"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK DEBU MASA LALU
Malam itu, Aethelgard terasa lebih dingin dari biasanya. Suara ombak yang menghantam karang terdengar seperti bisikan yang menuduh, mengingatkan Riezky pada ledakan api yang ia lepaskan tadi pagi. Di dalam pondok kecil yang remang-remang oleh cahaya lilin, Riezky terbaring di atas dipan kayunya. Matanya terjaga, menatap langit-langit rumbia yang menghitam.
Pikirannya kalut. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali melihat tangannya yang membara. Ia bisa merasakan sisa panas yang masih berdenyut di bawah kulitnya—sebuah kekuatan yang terasa asing, namun sekaligus terasa sangat familiar, seolah-olah kekuatan itu sudah lama meringkuk di dalam darahnya, menunggu saat yang tepat untuk bangun.
Apa aku benar-benar manusia? Pertanyaan itu terus berputar, membuatnya gelisah. Ia membalikkan tubuhnya berkali-kali, namun ketenangan tak kunjung datang.
Tiba-tiba, pintu kayu kamarnya berderit pelan. Lyra melangkah masuk dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar. Ia membawa segelas air hangat dan duduk di pinggir dipan Riezky.
"Ibu tahu kau belum tidur, Riz," ucap Lyra lembut. Tangannya yang kasar mengusap kening putranya, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri pun sulit temukan.
Riezky bangkit dan duduk bersandar di dinding. "Ibu tidak takut padaku? Setelah apa yang Ibu lihat tadi?"
Lyra tersenyum tipis, meski matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Seorang ibu tidak akan pernah takut pada cahaya yang menghangatkan rumahnya, Riz. Apapun itu, kau tetap putraku."
Riezky terdiam sejenak. Kelembutan ibunya justru membuatnya teringat pada ancaman Kael tadi siang. “Kami dengar kau menyembunyikan beberapa koin tembaga di balik bantalmu!” Teriakkan itu memicu ingatannya tentang sebuah benda yang selalu dijaga Lyra dengan sangat rahasia.
"Bu..." Riezky ragu sejenak. "Tentang ucapan Kael tadi... tentang sesuatu yang Ibu sembunyikan di peti kayu itu. Apakah itu benar-benar koin?"
Tangan Lyra yang sedang mengusap rambut Riezky seketika membeku.
Ia menarik napas panjang, seolah-olah pertanyaan itu baru saja membuka segel pada kotak kenangan yang sudah ia kunci selama dua puluh tahun.
"Bukan koin, Riz," bisik Lyra. Ia berdiri dan melangkah menuju sudut ruangan, di balik tumpukan jaring tua yang berdebu. Di sana, tertanam sebuah peti kayu kecil yang terbuat dari kayu jati tua yang kuat.
Dengan tangan gemetar, Lyra membuka gemboknya yang sudah berkarat. Di dalamnya, tidak ada emas batangan atau perhiasan mewah. Yang ada hanyalah sebuah set alat nelayan—sebuah kail pancing, pisau pembersih sisik, dan pemberat jaring yang semuanya terbuat dari logam berwarna emas yang berkilauan meski tertutup debu.
Riezky bangkit dan mendekat, matanya terpaku pada benda-benda itu.
"Alat nelayan emas? Itu... milik siapa?"
"Ini milik mendiang suamiku dan mendiang putra kecilku," suara Lyra bergetar. Ia mengangkat kail pancing emas itu dengan penuh kasih. "Dulu, sebelum aku menemukanmu, kami adalah keluarga nelayan yang paling bahagia di pesisir utara. Suamiku membuat alat-alat ini sebagai simbol keberuntungan. Tapi laut... laut mengambil mereka dariku dalam satu malam badai yang sama."
Lyra mengusap alat itu, air mata mulai jatuh di pipinya yang keriput. "Sejak mereka hilang, aku berhenti menggunakannya. Aku mengubur semua kenangan tentang mereka di peti ini. Aku merasa jika aku menyentuhnya lagi, luka itu akan kembali terbuka. Tapi hari ini, saat bandit-bandit itu mengancam akan mengambil segalanya... aku baru sadar bahwa benda-benda ini adalah satu-satunya bukti bahwa aku pernah memiliki keluarga sebelum kau datang."
Riezky melihat betapa berharganya benda-benda itu bagi ibunya. Bukan karena nilai emasnya, tapi karena nyawa dan kenangan yang ada di dalamnya. Ia merasa bersalah karena keisengannya tadi pagi hampir saja membuat bandit-bandit itu merampas harta paling suci milik ibunya.
"Maafkan aku, Bu," bisik Riezky sambil menggenggam tangan ibunya. "Aku berjanji, tidak akan ada yang bisa menyentuh peti ini. Tidak Kael, tidak juga makhluk asap tadi."
Lyra menatap Riezky, lalu ia mengambil sesuatu yang terselip di bawah alat nelayan emas itu. Sebuah kain sutra putih yang sudah kusam dan memiliki bekas terbakar di bagian ujungnya.
