Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Pengorbanan Sang Tetua
Gerbang Penjara Cahaya Abadi meledak dari dalam, memuntahkan ribuan bayangan hitam yang melesat menuju langit emas Kuil Matahari. Pemandangan itu menyerupai gerombolan belalang yang menelan ladang gandum; hanya saja, kali ini yang ditelan adalah kesucian palsu Langit Atas. Di barisan paling depan, Li Chen berdiri di atas kepala naga bayangan yang tercipta dari manifestasi energinya, pedang Takdir Sembilan Bintang terhunus miring, meneteskan sisa darah emas sang Hakim Kael.
"Lihatlah, penguasa pengecut!" raung Li Chen, suaranya menggelegar menembus lapisan awan. "Para hantu yang kalian kubur telah kembali untuk menuntut warisan mereka!"
Di puncak Kuil Matahari, tiga sosok raksasa muncul. Mereka adalah sisa dari Empat Hakim Agung: Hakim Api, Hakim Angin, dan Hakim Tanah. Di belakang mereka, sebuah bola cahaya raksasa yang dikenal sebagai Matahari Buatan (Artificial Sun) bersinar dengan intensitas yang sanggup membutakan mata manusia biasa. Matahari inilah sumber kekuatan abadi bagi seluruh penduduk Langit Atas, mesin yang mengubah esensi kehidupan tawanan menjadi energi suci.
Formasi Pertahanan Matahari! Jangan biarkan mahluk-mahluk kotor itu menyentuh tangga suci!" perintah Hakim Api, tangannya mengayunkan cambuk lava yang membara.
Ribuan tentara dewa dengan zirah emas membentuk barisan kura-kura di tangga kuil. Mereka memancarkan aura kolektif yang menciptakan dinding cahaya setebal sepuluh meter. Saat pasukan tawanan Iblis Bintang menghantam dinding itu, banyak dari mereka yang langsung terbakar menjadi abu. Cahaya dari Matahari Buatan terlalu kuat bagi mereka yang baru saja keluar dari kegelapan penjara selama ribuan tahun.
"Tuanku, kita tidak bisa menembusnya!" Kahn berteriak, kapaknya terpantul oleh perisai cahaya tersebut. "Matahari itu... ia melemahkan esensi Iblis Bintang kita!"
Li Chen merasakan hal yang sama. Setiap kali ia mencoba mengerahkan kekuatan penuhnya, Matahari Buatan itu seolah-olah menekan jiwanya, memaksanya untuk berlutut. Itu adalah senjata penekan alami bagi garis keturunannya.
"Nak, selama matahari buatan itu masih menyala, kau bertarung di dalam wilayah kekuasaan mereka yang mutlak," suara Kaisar Pedang terdengar mendesak. "Kau harus memadamkannya, atau semua pengikutmu akan mati sia-sia!"
Tiba-tiba, sesosok pria tua yang tadi dibebaskan Li Chen—pria yang disebut sebagai Tetua Purba, Mo Yan—terbang maju melewati Li Chen. Tubuhnya yang kurus kering kini bersinar dengan api ungu yang tidak stabil.
"Pewaris muda," Mo Yan menoleh, matanya yang cekung memancarkan ketenangan yang mengerikan. "Sepuluh ribu tahun aku membusuk di penjara itu hanya untuk menunggu saat ini. Aku telah kehilangan tubuhku, klan-ku, dan masa depanku. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka mengambil masa depanmu."
Li Chen tertegun. "Tetua, apa yang ingin kau lakukan?"
Mo Yan tersenyum, senyuman yang penuh dengan kerinduan akan kematian yang terhormat. "Aku adalah Alkemis Terlarang terakhir dari klan kita. Tubuhku sekarang hanyalah wadah bagi sepuluh ribu tahun kebencian dan energi yang mereka suntikkan kepadaku. Aku akan menjadi bintang jatuh yang terakhir."
Bintang Jatuh Terakhir
Tanpa menunggu jawaban, Mo Yan melesat ke arah Matahari Buatan. Kecepatannya begitu gila hingga ia meninggalkan jejak api ungu di atmosfer.
"Hentikan dia! Hancurkan mahluk itu!" teriak Hakim Angin. Ribuan anak panah cahaya ditembakkan ke arah Mo Yan, menembus bahu, kaki, dan perutnya. Namun, pria tua itu tidak berhenti. Ia tertawa, tawanya bergema dengan frekuensi yang menghancurkan kaca-kaca di Kuil Matahari.
"Hukum Alkimia Terlarang: Pembakaran Inti Jiwa!"
Tubuh Mo Yan mulai membengkak. Energi ungu keluar dari setiap pori-porinya, berubah menjadi pusaran gravitasi yang menarik seluruh panah cahaya ke arahnya. Ia bukan lagi seorang manusia; ia telah menjadi bom hidup yang mengandung energi setara dengan ledakan sebuah planet kecil.
