"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTANA DINGIN DAN MESIN CAPIT BONEKA
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan tipis yang membuat aspal jalanan tampak mengilap seperti kulit ular. Tepat pukul tujuh, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam sudah terparkir manis di depan kediaman Maheswari. Aletta berdiri di balkon kamarnya, menatap mobil itu seolah-olah itu adalah kereta kencana menuju tiang gantungan.
Ia mengenakan setelan kantor yang sangat formal—blazer putih tulang dengan celana bahan senada—namun di punggungnya, ia menggendong tas ransel kecil berbentuk cangkang kura-kura. Itu adalah sisi "random" Aletta yang selalu muncul saat tingkat stresnya melampaui batas. Baginya, tas kura-kura itu adalah pelindung mental.
"Nona, Tuan Arkan sudah menunggu," ucap asisten rumah tangganya dengan nada khawatir.
Aletta menghela napas, menyambar koper terakhirnya, dan melangkah turun. Ia tidak berpamitan pada ayahnya dengan dramatis. Baginya, pernikahan ini adalah transaksi bisnis. Dan dalam bisnis, emosi adalah liabilitas.
Begitu pintu mobil dibuka oleh sopir berseragam rapi, Aletta tertegun. Di dalam sana, Arkananta sudah duduk tenang sambil membaca tablet finansialnya. Pria itu tampak sangat segar dengan kemeja biru navy yang lengannya lagi-lagi digulung—seolah dia selalu siap untuk bekerja kasar meski tangannya terlihat sangat halus.
"Kau terlambat dua menit, Aletta," ucap Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Aletta masuk dan duduk sejauh mungkin dari Arkan, mepet ke pintu kiri. "Dua menit adalah waktu yang kubutuhkan untuk memastikan kaktusku tidak trauma karena pindah rumah. Kau harus belajar tentang empati pada tumbuhan, Tuan Arkan."
Arkan akhirnya menoleh. Matanya tertuju pada tas kura-kura di punggung Aletta. Alisnya terangkat satu senti. "Dan kura-kura itu? Apa dia juga butuh empati?"
Aletta memeluk tasnya erat. "Ini adalah asisten rahasiaku. Namanya Shelly. Dia tidak suka bicara dengan pria yang hobi memaksa wanita menikah."
Arkan menutup tabletnya, lalu tubuhnya condong ke arah Aletta. Aroma maskulin yang intens menyergap—campuran leather dan bergamot. "Aku tidak memaksamu, Aletta. Aku memberimu pilihan: kehancuran atau pernikahan. Kau memilih yang kedua karena kau tahu, jauh di dalam lubuk hatimu, kau ingin melihat seberapa jauh aku bisa membawamu."
Aletta mendengus, memalingkan wajah ke jendela. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin menyelamatkan karyawan-karyawanku. Begitu satu tahun selesai, aku akan menghilang dari hidupmu secepat bayangan."
"Kita lihat saja nanti," bisik Arkan pelan, hampir seperti janji pada dirinya sendiri.
Perjalanan menuju kediaman Dirgantara terasa sangat panjang meskipun hanya memakan waktu empat puluh menit. Rumah itu terletak di kawasan perbukitan tersembunyi di pinggiran Jakarta. Sebuah mahakarya arsitektur modern minimalis yang didominasi kaca dan beton ekspos. Dingin, angkuh, dan sangat mencerminkan pemiliknya.
Begitu masuk ke lobi utama, Aletta merasa seperti masuk ke museum seni rupa. Semuanya tertata sempurna. Namun, matanya langsung berbinar saat melihat sebuah benda besar yang dibungkus kain beludru merah di pojok ruang tengah.
"Itu...?" Aletta berlari kecil mendekatinya.
Arkan berjalan di belakangnya dengan tangan di saku celana. "Sesuai permintaanmu. Mesin capit boneka versi terbaru, langsung dari Jepang."
Aletta menyibak kain itu. Benar saja, sebuah mesin capit boneka berwarna neon pink berdiri kontras dengan dekorasi rumah Arkan yang serba hitam-putih. Di dalamnya penuh dengan boneka-boneka kecil berbentuk alpaka dan bebek.
