Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siluet yang Tertinggal
Malam di kamar Arlan selalu memiliki ritme yang sama: sunyi, hanya diiringi deru pelan kipas komputer dan bau khas bahan kimia dari ruang gelap sekolah yang sesekali masih menempel di ujung kuku jarinya. Di bawah pendar lampu meja yang remang, Arlan menatap layar monitornya dengan intensitas yang biasanya ia cadangkan untuk mengatur focusing manual pada lensa tuanya.
Di layar itu, sebuah foto sedang terbuka. Bukan foto arsitektur kaku atau sudut-sudut kota yang simetris seperti gaya biasanya. Foto itu adalah Maya.
Bukan wajahnya yang tertawa lepas, bukan pula sosoknya yang sedang sibuk mencampur cat di gudang seni. Arlan mengambil foto ini secara sembunyi-sembunyi dari ujung lorong gedung teater yang panjang. Maya berdiri tepat di depan jendela besar saat matahari senja berada di titik paling rendah. Cahaya keemasan menyapu seluruh koridor, namun sosok Maya tetap menjadi sebuah siluet hitam yang tajam. Cahaya itu hanya sanggup menerangi helai-helai rambutnya yang berantakan, menciptakan garis emas tipis di sekeliling tubuhnya, seolah-olah ia adalah sosok yang terbuat dari cahaya dan bayangan.
Bagi Arlan, foto ini adalah kejujuran yang menakutkan. Ia memotret Maya bukan sebagai siswi populer yang dikagumi banyak orang, melainkan sebagai sebuah misteri yang tak sanggup ia pecahkan dengan kata-kata.
"Lo terlalu bagus buat cuma berakhir di folder tersembunyi," gumam Arlan pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
"Gue nggak bisa terus-terusan cuma jadi penonton," gumam Arlan pelan. Suaranya tenggelam oleh deru kipas komputer.
Selama ini, Arlan selalu merasa aman di balik lensa. Kamera adalah tamengnya, dan jaket denim pudar yang ia kenakan adalah zirah pelindungnya. Namun, melihat siluet Maya di layar, ia merasa tameng itu mulai retak. Ada keinginan aneh yang merayap di dadanya keinginan untuk membiarkan subjek fotonya tahu bahwa ia sedang diperhatikan. Bahwa ada seseorang yang menangkap sisi jiwanya yang paling sunyi.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arlan menekan tombol print. Suara mesin cetak yang berderit di keheningan malam terasa seperti detak jantung yang terpacu. Saat kertas foto itu keluar, masih terasa hangat di sentuhan, Arlan menatapnya lama. Ia mengambil sebuah pensil mekanik, lalu di bagian bawah foto yang masih menyisakan sedikit ruang putih, ia menuliskan kalimat yang sudah ia susun dalam kepalanya sepanjang hari:
"Untuk proyek teater. Jika tertarik dengan sudut pandang ini, temui 'Denim' di kafe tua jam 4 sore."
Keesokan paginya, SMA Garuda masih terasa sepi saat Arlan melangkah di koridor. Ia sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum petugas kebersihan selesai menyapu lapangan. Tudung jaket denimnya ditarik rendah, menyembunyikan wajahnya yang tampak kurang tidur.
Dengan langkah yang tergesa-gesa karna takut ada seseorang yang melihatnya dengan kecurigaan,
Ia berhenti di depan mading besar ruang teater. Papan kayu itu penuh dengan selebaran pengumuman yang tumpang tindih—jadwal latihan, poster pementasan lama yang ujungnya sudah melengkung dan menguning, hingga brosur kursus akting yang tak terurus. Arlan menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang berpacu liar.
Dengan gerakan cepat, ia menempelkan foto siluet itu tepat di tengah papan mading, di samping sebuah pengumuman audisi. Setelah memastikan posisinya lurus, ia segera berbalik dan berjalan cepat menjauh, tidak berani menatap jejak yang baru saja ia tinggalkan.
