NovelToon NovelToon
Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anime / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.

Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.

Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi menyapa Semarang dengan udara yang sedikit lembap. Di dalam apartemen, Bintang tidak benar-benar tidur. Ia menghabiskan malam di sofa ruang tamu, menatap langit-langit sambil menyusun ulang kepingan egonya yang retak. Kesadarannya muncul di tengah sunyi: ia tidak bisa memenangkan hati Afisa kembali dengan cara mengintimidasi masa lalunya.

Pukul 05.30, Bintang sudah sibuk di dapur. Ia melepas jam tangan mahalnya, menggulung lengan kemeja, dan mulai menyiapkan sarapan. Ia tahu Afisa paling suka bubur ayam Cianjur dengan kerupuk yang dipisah, persis seperti yang sering mereka makan saat awal-awal pacaran di Jakarta. Karena tidak ada tukang bubur langganan di dekat sini, ia memesannya secara khusus melalui aplikasi dan menatanya dengan cantik di atas piring porselen.

Tak lupa, ia menyeduh secangkir teh chamomile hangat untuk menenangkan saraf Afisa yang pasti tegang karena persidangan kemarin—dan pertengkaran mereka.

Saat pintu kamar utama terbuka, Afisa keluar dengan setelan kantor yang sudah rapi, namun wajahnya masih terlihat kaku. Ia tertegun sejenak melihat meja makan yang sudah penuh.

"Mas tahu kata maaf saja tidak cukup," suara Bintang memecah keheningan. Ia berdiri di balik meja, tampak lelah namun tulus. "Sarapan dulu, Fis. Kamu ada jadwal rapat lagi jam sembilan, kan?"

Afisa hanya menatap meja itu tanpa suara.

"Mas tidak akan mengantarmu sampai lobi hari ini kalau kamu tidak mau," lanjut Bintang pelan, suaranya mengandung nada menyerah yang jujur. "Mas akan tunggu di apartemen atau jalan-jalan sebentar di Semarang. Mas ingin kamu fokus kerja tanpa harus merasa diawasi. Mas... Mas ingin belajar percaya lagi."

Afisa menarik kursi, duduk perlahan. Ia menyesap teh hangat itu, membiarkan uapnya menghangatkan wajahnya yang dingin. "Terima kasih, Mas," jawabnya lirih. "Beri aku ruang untuk membuktikan kalau tidak ada yang perlu kamu takutkan."

Bintang tersenyum tipis, ada secercah harapan di matanya. "Makanlah. Mas sudah siapkan bekal juga, supaya kamu tidak perlu keluar kantor kalau tidak mau bertemu... siapa pun."

Bintang sadar, menebus kesalahan tidak bisa dilakukan dalam satu pagi, tapi setidaknya ia tidak ingin menjadi beban tambahan bagi wanita yang ia cintai.

Sementara itu, di kantor, Guntur sudah tiba lebih awal. Ia meletakkan sebuah kopi hitam di meja Afisa—bukan untuk menggoda, tapi sebagai bentuk dukungan tanpa suara—lalu ia segera kembali ke kubikelnya, mengubur diri dalam tumpukan berkas agraria. Ia menepati janjinya pada Citra: menjadi bayangan.

Afisa melangkah masuk ke area kantor dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibandingkan kemarin, meski sisa-sisa kelelahan batin masih membekas di matanya. Citra yang sudah bersiap dengan tablet di tangan, langsung menyambutnya di depan pintu ruang kerja.

"Pagi, Jeng," sapa Citra dengan nada ceria yang sengaja dibuat untuk mencairkan suasana. "Gimana? Tidur nyenyak atau habis perang dunia ketiga?"

Afisa hanya tersenyum tipis sambil meletakkan tasnya. "Sedikit dari keduanya, Cit. Tapi pagi ini jauh lebih baik. Bintang... dia masak sarapan buat aku."

"Oalah, jurus chef dadakan ya?" Citra terkekeh, lalu matanya melirik ke arah meja kerja Afisa. "Eh, omong-omong, itu ada 'salam' dari bayanganmu."

Afisa mengikuti arah pandang Citra. Di atas meja kerjanya, sebuah gelas kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis berdiri di sana. Tidak ada catatan, tidak ada bunga, hanya kopi hitam pekat tanpa gula—persis seperti yang selalu Afisa pesan setiap kali ia begadang saat mengerjakan tugas kampus .

Afisa tertegun. Ia menoleh ke arah kubikel staf di luar ruangan kaca. Di sana, Guntur tampak sangat sibuk, kepalanya tertunduk menatap berkas, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengusik ruang pribadi Afisa. Guntur tidak mendongak sedikit pun, seolah-olah kopi itu muncul begitu saja karena keajaiban.

"Dia datang pagi banget, Fis," bisik Citra yang kini berdiri di samping Afisa. "Naruh kopi, terus langsung duduk kerja. Nggak ada drama, nggak ada usaha buat cari perhatian kamu. Dia beneran profesional."

Afisa menyentuh gelas kopi yang hangat itu. Ada rasa haru yang aneh menyelinap di hatinya. Guntur tahu dia sedang kesulitan, dan kopi ini adalah caranya berkata, "Aku di sini untuk mendukungmu, bukan untuk mengganggumu."

"Cit," panggil Afisa pelan sambil menyesap kopi itu. "Bintang bilang dia mau menetap di Semarang sampai Jumat depan. Dia mau belajar percaya."

Citra menaikkan alisnya. "Bagus kalau gitu. Artinya dia mulai sadar kalau posesif berlebihan malah bikin kamu menjauh. Tapi kamu harus tegas, Fis. Jaga batasan sama Guntur, tapi jangan sampai bikin kerjaan tim kita hancur cuma karena cemburu buta Bintang."

Afisa mengangguk mantap. Ia meletakkan gelas kopinya, lalu membuka laptop. "Aku tahu. Hari ini kita harus selesaikan berkas pembuktian fisik. Panggil Guntur ke ruang rapat sepuluh menit lagi. Kita kerja sebagai tim, bukan sebagai orang yang punya masa lalu."

Citra tersenyum puas. "Siap, Bos! Aku panggilkan 'prajurit' setiamu itu."

Saat Citra melangkah keluar, Afisa kembali menatap punggung Guntur dari balik kaca. Ia menyadari satu hal: hidupnya memang sudah bersama Bintang, namun di kantor ini, ia butuh Guntur untuk memenangkan pertempuran hukumnya.

1
falea sezi
oalah pak mati saat kau belum minta maaf ke orang yg kau sakiti
falea sezi
bintang kayak terobsesi
falea sezi
bintang g salah toh dia g tau apa yg di perbuat anak nya yg gila
falea sezi
baca novel malah mood berantakan hadeh
falea sezi
klo dia yg ngendalikan firma hukum dimana nafisa krja pasti dia tau nafisa fi pindah ke Semarang
falea sezi
lah lu aja perhatian amat ma mantan masih belom. move on ya aneh
falea sezi
anehh di ewe suami g mau maunya apa di ewe gunturheran y
falea sezi
sumpah fisa ini. bego
falea sezi
di sini yg goblok itu Nafisa
falea sezi
sama mantan kok baper pdhl bersuami be cwek oon sepanjang novel q baca di sini
falea sezi
siapa mau. punya istri g paham. kewajipan ngurus krjaan doank. mana krja luar kota terus mending jd perawan tua lu g usa nikah
falea sezi
istri egois demi karir rmh tangga lu bakal ancur
falea sezi
mending jd ibu rmh tangga lah ngorbanin karir demi rmh tangga jangan egois sok mau krja ujungnya rmh tangga berantakan kecuali suami mu g sanggup kasih nafkah baru deh qm krja
byyyycaaaa
iya bes sampai ketemu di cerita selanjutnya 🙏
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
tamat kah tor
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
gk lanjut tor
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
oke tor fita apa kabar tor
byyyycaaaa: Fita jadi guru di SMA negeri di bandung
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti siang up lagi🙏
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
lanju dong tor
byyyycaaaa
jangan dong,ntar nggak ada yang buat bintang sakit kepala 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!