NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

Gimana bisa gadis SMA bunuh diri di atap, tapi bukan mati krn jatuh?

Yah, kenapa pula ga bisa?
Ini kan ... Act Zero.

- - -

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.

- - -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT V—{Chapter 4}

   Irene mengulurkan tangannya ke bagian celah antara lemari dengan dinding, meraba-raba permukaan lantai kalau-kalau ada bola kasti. Dia mendapatkan satu, lalu dua, dan tiga. Begitulah seterusnya sampai bola kelima yang ia temukan di jangkauan tersulit, yakni di atas jam pendulum yang entah bagaimana bisa sampai di sana. 

   Masih dalam posisi jongkok untuk mencari bola, Irene menyadari keberadaan bola lain yang letaknya tersembunyi di dalam sebuah tirai. Kelihatannya benda dibaliknya adalah sebuah cermin antik, karena pecahan kaca yang berkilat itu berhamburan di sekitar kakinya. Mulanya, Irene tidak mempedulikan apa pun, hanya ingin mengambil bola tersebut lalu berpindah tempat setelah itu. Tetapi tiba-tiba, dia merasa ditarik oleh rasa penasaran saat atensinya tertuju pada noda berwarna kecoklatan di permukaan bola. Ia pun memeriksanya dengan mengangkat sedikit kain tirai, dan menemukan noda yang sama ada di sana. Pikirnya pasti sesuatu telah terjadi pada cermin antik ini. Benar saja, begitu Irene membuka seluruh tirainya, dia mendapati kaca pada cermin itu retak parah. Hampir separuh permukaannya pecah, meninggalkan papan kayu yang juga mengalami sedikit kerusakan.

   Seingatnya, pada kali pertama ia datang kemari, cermin itu masih dalam keadaan baik. Tirai yang menutupinya juga tidak ada, bahkan sebenarnya sejak awal tidak pernah ada. 

   “Sedang apa kau di situ, Irene?” Widya berseru dari kejauhan, berjalan menghampiri si pemilik nama. 

   Irene membalikkan badan, menemukan Widya yang tahu-tahu saja sudah berada di dekatnya sambil menyodorkan karung. Dia meminta setoran hasil mengumpulkan bola darinya. Tetapi, sepersekian detik setelahnya, dia menyadari sesuatu saat kedua mata mereka saling bertemu. Manik mata Widya terlihat melirik sekilas pada cermin di belakang tubuhnya. Namun anehnya, dia tidak bereaksi apa-apa selain mengalihkan pandangannya secepat dia tidak menganggap penting hal tersebut.

   “Bisakah kau menjelaskannya padaku?” pinta Irene, langsung berkata ke intinya.

   Widya melipat kedua tangannya ke dada, kemudian membalas, “Ya, tentu. Dua puluh menit lalu aku menemukan karung ini. Aku memamerkannya pada kalian, tapi Erica satu-satunya yang bereaksi aneh. Aku tidak bertanya karena kupikir itu tidak penting. Lalu aku membuka karung ini dan membiarkan para anggota memasukkan bola kasti yang telah kalian kumpulkan. Dari kita semua, aku mengumpulkan paling banyak. Dan dari kita semua, yang mengumpulkan paling sedikit adalah kau. Penjelasan selesai. Ada pertanyaan?”

   Irene hanya diam, menunjukkan wajah datar khas dirinya. Lalu tanpa berlama-lama, ia pun segera menggeser sedikit badannya, memperlihatkan sebuah cermin besar bergaya Eropa di belakangnya. Kini seluruh bentuk visual cermin terlihat jelas. “Kau terlihat tidak terkejut.” Irene memiringkan kepalanya sembari mengambil satu langkah maju ke depan, mendekatkan jarak di antara mereka. 

