Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Rumah Tua, Luka Lama
Pemandangan itu sudah bukan hal baru, tapi kali ini terasa lebih menekan. Getaran kereta yang terus-menerus melintas memang biang keladinya, mengikis rumah mereka sedikit demi sedikit, melubangi atap yang ditambal seadanya. Air hujan menetes konsisten, membasahi sisa pakaian kering yang digantung. Bau apek segera menyeruak.
"Siman! Siman, Nak! Ya Allah, lihat ini!" suara Ibu Siman yang penuh kepanikan membelah pagi yang masih suram, lebih meresahkan dari getaran rel. Wanita itu menghela napas berat, matanya memandang nanar ke arah lubang di langit-langit. "Atap kita bocor lagi, Nak! Baru kemarin ditambal. Kali ini... kali ini parah sekali."
Siman bergegas mendekat, mengamati celah yang kini lebih lebar dan aktif meneteskan air. Retakan di dinding, hasil gerusan waktu dan deru lokomotif, tampak lebih parah. Ia tahu, penambalan darurat tidak akan cukup. Ini butuh perbaikan total, entah dengan seng baru, semen, atau material lainnya. Dan untuk semua itu, mereka tidak punya uang.
Cincin akik biru laut di jarinya terasa dingin, tidak sehangat saat ia menerima upah dari Pak Jitomo semalam. Apakah "kekuatan" ini hanya untuk hal-hal besar, dan melupakan kebutuhan darurat semacam ini? Hati Siman terbersit ragu, sekaligus sedikit kesal. Ia memegangi akik itu, menggosok-gosoknya perlahan, berharap ada semacam pencerahan, atau setidaknya ide gila seperti menemukan uang koin di jalan. Namun, tak ada yang terjadi. Hanya dingin.
"Aduh, Ibu pusing sekali ini, Nak. Kalau terus-terusan begini, bisa roboh rumah kita. Mau numpang di mana kita, Nak?" Ibu Siman mengusap wajahnya, sarat keputusasaan. Rambutnya yang mulai memutih tampak acak-acakan. "Bapakmu juga baru saja pergi bantu tetangga sebelah angkat air. Ibu harus bagaimana, Nak?"
Siman menelan ludah. Wajah ibunya, yang biasanya penuh kekuatan untuk melawan nasib, kini tampak sangat rapuh. Hatinya mencelos. Seharusnya dia punya jawaban, tapi nihil. Kepalanya berputar mencari ide, tapi hanya kebingungan yang didapat. Ia ingin memberi harapan, tapi itu terasa bohong.
"Bu... nanti aku coba cari tukang bangunan keliling ya. Mungkin mereka punya ide perbaiki pakai barang bekas. Siapa tahu ada yang murah." Siman mencoba meyakinkan, padahal ia tahu sendiri itu hanyalah angan. Uang hasil kerjanya di bengkel Pak Jitomo memang banyak untuk ukuran dia, tapi untuk membeli bahan bangunan yang layak? Itu masih jauh dari cukup.
"Murah apanya, Nak? Untuk beli paku dan lem saja kita kadang masih mikir dua kali." Ibu Siman terkekeh pahit. "Pasti habisnya jutaan itu, Siman. Dindingnya retak begini. Atapnya juga mau terbang kalau kena angin besar sedikit." Ia menunjuk bagian atas dinding dengan gestur putus asa.
"Nggak apa-apa, Bu. Kita pikirkan nanti." Siman kembali memandang akiknya. Ia butuh sesuatu yang lebih dari sekadar keberuntungan untuk makan. Ia butuh keajaiban untuk menyelamatkan rumahnya, tempat satu-satunya yang mereka miliki dari kengerian hujan yang terus menerus. Bagaimana dia harus mendapatkan bahan-bahan perbaikan yang murah, atau bahkan gratis?
Narasi sepi. Hati Siman yang tadi diliputi rasa semangat setelah mendapatkan uang, kini menciut lagi. Masalah di hadapan mata jauh lebih besar daripada uang di bawah bantalnya. Apalagi, tadi pagi ia mendengar suara mesin penggusur itu akan datang minggu depan. Siman tahu betul bahwa dirinya harus berbuat sesuatu. Sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia menatap Ibu Siman, matanya menyiratkan tekad yang kembali membara, meski tipis dan rapuh. Akik itu terasa sejuk di jarinya, mungkin memberinya energi penenang, mungkin hanya ilusi belaka. Siman kemudian teringat kantung uang yang ia sembunyikan di bawah bantal. Ada sekitar lima juta rupiah di sana, hasil jerih payahnya di bengkel "Roda Sakti" yang disalurkan "Bos Jitomo" dan tentu saja, berkat 'campur tangan' akik. Dia bisa menggunakan sebagian uang itu. Tapi untuk apa? Sekadar menambal-nambal lagi? Ini bukan solusi.
