yang silih berganti dengan isak tangis. Dunianya terasa menyempit. Di belakangnya, suara derap langkah kedua pria itu semakin mendekat, meneriakkan namanya dengan nada yang kini terdengar seperti ancaman daripada permohonan.
Lalu, pandangan Yasmin tertuju pada aspal di depannya. Lampu lalu lintas baru saja berpindah ke warna merah yang menyala tegas. Seketika, arus kendaraan melambat dan berhenti, menciptakan barisan logam yang berjajar rapi di sepanjang jalan raya.
Mobil-mobil mewah hingga kendaraan umum terjebak dalam keheningan sementara, menunggu aba-aba untuk kembali melaju.
Tanpa berpikir panjang, Yasmin melompati pembatas trotoar. Ia menyelinap di antara celah sempit spion-spion mobil yang berderet, mengabaikan klakson pendek yang memprotes kehadirannya di tengah jalan. Hingga akhirnya, matanya menangkap sebuah mobil sedan hitam mengilat yang berada di barisan tengah—pintu penumpang tidak terkunci.
Cklek.
Yasmin menarik gagang pintu itu sekuat tenaga dan melemparkan dirinya ke dalam jok kulit yang dingin.
"Hey!" Sebuah pekikan terkejut meledak dari kursi kemudi. Seorang pria dengan setelan kemeja yang rapi tersentak, bahunya menegang saat ia menoleh ke samping dengan tatapan tajam dan penuh kebingungan. Ia baru saja meletakkan ponselnya di konsol tengah ketika seorang gadis asing yang berantakan, berkeringat, dan berlumuran darah di lututnya itu tiba-tiba meringkuk di kursi mobilnya. "Ka-kamu... siapa?"
Yasmin tidak menjawab. Ia justru menekan tubuhnya serendah mungkin ke lantai mobil, menyembunyikan wajahnya di balik jok depan. Tubuhnya bergetar hebat.
"Tolong... jalan saja. Tolong kunci pintunya," bisik Yasmin parau, suaranya nyaris hilang ditelan ketakutan. "Tolong bawa saya pergi, Mas. Kemanapun!"
Pria itu mengernyitkan dahi, matanya beralih ke kaca spion samping dan melihat seorang pria lain berlari di antara mobil-mobil, tampak kalap mencari seseorang.
"Ka-kamu orang jahat yang sedang di kejar, ya?!" tegas pemilik mobil itu, suaranya berat dan penuh wibawa, namun ada nada kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan. "Atau... kamu punya hutang banyak dan mereka itu debt collector yang sedang kejar kamu?!"
Yasmin meringkuk di lantai mobil yang beralaskan karpet beludru halus, tangannya yang gemetar mencengkeram ujung jok kulit dengan kuat sambil mendongak, menatap pria di kursi pengemudi.
Wajahnya pias, dibasahi air mata yang terus mengalir deras, menciptakan kontras yang menyedihkan dengan kemewahan kabin mobil itu. "Saya mohon, Mas... bawa saya pergi," rintihnya dengan suara yang pecah oleh isak tangis. "Tolong kunci pintunya. Saya takut... saya sangat takut."
Kedua telapak tangannya yang lecet dan berlumuran darah ia satukan di depan dada, memohon dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tatapannya penuh keputusasaan, seolah pria asing ini adalah satu-satunya sekoci di tengah badai yang siap menenggelamkannya.
BEEEEEP!
Suara klakson panjang dari mobil di belakang membelah keheningan kabin yang tegang, mengejutkan Yasmin hingga bahunya terlonjak. Di luar, pria yang mengejarnya tadi sudah mulai menyisir deretan mobil, matanya liar mencari sosok Yasmin di balik kaca-kaca kendaraan yang tertutup rapat.
Tanpa sepatah kata pun, pria itu akhirnya mengunci seluruh pintu dengan satu tekanan tombol—klek—suara yang terdengar seperti sebuah penyelamatan bagi Yasmin. Lalu, menginjak pedal gas dengan mantap.
Mesin sedan hitam itu akhirnya menderu halus, membelah antrean kendaraan dan meluncur cepat meninggalkan persimpangan lampu merah.
Yasmin merasakan guncangan lembut saat mobil itu melesat, menjauhkannya dari restoran terkutuk itu, menjauhkannya dari bayangan pria yang kini tertinggal di aspal jalanan yang mungkin sudah semakin mengecil dan akhirnya hilang dari pandangan.
Kini, di dalam mobil yang kedap suara itu, hanya terdengar napas Yasmin yang tersengal dan bunyi detak lampu sein yang ritmis.
Tik-tok-tik-tok...
Seolah menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan di tengah dunia Yasmin yang baru saja runtuh. Namun, ia masih gemetar hebat. Giginya beradu, mengeluarkan suara gemeretak kecil yang tak bisa ia kontrol.
Yasmin lalu memeluk dirinya sendiri, menyilangkan lengan di dada seolah berusaha merekatkan kepingan dirinya yang hancur di antara luka, tepat di lututnya yang terus berdenyut—mengirimkan rasa panas yang menjalar ke seluruh kaki, namun sungguh... ia seakan mati rasa.
****