   Widya buru-buru mengalihkan pandangan, tetapi tulang rawan tenggorokannya yang bergerak saat ia menelan ludah sudah terlihat lebih dulu oleh si lawan bicara. Kini tampak semakin jelas bahwa ia sedang mencoba menyembunyikan sesuatu.

   “Irene, Widya, apa yang kalian lakukan di sini?” Fally datang menghampiri, membawa setumpuk bola kasti untuk dimasukkan ke dalam karung. Vira dan Erica mengekor tidak jauh di belakangnya.

   “Fally,” Irene memanggil namanya, tepat sedetik sebelum Widya lebih dulu mendekatinya—untuk meminta bantuan. Fally menoleh kepadanya sebagai bentuk respons, maka kemudian ia pun kembali mengajukan pertanyaan. “Kau tahu sesuatu tentang cermin ini?”

   Dari ketiganya, yang benar-benar bereaksi terkejut hanya Erica. Dia menganga lebar sambil membulatkan matanya, seolah tak dapat mempercayai adanya keberadaan cermin ini di dalam gudang. Lebih lagi dalam keadaan setengah hancur. 

   “Ini hanyalah sebuah cermin yang rusak, bukan? Lalu apa yang mau kau tahu?”

   “Apa pun.”   

  “...Aku tidak tahu ini akan berguna atau tidak,” Vira tiba-tiba menyahut, melibatkan diri dalam obrolan. “..tapi yang kutahu kaki penyangga pada cermin itu telah rusak, makanya dipindahkan ke gudang ini untuk diperbaiki.”

   “Aku juga tahu soal itu.”

   Widya merasa mendapatkan kesempatan untuk menyerang balik, kemudian membalas dengan percaya diri. “Kalau begitu tidak ada yang bisa kami beritahu padamu. Yang tersisa sekarang hanyalah rumor cerita horor tentang cermin itu. Aku yakin kau bukan tipe orang yang menyukai hal mistis.”

   “Benar. Maka itu, katakan saja bagian yang nyata. Misalnya seperti ... noda darah.” Irene mengamati satu per satu wajah para anggotanya. Kali ini mereka semua kompak bereaksi terkejut, bahkan juga saling pandang untuk memastikan telinga mereka tidak salah dengar.

   Erica yang tiba-tiba jadi penasaran langsung bergerak mendekati cermin. Jantungnya berdebar-debar saat kakinya mulai menjejak di atas pecahan kaca yang berserak di lantai. Dia melangkah dengan hati-hati. “Ini benar-benar darah.” Di antara kepingan kaca itu, terdapat banyak noda berbentuk lingkaran, mirip seperti bekas darah yang menetes dari ketinggian 60-100 sentimeter. Entah sudah berapa lama ditinggalkan dalam kondisi seperti ini, ini jelas bukan hal biasa. Sesuatu ... pasti telah terjadi.

   Fally tiba-tiba menjadi gugup, tidak tahu bagaimana harus merespons. Manik matanya bergerak tak nyaman, sementara keningnya terasa panas karena tatapan seseorang. Di hadapannya, Irene masih berdiri seperti patung. Diam, tetapi mengintimidasi. Tidak ada jalan keluar. Gadis itu bukanlah lawan yang mudah ditangani. “...Aku tidak tahu apa-apa. Sungguh.”

   Tanpa mengubah posisinya, Irene bergerak menatap Vira dan Widya secara bergantian. Tetapi tak ada gunanya, mereka berdua juga memberikan jawaban serupa.

   “Aku tidak tahu apa-apa.”

   “Aku tidak tahu apa-apa.”

   Erica mencolek lengan Irene, kemudian berbisik, “Cermin memantulkan diri. Kalau seseorang menghancurkannya sampai separah ini, artinya dia membenci dirinya sendiri. Ini masalah yang cukup serius.”

   Irene kembali menghadapkan tubuhnya kepada ketiga gadis itu, menatapnya lagi dengan lekat. “Kalian menyembunyikan sesuatu?” 