Menghela napas, Siman beranjak keluar rumah. Cuaca di luar masih gerimis, menyisakan hawa lembab. Siman tidak ingin Ibu Siman terus-menerus cemas. Mungkin, kali ini ia harus proaktif. Tidak lagi menunggu keberuntungan datang menghampiri. Ia harus mencarinya.
Sambil berjalan pelan menyusuri jalanan becek di pinggir rel, Siman menatap akik di jari manisnya. Warna biru pekatnya seperti menyimpan rahasia, tak terjangkau oleh pikirannya yang sempit. Dia harus mencari. Setidaknya, mencari tahu harga bahan bangunan, paku, atau seng. Di tengah pikiran yang berkecamuk itu, langkah kakinya membawanya menuju gang-gang sempit di sekitar kompleks permukiman, yang penuh dengan tumpukan puing dan sisa material bangunan. Biasanya, di sana ia bisa menemukan botol plastik atau rongsokan yang bisa dijual, tetapi kali ini, tujuannya berbeda.
Kepalanya celingukan, mengamati tumpukan sisa konstruksi yang menggunung di beberapa sudut. Mayoritas adalah sampah, besi karatan, atau bongkahan beton. Siman terus berjalan, mata dan pikirannya berpacu, bertanya-tanya adakah benda lain yang ia lewatkan. Namun nihil.
"Hei, Siman!" sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan di jalanan itu, mengagetkannya. Akiknya berdenyut sekali. Cukup mengejutkan Siman. "Mau ke mana kamu? Cari rongsokan? Belakangan ini nggak ada barang bagus tahu."
Siman menoleh. Beberapa anak tanggung yang tadi dilihatnya di pasar tumpah, sedang merokok di depan warung Mbok Nah. Mereka tampak seperti preman. Ia menghela napas, enggan berinteraksi.
"Nggak, bukan." Siman mempercepat langkah, tidak ingin meladeni pertanyaan tak penting mereka. Mereka menertawainya dan mengatakan dia dekil dan bau apek.
Siman mencoba berkonsentrasi lagi. Di persimpangan jalan menuju ke komplek pabrik garmen, di sudut gang itu, ada lahan kosong yang luas. Biasanya, di sana selalu ada tumpukan sampah besar. Dan seringnya, beberapa rumah di sekitarnya juga melakukan renovasi. Semoga saja. Setidaknya itu bisa menenangkan hatinya. Sebuah kebetulan? Mungkinkah akik ini bekerja lagi?
Saat melangkah di sisi sebuah bangunan yang baru direnovasi total, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian. Bukan sampah, melainkan tumpukan sisa material. Lembaran tripleks yang masih utuh, balok-balok kayu kecil yang sepertinya bekas kusen, bahkan satu gulungan seng bekas yang tampaknya masih bisa dipakai, meski ada sedikit penyok di ujungnya.
"Ya, ampun!" Siman tanpa sadar berteriak kecil. Ini... ini adalah apa yang dibutuhkan ibunya. Ini bisa dipakai untuk menambal atap dan mungkin dinding juga! Ada semacam kotak kardus yang cukup besar, bekas karung semen, tapi kosong. Bisa dipakai untuk wadah membawa triplek itu!
Ia melihat sekeliling. Tidak ada pekerja. Tidak ada pemilik rumah. Hanya papan "DIJUAL" yang terpasang di depannya. Bangunan itu tampak sudah kosong dan ditinggalkan.
"Ini... apa lagi ini?" Siman menunduk, menggosok akiknya. Kini cincin itu tidak lagi dingin, justru terasa hangat dan berdenyut perlahan, konsisten, seolah menyalurkan energinya secara stabil ke Siman. Siman langsung melihat tumpukan sisa bangunan yang kini akan digunakannya. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ini keberuntungan, atau 'bantuan' akik?
***