Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KORIDOR
Pak Wahyu menulis tangan dengan cara orang yang tidak terbiasa menulis untuk dibaca orang lain — kalimatnya pendek, tidak ada transisi yang diperhalus, tidak ada penjelasan yang diasumsikan perlu diberikan karena ia menulis untuk dirinya sendiri. Tapi justru karena itu tulisannya jujur dengan cara yang sulit dibuat-buat.
Arsa membaca jurnal itu sambil duduk di lantai di samping kotak kardus yang terbuka, dengan lampu baca yang ia pindahkan ke bawah karena punggungnya sudah tidak mau diajak kompromi dengan posisi membungkuk. Jam di dinding menunjukkan 22.03 ketika ponselnya bergetar — Wren, menelepon tepat waktu seperti yang dijanjikan.
"Satu menit," ketiknya cepat. "Ada sesuatu yang saya temukan."
"Oke. Saya di sini."
Ia membaca lebih cepat.
[Jurnal Pak Wahyu, entri pertama — delapan tahun lalu]
Saya tidak tahu nama anak itu. Tapi ia datang ke rumah sakit setiap hari. Selalu di koridor. Tidak pernah masuk.
Saya tanya suster apakah ia keluarga pasien lain. Suster bilang tidak. Ia hanya duduk di bangku koridor dekat pintu kamar Dito dan menunggu.
Saya keluar sekali untuk tanya. Ia berdiri waktu melihat saya — seperti reflek, seperti siap lari. Saya bilang tidak apa-apa, silakan duduk. Ia duduk lagi. Saya tanya apakah ia kenal Dito. Ia mengangguk. Saya tanya siapa namanya. Ia bilang: Raka.
Saya tidak tanya lebih banyak. Saya lihat wajahnya dan saya rasa sudah cukup. Ada hal-hal yang orang tua tidak perlu ditanya untuk mengerti.
[Entri ketiga — seminggu kemudian]
Raka masih datang. Setiap hari, sama seperti sebelumnya. Pagi atau sore, tergantung jadwalnya — saya tidak tahu jadwal apa, tapi ia bilang ada kuliah kadang. Jadi ia datang setelah kuliah.
Hari ini saya bawa dua kopi dari kantin. Saya duduk di sebelahnya. Kami tidak banyak bicara. Tapi ia minum kopi itu sampai habis, dan saya rasa itu cara ia bilang terima kasih.
Dito hari ini lebih baik sedikit. Dokter bilang kita lihat dulu. Saya tidak tahu apa artinya kita lihat dulu, tapi saya pilih percaya dulu.
[Entri ketujuh]
Dito tahu Raka ada di luar. Saya tidak bilang, tapi Dito tanya apakah "anak itu" sudah pulang. Saya tanya anak mana. Dito hanya tersenyum dan bilang tidak ada.
Saya tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Saya tidak tanya. Tapi saya tahu wajah anak muda yang mencintai seseorang dan tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaan itu. Saya pernah menjadi anak muda itu.
Saya kira saya masih.
[Entri dua belas — dua minggu sebelum Dito meninggal]
Raka hari ini tidak di koridor. Satu-satunya hari dalam sebulan ia tidak datang.
Saya tidak tahu kenapa. Mungkin ada hal lain. Saya harap ada hal lain dan bukan karena ia sudah menyerah.
Dito sore tadi bertanya. Saya bilang mungkin ada kuliah. Dito diam lama. Lalu bilang: "Bapak, tolong bilang ke Raka bahwa tidak apa-apa kalau ia tidak bisa terus datang. Saya mengerti."
Saya tidak bisa bilang ke Raka karena saya tidak punya kontaknya. Saya hanya tahu namanya.
Malam ini saya duduk di kamar dan saya berpikir tentang semua yang seharusnya dikatakan di antara orang-orang tapi tidak pernah dikatakan. Dito tidak pernah bilang langsung kepada Raka. Raka tidak pernah bilang langsung kepada Dito.
Dan saya — saya berapa tahun tidak bilang langsung kepada Dito bahwa saya bangga kepadanya. Bahwa saya lihat ia tumbuh menjadi seseorang yang baik meski saya tidak selalu ada.
Kita semua duduk di koridor masing-masing.
[Entri terakhir — tiga hari setelah Dito meninggal]
Raka datang pagi tadi. Setelah semuanya selesai.
Ia berdiri di depan pintu kamar yang sudah kosong. Saya tidak tahu ia ada sampai saya keluar dari kamar mandi dan melihatnya di sana.
Ia tidak menangis. Ekspresinya adalah sesuatu yang saya tidak punya kata untuk mendeskripsikannya. Seperti seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk yang terburuk tapi ternyata yang terburuk tetap tidak bisa dipersiapkan.
Saya berjalan ke arahnya. Saya tidak tahu mau bilang apa. Saya letakkan tangan saya di bahunya sebentar.