   Bukan menggelengkan kepala bila seandainya mereka masih mencoba menghindar, ketiganya justru memilih diam sambil menundukkan kepala. Tidak ada jawaban. Pertanyaan itu dibiarkan menggantung di udara.  

   “Kalian tahu, aku orang kepercayaan ketua kelas.” Irene mengambil satu langkah ke depan, mendekatkan jarak di antara mereka. “Bagaimana jika aku beritahu Karina soal ini? Dia bisa melonjakkan angka poin minus sampai tiga kali. Kalian tahu itu, kan?”

   Widya mengangkat kepalanya, yang kemudian langsung disambut oleh sepasang mata Irene yang menggelap. “Oi, Irene, kau sedang mengancam kami?”

   “Tidak. Aku sedang memberikan penawaran kepada kalian.”

   Widya kembali menundukkan kepalanya setelah menelan ludah, suaranya terdengar cukup jelas di tengah keheningan gudang. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya serasa tenggelam oleh takut.

   Erica menepuk dua kali lengan Irene untuk meminta perhatiannya, lalu berbisik, “Begini caramu berbicara pada manusia? Minggir, biar aku yang tangani.”

   Karena ditarik paksa, Irene pun tak punya pilihan lain selain menurut. Segera ia memilih mundur ke belakang dan mengambil kursi untuk tempatnya duduk, menonton saja.

   “Kalian berteman sejak SMP, kan?” Erica memulai aksinya dengan berbasa-basi. Dia mengikat tali sepatu Vira, memperbaiki kerah jas Fally yang sedikit berantakan, serta mengusap kacamata Widya yang berembun menggunakan sapu tangannya. “Kalian adalah trio tak terpisahkan, dikenal kompak seolah memiliki satu kepala dan terikat kuat. Suatu keajaiban juga kalian bisa terus bersama di kelas yang sama sejak SMP. Aku iri. Hubungan kalian seperti sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Tidak banyak pertengkaran, tidak banyak drama, dan kalian saling terbuka untuk satu sama lain.” Erica tersenyum, merasa lega begitu melihat raut takut di wajah ketiga gadis itu memudar secara perlahan. Trik merayunya berhasil. “Jujur saja, aku cukup terkejut mengetahui cermin antik itu hancur. Tetapi, aku lebih terkejut setelah tahu bahwa kalian terlibat di dalamnya—”

   “Itu tidak benar,” sela Vira.

   “—dengan terpaksa.”

   Embusan napas ketiganya terdengar jelas di telinga Erica, termasuk Vira yang buru-buru menundukkan kepalanya karena menyesal telah kelepasan bicara. Dia menggigit bibir, bersumpah dalam hatinya untuk lebih berhati-hati lagi. Melihat betapa teguhnya pendirian mereka, Erica kini menyadari bahwa inilah alasan dibalik mengapa mereka menolak pergi ke gudang 2X. Bukan perihal cerita horor dan hantu menyeramkan yang merangkak terbalik, melainkan karena di tempat ini ... ada rahasia yang sedang mereka jaga. Rahasia mereka terhadap seseorang. Rahasia yang secara tidak sengaja menjadikan mereka sebagai pemegang kuncinya.

   “Aih, sudahlah. Tidak perlu terlalu kaku. Kita ini teman, kan. Sekarang jawab saja pertanyaanku. Sudah berapa lama kalian menyembunyikannya?” Erica masih terus berusaha. Kali ini dia mencoba dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang tidak spesifik. Tujuannya semata-mata untuk menanamkan kepercayaan lebih dulu supaya dia bisa mendapatkan seluruh informasi tanpa ada yang terlewat. 

   Tetapi di luar dugaannya, ketiganya malah diam membisu. Tak terasa tiga puluh detik berlalu tanpa adanya jawaban.