Tanpa memedulikan wibawanya sebagai CEO, Aletta langsung merogoh sakunya, mencari koin. "Aku butuh koin! Di mana kau menaruh koinnya?"
Arkan menghela napas, namun sudut bibirnya berkedut. Ia mengeluarkan sebuah toples kaca penuh koin emas khusus dari laci meja samping. "Gunakan sepuasmu. Tapi ingat, kita punya jadwal makan siang dengan ibuku pukul satu siang."
Aletta tidak mendengarkan. Ia sudah asyik menggerakkan tuas. Matanya menyipit tajam, fokusnya melebihi saat ia sedang menganalisis laporan audit. "Ayo... sedikit lagi... tangkap bebek itu, kau capit sialan!"
Klik. Capitnya meleset.
"Sial!" kutuk Aletta. Ia mencoba lagi. Gagal lagi.
Arkan hanya berdiri bersandar di pilar, memperhatikan pemandangan aneh di depannya. Wanita yang kemarin terlihat seperti ratu es di kantornya, kini sedang menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena gagal mendapatkan boneka bebek karet.
"Kau menggunakan teknik yang salah," suara Arkan terdengar di dekat telinga Aletta.
Sebelum Aletta sempat protes, Arkan sudah berdiri di belakangnya. Dadanya yang bidang menempel pada punggung Aletta. Tangan Arkan yang besar dan hangat menutupi tangan Aletta yang sedang memegang tuas.
Aletta membeku. Jantungnya mendadak melakukan maraton tanpa izin. "A-apa yang kau lakukan? Aku bisa sendiri!"
"Diamlah. Kau terlalu tegang. Main mesin capit itu seperti negosiasi, kau harus tahu kapan harus menarik dan kapan harus melepaskan," bisik Arkan. Napas hangatnya menggelitik leher Aletta.
Arkan menggerakkan tuas dengan presisi. Saat capit itu berada tepat di atas kepala alpaka putih, ia menekannya. Hup! Capit itu mencengkeram erat dan menjatuhkannya ke lubang keluar.
"Lihat? Mudah," ucap Arkan, melepaskan tangan Aletta.
Aletta segera mengambil boneka itu, memeluknya, lalu menatap Arkan dengan tatapan menyebalkan yang khas. "Itu curang. Kau menggunakan tinggi badanmu untuk mengintimidasi mesinnya."
Arkan terkekeh. "Benarkah? Mungkin aku juga harus menggunakan tinggi badanku untuk mengintimidasi istrinya agar segera bersiap-siap."
Aletta menjulurkan lidahnya—sangat tidak dewasa—lalu berlari menuju kamar yang ditunjukkan pelayan. Arkan menatap kepergian Aletta dengan tatapan yang melembut. Senyumnya menghilang saat ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah koin tua yang berlubang di tengahnya—sebuah jimat dari masa lalu.
"Dia benar-benar tidak ingat," gumam Arkan. "Padahal dulu dia yang memberikan boneka pertamaku di gudang gelap itu."
Kamar utama di rumah itu sangat luas, namun yang membuat Aletta terkejut adalah adanya sebuah rak khusus yang sudah disiapkan untuk koleksi kaktusnya. Sinar matahari masuk dengan sempurna melalui jendela skylight.
Aletta duduk di tepi tempat tidur yang ukurannya cukup untuk empat orang. Ia mulai membongkar kopernya. Saat mencapai bagian paling bawah, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu tua. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada sebuah foto usang yang sudah robek separuh. Foto seorang anak laki-laki yang wajahnya tidak terlihat, sedang memegang tangan seorang gadis kecil yang mengenakan pita biru.
"Siapa kau sebenarnya?" bisik Aletta.
