Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Baru, Hidup Baru
Pagi itu, pegunungan diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya, namun suasana di dalam ruang kerja Maximilian terasa begitu jernih dan menentukan. Di atas meja jati yang kokoh, tergeletak sebuah map kulit berwarna hitam. Maximilian, yang kini sudah tampil rapi dengan kemeja biru gelap tanpa satu pun tanda-tanda sisa mabuk semalam, mendorong map itu ke arah Rebecca.
"Buka," perintahnya singkat.
Rebecca menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat paspor, kartu identitas, dan beberapa dokumen legal lainnya. Matanya terpaku pada baris nama yang tertulis dengan tinta hitam tebal.
Rebecca Moretti.
"Mulai hari ini, Rebecca Sinclair sudah tidak ada. Dia telah menghilang di gang gelap itu bersama hutang ayahnya," suara Maximilian terdengar dingin namun mantap. "Kau adalah Rebecca Moretti. Secara hukum, kau adalah bagian dari keluarga besarku. Tidak ada satu pun institusi di negara ini yang berani mempertanyakan asal-usulmu."
Rebecca menyentuh permukaan kartu identitas itu. Nama belakang 'Moretti' terasa berat, seolah membawa beban kekuasaan yang tak terukur. "Moretti ... nama belakang Om?"
"Nama yang akan menjamin kau bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa perlu takut ditagih hutang oleh siapa pun," Maximilian berdiri, berjalan memutari meja dan bersandar di dekat Rebecca. "Aku juga sudah mengatur perpindahan studimu. Kau akan melanjutkan kuliah di Universitas St. Jude. Fakultas Hukum, sesuai keinginanmu sebelumnya. Jadwal kuliahmu dimulai hari ini."
"Hari ini?!" Rebecca terlonjak kaget. "Tapi Om, aku belum siap. Aku bahkan belum belajar apa-apa setelah kejadian itu."
"Aku tidak butuh kesiapanmu, aku butuh kau mulai bergerak," Maximilian melirik jam tangannya. "Mobil sudah siap di bawah. Vargo akan menjadi supir sekaligus pengawal pribadimu. Liam juga akan ikut sebagai pengamanan tambahan di area kampus. Ingat, meskipun kau memakai namaku, jangan sekali-kali menarik perhatian yang tidak perlu."
Perjalanan menuju Universitas St. Jude memakan waktu satu jam. Rebecca duduk di kursi belakang Bentley, menatap pakaiannya yang kini lebih formal namun tetap elegan—sebuah blazer krem dengan rok hitam yang sopan. Di sampingnya, tas kulit bermerek tersimpan rapi, berisi semua perlengkapan kuliahnya.
Vargo, yang kini mengenakan setelan jas hitam rapi meski hidungnya masih dibalut plester tipis, melirik melalui spion tengah. "Jangan tegang, Nona Moretti. Anda hanya perlu masuk, mengikuti ujian penyesuaian, dan keluar. Saya dan Liam akan berada di radius sepuluh meter dari Anda."
"Ujian penyesuaian?" Rebecca menelan ludah. "Max—maksudku Om Max tidak bilang ada ujian."
"Tuan Maximilian ingin memastikan kau pantas menyandang namanya di lingkungan akademik terkaya di kota ini, Nona," sahut Vargo datar.
Saat mobil berhenti di depan gedung rektorat yang megah, Rebecca merasa seluruh matanya tertuju padanya. Universitas St. Jude adalah tempat berkumpulnya anak-anak konglomerat dan politisi. Begitu ia turun, ia bisa merasakan bisikan-bisikan kecil. Bukan karena mereka tahu siapa dia, tapi karena kehadiran Bentley hitam dengan dua pengawal berbadan tegap yang mengikutinya di belakang.
Rebecca masuk ke dalam ruang ujian besar. Di sana, ia disambut oleh seorang profesor tua yang menatapnya dengan kacamata bertengger di ujung hidung.
"Nona Rebecca Moretti? Silakan duduk. Anda punya waktu dua jam untuk menyelesaikan ujian masuk penyesuaian hukum kontrak dan hukum perdata. Tuan Maximilian sangat menekankan bahwa Anda harus lulus dengan nilai sempurna."
Rebecca duduk di kursi kayu yang keras. Ia menatap lembar soal di depannya. Kepalanya terasa pening. Bayangan-bayangan trauma semalam, suara tembakan di jalan tol, dan dekapan Maximilian yang posesif terus berputar di benaknya. Namun, ia teringat satu hal: “Jangan buat aku menyesal telah membelamu.”
Ia mulai menulis. Awalnya lambat, namun perlahan pengetahuannya kembali mengalir. Ia menyadari bahwa selama berada di rumah pegunungan, Maximilian sering memaksanya membaca dokumen-dokumen kontrak—yang ternyata adalah cara tersembunyi Max untuk mengajarinya hukum secara praktis.
Di tengah ujian, pintu aula terbuka sedikit. Beberapa mahasiswa senior mengintip masuk. Di antara mereka, ada seorang pria berambut pirang klimis yang menatap Rebecca dengan tatapan tajam. Namanya Julian Valenti, keponakan dari Enzo Valenti. Tentu saja, Julian tidak tahu bahwa gadis di dalam ruangan itu adalah Rebecca Sinclair yang dicari pamannya, karena penampilan Rebecca kini sangat berbeda dan memakai nama Moretti. Namun, aura Moretti yang dibawa Rebecca memancing rasa ingin tahunya yang berbahaya.
Dua jam berlalu. Rebecca keluar dari aula dengan peluh dingin di pelipisnya. Ia merasa otaknya baru saja diperas habis-habisan. Vargo dan Liam langsung berdiri tegak saat melihatnya keluar.
"Bagaimana, Nona?" tanya Liam dengan semangat khasnya.
"Aku tidak tahu, Liam. Kepalaku mau pecah," sahut Rebecca lemas.
Baru saja mereka hendak berjalan menuju mobil, Julian Valenti dan kawan-kawannya menghadang jalan.
"Moretti, ya?" Julian menyeringai, matanya menelusuri tubuh Rebecca dengan cara yang membuat Rebecca merasa tidak nyaman. "Aku tidak pernah mendengar ada keluarga Moretti yang punya putri secantik ini. Apa kau sepupu jauh Maximilian? Atau mungkin ... simpanan barunya?"
Wajah Vargo berubah menjadi sangat gelap dalam sekejap. Ia melangkah maju, menghalangi pandangan Julian pada Rebecca. "Jaga bicaramu, Tuan Muda Valenti. Sebelum lidahmu berakhir di aspal."
Julian tertawa meremehkan. "Wow, santai. Aku hanya ingin menyapa tetangga baru. Kabarnya Maximilian sedang sibuk berperang di pelabuhan, aku tidak menyangka dia punya waktu untuk mendaftarkan 'aset' barunya ke sekolah."
Rebecca merasa jantungnya berdegup kencang. Nama Valenti membuat traumanya bangkit kembali. Ia teringat pistol perak di dalam tasnya. Tangannya merayap ke arah tas, namun ia teringat pesan Max: jangan menarik perhatian yang tidak perlu.
"Ayo pergi, Vargo," ucap Rebecca pelan, suaranya berusaha tetap tenang. "Dia tidak layak untuk dilayani."
"Cerdas," Julian berbisik tepat saat Rebecca melewatinya. "Tapi ingat, Nona Moretti ... di kampus ini, tidak ada rahasia yang bisa bertahan lama. Apalagi jika kau berbau seperti sampah Sinclair yang sedang kami cari."
Rebecca membeku sejenak, namun ia tetap berjalan lurus menuju mobil. Begitu pintu Bentley tertutup, ia langsung jatuh terduduk dan mengatur napasnya yang memburu.
Sore harinya, kembali di markas pegunungan, Rebecca berdiri di balkon kamarnya, menatap matahari terbenam. Maximilian masuk tanpa suara, berdiri di sampingnya.
"Bagaimana ujianmu?" tanya Max.
"Lulus. Profesor bilang nilaiku hampir sempurna," Rebecca menoleh ke arah Max. "Tapi Om ... aku bertemu Julian Valenti di sana. Dia curiga."
Maximilian menyesap gelas alkoholnya, matanya menatap tajam ke arah lembah. "Aku tahu. Vargo sudah melaporkannya."
"Lalu kenapa Om membiarkanku kuliah di sana jika tahu ada orang Valenti?"
Maximilian menarik pinggang Rebecca, membawanya ke dalam pelukan posesifnya dari belakang. Ia meletakkan dagunya di bahu Rebecca, membiarkan aroma parfum maskulinnya menenangkan kegelisahan gadis itu.
"Karena aku ingin kau menjadi umpan yang berkelas, Rebecca. Jika kau bersembunyi terus, mereka akan mencarimu di lubang mana pun. Tapi jika kau berdiri di bawah namaku di tempat umum, mereka akan berpikir dua kali untuk menyentuhmu."
"Om menggunakanku?" suara Rebecca sedikit bergetar.
Maximilian membalikkan tubuh Rebecca agar menghadapnya. Ia menangkup wajah Rebecca dengan kedua tangannya. "Aku tidak menggunakanku. Aku sedang melatihmu untuk berdiri di puncak dunia bersamaku. Valenti adalah ujian pertamamu. Jika kau bisa bertahan di kampus itu tanpa membongkar siapa dirimu yang sebenarnya, maka kau pantas menjadi seorang Moretti."
Max mencium kening Rebecca dengan lembut, sebuah kecupan yang terasa seperti segel kepemilikan. "Mulai besok, kau akan mulai belajar cara memegang pena dan senjata secara bergantian. Kau adalah milikku, dan milik Maximilian tidak akan pernah kalah, apalagi oleh sampah seperti Julian."
Rebecca menatap mata Maximilian yang gelap. Ia menyadari bahwa hidupnya sebagai Rebecca Moretti bukan hanya tentang kuliah mewah, tapi tentang menjadi bagian dari perang kekuasaan yang sesungguhnya. Dan anehnya, ia tidak lagi ingin lari.
"Aku tidak akan membuat Om malu," bisik Rebecca.
"Bagus," sahut Max dengan senyum tipis yang mematikan. "Karena jika kau gagal, hukuman dariku akan jauh lebih berat daripada ujian profesor mana pun di dunia ini."
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