Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Arga tersenyum sambil melambaikan tangan. "Anak muda memang harus punya semangat. Kalau tidak, bagaimana bisa disebut muda?"
"Itu pelajaran berharga bagi saya, Mas," ujar Manda rendah hati. Meskipun usia mereka mungkin sebaya, Manda kini melihat Arga sebagai seorang maestro.
"Mas, nama saya Manda. Saya belum sempat menanyakan nama Anda," katanya.
"Manda?" Arga menatap perempuan di hadapannya. Ingatan dari masa depan seketika melintas.
Pianis muda berbakat.
Kecelakaan mobil.
Amputasi kedua tangan.
Ia teringat sebuah berita tragis yang pernah dibacanya di koran masa depan. Mobil Manda mengalami rem blong dan menabrak pembatas jalan dengan sangat keras hingga kedua lengannya harus diamputasi. Kejadian itu menghancurkan kariernya selamanya.
Kini, setelah memastikan bahwa perempuan di depannya adalah Manda sang pianis berbakat, Arga menatapnya dalam-dalam dan berkata dengan nada yang sulit ditebak:
"Mbak Manda… apakah Anda percaya pada takdir?"
Manda tertegun mendengar pertanyaan itu.
Percaya pada takdir?
“Eh… mungkinkah Mas Arga ini bisa meramal nasib?” Ia benar-benar tidak tahu apakah harus tertawa atau merasa aneh.
Arga berkata dengan tenang, “Saya sedikit memahami primbon dan perhitungan Jawa. Tadi saya melihat aura di dahi Mbak menggelap, jadi diam-diam saya buat perhitungan. Hasilnya pertanda buruk. Jika Mbak Manda percaya, sebaiknya hari ini jangan menyetir sendiri. Mintalah seseorang untuk memeriksa mobil Mbak.”
Manda tiba-tiba tertawa lepas. Ia adalah seorang penganut logika garis keras. Ia tidak percaya pada ramalan, klenik, ataupun zodiak. Meski Arga sangat piawai bermain piano, Manda sama sekali tidak menggubris perkataannya.
Dengan nada sekadarnya, ia berkata, “Baik, terima kasih atas peringatannya, Mas Arga.”
“Mbak Manda, sebaiknya Mbak percaya. Ibu saya bisa lolos dari kecelakaan maut hanya karena mendengarkan kata-kata Kak Arga,” ujar Sherly ikut meyakinkan.
Manda tersenyum sopan tanpa menjawab. Arga pun memberi isyarat kepada Sherly agar tidak melanjutkan. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Tidak mungkin ia memaksa sampai bersujud agar Manda tidak menyetir—kalau begitu, ia justru akan dianggap orang gila.
Tak lama kemudian, Manda berpamitan dan meninggalkan Restoran Cakrawala. Begitu keluar, pelayan cantik bernama Ayu segera menghampirinya.
“Mbak Manda, bagaimana kalau hari ini pulang naik taksi saja? Biar aku carikan sopir buat antar mobil Mbak.”
Manda tersenyum. “Aku tidak minum alkohol, cuaca juga cerah. Kenapa harus pakai sopir pengganti?”
“Mbak, lebih baik waspada daripada menyesal. Aku beri tahu rahasia ya, bos kita Pak Hadi Setiawan sangat menghormati pria tadi! Gadis yang bersamanya itu Sherly Gunawan—putrinya Pak Rendra Gunawan si raja properti! Kalau pria itu tidak sakti, mana mungkin tokoh besar pada segan begitu?” kata Ayu dengan wajah serius.
“Ayu, kamu masih muda, jangan terlalu percaya takhayul,” Manda tersenyum meremehkan.
“Aduh, Mbak, anggap saja hargai saranku. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama Mbak,” ujar Ayu dengan bibir manyun.
Jika hanya Arga yang mengatakannya, Manda pasti mengabaikannya. Namun hubungannya dengan Ayu sangat baik, dan ini bukan perkara besar. “Baiklah. Panggilkan sopir saja. Aku pulang naik taksi,” kata Manda akhirnya.
Setengah jam kemudian.
Begitu Manda sampai di depan rumahnya, ponselnya berdering.
“Mbak Manda, terjadi sesuatu!” suara Ayu terdengar gemetar.
“Ada apa?” tanya Manda terkejut.
“Rem mobil Mbak tiba-tiba blong setengah jam yang lalu! Pas di tikungan, mobil itu menabrak truk kontainer dan ringsek parah!” ujar Ayu.