Ia mencoba mengingat-ingat masa kecilnya sebelum kecelakaan yang menewaskan ibunya. Memorinya terasa seperti potongan puzzle yang hilang. Ia ingat penculikan itu. Ia ingat disekap di sebuah gudang tua bersama seorang anak laki-laki yang terus menangis. Ia ingat memberikan pita rambutnya untuk membalut luka di tangan anak itu. Tapi wajahnya... wajahnya selalu tertutup kabut.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Aletta dengan sigap menutup kotak kayunya dan menyembunyikannya di bawah bantal.
Arkan berdiri di sana, sudah berganti pakaian dengan batik sutra yang sangat elegan. "Waktunya berangkat. Ibuku tidak suka menunggu, dan dia punya sensor tajam untuk mendeteksi kebohongan. Jadi, cobalah bersikap seperti kau menyukaiku, setidaknya untuk dua jam."
Aletta berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Menyukaimu? Itu tantangan tersulit dalam kontrak ini. Tapi baiklah, aku akan berakting. Haruskah aku memanggilmu 'Sayang' atau 'Suamiku yang Paling Tampan Sejagat Raya'?" ucapnya dengan nada sarkasme yang kental.
Arkan berjalan mendekat, merapikan kerah baju Aletta dengan gerakan perlahan yang membuat Aletta menahan napas. "Panggil aku 'Mas Arkan'. Itu akan membuatnya percaya."
"Mas? Itu terdengar seperti aku sedang memesan bakso," gerutu Aletta.
Arkan mendekatkan wajahnya, hanya beberapa inci dari bibir Aletta. "Lakukan, atau aku akan menciummu di depan ibuku agar dia yakin kita benar-benar saling mencintai."
Aletta mendelik. "Kau pria paling menyebalkan yang pernah ada!"
"Dan kau adalah istri yang paling keras kepala. Kita pasangan yang serasi, bukan?" Arkan mengedipkan sebelah mata, lalu menggandeng tangan Aletta dengan paksa namun lembut, menuntunnya keluar dari kamar.
Aletta mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman Arkan begitu kokoh. Di saat yang sama, ia merasa tangan itu sangat familiar. Hangatnya, cara ibu jarinya mengusap punggung tangannya... itu mengirimkan gelombang nostalgia yang menyakitkan.
Saat mereka masuk ke dalam lift menuju lobi, Aletta mendadak berhenti bergerak. Ia menatap ke arah cermin lift, lalu ke arah Arkan.
"Arkan... apa kau pernah punya luka di telapak tangan kananmu? Luka bekas goresan kawat?" tanya Aletta tiba-tiba, suaranya bergetar.
Langkah Arkan terhenti. Rahangnya mengeras. Ia tidak menoleh, namun genggamannya pada tangan Aletta semakin erat—hampir membuat Aletta meringis.
"Kenapa kau bertanya?" suara Arkan kembali dingin dan datar.
"Hanya... perasaan saja," jawab Aletta lirih.
Pintu lift terbuka. Arkan melangkah keluar tanpa menjawab, meninggalkan Aletta yang terpaku dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Namun, sebelum Aletta sempat mengejarnya, ia melihat tangan kanan Arkan yang tadinya tersembunyi. Di sana, di tengah telapak tangannya, ada sebuah bekas luka samar berbentuk garis panjang—persis seperti bekas luka yang diingat Aletta dari anak laki-laki di gudang itu.
Jantung Aletta serasa berhenti berdetak. Itu dia? Musuh bisnis ayahku adalah anak laki-laki itu?
Tapi jika benar itu dia, kenapa Arkan bersikap seolah-olah ia ingin menghancurkan keluarga Maheswari? Dan apa yang sebenarnya terjadi di gudang itu yang membuat Arkan berubah menjadi pria sedingin es ini?
Aletta tahu, satu tahun di rumah ini tidak akan hanya menjadi tentang menyelamatkan perusahaan. Ini akan menjadi penggalian kubur bagi rahasia yang terkubur selama delapan belas tahun.
Di bab selanjutnya: Makan siang yang mencekam dengan Ibu Arkan yang menyimpan rahasia kelam tentang keluarga Maheswari. Dan sebuah kejadian tak terduga saat Aletta menyelinap ke ruang kerja pribadi Arkan di tengah malam dan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx