Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan dari Siena untuk si nenek sihir
Cahaya tablet telah menerangi wajah Dita yang tegang. Ia memutar rekaman itu berulang kali, matanya menyipit tajam menatap detik-detik saat mobil patroli Arjuna berhenti mendadak.
"Tidak mungkin... ini pasti rekayasa!" cetus Dita sambil menyerahkan kembali tablet itu dengan tangan bergetar. "Kau polisi, kan? Mudah saja bagimu untuk mengedit video seperti ini agar terlihat bersih!"
Arjuna menepuk jidatnya, menarik napas panjang menghadapi keras kepalanya sang istri kecil. "Dita, demi Tuhan, aku tidak sepicik itu. Kalau kau tidak percaya, besok aku tantang kau bertemu tim forensik digital independen. Kau boleh bawa ahli mana pun untuk memeriksa keaslian rekaman ini!"
Dita terdiam, ia mendongak dan menatap tepat ke dalam manik mata Arjuna. Jarak mereka begitu dekat, hingga hembusan napas Arjuna terasa di keningnya. Arjuna pun terpaku, dalam sorot mata Dita yang penuh perlawanan itu, ia melihat binar yang sama dengan mendiang istrinya, Dewi. Sesuatu yang sudah lima tahun ia rindukan kini seolah memanggilnya kembali.
Setelah beberapa detik yang terasa abadi dalam keheningan, Dita memalingkan wajahnya yang merona. "Baiklah, aku coba untuk percaya. Tapi... aku tetap akan memeriksa keaslian rekaman ini!" ucapnya tegas.
"Silakan, Dit. Aku tidak akan lari," jawab Arjuna mantap.
Malam semakin larut. Saat Dita bersiap untuk pamit pulang, Bu Kinanti dan Pak Pras datang menghampiri dengan wajah penuh harap.
"Dit, ini sudah malam sekali. Menginap lah di sini satu malam. Besok kan hari libur sekolah, jadi kau tidak perlu buru-buru," bujuk Bu Kinanti lembut.
Dita sempat bimbang, namun ia melirik Arjuna dan teringat statusnya. Dengan berat hati, ia mengangguk. "Baiklah, Bu... Dita menginap di sini."
Bu Kinanti dengan antusias mengantarkan Dita ke sebuah kamar besar di lantai dua. Begitu pintu dibuka, aroma lilin aromaterapi yang menenangkan langsung menyeruak. Di atas ranjang besar, kelopak mawar merah ditata rapi membentuk hati.
Arjuna menyusul di belakang. Namun, sebelum ia melangkah masuk, Pak Pras menahan lengannya dan berbisik tajam. "Juna, jangan lupa buatkan cucu laki-laki untuk Ayah. Awas saja kalau gagal, namamu akan Ayah coret dari daftar warisan!"
Arjuna melotot kaget. "Ayah! Apa-apaan sih, bisanya cuma mengancam!" bisiknya kesal, sementara Pak Pras hanya terkekeh jahil. "Sudahlah, Juna lelah. Oh iya Bu, bagaimana dengan Siena?"
"Tenang saja, Siena sudah tidur setelah Ibu beri pengertian. Semoga besok dia sudah lebih tenang," jawab Bu Kinanti menenangkan.
Arjuna pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu pelan. Di dalam, Dita sudah duduk di pinggiran kasur yang empuk. Ia memperhatikan sekeliling kamar dengan tatapan penuh selidik.
‘Kenapa kamar ini begitu wangi dan menenangkan? Dan kenapa juga banyak kelopak bunga mawar di atas tempat tidur? Hemmm... sungguh mencurigakan!’ batin Dita was-was.
Ia melirik Arjuna yang baru saja meletakkan jam tangannya di atas nakas. Suasana mendadak menjadi sangat intim dan canggung bagi Dita yang baru pertama kali berada dalam satu kamar dengan seorang pria.
"Jangan berpikir yang macam-macam," ucap Arjuna seolah bisa membaca pikiran Dita. "Itu semua kerjaan ibuku. Tidurlah, aku akan tidur di sofa."
Dita sedikit lega, namun rasa penasarannya belum hilang. "Kenapa Ayahmu tadi berbisik padamu? Sepertinya ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Dita curiga, matanya menyipit menatap Arjuna.
Di dalam kamar yang temaram, suasana jujur mulai mengalir di antara keduanya. Arjuna baru saja selesai menjelaskan bahwa bisikan ayahnya hanyalah gurauan khas orang tua yang terlalu bersemangat. Dita, meski masih menaruh curiga, memilih untuk tidak memperpanjang debat.
"Sudahlah, Pak. Aku capek. Aku mau bersih-bersih dulu," gumam Dita sambil melangkah menuju kamar mandi.
Arjuna hanya mengangguk pelan. Ia meraih bantal cadangan dan selimut tebal, lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak tidak jauh dari ranjang. "Tidurlah yang nyenyak. Aku di sini, tidak akan macam-macam," ucap Arjuna sebelum memunggungi ranjang.
Di dalam kamar mandi, Dita kebingungan mencari pakaian ganti. Beruntung, di sebuah lemari kecil, ia menemukan sebuah daster berbahan kaos yang sangat lembut. Motifnya menggemaskan, yakni gambar Pikachu, persis seperti kesukaan Siena. Hanya saja, daster itu terasa cukup pendek, jatuh beberapa senti di atas lututnya.