    Dari arah belakang, kursi jatuh dengan suara keras. Irene bangkit dari tempat duduknya, pergi menghampiri Erica. “Berhentilah, tidak ada gunanya berbicara. Sebaiknya kita pergi saja dan anggap tidak pernah melihat cermin itu.

   Erica kehabisan kata-kata, bingung hendak merespons apa karena tak disangka sobatnya itu ternyata memutuskan untuk menyerah lebih cepat. Irene kemudian merangkul pundaknya, membawanya pergi untuk kembali melanjutkan mengumpulkan bola. 

   Namun belum genap dua langkah diambilnya, Fally tiba-tiba buka suara. “Anggota kamar kalian.”

   Erica dan Irene secara spontan menoleh, lalu mendapati ketiganya kini telah mengangkat wajah mereka. 

   “Apa maksudmu?” tanya Erica.

   “Gadis yang pecah bersama cermin itu ... adalah salah satu dari anggota kamar kalian.”

...• • • • •...

   Sinar matahari menembus sela dahan dan dedaunan, jatuh lembut di atas tanah berbatu yang kemudian tercipta bayangan samar. Udara terasa hangat, tapi sesekali juga terasa sejuk oleh angin yang menyelinap masuk melalui celah jendela. 

   Sekarang sudah tiba saatnya makan siang. Begitu bel berbunyi nyaring, para siswi langsung berbondong-bondong turun ke lantai satu. Ada yang menggunakan lift, ada juga yang menyerbu tangga dan berlarian seperti zombie. Dalam waktu kurang dari lima menit, kafetaria yang luasnya hampir sebanding dengan gimnasium itu berubah menjadi lautan manusia. Antrean mengular panjang, membentuk barisan yang kalau dilihat dari atas menyerupai ular raksasa. 

   “Mencari siapa kau sampai celingukan begitu?” Diana meletakkan kotak stainless berisikan menu makanannya di meja, sembari bertanya pada gadis yang berdiri di sebelahnya namun tak juga kunjung duduk. Beberapa gadis lainnya menarik kursi, bergabung di meja yang sama.

   “Aku tidak melihat Erica dan Irene.” Karinn menjawab dengan nada sedikit kecewa. Dia tidak menemukan kedua gadis itu di seluruh sudut kantin, bahkan pintu masuk yang sedari tadi diperhatikannya dengan lekat. 

   “Kudengar dari ketua kelas 11-2, tim piket hari ini dihukum.” Setelah Diana memberikan jawaban, gadis yang lain ikut menyahut, bergunjing.  

   “Seperti biasa, Giselle dan Irene.”

   “Tapi kali ini berbeda. Kulihat tadi Giselle dibawa Rina ke ruang guru. Sepertinya dia akan mendapat masalah.”

   “Bagus kalau begitu. Sudah lama aku muak dengannya.”

   “Dia pikir dirinya keren, padahal hanya pembuat masalah.”

   Saku jas seragam Karinn bergetar, ponselnya berdering dengan sebuah nama tertera di layarnya. Segera ia pun memasang earphone di telinganya, supaya obrolan mereka tetap terjaga privasinya. Dia memencet ikon penerima panggilan, namun tanpa diduganya, di seberang sana seseorang berteriak dengan lantang.  

   “Dasar bocah kunyuk! Kenapa kau menelepon pagi-pagi sekali?! Aku sedang rapat dan ponselku berdering tanpa henti! Kau mau membunuhku, hu?!” Napas Noah memburu, keningnya berkerut dan kedua alisnya nyaris saling bertaut membentuk garis menanjak. Dia meremas gelas kertas kopinya yang telah habis, kesal. 

   “Detektif gila ini..” Karinn menggigit bibir, juga kesal karena ia tidak sempat melepas earphone-nya. Alhasil suara lantang Noah menembus gendang telinganya tanpa aba-aba. “Ya, aku minta maaf.” 