Li Chen melihat Mo Yan menabrakkan dirinya tepat ke pusat Matahari Buatan.
"TIDAK!" teriak ketiga Hakim Agung serentak.
WUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUSSS!
Dunia seakan menjadi sunyi sesaat. Cahaya putih dari Matahari Buatan bertabrakan dengan api ungu dari jiwa Mo Yan. Kemudian, sebuah ledakan hebat terjadi. Gelombang kejutnya melemparkan ribuan tentara dewa dari tangga kuil, menghancurkan jembatan-jembatan pelangi, dan merobek langit emas menjadi gelap gulita.
Matahari Buatan itu retak. Cahaya sucinya memudar, digantikan oleh kegelapan yang dingin.
"Tetua..." Li Chen mengepalkan tinjunya hingga berdarah. Ia merasakan koneksi spiritual dengan Mo Yan terputus selamanya. Pengorbanan itu telah memberikan apa yang dibutuhkan pasukannya: kesetaraan di medan perang.
Amarah Sang Penelan Bintang
Dengan padamnya Matahari Buatan, kekuatan para dewa merosot tajam. Sebaliknya, pasukan Iblis Bintang merasakan kekuatan mereka kembali pulih di bawah naungan kegelapan.
"Sekarang!" raung Li Chen. "Bantai mereka semua! Jangan sisakan satu pun tembok yang berdiri!"
Li Chen melesat ke arah tiga Hakim Agung. Ia tidak lagi menggunakan teknik yang indah; ia bertarung dengan keganasan binatang buas. Pedang Sembilan Bintang menebas Hakim Angin menjadi dua dalam satu gerakan sebelum dewa itu sempat menggunakan sihirnya.
Hakim Tanah mencoba membungkus Li Chen dengan pegunungan batu, namun Li Chen hanya menghantamkan tinjunya, menghancurkan batu-batu itu menjadi debu.
"Seni Penelan Bintang: Sembilan Gerbang Pembantaian—Gerbang Terakhir: Dewa Kematian!"
Wujud Li Chen berubah sepenuhnya. Ia menjadi raksasa bayangan setinggi tiga puluh meter dengan mahkota bintang yang berputar di atas kepalanya. Ia mencengkeram Hakim Api dengan tangan kirinya dan mulai menyerap api dewanya secara mentah-mentah.
"Kau... kau akan membawa kehancuran bagi semesta ini..." rintih Hakim Api sebelum jiwanya hancur.
Li Chen menginjakkan kakinya di teras tertinggi Kuil Matahari. Tangga emas itu kini dipenuhi dengan mayat para dewa. Ia menoleh ke belakang, melihat Kahn dan para tawanan lainnya sedang menyelesaikan pembantaian di bawah sana.
Tiba-tiba, pintu besar ruang tahta Kuil Matahari terbuka.
Wajah Sang Dewa Tertinggi
Dari dalam kegelapan ruang tahta, melangkah keluar sesosok pria yang tampak muda, namun rambutnya mencapai lantai dan matanya mengandung seluruh galaksi. Ia tidak memancarkan aura yang meledak-ledak; sebaliknya, keberadaannya terasa seperti hukum alam itu sendiri.
Ia adalah Dewa Tertinggi Solaris, pemimpin tertinggi Langit Atas.
"Mo Yan memberikan nyawanya hanya untuk memberimu waktu beberapa menit lagi untuk hidup," kata Solaris, suaranya tenang namun setiap katanya terasa seperti beban gunung di pundak Li Chen. "Li Chen, kau tahu mengapa aku membunuh ayahmu? Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia terlalu mencintai dunia ini, sehingga dia tidak tega untuk menghancurkannya agar aku bisa naik ke ranah yang lebih tinggi."
Li Chen kembali ke wujud manusianya, napasnya berat, namun matanya tetap tajam. "Kau membunuh keluargaku hanya untuk sebuah ambisi kultivasi?"
"Ambisiku adalah kelangsungan hidup semesta ini," balas Solaris dingin. "Dan kau... kau hanyalah parasit yang mencoba memakan inangnya."
Solaris mengangkat satu jarinya. Cahaya kecil muncul di ujung jarinya, namun cahaya itu mengandung tekanan yang membuat seluruh Kuil Matahari mulai runtuh ke bawah.
"Inilah akhir dari ceritamu, Penelan Bintang."
Li Chen mengangkat pedang Sembilan Bintangnya, bersiap untuk konfrontasi terakhir. Di belakangnya, ibunya, Li Xue'er, mendarat dengan napas tersengal-sengal. "Chen'er... bergabunglah denganku. Kita akan menggunakan Seni Gabungan Teratai Bintang."
Pertempuran puncak antara garis keturunan yang tertindas melawan tiran semesta baru saja mencapai puncaknya. Darah akan mengalir, dan takdir baru akan ditulis di atas reruntuhan Kuil Matahari.