‘Ah, sudahlah. Yang penting nyaman dan bisa tidur,’ batin Dita masa bodoh.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Dita melangkah keluar dengan perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada sofa. Arjuna sudah melepaskan kaos berkerahnya, kini ia hanya mengenakan kaos singlet putih yang melekat ketat, menonjolkan lekuk otot lengan dan punggungnya yang kokoh.
Dita terpaku sejenak. Jantungnya berdesir aneh.
‘Duh, kenapa badannya bagus banget sih? Fokus, Dita! Fokus!’ Ia buru-buru menepuk kedua pipinya sendiri agar pikirannya tidak melayang ke mana-mana.
Dengan langkah berjinjit, ia mendekati ranjang besar yang bertabur kelopak mawar. Namun, saat tangannya hendak menyibakkan selimut putih tebal itu, matanya menangkap sesuatu yang mengilap dan meliuk di balik bantal.
"AAAAGGGHHH!
ULAAAARRRR!!"
Jeritan melengking Dita memecah kesunyian malam. Arjuna yang baru saja memejamkan mata langsung terlompat dari sofa dengan naluri sigap seorang polisi.
"Dita! Ada apa?!" serunya panik.
Tanpa pikir panjang, Dita yang didera ketakutan hebat langsung berlari ke arah Arjuna. Dalam satu gerakan refleks, ia melompat ke pelukan pria itu, melingkarkan kedua kaki rampingnya di pinggang kokoh Arjuna dan memeluk lehernya sangat erat.
Deg!
Arjuna membeku. Napasnya tertahan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Dita yang gemetar, aroma sabun mandi yang segar, dan sensasi lembut yang menekan dadanya. Ia menelan ludah susah payah, berusaha menjaga kesadarannya agar tidak meledak di tengah situasi yang begitu intim ini.
"Dit... kamu kenapa?" tanya Arjuna dengan suara yang mendadak serak.
"Itu... di situ... ada ular! Cepat buang, Pak!" tunjuk Dita dengan jari gemetar ke arah kasur, wajahnya disembunyikan di ceruk leher Arjuna.
Arjuna perlahan melangkah mendekati ranjang, masih dalam posisi menggendong Dita yang enggan turun. Ia menyipitkan mata, lalu tangannya meraih benda panjang berwarna hijau gelap itu. Begitu disentuh, benda itu terasa kenyal dan dingin, khas karet.
‘Siena... ini kan mainan ular karet miliknya. Kenapa bisa ada di sini?’ batin Arjuna geram.
Ia segera menyadari bahwa ini adalah "salam perkenalan" dari putrinya untuk sang ibu sambung.
Sementara itu, dari balik dinding kamar sebelah, seorang gadis kecil sedang meringkuk di balik selimut sambil membekap mulutnya sendiri. Siena tertawa puas, membayangkan betapa pucatnya wajah "nenek sihir" itu saat ini.
"Rasakan itu! Siapa suruh mau jadi mamaku," bisik Siena penuh kemenangan.
Arjuna menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian liar. Tangan kirinya dengan sigap menyambar ular karet itu dan menyembunyikannya ke dalam laci nakas, lalu menutupnya dengan bunyi klik yang pelan.
"Sudah, Dit... ularnya sudah tidak ada. Sudah aku buang jauh-jauh," bisik Arjuna lembut, suaranya terdengar sedikit serak di telinga Dita.
Dita perlahan melonggarkan pelukannya. Ia memberanikan diri membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam rapat. Saat itulah, kesadarannya kembali pulih seutuhnya. Ia tersentak menyadari posisinya yang masih menggelayut manja, kedua kakinya melingkar di pinggang kokoh Arjuna dan wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah suaminya.
Hening mendadak merayap di antara mereka. Dita terpaku menatap manik mata Arjuna yang tampak merona dan dalam, sementara Arjuna terpaku menatap bibir mungil Dita yang sedikit terbuka karena napas yang memburu. Dalam keremangan cahaya lilin aromaterapi, gravitasi seolah menarik wajah mereka semakin mendekat. Inci demi inci, hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
Namun, tepat saat bibir mereka hampir saja bertaut...
Tok!
Tok!
Tok!
"Juna? Dita? Kalian di dalam baik-baik saja?" Suara Bu Kinanti terdengar cemas dari balik pintu, disusul suara dehaman berat Pak Prasetyo.
Sontak, Dita terperanjat. Ia langsung melompat turun dari gendongan Arjuna hingga hampir terpeleset jika saja Arjuna tidak sigap menahan lengannya. Dita buru-buru merapikan daster Pokemon nya yang tersingkap, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
"I...iya, Bu! Kami baik-baik saja!" sahut Arjuna gagap, sambil terburu-buru menyambar kaos yang tadi ia lepas dan memakainya asal-asalan.
Di luar pintu, Bu Kinanti dan Pak Prasetyo saling lirik. Tadi mereka sempat tegang mendengar teriakan Dita. Awalnya Pak Pras tersenyum jahil, mengira putranya sedang "bersemangat" menjalankan tugas sebagai suami, namun jeritan itu terdengar terlalu histeris untuk sebuah kemesraan.
"Juna, buka pintunya sebentar. Ibu khawatir, tadi Dita teriak kencang sekali. Ada apa?" tanya Bu Kinanti lagi, tangannya sudah memegang gagang pintu.
Arjuna menatap Dita dengan pandangan bertanya, "Bagaimana ini?", sementara Dita hanya bisa membeku di pinggir ranjang, meremas sprei dengan gugup, tak siap jika mertuanya masuk dan melihat kamar yang sudah berantakan karena "insiden ular" tadi.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna