NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia.

Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat… sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti.

Pasien pertama masuk dengan raut wajah lelah.

Seorang pria paruh baya, dengan lingkar hitam di bawah mata dan tangan yang terus bergerak gelisah di pangkuannya. Yusallia menyambutnya dengan suara yang tenang, senyum yang tidak berlebihan, dan tatapan yang cukup hangat untuk membuat orang lain merasa didengar.

Seperti biasanya.

Ia mendengarkan.

Mencatat.

Mengajukan pertanyaan dengan ritme yang pelan, tidak memaksa, tapi juga tidak memberi ruang untuk menghindar.

Satu pasien selesai.

Lalu berikutnya masuk.

Dan berikutnya lagi.

Tanpa jeda.

Tanpa napas panjang di antara waktu.

Hari itu… berbeda.

“Dok, pasien berikutnya sudah menunggu dari tadi,” ujar perawat asistennya pelan dari balik pintu.

Yusallia sempat melirik jam di dinding.

Baru pukul sepuluh lewat sedikit.

Tapi rasanya seperti sudah siang.

“Masukkan saja,” jawabnya singkat, sambil merapikan catatan di mejanya.

Pasien kedua.

Perempuan muda, mungkin seusianya. Tapi matanya kosong. Cara bicaranya lambat. Dan setiap kata yang keluar terasa seperti ditarik dari tempat yang sangat dalam.

Yusallia tidak buru-buru.

Ia tahu, beberapa luka tidak bisa disentuh dengan tergesa.

Ia duduk lebih lama dari yang seharusnya.

Memberi ruang.

Memberi waktu.

Dan tanpa sadar… itu memakan waktunya sendiri.

Ketika pasien itu keluar, ia sempat menghela napas panjang.

Tapi belum sempat benar-benar menenangkan diri—

“Dok, ada pasien tambahan. Tadi daftar mendadak,” kata perawat lagi.

Yusallia menoleh.

Alisnya sedikit mengernyit.

“Tambahan lagi?”

“Iya, dok. Hari ini poli jiwa penuh banget.”

Ia diam sejenak.

Lalu mengangguk kecil. “Masukkan saja.”

Dan begitu saja… hari itu terus berjalan tanpa henti.

——————————————————————

Menjelang siang, ruangan itu mulai terasa lebih padat.

Bukan secara fisik.

Tapi secara… emosi.

Setiap pasien datang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang kehilangan arah. Ada yang kehilangan semangat. Ada yang bahkan sudah kehilangan dirinya sendiri.

Dan Yusallia… ada di tengah semua itu.

Menjadi tempat mereka berbicara.

Menjadi tempat mereka menjatuhkan lelah.

Menjadi tempat mereka… sedikit demi sedikit mencoba bertahan.

Ia tidak mengeluh.

Tidak pernah.

Tapi di sela-sela waktu yang nyaris tidak ada itu… pikirannya sempat melayang.

Sekilas.

Sangat singkat.

Makan siang.

Janji makan siang.

Dan satu nama yang entah kenapa masih tersisa sejak semalam.

Rionegro.

Tangannya yang sedang menulis sempat berhenti sejenak.

Hanya satu detik.

Lalu kembali bergerak.

“Fokus,” gumamnya pelan.

Ia bahkan tidak sempat mengecek ponselnya.

Tidak sempat membuka layar.

Tidak sempat mengingat… bahwa hari ini ia punya janji.

Jam menunjukkan pukul satu siang.

Tapi Yusallia belum beranjak dari kursinya.

“Dok, mau istirahat dulu?” tanya perawat asistennya dengan nada ragu.

Yusallia melirik ke arah luar ruangan, di mana masih ada beberapa pasien yang menunggu.

Ia menggeleng pelan.

“Nanti saja.”

Perawat itu hanya mengangguk, walau terlihat sedikit khawatir.

Dan seperti itu… waktu terus berjalan.

Tanpa memberi ruang untuk berhenti.

——————————————————————

Di sisi lain kota, suasana yang berbeda terasa di dalam ruang kelas.

Rionegro berdiri di depan, dengan papan tulis di belakangnya yang sudah penuh dengan tulisan. Suaranya tenang, jelas, dan teratur. Setiap kalimat yang keluar terasa terstruktur dengan baik, seperti sudah tersusun rapi di kepalanya.

Mahasiswa di depannya memperhatikan.

Beberapa mencatat.

Beberapa hanya mendengarkan.

Dan seperti biasa… kelasnya berjalan tanpa hambatan.

Sampai akhirnya—

“Baik, kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini.”

Suara kursi bergeser.

Buku ditutup.

Dan satu per satu mahasiswa mulai keluar dari ruangan.

Rionegro merapikan catatannya dengan santai. Tidak terburu-buru.

Sampai ruangan itu hampir kosong.

Barulah ia mengambil ponselnya.

Layar menyala.

Dan entah kenapa… tanpa perlu berpikir lama, jarinya langsung bergerak mencari satu nomor yang baru ia simpan semalam.

Yusallia.

Ia menatap nama itu beberapa detik.

Lalu menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

——————————————————————

Di dalam ruang praktiknya, Yusallia yang sedang menuliskan resep sedikit terkejut ketika ponselnya bergetar.

Ia melirik sekilas.

Nomor tidak dikenal.

Alisnya sedikit mengernyit.