“Apa?!” Wajah Manda seketika pucat pasi. Rasa dingin menjalar dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun.
Sesuatu benar-benar terjadi! Ramalan Arga… ternyata akurat!
Setelah menenangkan diri, Manda bertanya dengan suara bergetar, “Lalu… bagaimana keadaan sopirnya? Apa dia selamat?”
“Sedang ditangani di UGD rumah sakit,” jawab Ayu.
“Ayo… kita ke rumah sakit sekarang!” kata Manda.
Sesampainya di rumah sakit, Manda menanyakan kondisi sang sopir. “Nyawanya selamat, tetapi kedua lengannya hancur dan harus diamputasi,” ucap dokter.
Penjelasan dokter itu hampir membuat Manda pingsan. Jika hari ini Ayu tidak membujuknya, bukankah seharusnya dia yang kehilangan kedua tangannya? Karier pianonya akan hancur seketika.
Manda bergegas kembali ke Restoran Cakrawala, namun Arga dan Sherly sudah pergi.
“Ayu, di mana Mas Arga?” tanya Manda tergesa.
“Mas Arga sudah pergi bareng Non Sherly setelah makan siang tadi,” jawab Ayu.
“Kamu punya nomor teleponnya?”
“Tidak punya.”
Manda menundukkan kepala dengan perasaan bersalah yang amat dalam. Sebelumnya, ia mengira Arga hanya mencari alasan untuk mendekatinya. Namun ternyata, mereka pergi begitu saja tanpa meninggalkan kontak. Datang menyelamatkan nyawanya, lalu pergi tanpa pamrih—seperti sosok pendekar yang menyembunyikan jasa dan namanya!
“Aku harus mencari cara untuk bertemu pakar seperti dia lagi…” gumam Manda lirih.
Di sisi lain, Arga dan Sherly berjalan menyusuri trotoar kota. Melihat sosok Sherly yang lembut dan memesona di sampingnya, hati Arga tergetar. Beberapa kali ia ingin menggandeng tangannya, namun selalu ragu.
“Arga, kamu ini pengecut sekali! Sudah diberi kesempatan hidup kedua, masa cuma begini saja?” umpatnya dalam hati.
Tiba-tiba! Sepasang tangan kecil yang hangat menggenggam erat tangan kanannya!
Sherly menatapnya dengan ekspresi gemas. “Kalau mau gandengan, ya gandengan saja. Kenapa malah malu-malu? Mana keberanianmu yang tadi?”
Di bawah sinar lampu jalan, mata Sherly tampak berkilau indah. Sebuah senar di hati Arga seakan dipetik keras. Mereka berjalan menyusuri kawasan Kota Lama. Seiring berjalan, Sherly tanpa sadar bersandar di bahu Arga. Ia merasa sangat tenang. Cinta ternyata bisa datang secepat badai.
Keduanya tiba di kawasan Pasar Semawis. Malam itu angin bertiup sejuk, dan suasana pasar malam sangat ramai. Lampion merah menghiasi sepanjang jalan. Berbagai seni rakyat ada di sana—mulai dari lukisan karikatur hingga kerajinan tangan lokal.
“Kak Arga, gaun ini bagus tidak?”
“Kak Arga, lihat ada atraksi barongsai di sana!”
Sherly tampak sangat bahagia, seperti gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Melihat tawa Sherly, Arga ikut tertawa lepas.
“Eh, di sana ada pembuat boneka adonan! Menarik sekali!” Sherly berseru.
Mereka mendekati sebuah kios kecil milik seorang kakek tua. Di kehidupan sebelumnya, Arga sangat mahir membuat kerajinan tangan dari adonan, namun mantannya, Tiara, selalu mencemooh hobinya itu sebagai hal kekanak-kanakan.
“Kak Arga, cepat ke sini! Bonekanya lucu sekali!” seru Sherly.
“Kamu tidak akan menganggapku kekanak-kanakan kalau aku bisa membuat ini?” tanya Arga tiba-tiba.
“Tentu saja tidak! Ini kan seni! Tapi kalau Kak Arga mau buat, orang pertama yang harus Kakak buat… adalah aku,” ujar Sherly manja.
Hati Arga bergetar. Ia melangkah ke arah sang kakek. “Kek, boleh saya mencoba membuat satu untuk teman saya? Saya akan bayar.”