Namun, rasa penasaran ternyata jauh lebih kuat daripada ketakutannya. Alih-alih langsung menuju kelas, Arlan justru bersembunyi di balik pilar besar di ujung koridor yang gelap. Dari sana, ia memiliki sudut pandang yang sempurna ke arah mading tanpa perlu terlihat.
Beberapa menit kemudian, koridor mulai ramai. Langkah kaki siswa mulai terdengar bergema. Dan kemudian, sosok itu muncul.
Maya berjalan santai dengan tas kanvas yang tersampir di bahunya. Ia mengenakan rok sekolah yang sedikit terkena noda cat biru di ujungnya. Langkahnya terhenti tepat di depan mading. Arlan menahan napas, tangannya meremas tali kamera yang menggantung di lehernya.
Maya terdiam cukup lama. Ia tampak terpaku menatap foto siluet dirinya sendiri. Arlan bisa melihat bahu gadis itu sedikit menegang. Perlahan, Maya mengangkat tangannya, ujung jarinya menyentuh permukaan foto itu dengan sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh sesuatu yang sangat rapuh. Ia mendekatkan wajahnya, membaca tulisan kecil yang ditulis Arlan di pojok bawah.
Di detik itu, Maya tersenyum—bukan senyum lebar yang biasa ia tunjukkan pada teman-temannya, melainkan senyum tipis yang penuh dengan teka-teki dan rasa ingin tahu. Ia kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari keberadaan sosok yang mungkin sedang memperhatikannya.
Arlan merasa dunianya yang rapi tiba-tiba terguncang. Ia baru saja melempar sebuah umpan, dan sekarang ia menyadari bahwa ia tidak benar-benar siap jika umpan itu dimakan. Ia menatap kamera di tangannya, lalu meraba saku jaketnya, memastikan tutup lensa berukir A.R. masih ada di sana.
Arlan segera memundurkan tubuhnya ke balik pilar, jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia merasa ketakutan, namun di saat yang sama, ada percikan kegembiraan yang asing. Ia baru saja melempar sebuah umpan, dan Maya telah melihatnya.
"Gila, apa yang gue lakuin?" rutuk Arlan pelan.
Sepanjang jam pelajaran kimia dan matematika, Arlan sama sekali tidak bisa fokus, Tito dan Rian menatap Arlan yang tampak gelisah. Pikirannya terus melayang ke kafe tua pukul empat sore nanti. Ia merasa seperti seorang sutradara yang sedang menunggu adegan klimaks dalam filmnya sendiri, namun ia juga merasa seperti aktor yang tidak siap dengan naskahnya.
Ia meraba saku jaketnya, memastikan tutup lensa berukir inisial A.R. masih ada di sana. Tutup lensa itu biasanya memberinya rasa aman, namun hari ini, benda itu terasa berat. Ia tahu, dengan menempelkan foto itu, ia telah mulai melepaskan kendalinya. Ia telah mengundang seseorang untuk masuk ke dalam dunianya yang gelap dan sunyi.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, dengan tergesa-gesa Arlan segera mengemasi tasnya. Ia tidak menunggu Tito atau Rian. Ia berjalan cepat menuju gerbang sekolah, tujuannya hanya satu: Kafe Tua di seberang jalan.
Ia tidak tahu bahwa sore ini, segalanya akan berubah. Bahwa keputusannya untuk tetap menjadi "pengamat yang tak terlihat" akan diuji sampai ke titik paling rendah. Ia tidak tahu bahwa tutup lensa kesayangannya akan segera berpindah tangan, dan ia akan memulai sebuah pelarian yang panjang pelarian dari rasa malunya sendiri, dan pelarian dari sebuah kenyataan bahwa ia mulai peduli pada subjek fotonya lebih dari yang seharusnya.
Arlan melangkah masuk ke kafe tua dan segera duduk di sudut kafe dengan penuh kehawatiran menunggu Maya, lonceng pintu berdentang pelan, menandakan babak baru dalam lini masanya telah dimulai.