Biasanya ia tidak akan mengangkat telepon di tengah jam praktik.

Tapi entah kenapa… kali ini ia ragu sejenak.

Lalu mengangkatnya.

“Hallo?” suaranya tetap tenang, walau sedikit lebih cepat dari biasanya.

Di seberang sana, Rionegro tersenyum tipis mendengar suara itu.

“Selamat siang.”

Yusallia diam sejenak.

Suara itu…

Familiar.

Tapi ia tidak langsung yakin.

“Maaf… ini dengan siapa?” tanyanya hati-hati.

Ada jeda singkat.

Lalu—

“Saya Rionegro.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Dan seketika itu juga, ingatan Yusallia kembali.

“Oh…” gumamnya pelan, sedikit terkejut. “Iya… maaf, aku belum sempat simpan nomor kamu.”

Rionegro mengangguk kecil, walau tentu saja tidak terlihat.

“Tidak apa-apa.”

Ada jeda singkat lagi.

Rionegro kemudian langsung masuk ke tujuan.

“Saya hanya ingin memastikan… mengenai janji makan siang kita hari ini.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Yusallia langsung terdiam.

Matanya refleks melirik ke arah jam.

Dan saat itu juga—

Ia tersadar.

Janji itu.

Ia benar-benar… lupa.

Bukan karena tidak penting.

Tapi karena hari ini terlalu padat.

Terlalu penuh.

Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.

“Rionegro…” suaranya berubah sedikit lebih pelan. “Aku… minta maaf.”

Nada suaranya jujur.

Tidak dibuat-buat.

“Sepertinya aku belum bisa menepati janji makan siang kita hari ini.”

Di seberang sana, Rionegro tidak langsung menjawab.

Memberi ruang.

Seperti yang biasa ia lakukan.

Yusallia melanjutkan, “Hari ini pasien di poli jiwa lagi sangat ramai. Dari pagi sampai sekarang belum berhenti… dan aku bahkan belum sempat istirahat.”

Ia menarik napas pelan.

“Aku benar-benar tidak bisa keluar dari rumah sakit hari ini.”

Jujur.

Apa adanya.

Tanpa alasan berlebihan.

Hanya kenyataan.

Beberapa detik hening.

Lalu—

“Tidak masalah.”

Jawaban itu datang dengan tenang.

Tanpa nada kecewa.

Tanpa tekanan.

“Janji makan siang itu tidak perlu Anda pikirkan sekarang,” lanjut Rionegro. “Yang penting, Anda fokus dulu dengan pekerjaan Anda dan pasien-pasien Anda.”

Sederhana.

Tapi entah kenapa… membuat Yusallia sedikit terdiam.

Ada sesuatu di cara pria itu bicara.

Tenang.

Mengerti.

Tanpa membuatnya merasa bersalah.

Yusallia menunduk sedikit, walau ia tahu itu tidak terlihat.

“Terima kasih… ya.”

Nada suaranya lebih lembut.

Lebih tulus.

“Sudah mengerti kondisi aku.”

Rionegro tidak menjawab langsung.

Dan Yusallia melanjutkan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan—

“Tapi aku tetap akan mentraktir kamu nanti. Bukan hari ini… tapi di lain waktu. Anggap saja balas budi karena sudah menolong aku kemarin.”

Ada sedikit senyum di suaranya.

Walau samar.

“Dan… aku minta maaf karena harus membatalkan janji hari ini.”

Rionegro menarik napas pelan.

Lalu menjawab dengan nada yang sama tenangnya—

“Tidak apa-apa.”

Singkat.

Tapi cukup.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada penekanan.

Hanya penerimaan.

Beberapa detik hening lagi.

Seolah keduanya sama-sama tidak tahu harus menambahkan apa.

Sampai akhirnya—

“Baik… kalau begitu saya tidak akan mengganggu Anda lebih lama,” kata Rionegro.

“Iya,” jawab Yusallia pelan. “Terima kasih sudah menghubungi.”

“Selamat melanjutkan pekerjaan.”

“Selamat siang.”

Dan sambungan itu pun terputus.

——————————————————————

Yusallia menatap ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir.

Lalu perlahan menurunkannya.

Ada perasaan yang… sulit dijelaskan.

Bukan bersalah.

Bukan juga lega sepenuhnya.

Tapi sesuatu di antaranya.

Ia menghela napas pelan.

Lalu kembali menegakkan tubuhnya.

“Dok, pasien berikutnya sudah siap,” suara perawat kembali terdengar.

Yusallia mengangguk kecil.

“Masukkan.”

Dan seperti itu… ia kembali ke dunianya.

Ke tempat di mana ia dibutuhkan.

Di sisi lain, Rionegro berdiri diam beberapa saat setelah menutup telepon.

Ponsel masih di tangannya.

Tatapannya kosong ke depan.

Tidak ada ekspresi yang benar-benar jelas.

Tapi satu hal yang pasti—

Ia tidak merasa terganggu.

Tidak juga kecewa.

Justru… ada rasa tenang yang aneh.

Ia memasukkan ponselnya ke saku.

Lalu berjalan keluar dari gedung fakultas dengan langkah santai seperti biasa.

Hari itu tetap berjalan.

Seperti seharusnya.

Tapi tanpa mereka sadari…

Ada satu hal kecil yang tertunda.

Dan entah kenapa… terasa seperti akan kembali lagi.

Di waktu yang tidak terduga.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!