    Noah menarik kursi, kemudian duduk kembali di tempat kerjanya untuk memeriksa berkas. Dia mengambil catatan riwayat telepon milik seseorang—kasus yang sedang ditangani—lalu mencoretnya menggunakan pena penanda berbagai warna. “Ah, lupakan. Ada perlu apa kau menghubungiku?” 

    Sembari menyeruput kuah sup, Karinn menjawab, “Katanya kau mau datang di hari Permainan Kelompok Asrama. Kenapa tidak jadi?”

   “Kau membuat segala keributan hanya untuk bertanya tentang itu?”

   “Ya. Aku penasaran sejak kemarin. Tapi kau mengabaikan semua panggilan teleponku.”

   “Tidak ada yang perlu kau tahu.”

   “Kenapa tidak? Aku perlu mengetahuinya. Itu penting bagiku.”

   Noah melirik sinis pada ponsel yang diletakkannya di samping tetikus. Dia membatin dalam hati, betapa menyebalkannya gadis itu yang bahkan tidak menganggap dirinya sebagai seorang polisi. Harga dirinya benar-benar tidak tampak di matanya. Dia terus-menerus berbicara dengan bahasa informal, mengabaikan fakta bahwa ia perlu dihormati. “Kenapa itu harus penting?”

   “Aih, sudah kubilang aku penasaran.”

   “Jika tidak kuberitahu, kau mau apa? Menghantuiku dan bertanya sebanyak seratus kali?

   “Ya.”

   Noah geleng-geleng, tidak habis pikir. “Jaga dirimu baik-baik. Jangan mati, karena kau akan jadi hantu penasaran yang merepotkan.”

   “Ya, tentu. Dan kau adalah orang pertama yang akan kutemui, Pak Detektif.”

   “Sial.”

   Karinn yang sedang asyik menyantap makan siangnya sambil bertelepon, tiba-tiba merasakan lengannya disenggol menggunakan siku. Seorang gadis di sebelahnya memberi kode melalui pergerakan mata dan wajahnya supaya ia menatap ke suatu arah yang dimaksudnya. Begitu ia menurut untuk memeriksa, atensinya langsung menyorot kepada dua sosok gadis yang sedang berjalan menuju meja kosong; Erica dan Irene. Segera ia pun melambaikan tangannya tinggi-tinggi, meminta keduanya untuk duduk bergabung di mejanya.

   Kebetulan Villy dan Ayaa berada tidak jauh dari sana. Mereka yang juga sedang mencari meja sambil membawa kotak stainless berisikan menu makan siangnya, datang menghampiri. Sekilas, Ayaa memperhatikan kedua juniornya itu. Dia merasa aneh karena Erica dan Irene tampak tidak antusias merespons ajakan Karinn seperti biasa. 

   “Aku tidak bisa ke sana. Kakakku datang kemari. Aku harus menyambutnya.” Erica menjawab dengan suara lantang, tetapi Karinn yang berjarak belasan meter darinya tak dapat mendengar apa-apa. Keramaian kantin kala itu seolah menenggelamkan suaranya.

   Sebenarnya Ayaa bisa saja langsung menyantap makanannya karena Villy telah menemukan meja kosong, tetapi melihat pemandangan ketiga juniornya itu, ia merasa tak bisa tinggal diam. Akhirnya demi menuntaskan pikiran intrusifnya, dia secara inisiatif berdiri di sebelah Erica, kemudian menyampaikan pesan tersebut menggunakan bahasa isyarat. “Katanya kakaknya datang, dia harus menyambutnya.”

   Karinn membuka mulutnya membentuk huruf O, lalu mengacungkan jempol sebagai balasan.

   Padahal wajah yang Karinn tampakkan adalah wajah yang hangat oleh senyum lebar khas dirinya. Tulang pipinya menonjol dengan rona sedikit kemerahan, matanya menyelip di bawah kelopak mata, memberikan getaran seperti warna langit yang cerah tanpa awan. Tidak ada yang salah, tetapi Erica dan Irene sama-sama bereaksi datar. Bukan karena bersikap tak acuh, tetapi karena mereka sedang mengingat kembali apa yang telah terjadi di gudang 2X tepat sebelum mereka pergi ke kafetaria.

