"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi menyapa Semarang dengan udara yang sedikit lembap. Di dalam apartemen, Bintang tidak benar-benar tidur. Ia menghabiskan malam di sofa ruang tamu, menatap langit-langit sambil menyusun ulang kepingan egonya yang retak. Kesadarannya muncul di tengah sunyi: ia tidak bisa memenangkan hati Afisa kembali dengan cara mengintimidasi masa lalunya.
Pukul 05.30, Bintang sudah sibuk di dapur. Ia melepas jam tangan mahalnya, menggulung lengan kemeja, dan mulai menyiapkan sarapan. Ia tahu Afisa paling suka bubur ayam Cianjur dengan kerupuk yang dipisah, persis seperti yang sering mereka makan saat awal-awal pacaran di Jakarta. Karena tidak ada tukang bubur langganan di dekat sini, ia memesannya secara khusus melalui aplikasi dan menatanya dengan cantik di atas piring porselen.
Tak lupa, ia menyeduh secangkir teh chamomile hangat untuk menenangkan saraf Afisa yang pasti tegang karena persidangan kemarin—dan pertengkaran mereka.
Saat pintu kamar utama terbuka, Afisa keluar dengan setelan kantor yang sudah rapi, namun wajahnya masih terlihat kaku. Ia tertegun sejenak melihat meja makan yang sudah penuh.
"Mas tahu kata maaf saja tidak cukup," suara Bintang memecah keheningan. Ia berdiri di balik meja, tampak lelah namun tulus. "Sarapan dulu, Fis. Kamu ada jadwal rapat lagi jam sembilan, kan?"
Afisa hanya menatap meja itu tanpa suara.
"Mas tidak akan mengantarmu sampai lobi hari ini kalau kamu tidak mau," lanjut Bintang pelan, suaranya mengandung nada menyerah yang jujur. "Mas akan tunggu di apartemen atau jalan-jalan sebentar di Semarang. Mas ingin kamu fokus kerja tanpa harus merasa diawasi. Mas... Mas ingin belajar percaya lagi."
Afisa menarik kursi, duduk perlahan. Ia menyesap teh hangat itu, membiarkan uapnya menghangatkan wajahnya yang dingin. "Terima kasih, Mas," jawabnya lirih. "Beri aku ruang untuk membuktikan kalau tidak ada yang perlu kamu takutkan."
Bintang tersenyum tipis, ada secercah harapan di matanya. "Makanlah. Mas sudah siapkan bekal juga, supaya kamu tidak perlu keluar kantor kalau tidak mau bertemu... siapa pun."
Bintang sadar, menebus kesalahan tidak bisa dilakukan dalam satu pagi, tapi setidaknya ia tidak ingin menjadi beban tambahan bagi wanita yang ia cintai.
Sementara itu, di kantor, Guntur sudah tiba lebih awal. Ia meletakkan sebuah kopi hitam di meja Afisa—bukan untuk menggoda, tapi sebagai bentuk dukungan tanpa suara—lalu ia segera kembali ke kubikelnya, mengubur diri dalam tumpukan berkas agraria. Ia menepati janjinya pada Citra: menjadi bayangan.
Afisa melangkah masuk ke area kantor dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibandingkan kemarin, meski sisa-sisa kelelahan batin masih membekas di matanya. Citra yang sudah bersiap dengan tablet di tangan, langsung menyambutnya di depan pintu ruang kerja.
"Pagi, Jeng," sapa Citra dengan nada ceria yang sengaja dibuat untuk mencairkan suasana. "Gimana? Tidur nyenyak atau habis perang dunia ketiga?"
Afisa hanya tersenyum tipis sambil meletakkan tasnya. "Sedikit dari keduanya, Cit. Tapi pagi ini jauh lebih baik. Bintang... dia masak sarapan buat aku."
"Oalah, jurus chef dadakan ya?" Citra terkekeh, lalu matanya melirik ke arah meja kerja Afisa. "Eh, omong-omong, itu ada 'salam' dari bayanganmu."
Afisa mengikuti arah pandang Citra. Di atas meja kerjanya, sebuah gelas kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis berdiri di sana. Tidak ada catatan, tidak ada bunga, hanya kopi hitam pekat tanpa gula—persis seperti yang selalu Afisa pesan setiap kali ia begadang saat mengerjakan tugas kampus .
Afisa tertegun. Ia menoleh ke arah kubikel staf di luar ruangan kaca. Di sana, Guntur tampak sangat sibuk, kepalanya tertunduk menatap berkas, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengusik ruang pribadi Afisa. Guntur tidak mendongak sedikit pun, seolah-olah kopi itu muncul begitu saja karena keajaiban.
"Dia datang pagi banget, Fis," bisik Citra yang kini berdiri di samping Afisa. "Naruh kopi, terus langsung duduk kerja. Nggak ada drama, nggak ada usaha buat cari perhatian kamu. Dia beneran profesional."
Afisa menyentuh gelas kopi yang hangat itu. Ada rasa haru yang aneh menyelinap di hatinya. Guntur tahu dia sedang kesulitan, dan kopi ini adalah caranya berkata, "Aku di sini untuk mendukungmu, bukan untuk mengganggumu."
"Cit," panggil Afisa pelan sambil menyesap kopi itu. "Bintang bilang dia mau menetap di Semarang sampai Jumat depan. Dia mau belajar percaya."
Citra menaikkan alisnya. "Bagus kalau gitu. Artinya dia mulai sadar kalau posesif berlebihan malah bikin kamu menjauh. Tapi kamu harus tegas, Fis. Jaga batasan sama Guntur, tapi jangan sampai bikin kerjaan tim kita hancur cuma karena cemburu buta Bintang."
Afisa mengangguk mantap. Ia meletakkan gelas kopinya, lalu membuka laptop. "Aku tahu. Hari ini kita harus selesaikan berkas pembuktian fisik. Panggil Guntur ke ruang rapat sepuluh menit lagi. Kita kerja sebagai tim, bukan sebagai orang yang punya masa lalu."
Citra tersenyum puas. "Siap, Bos! Aku panggilkan 'prajurit' setiamu itu."
Saat Citra melangkah keluar, Afisa kembali menatap punggung Guntur dari balik kaca. Ia menyadari satu hal: hidupnya memang sudah bersama Bintang, namun di kantor ini, ia butuh Guntur untuk memenangkan pertempuran hukumnya.