Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Minta Maaf
Beberapa menit kemudian, Clara keluar dari toilet. Wajahnya sudah kembali tenang, meski masih ada sedikit kegugupan yang tersisa di matanya. Dia berjalan pelan kembali ke meja makan. Di sana, suasana sudah berubah. Ge dan Zara terlihat sedang mengobrol santai.
“Serius, lu dulu pernah makan mie instan tiga bungkus sekaligus?” tanya Zara sambil menahan tawa.
Ge mengangguk bangga. “Pernah. Itu rekor pribadi gue.”
Zara langsung ketawa. “Nggak eneg?”
Ge mengangkat bahu. “Awalnya nggak. Tapi setelah itu… gue nyesel tiga hari.”
Zara makin ketawa.
Clara berhenti sejenak, memperhatikan mereka. Ada sesuatu yang aneh. Suasana yang biasanya dingin di meja makan itu, sekarang terasa hidup. Dia menarik napas pelan, lalu kembali duduk di kursinya. Naya melirik sekilas ke arah Clara, lalu kembali pura-pura fokus ke makanannya.
Clara berdehem kecil. “Ehm…”
Ge langsung menoleh. “Oh, Tante udah balik. Gimana? Aman?”
Clara sedikit mengernyit. “Aman apanya?”
Ge santai. “Ya… misi di toilet.”
Zara langsung menutup mulutnya, nahan tawa. Naya mendengus pelan, tapi sudut bibirnya hampir naik. Clara menatap Ge beberapa detik, lalu menghela napas. Dia harus ingat rencananya.
“Aku…” Clara berhenti sejenak, seperti memilih kata. “…ingin bicara.”
Ge mengangkat alis. “Wah, serius amat.”
Naya ikut menatap Ge. Wajahnya sedikit kaku, tapi dia memaksakan diri.
“Gue juga,” katanya.
Ge langsung menoleh ke mereka berdua. “Kenapa? Mau sidang sekarang?”
Clara menahan diri. “Bukan.”
Dia menatap Ge lebih dalam. “Tentang… sikap kami kemarin.”
Ge terdiam sebentar. Zara juga berhenti tertawa.
Clara melanjutkan, “Kalau kami… terlihat kasar… itu karena kami kaget.”
Naya langsung menyambung, meski terdengar agak dipaksakan, “Iya. Tiba-tiba ada orang baru datang… terus langsung... ya gitu lah.”
Ge menyandarkan punggungnya. “Terus?”
Clara menarik napas pelan. “Kami minta maaf.”
Hening.
Zara melirik Ge, menunggu reaksinya.
Ge berkedip beberapa kali. “Oh.”
Naya sedikit kesal melihat respon santainya. “Oh doang?!”
Ge langsung nyengir. “Lah… terus gue harus gimana? Nangis terharu?”
Zara langsung terkekeh lagi.
Clara menahan napas, tapi tetap berusaha tenang. “Maksud kami… kita mulai dari awal saja.”
Ge menatap mereka beberapa detik. Lalu dia mengangguk santai.
“Yaudah,” katanya. “Gue maafin.”
Jawaban itu terlalu mudah.
Naya sampai bengong sebentar. “Serius?”
Ge mengangkat bahu. “Iya. Gue juga nggak terlalu baper orangnya.”
Zara tersenyum kecil. Clara sedikit lega, meski tetap menjaga ekspresi.
Tiba-tiba Ge menoleh ke Naya. Matanya menyipit sedikit, lalu dia nyengir. “Tapi…” katanya.
Naya langsung waspada. “Apa?”
Ge menunjuk ke arahnya. “Lu harus minta maaf lebih tulus.”
Naya langsung melotot. “Hah?!”
Ge menyandarkan dagu di tangan. “Soalnya lu yang paling galak.”
Zara langsung nahan tawa lagi. Clara melirik Naya, seolah menyuruh ikut saja.
Naya mendecak kesal. “Yaudah, maaf!”
Ge menggeleng pelan. “Nggak kerasa.”
“Apa lagi sih?!” kesal Naya.
Ge menyeringai. “Coba sambil senyum dikit.”
Zara langsung ketawa kecil. Naya mematung beberapa detik, lalu dengan sangat terpaksa, dia mencoba tersenyum. Hasilnya aneh.
Ge langsung ngakak. “Anjir! Itu senyum apa nahan kentut?!”
Zara langsung pecah ketawa. Clara sampai harus menutup mulutnya, menahan reaksi.
Naya langsung merah mukanya. “GE!!!”
Ge masih ketawa. “Ya maaf, maaf! Tapi serius, serem banget sumpah!”
Zara sampai menepuk meja karena ketawa. Naya menunduk sebentar, lalu tanpa sadar sudut bibirnya naik sedikit.
Ge langsung menunjuk. “Nah! Itu! Itu baru manusia!”
Zara makin ngakak.
Naya langsung menatap Ge lagi, tapi kali ini tidak sekeras sebelumnya. Bahkan ada sedikit rasa malu yang aneh. “Lu nyebelin banget sih,” gumamnya.
Ge santai. “Tapi lucu kan?”
Naya tidak menjawab. Tapi dia tidak membantah juga. Sementara Clara memperhatikan itu semua dengan diam. Ada sesuatu yang berubah.
Zara menyikut Ge pelan. “Lu cepet banget bikin orang berubah ya.”
Ge mengangkat bahu. “Gue mah natural charm.”
Zara mendengus. “Sok banget.”
Ge nyengir. Suasana meja makan yang tadinya tegang, sekarang berubah jadi lebih ringan. Tawa kecil mulai muncul di sana-sini.
Clara menatap mereka bertiga. Lalu tanpa sadar dia ikut tersenyum tipis.