   Kira-kira lima belas menit lalu, anggota tim piket hari Senin masih berada di dalam gudang. Bukan mengumpulkan bola kasti ke dalam karung, tetapi mereka sedang serius bercengkrama demi membuka sebuah kotak rahasia.   

   “Karinn?!” 

   Padahal ketiganya sudah menduga akan reaksi itu, tapi tetap saja mereka terkejut mendengar pekikan Erica dan Irene yang menggelegar seolah membelah udara.

   “Yang menghancurkan kaca ini ... Karinn?” Irene bertanya sekali lagi, menegaskan ucapannya bukan untuk memastikan, melainkan karena ia masih tidak dapat mempercayainya.

   “Dari mana kalian tahu kalau dia yang melakukannya?” Erica ikut menyerang dengan sebuah pertanyaan. Wajahnya tampak pucat oleh perasaan gelisah. 

   “Kami melihatnya.” Ketiganya menjawab serempak.

   Sembari menundukkan kepala, Fally mulai bercerita. “Dua tahun lalu, kami menjadi teman sekelasnya, kelas 9-5. Ketika itu dia adalah siswi baru, pindahan dari tingkat 2. Ketika itu—”

   “Tunggu sebentar.” Erica menyodorkan telapak tangannya, menyela. “Karinn pernah berada di kelas 8-2? Itu artinya saat itu dia sekelas denganku.” 

   Melihat Erica menoleh kepadanya, Irene justru merasa bingung. “Kau tidak menyadarinya?” Pikirnya, itu mustahil. Karinn adalah anak yang mencolok dengan segala tingkah yang tidak dapat ditebaknya. Meskipun seringkali dia tiba-tiba jadi pendiam, semua orang tahu bahwa dia baru saja kehilangan uangnya yang berharga. Atau kemungkinan lainnya, dia sedang merajuk pada seseorang. Tapi itu pun juga tidak bertahan lama, karena Karinn yang dikenalnya pasti akan langsung membalas. Irene jelas tahu itu karena dia sudah mengalaminya bahkan sejak pertemuan pertama mereka.

   Tanpa memberikan ruang bagi Erica untuk berpikir bagaimana bisa dirinya tak dapat mengenali Karinn, Fally memutuskan untuk membalikkan topik. Dia melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus. “Ketika itu ... pelajaran olahraga. Kami diizinkan istirahat lebih awal setelah pengambilan nilai praktek, jadi kami memutuskan untuk kembali ke kelas. Saat kami naik ke koridor lantai tiga, kami menemukan kalung choker berliontin mawar hitam tergeletak sembarang. Itu milik Karinn. Namun, kami ingat Karinn tidak mengikuti pelajaran olahraga karena dia bilang badannya sedang tidak sehat. Dia seharusnya berada di UKS, di lantai dua. Melihat kalungnya ada di sana, kami pikir dia sudah kembali, jadi kami pun menyimpannya.”

   Tiba-tiba, Praang..! suara benda pecah terdengar nyaring, menyapu kesunyian lorong koridor yang tak terdapat orang lain selain mereka bertiga. Gema memantul di sepanjang permukaan dinding, cukup keras sampai-sampai berhasil membuat beberapa guru dan siswi keluar dari kelas dengan wajah marah. Sialnya, kebetulan sekali mereka bertemu mata dengan ketiga gadis ini, lebih lagi dalam keadaan mengenakan seragam olahraga. Jadi kemudian mereka pun menyimpulkan kalau bunyi itu berasal dari para gadis yang sedang bermain dan memecahkan kaca. Tentu saja itu terdengar masuk akal karena kecelakaan dalam permainan bisa terjadi kapan saja.  

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!