NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. Racun dalam Cangkir Kristal

Pagi di The Velvet Manor menyapa dengan kabut tebal yang menyelimuti jendela-jendela tinggi aula makan, seolah alam pun sedang menyembunyikan rahasia yang akan tumpah hari ini.

Cahaya matahari yang pucat gagal menembus tirai beludru berat, menyisakan ruangan dalam keremangan yang mencekam.

Aira duduk di kursi kebesarannya, takhta mahoni yang dilapisi sutra merah darah. Ia mengenakan gaun pagi dari beludru hijau zamrud dengan kerah tinggi yang kaku, menyembunyikan tanda-tanda yang ditinggalkan Zane di balkon semalam dengan sempurna.

Wajahnya tampak segar, bibirnya yang dipulas merah gelap membentuk sebuah smirk tipis yang kini menjadi bagian dari topeng permanennya.

Di hadapannya, meja makan panjang itu terasa seperti medan perang yang sunyi. Dante duduk di ujung meja dengan postur tegak yang mengintimidasi, matanya yang biru es terus mengawasi setiap pergerakan.

Di sisi lain, Kael tampak gelisah; ia terus memainkan pisau rotinya, sesekali menyentuh lehernya yang masih terasa panas akibat dominasi Aira di ruang latihan kemarin.

Lalu, pintu aula terbuka dengan bunyi derit yang halus. Julian masuk.

Pemandangan itu membuat Kael mendengus kecil. Wajah Julian yang biasanya rupawan kini hancur; hidungnya dibalut perban putih, dan ada memar keunguan di pipinya akibat hantaman Aira semalam.

Ia melangkah dengan kepala tertunduk, bahunya melorot, menunjukkan kepatuhan yang tampak sangat hancur dan rendah hati. Di tangannya, ia membawa nampan perak dengan cangkir porselen putih yang mengeluarkan uap harum teh Earl Grey—aroma yang sangat spesifik, kegemaran Isabella asli.

"Selamat pagi, Nyonya yang mulia," suara Julian terdengar parau, pecah oleh penyesalan yang dibuat-buat.

Ia berlutut di samping kursi Aira, meletakkan nampan itu dengan tangan yang sedikit gemetar—sebuah akting yang sangat meyakinkan bagi mata awam.

"Saya membawa teh khusus untuk menenangkan saraf Anda yang lelah. Saya telah mencampurnya dengan sedikit ekstrak bunga lavender dan... ramuan kejujuran pribadi saya, untuk membuktikan bahwa saya tidak memiliki niat buruk lagi selain melayani Anda."

Aira tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Zane yang berdiri tegak di sudut ruangan yang remang.

Zane memberikan isyarat halus—sebuah gerakan jari yang mengetuk jam saku peraknya dua kali. Itu adalah kode yang mereka sepakati semalam: Teh itu adalah jerat.

Bukan racun mematikan, tapi ramuan "kebenaran" dosis tinggi yang akan melumpuhkan syaraf kesadaran, membuat Aira kehilangan kendali atas lidahnya dan membongkar identitas "Aira" di depan semua orang.

Aira menyesap aroma teh yang mengepul itu, lalu menatap Julian yang masih berlutut dengan wajah memohon yang menjijikkan.

"Kau sangat perhatian, Julian," ujar Aira, suaranya selembut madu namun sedingin es yang merambat di kulit.

"Kau rela bangun sepagi ini, bahkan dengan luka yang masih basah di wajahmu, hanya untuk menyeduh teh ini untukku? Sungguh dedikasi yang mengharukan."

"Apapun untuk mendapatkan kembali setitik belas kasihan dari Anda, Nyonya," bisik Julian, matanya berkilat penuh harap yang manipulatif.

Aira perlahan mengambil cangkir porselen itu. Jemarinya yang ramping mengelus pinggiran cangkir, menciptakan bunyi gesekan yang halus.

Namun, ia tidak meminumnya. Ia justru merendahkan tubuhnya, membawa cangkir itu tepat ke depan bibir Julian yang gemetar.

"Kalau begitu, sebagai tanda bahwa kau benar-benar menyesal dan tidak menyembunyikan apa pun di balik aromanya yang harum..."

Aira tersenyum, sebuah senyuman yang membuat Dante seketika menegakkan punggungnya karena merasa ada yang salah.

"...kau yang harus meminumnya terlebih dahulu, Julian. Bukankah seorang pelayan yang baik harus memastikan hidangan tuannya aman dari segala marabahaya?"

Wajah Julian seketika berubah menjadi pucat pasi, lebih putih daripada perban yang melilit wajahnya. Pupil matanya mengecil karena panik.

"N-nyonya... itu... itu diseduh khusus untuk metabolisme unik Anda. Jika saya meminumnya, efeknya mungkin akan... akan merusak syaraf saya yang sedang dalam pemulihan..."

"Minum, Julian," perintah Aira. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, bergetar oleh ancaman yang nyata.

