Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.
Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.
Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Sungai Utara
Dua hari berikutnya, Stone Reed Town bergerak seperti biasa di permukaan.
Perahu datang dan pergi. Gudang timur tetap sibuk memindahkan peti. Green Cress tetap berbau akar pahit dan salep luka. Para rogue cultivators masih bertengkar soal harga serbuk beast, lalu minum bersama beberapa jam kemudian seolah tidak pernah saling mengancam.
Namun bagi Shou Wei, ada sesuatu yang berubah di bawah semua itu.
Ia mulai menangkap lebih banyak bisikan.
Seorang pekerja gudang berkata bahwa seorang penjual formasi membeli peta jalur sungai utara.
Seorang pembawa barang mengeluh ada orang yang menanyakan kapal karam tua di cabang sungai.
Dan di pasar besi, dua pedagang tua berdebat soal siapa yang lebih bodoh—orang yang membeli kayu gosong di auction, atau orang yang menjualnya terlalu murah.
Semua petunjuk itu menunjuk ke arah yang sama.
Wei Kuan sedang bergerak.
Shou Wei tidak ikut terburu-buru.
Seperti yang dikatakan Gao Sen, orang yang sabar bisa mengikuti jejak tanpa perlu merebut mangsanya terlalu cepat. Jadi selama dua hari itu, ia justru fokus pada hal lain:
memperbaiki utility marks miliknyamenjaga hubungan baik dengan Mu Qinglan dan Jin Peldan mengumpulkan informasi tanpa membuat dirinya tampak laparHasilnya mulai terlihat.
Mu Qinglan membeli dua mini moisture-repelling marks lagi, kali ini dengan harga sedikit lebih tinggi setelah ia melihat versinya lebih stabil. Jin Pel belum memesan lagi, tapi mengirim seorang buruh untuk menanyakan apakah “Wei Shou” masih tinggal di penginapan yang sama. Itu cukup untuk memberitahu bahwa mark petinya bekerja.
Lebih penting lagi, Shou Wei kini punya uang cukup untuk tidak mati miskin selama beberapa minggu—asal ia tidak bodoh.
Namun uang saja tidak cukup untuk tumbuh.
Menjelang siang hari ketiga, peluang baru datang dengan cara yang tidak ia duga.
Ia sedang membantu pemilik Mud Heron Inn membetulkan engsel pintu gudang belakang ketika seseorang berhenti di depan penginapan dan bertanya dengan suara datar, “Di mana bocah yang menjual mark ke gudang timur?”
Pemilik penginapan mengangkat kepala dari bangku kayunya. “Kalau kau mau utang, pergi. Kalau mau bayar, aku bisa pura-pura lebih ramah.”
Orang yang datang adalah pria setengah baya berkulit gelap, bahunya lebar, lengan kirinya dipenuhi bekas cakaran lama. Di pinggangnya tergantung pisau pendek melengkung, dan di punggungnya ada busur yang jelas pernah dipakai, bukan pajangan. Pakaiannya basah lumpur sampai betis, seolah baru turun dari tepi sungai atau rawa.
“Aku bukan penagih utang,” katanya. “Aku cari bocah bernama Wei Shou.”
Shou Wei berdiri pelan. “Aku.”
Pria itu menatapnya dari kepala sampai kaki, jelas tidak terlalu percaya bahwa bocah kurus di depannya adalah orang yang dimaksud. Namun ia tetap berkata, “Jin Pel menyuruhku datang. Namaku Han Lu. Aku butuh utility mark untuk barang sungai. Katanya kau bisa membuat sesuatu yang praktis.”
Pemilik penginapan mendengus. “Lihat? Kau mulai punya tamu. Sebentar lagi kau pasti lupa bayar makan.”
Shou Wei mengabaikannya dan memandang Han Lu lebih cermat.
Ada bau air rawa, rumput liar, dan sedikit darah beast pada pria itu. Bukan pembawa barang biasa. Lebih seperti pencari muatan liar atau pemburu sungai.
“Barang seperti apa?” tanya Shou Wei.
Han Lu melirik sekeliling, lalu berkata, “Bukan di depan pintu.”
Mereka pindah ke sisi belakang penginapan, dekat tumpukan alang-alang kering dan tong air hujan. Tempat itu tidak sepenuhnya aman, tapi cukup sepi.
Han Lu membuka kantong kulitnya dan mengeluarkan tiga benda:
satu wadah kayu kecil bertutup putarsepotong batu kehijauan berlendirdan satu cangkang tipis hitam mengilap seukuran telapak tangan“Ini hasil sungai utara,” katanya. “Bukan beast core berharga. Bukan juga herb besar. Tapi cukup laku kalau sampai ke tangan yang tepat.”
Shou Wei memandang benda-benda itu.
“Masalahnya,” lanjut Han Lu, “jalur sungai utara lembap, berlumpur, dan kadang qi air di sana kacau. Wadah biasa cepat rusak. Segel biasa cepat longgar. Aku butuh sesuatu untuk menjaga isi tidak cepat busuk atau bocor selama perjalanan pulang.”
Mark penahan lembap, pikir Shou Wei. Mungkin juga sedikit stabilizer.
“Berapa lama perjalananmu?” tanya Shou Wei.
“Kalau perahu lancar, sehari semalam. Kalau arus buruk, dua hari.”
“Itu terlalu lama untuk mark kecil biasa.”
Han Lu mendecak lidah. “Berarti tak bisa?”
“Bisa dicoba dengan dua lapis sederhana. Tapi butuh bahan lebih baik daripada pelat murah.”
Han Lu menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Baik. Berapa?”
Shou Wei tidak menjawab cepat. Ia justru memikirkan hal lain.
Sungai utara.
Itu arah yang sama dengan rumor kapal karam tua, peta jalur, dan kemungkinan marker air yang dibeli Wei Kuan.
“Boleh aku tahu dari bagian mana sungai utara?” tanyanya.
Mata Han Lu langsung menyempit. “Kenapa?”
“Agar aku tahu jenis kelembapan dan qi air yang harus ditahan.”
Itu alasan yang masuk akal. Tidak sepenuhnya bohong juga.
Han Lu ragu sejenak, lalu menjawab, “Cabang utara setelah Broken Reed Bend. Dekat rawa dangkal dan dua tebing batu miring. Ada perahu tua karam di sana beberapa bulan lalu.”
Jantung Shou Wei berdetak lebih berat.
Itu dia.
Ia menahan wajahnya tetap datar. “Kalau begitu mark-nya harus agak berbeda. Qi air liar bisa mengganggu simpul biasa.”
“Kau bisa buat?”
“Kalau hanya satu wadah, ya.”
Han Lu menyilangkan tangan. “Berapa?”
“Dua perak untuk percobaan. Kalau berhasil sampai pulang, nanti kita bicara lagi.”
Han Lu tertawa pendek. “Bocah, kau menawar seperti orang yang tak pernah jatuh ke lumpur rawa.”
“Dan kau datang padaku karena orang lain tak punya barang yang tepat.”
Kalimat itu membuat pria setengah baya itu berhenti tertawa.
Akhirnya ia mengeluarkan dua koin perak dan meletakkannya di atas tong air. “Aku mau ambil besok pagi. Kalau jelek, aku tak akan bayar lagi.”
“Aku juga tak akan meminta.”
Setelah Han Lu pergi, Shou Wei berdiri cukup lama di bawah langit siang yang pucat.
Broken Reed Bend.
Perahu tua karam.
Cabang utara.
Sekarang semuanya tidak lagi cuma rumor pasar.
Ada lokasi.
Ada orang yang biasa pergi ke sana.
Dan mungkin, kalau ia bergerak benar, ada jalur menuju cakram kayu yang sekarang ada di tangan Wei Kuan.
Malam itu Shou Wei bekerja dengan fokus penuh.
Pesanan Han Lu sebenarnya sederhana di permukaan, tapi ia menjadikannya ujian. Jika ia bisa membuat mark yang tahan pada kelembapan biasa dan sedikit gangguan qi air liar, maka utility mark-nya akan naik satu tingkat dibanding barang yang selama ini ia jual.
Ia memadukan apa yang ia pelajari dari:
Mistwater Breathing Methodmanual array anchoring and node balancedan intuisi aneh dari darah naganya terhadap aliran airDasarnya tetap moisture-repelling mark, tapi ia menambah satu simpul baru di pinggir bawah: bukan untuk menolak air, melainkan untuk “membiarkan aliran lewat” tanpa memukul inti. Seperti batu sungai yang tidak melawan arus, tapi tetap tidak hanyut.
Ia gagal dua kali.
Pada percobaan pertama, simpul bawah terlalu lemah dan seluruh mark mati begitu qi didorong sedikit lebih kuat. Pada percobaan kedua, simpul itu justru menarik terlalu banyak aliran, membuat pola luar retak halus.
Shou Wei menatap pelat rusak itu cukup lama.
Lalu, hampir tanpa sadar, jari telunjuknya bergerak mengikuti pola melingkar yang sangat samar—mirip garis pada cakram kayu gelap yang ia lihat di auction.
Bukan bentuk yang sama.
Tapi arah alirannya...
melingkar, lalu turun,
bukan turun lalu memantul.
Mata Shou Wei menajam.
Ia mengambil pelat baru dan menggambar ulang simpul bawah dengan pola alir setengah melingkar. Sangat sederhana. Sangat kecil. Hampir remeh. Namun saat diaktifkan dengan qi tipis, seluruh mark terasa langsung berbeda—lebih lunak, lebih tenang, lebih tahan.
Ia membungkus wadah kayu Han Lu dengan mark itu, lalu memercikkan air berkali-kali ke luar dan menaruhnya di baskom lembap selama beberapa puluh napas.
Saat dibuka, bagian dalamnya tetap kering.
Shou Wei tidak tersenyum, tapi dadanya terasa lebih ringan.
Ini bukan hanya utility mark.
Ini langkah baru.
Dan langkah baru ini, tanpa sengaja, mungkin diambil dari bayangan pola milik Wei Kuan.
Pagi berikutnya, Han Lu datang tepat saat matahari baru melewati atap-atap rendah Stone Reed Town.
Shou Wei menyerahkan wadah kecil itu tanpa banyak bicara. Han Lu memeriksanya dengan ekspresi curiga, membaliknya, mengendusnya, lalu bertanya, “Kalau kupakai di qi air liar?”
“Jangan paksa dengan batu roh besar. Biarkan mark menyesuaikan sendiri. Kalau terburu-buru, rusak.”
Han Lu mendecak. “Semua barang bagus selalu suka bicara seperti wanita tua.”
Meski berkata begitu, ia menyimpan wadah itu hati-hati. Sebelum pergi, ia berhenti dan menoleh. “Kalau ini berhasil, aku mungkin punya kerja lain. Bukan besar. Tapi sungai utara punya banyak barang aneh yang cepat rusak sebelum dibawa ke pasar.”
“Itu baik.”
Han Lu memandangnya sekali lagi. “Dan kalau kau benar-benar mau tahu soal Broken Reed Bend, siapkan alasan yang lebih bagus dari ‘jenis kelembapan’. Orang sungai tidak suka orang penasaran tanpa harga.”
Setelah ia pergi, Shou Wei menyadari bahwa pria itu tidak sebodoh penampilannya.
Bagus.
Orang seperti itu lebih mungkin hidup lama.
Siang harinya, Stone Reed Town kembali memberi potongan informasi lain.
Saat Shou Wei membeli arang murah di kios bahan bekas, dua pria di sebelahnya sedang bicara pelan.
“...katanya Wei Kuan sewa perahu kecil.”
“Ke mana?”
“Cabang utara. Cari apa entahlah. Bawa dua pembantu dan peti peralatan.”
“Dia mau jadi pemburu bangkai kapal?”
“Tahu sendiri orang formasi. Kadang kayu gosong pun bisa bikin mereka gila.”
Shou Wei menunduk, pura-pura memilih arang, padahal seluruh perhatiannya tertarik ke percakapan itu.
Jadi Wei Kuan benar-benar mulai bergerak.
Lebih cepat dari yang diduga.
Malam itu, saat langit menggelap dan penginapan mulai bising lagi, Shou Wei mengeluarkan semua uangnya yang tersisa dan menghitung sekali lagi. Lalu ia menaruh sebagian ke tempat simpanan batu retak dekat sungai. Setelah itu, ia duduk bersila dan berpikir cukup lama.
Pilihan di depannya kini mulai jelas:
tetap di Stone Reed Town, terus jual utility marks, tumbuh pelanatau mulai mengarah ke sungai utara, mengikuti jejak yang mungkin berbahaya tapi bernilai jauh lebih besarOrang bodoh akan langsung mengejar yang kedua.
Orang pengecut akan bersembunyi di yang pertama.
Shou Wei memilih jalan tengah.
Ia akan tetap menapak pelan—tapi mulai mendekati sungai utara lewat alasan yang masuk akal.
Han Lu bisa jadi pintu itu.
Jin Pel mungkin punya barang kiriman lain ke jalur sungai.
Dan kalau Wei Kuan benar-benar menemukan sesuatu di Broken Reed Bend, cepat atau lambat riaknya akan sampai ke Stone Reed Town.
Shou Wei membuka gulungan manual tipisnya lagi, lalu menatap diagram kecil tentang simpul dan jangkar.
Dunia di depannya tidak lagi hanya terdiri dari kota, pasar, dan orang-orang licik.
Kini mulai muncul sesuatu yang lebih besar:
jalur air tua,
kapal karam,
marker kuno,
dan kemungkinan array tersembunyi di bawah sungai.