"Dan kain ini..." Lyra menyerahkannya pada Riezky. "Inilah kain yang menyelimutimu saat laut mengirimmu padaku. Ada namamu di sana, Riz. Nama yang bukan berasal dari dunia nelayan seperti kami."
Riezky menerima kain itu. Jemarinya meraba sulaman nama RIEZKY yang halus, lalu jemarinya berhenti di bagian yang hitam karena terbakar—bagian di mana seharusnya marga Ixevon berada.
Tepat saat Riezky menyentuh bagian yang terbakar itu, sebuah suara ketukan keras terdengar dari pintu depan pondok mereka, membuat mereka berdua tersentak.
"Siapa malam-malam begini?" bisik Lyra ketakutan.
Riezky berdiri, matanya kembali menajam. Ia bisa merasakan aura yang sangat kuat di balik pintu itu—aura yang sangat berbeda dari para bandit atau makhluk asap tadi. Aura itu terasa dingin, tenang, dan sangat berwibawa.
"Tidakkah kau akan membukakan pintu untuk seorang penjelajah yang butuh tempat bernaung?" Sebuah suara berat terdengar dari luar.
Pria itu adalah Valerius.
Di Aethelgard, namanya cukup dikenal sebagai sang "Penggambar Peta". Ia adalah pria eksentrik yang sudah bertahun-tahun berkeliling pulau, mencatat setiap lekuk pantai dan goa tersembunyi.
"Valerius?" Riezky sedikit menurunkan kewaspadaannya, namun matanya tetap menyelidik. "Sedang apa kau di sini malam-malam begini? Petamu tidak akan bisa digambar dalam kegelapan."
Valerius tidak langsung menjawab.
Matanya melirik ke arah tangan Riezky yang masih menyisakan sedikit uap panas yang nyaris tak terlihat, lalu beralih ke dalam pondok, tepat ke arah peti kayu yang terbuka di lantai.
"Aku baru saja minum di kedai pusat desa," ucap Valerius sambil mengelus janggut tipisnya.
"Dan telingaku hampir tuli karena mendengar ocehan Kael. Dia lari terbirit-birit seperti melihat hantu, berteriak tentang nelayan yang bisa mengeluarkan api dan iblis asap hitam. Dia ketakutan setengah mati, Riez."
Valerius melangkah maju satu langkah, senyum tipis tersungging di wajahnya yang terlihat lelah. "Aku penasaran. Aku sudah menggambar peta pulau ini selama sepuluh tahun, tapi aku belum pernah mencatat ada 'gunung berapi' berjalan di pesisir ini. Jadi, aku memutuskan untuk melihatnya sendiri."
Lyra melangkah maju, wajahnya masih pucat. "Tuan Valerius, anakku hanya... dia hanya sedang membela diri. Tolong jangan ceritakan hal aneh pada warga desa."
Valerius tertawa kecil, suara tawanya berat dan menenangkan. Ia mengangkat tangannya, menunjukkan bahwa ia tidak membawa senjata. "Tenanglah, Lyra. Aku bukan penyebar gosip. Lagipula..."
Tiba-tiba, suara keruyuk nyaring terdengar dari perut Valerius. Pria itu berdehem, wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Lagipula, rasa penasaranku kalah jauh dengan rasa laparku. Kedai tadi tutup lebih awal karena semua orang ketakutan, dan aku belum sempat makan malam. Apakah kalian punya sisa ikan atau mungkin sedikit sup gandum? Aku bersedia membayar dengan cerita... atau mungkin informasi yang berguna bagi kalian."
Riezky dan Lyra saling pandang. Suasana yang tadinya mencekam mendadak menjadi sedikit canggung karena urusan perut sang penggambar peta.
"Masuklah, Tuan Valerius," ucap Lyra akhirnya, rasa kasih sayangnya sebagai ibu kembali muncul. "Kami masih punya sisa rebusan ikan tadi sore."
Valerius masuk dan duduk di kursi kayu yang reyot. Sambil menunggu Lyra menyiapkan makanan, matanya terus melirik ke arah kain sutra dengan sulaman RIEZKY yang masih digenggam erat oleh pemuda itu.
"Kain yang bagus," gumam Valerius sambil membuka tas kulitnya. "Bahan sutra seperti itu tidak dibuat di pulau ini. Bahkan tidak di benua ini. Itu adalah sutra dari wilayah utara yang jauh... wilayah yang sekarang sudah menjadi legenda dan abu."
Riezky menatap Valerius dengan tajam. "Apa kau tahu sesuatu, Valerius?"
Valerius berhenti menggeledah tasnya. Ia menatap Riezky dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang membaca sebuah peta yang jauh lebih kompleks daripada pulau Aethelgard.
"Aku seorang penggambar peta, Riezky. Tugasku adalah menemukan tempat yang hilang dan memberi mereka nama kembali," ucap Valerius misterius.