"Atau kau ingin aku menyiramkan air mendidih ini langsung ke luka terbuka di wajahmu dan membiarkan dagingmu melepuh di sini juga?"

Dante dan Kael mulai menyadari permainan ini.

Dante berdiri, melangkah mendekat dengan aura yang menekan.

"Julian, kenapa kau ragu? Bukankah kau sendiri yang bilang itu hanya teh penenang dan pembuktian kejujuran? Minumlah jika kau tidak ingin Dante yang memaksamu."

Julian gemetar hebat. Ia menatap Aira, mencari setitik belas kasihan yang biasa ia temukan pada jiwa Aira yang lama, namun yang ia temukan hanyalah smirk kejam yang sangat cantik—tatapan seorang Ratu yang sudah tahu semua rencana busuk pengkhianatnya.

Aira tidak menunggu lagi. Ia mencengkeram rahang Julian dengan satu tangan, memaksa mulut pria itu terbuka dengan kasar, dan dengan tangan lainnya, ia menuangkan teh panas itu ke dalam mulut Julian secara paksa.

"Mmph—!" Julian tersedak, cairan panas itu membanjiri tenggorokannya. Ia terpaksa menelannya saat Aira menutup mulut dan hidungnya selama beberapa detik.

Aira melepaskan Julian hingga pria itu jatuh tersungkur di atas marmer dingin, terbatuk-batuk dengan hebat.

Hanya dalam hitungan menit, ramuan itu mulai bekerja secara agresif. Mata Julian menjadi sayu, pupilnya melebar hingga bagian cokelatnya nyaris hilang, dan ia mulai meracau tanpa kendali, seolah-olah pikirannya sedang ditelanjangi.

"Aku... aku hanya ingin tahu siapa kau yang sebenarnya..." gumam Julian, suaranya tidak lagi terkontrol, terdengar serak dan jujur yang menyakitkan.

"Kau bukan Isabella... kau terlalu manis... aku ingin menghancurkan mentalmu agar kau hanya bisa bergantung padaku... aku ingin meracunimu sedikit demi sedikit agar kau membisikkan namaku di setiap tarikan napas terakhirmu..."

Dante dan Kael terperanjat mendengar pengakuan itu. Kael langsung berdiri dan menendang bahu Julian hingga pria itu terguling menabrak kaki meja.

"Keparat kau, Julian! Kau berani mencoba memanipulasi pikiran Nyonya untuk kepentingan pribadimu?"

Aira berdiri dari kursinya dengan keanggunan yang mengerikan. Ia menatap Julian yang malang dengan pandangan yang sangat jijik, seolah-olah pria itu hanyalah serangga yang mengotori lantainya.

Ia menoleh ke arah Dante, yang kini menanti perintah dengan wajah yang dipenuhi kemarahan yang tertahan.

"Dante, seret dia ke ruang bawah tanah. Aku ingin dia merasakan setiap jenis ramuan yang pernah dia buat untuk menyiksa orang lain... gunakan pada tubuhnya sendiri selama tiga hari ke depan. Jangan biarkan dia mati, tapi pastikan dia memohon untuk mati setiap kali dia membuka mata."

Dante membungkuk dalam, matanya berkilat dengan kepuasan karena satu saingannya telah tumbang dengan cara yang paling memalukan.

"Sesuai perintah mutlak Anda, Nyonya."

Aira berjalan melewati Julian yang masih meracau di lantai tentang keinginannya untuk "mengurung Aira dalam botol kaca".

Dengan sengaja, Aira menginjak jari tangan Julian yang halus—tangan yang biasa meracik obat dan racun—hingga terdengar bunyi krak yang halus. Ia berhenti sejenak, membungkuk, dan membisikkan sesuatu di telinga Julian yang sudah tidak sadar sepenuhnya.

"Kau pikir kau yang paling pintar di antara mereka, Julian? Kau lupa bahwa aku adalah pemilik neraka ini sekarang. Dan di nerakaku, hanya aku yang boleh memegang racunnya. Kau hanyalah kelinci percobaanku yang baru."

Aira melangkah keluar dari aula makan dengan gaun beludru hijaunya yang menyapu lantai, memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga Zane yang mengikutinya pun merasa merinding.

Di dalam cermin aula, Isabella asli tertawa begitu keras hingga permukaannya seolah bergetar dan retak.

"Luar biasa, Aira! Kau baru saja menghancurkan ular paling licin di rumah ini. Kau benar-benar sudah menjadi diriku... bahkan mungkin, kau lebih baik dariku."

Aira hanya tersenyum smirk pada bayangannya sendiri. Ia telah memenangkan satu pertempuran besar, namun ia tahu, ketegangan yang menyiksa ini akan semakin memuncak saat Dante menyadari bahwa Aira kini memiliki "informan" rahasia di antara mereka, dan Zane akan segera menuntut bayarannya malam ini.

1
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
Anisa675
kebayang berapa nyebelinnya Isabella asli ini
Anisa675
kesel banget, hampir aja ketahuan. tapi udah pada curiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!