Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tidak ada percakapan. Tidak ada tatapan. Seolah kejadian semalam masih menggantung di udara.
***
Liora keluar kamar lebih dulu. Pikiran masih mengingat kejadian semalam, Namun ia berusaha terlihat biasa.
Perutnya lapar.
Dan itu cukup untuk membuatnya turun ke area dapur kecil di suite hotel mereka.
Ia membuka lemari.
Kosong.
Ia mendesah pelan. Matanya lalu tertuju pada rak atas.
Ada beberapa makanan ringan di sana. Namun terlalu tinggi.
Liora berdiri berjinjit. Mengangkat tangan.
Hampir…
sedikit lagi…
Namun.kakinya kehilangan keseimbangan.
“Ah—!”
Tubuhnya oleng. Nyaris jatuh ke belakang.
DEG!
Sebuah tangan dengan cepat menahan pinggangnya.
Kuat. Menariknya kembali stabil.
“Nona, hati-hati.”
Suara itu tenang.
Ben.
Liora terdiam sesaat. Masih dalam posisi dekat. Tangannya refleks mencengkeram lengan Ben.
Menahan diri agar tidak jatuh.
“Terima kasih…” ucapnya pelan.
Napasnya masih sedikit cepat. Ben langsung melepaskan.
Menjaga jarak.
Seperti biasa. ia tahu batas.
Namun...
detik itu juga..
suasana berubah. Langkah kaki terdengar.
Berat.
Pelan. Namun mengandung tekanan.
Liora menoleh. Dan tubuhnya langsung menegang.
Saga.
Berdiri di sana. Tatapannya lurus. Ke arah mereka.
Lebih tepatnya.. ke arah tangan Ben yang tadi berada di pinggang Liora.
Udara seketika terasa dingin.
“Tu—Tuan…”
Ben langsung menunduk.
Namun belum sempat berkata apa-apa..
BUGH!
Satu pukulan keras mendarat di wajahnya.
Tanpa peringatan.
Tanpa kata. Ben terdorong ke samping.
Namun tidak melawan. Tidak membalas.
Ia hanya diam.
Menahan. Darah tipis mulai terlihat di sudut bibirnya.
“Tuan… saya—”
“Diam.”
Suara Saga rendah. Namun penuh tekanan.
Matanya masih dingin.
Namun kali ini.. jelas ada sesuatu di dalamnya.
Emosi.
Yang jarang terlihat. Liora membeku. Matanya membesar.
Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Kenapa kamu menyentuhnya?”
Nada suara Saga tajam. Setiap kata seperti ancaman. Ben menunduk lebih dalam.
“Nona hampir jatuh, Tuan. Saya hanya—”
BUGH!
Pukulan kedua.
Lebih keras. Kali ini Ben hampir terjatuh. Namun tetap menahan diri.
Tidak melawan.
Karena ia tahu, melawan berarti lebih buruk.
“Cukup!”
Suara Liora tiba-tiba terdengar.
Tegas. Membelah suasana.
Saga terdiam. Tatapannya langsung beralih ke Liora.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu..
Liora menatap balik. Langsung. Tanpa menghindar.
“Dia gak salah!”
Suaranya bergetar.
Namun jelas.
“Dia nolong aku!”
Liora maju selangkah. Tubuhnya masih kecil dibanding aura Saga.
namun kali ini. ia tidak mundur.
“Kamu yang berlebihan!”
DEG.
Udara seakan berhenti.
Ben bahkan sedikit terkejut. Tak ada yang berani bicara seperti itu.
Pada Saga.
Namun Liora tidak berhenti. Matanya mulai berkaca-kaca.
Bukan karena takut. tapi karena marah.
“Semua orang gak boleh deket aku?!” lanjutnya.
“Gak boleh nyentuh aku?! Bahkan kalau aku mau jatuh?!”
Napasnya tidak teratur.
Emosinya meluap.
“Kamu pikir aku barang?!”
Kalimat itu..
menghantam lebih keras dari pukulan tadi.
Saga diam. Tatapannya berubah.
Lebih dalam.
Lebih gelap..Namun bukan amarah yang langsung meledak. Lebih seperti sesuatu yang tertahan.
“Dia gak salah!” ulang Liora.
“Kalau kamu mau marah—marah ke aku!”
Sunyi.
Ben menunduk. Tidak berani ikut campur.
Namun dalam hati.
ia tahu.
Hanya Liora. yang bisa berdiri seperti itu di depan tuannya.
Beberapa detik berlalu. Yang terasa sangat lama. Saga akhirnya melangkah.
Mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Berhenti tepat di depan Liora. Tubuh Liora langsung menegang.
Namun ia tidak mundur.
Tidak kali ini. Tatapan mereka bertemu.
Dekat.
Sangat dekat.
“Kamu berani sekali.” Suara Saga pelan.
Namun dingin. Liora menelan ludah. Namun tetap menatap.
“Karena kamu salah.”
Jawabnya.
Pelan.
Tapi tegas.
DEG.
Hening kembali menyelimuti. Saga menatapnya beberapa detik.
Lalu.
tanpa berkata apa-apa lagi.
ia berbalik.
“Ben.”
“Ya, Tuan.”
“Keluar.”
“Baik.”
Ben segera pergi. Meski langkahnya sedikit berat.
Kini hanya tersisa mereka berdua. Saga tidak menoleh lagi. Namun suaranya terdengar.
Rendah.
“Jangan biarkan orang lain menyentuhmu.”
Kalimat itu terdengar seperti perintah.
Namun juga..
seperti peringatan. Liora mengepalkan tangan.
Kesal.
Namun juga.
bingung.
Karena di balik sikap kejam itu. ada sesuatu yang tidak ia mengerti.
Sesuatu yang mulai terasa.. seperti kepemilikan. Yang berbahaya.
Dan perlahan. mulai menjeratnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung............................