"Makan dulu. Perut kosong bukan teman yang baik untuk membicarakan takdir."
Riezky menarik kursi kayu di seberang Valerius, mencoba mencairkan suasana yang masih terasa kaku bagi ibunya. Ia memperhatikan cara Valerius makan—sangat lahap, seolah-olah pria itu benar-benar tidak makan selama tiga hari, meski gerakannya tetap menyiratkan tata krama yang tidak biasa untuk ukuran pengembara di desa kumuh seperti Aethelgard.
"Kau tahu, Valerius," ucap Riezky sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mencoba memasang wajah santai. "Kalau kau bosan menggambar lekuk pantai yang itu-itu saja, mungkin aku bisa ikut keliling. Siapa tahu aku bisa kasih namaku buat tempat-tempat baru yang kau temukan. 'Tanjung Riezky' atau 'Teluk Nelayan Tampan' kedengarannya tidak buruk, kan?"
Valerius tersedak kecil, hampir menyemburkan kuah rebusan ikan dari mulutnya. Ia menyeka bibirnya dengan lengan baju, lalu menatap Riezky dengan alis terangkat.
Valerius tertawa terbahak-bahak mendengar ide Riezky tentang "Tanjung Riezky". Ia menyeka air mata di sudut matanya sambil meletakkan mangkuk ikan yang sudah bersih ke meja.
"Tanjung Riezky? Ha! Kau benar-benar punya kepercayaan diri yang bisa melampaui tingginya gunung tertinggi di benua ini, Riz," ucap Valerius sambil menggeleng-geleng.
"Dengar ya, Nak. Memberi nama tempat itu butuh sejarah, butuh darah, atau setidaknya butuh penemuan yang luar biasa. Kalau aku kasih nama 'Tanjung Riezky' hanya karena kau membakar bokong bandit, para kartografer di pusat kota akan menertawakanku habis-habisan!"
Riezky hanya mendengus sambil tersenyum tipis, sementara Lyra mulai terlihat sedikit lebih rileks mendengar tawa Valerius.
"Tapi hei," Valerius menyandarkan punggungnya, "setidaknya namamu unik. Tidak pasaran seperti nama-nama pelaut di sini yang kalau tidak 'Grog' ya 'Barnaby'. Siapa tahu nanti kalau kau benar-benar berpetualang denganku, kita bisa menemukan tumpukan batu yang layak menyandang namamu."
Tepat saat tawa Valerius mereda, suara angin di luar pondok mendadak berubah. Bunyinya bukan lagi siulan, melainkan raungan yang berat.
Brak! Jendela kayu pondok mereka menghantam dinding karena hembusan angin yang tiba-tiba datang dengan kekuatan besar.
Langit Aethelgard yang tadinya tenang mendadak tertutup awan hitam pekat. Hujan turun seolah-olah langit sedang tumpah, menghujam atap rumbia mereka dengan suara berisik. Petir menyambar di kejauhan, menerangi pantai yang kini berkecamuk oleh ombak tinggi.
"Badai ini... tidak normal," gumam Lyra sambil bergegas menutup jendela. "Arah anginnya tidak beraturan. Tuan Valerius, kau tidak mungkin bisa kembali ke penginapan desa dalam cuaca seperti ini. Jalan setapak di tebing akan sangat licin dan berbahaya."
Valerius melihat ke arah pintu yang bergetar dihantam angin, lalu menatap tas kulitnya. "Yah, sepertinya alam memang memaksaku untuk menumpang lebih lama. Aku tidak keberatan tidur di bawah pohon, tapi dalam badai seperti ini, mungkin aku akan hanyut ke laut."
"Jangan konyol," potong Lyra. "Kau bisa menginap di sini. Tapi karena pondok kami sangat kecil, kau harus puas tidur di teras depan. Ada dipan kayu tua di sana yang cukup terlindung dari air hujan. Aku akan bawakan selimut tebal."
"Teras depan?" Valerius menatap Riezky sambil menyeringai. "Nah, ini dia. Calon 'Penakluk Tanjung Riezky' ternyata membiarkan tamunya kedinginan di teras. Benar-benar keramah-tamahan yang luar biasa."
Riezky hanya memutar bola matanya. "Setidaknya di teras kau bisa menggambar peta badai dengan lebih jelas, Val."
Malam itu, di tengah gemuruh badai yang mengguncang Aethelgard, Riezky duduk di tepi dipannya, menatap kain sutra yang namanya terbakar. Di luar, ia mendengar suara dengkur halus Valerius yang bersaing dengan suara guntur.
Pikiran Riezky mulai berubah. Selama ini ia merasa aman di Aethelgard, tapi makhluk asap tadi dan rahasia di balik alat nelayan emas milik ibunya menyadarkannya satu hal: Aethelgard mulai terasa terlalu kecil untuk kekuatan yang ia simpan.