Ia bilang: "Maaf, Pak. Maaf saya tidak masuk."
Saya bilang: "Dito tahu kamu ada."
Itu satu-satunya hal yang bisa saya berikan kepadanya. Saya harap itu cukup.
Ia pergi setelah itu. Saya tidak pernah melihatnya lagi.
Tapi saya ingat wajahnya. Dan saya pikir saya akan selalu ingat — karena ada momen-momen dalam hidup yang wajah seseorang menjadi semacam penanda dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertemuan. Raka adalah penanda bahwa Dito pernah dicintai oleh seseorang yang tidak saya kenal, dengan cara yang tidak saya ketahui sepenuhnya, dan itu — entah kenapa — membuat saya bisa bernapas lebih lega.
Anak saya dicintai.
Itu cukup. Itu harus cukup.
Arsa menutup buku kecil itu.
Ia duduk di lantai dengan jurnal itu di tangannya dan langit-langit apartemennya di atas kepalanya, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun ia merasa seperti bisa menggambar peta dari sesuatu yang selama ini hanya terasa seperti kabut.
Raka. Dito. Pak Wahyu yang duduk di bangku koridor rumah sakit dengan dua kopi dari kantin, tanpa kata yang cukup tapi dengan kehadiran yang tidak kalah artinya.
Semua orang duduk di koridor masing-masing.
Ponselnya bergetar. Wren masih menunggu.
Ia angkat telepon.
"Maaf," katanya. "Saya baru saja—" Ia berhenti. Menarik napas. "Saya menemukan sesuatu."
"Apa?" Suara Wren di ujung telepon — suara yang sama dengan suara di podcast, yang sama dengan suara yang membacakan surat adiknya, tapi lebih personal sekarang karena ditujukan langsung kepadanya.
"Pak Wahyu tahu tentang Raka," kata Arsa. "Ia tidak tahu nama lengkapnya, tidak tahu konteks lengkapnya. Tapi ia tahu. Dan ia menulis tentangnya."
Hening sebentar.
"Pak Wahyu adalah ayah Dito," kata Wren pelan — mengkonfirmasi, bukan bertanya.
"Ya."
"Berarti proyek rekonstruksi Anda — kisah Pak Wahyu — sebagian besarnya adalah juga kisah Dito. Dan karena Dito adalah Langit..." Wren tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
"Semuanya terhubung," kata Arsa. "Dan saya baru saja membaca kata-kata Pak Wahyu yang — yang membuat saya berpikir bahwa lelaki tujuh puluh satu tahun yang meninggal di halaman belakang rumahnya itu menyimpan kisah yang jauh lebih dalam dari yang keluarganya tahu." Suaranya retak tipis di tepi kalimat terakhir. Ia tidak mencegahnya.
"Semuanya terhubung," kata Arsa. "Dan saya baru saja membaca kata-kata Pak Wahyu yang — yang membuat saya berpikir bahwa lelaki tujuh puluh satu tahun yang meninggal di halaman belakang rumahnya itu menyimpan kisah yang jauh lebih dalam dari yang keluarganya tahu." Suaranya retak tipis di tepi kalimat terakhir. Ia tidak mencegahnya.
Di ujung telepon ada diam yang hangat. Bukan diam yang tidak nyaman — diam yang memberi ruang.
"Arsa." Suara Wren pelan. "Bagaimana keadaan Anda sekarang?"
Pertanyaan sederhana. Pertanyaan yang jarang ditanyakan orang kepada Arsa karena ia biasanya terlihat seperti seseorang yang tidak perlu ditanya.
"Saya tidak tahu," katanya jujur.
"Itu jawaban yang paling jujur yang bisa diberikan."
Ia bersandar ke dinding di belakangnya. Di luar jendela Jakarta berkedip seperti biasa, tidak tahu dan tidak peduli bahwa seorang pria di lantai empat baru saja menemukan kepingan terakhir dari teka-teki yang tidak ia tahu sedang ia susun.
"Wren," katanya. "Surat kelima yang kita baca Sabtu itu — 'Aku sedang belajar. Untuk pertama kalinya dalam hidupku terasa seperti sesuatu yang layak.' Apa yang Raka belajar, menurut Anda?"
Wren diam sebentar sebelum menjawab. Bukan diam yang ragu — diam yang mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh.
"Cara mendekat," katanya akhirnya. "Ia bilang itu sendiri di surat itu. Ia tidak tahu cara mendekat — kepada siapapun. Dan Dito sedang mengajarinya, atau setidaknya kehadiran Dito membuat ia mau belajar."
Arsa menutup mata sebentar. "Dan ia tidak sempat menyelesaikan belajarnya."
"Mungkin." Suara Wren hati-hati. "Atau mungkin cara kita tahu seseorang sedang belajar sesuatu bukan dari apakah mereka berhasil menyelesaikannya. Tapi dari fakta bahwa mereka mencoba."