Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampilan Sederhana Lana di Tengah Kemewahan
Sore itu, cahaya matahari terbenam membasahi ruang tengah penthouse dengan warna jingga keemasan. Arka baru saja keluar dari ruang kerjanya, masih mengenakan celana kain formal dan kemeja putih yang lengannya digulung. Ia berhenti sejenak di dekat pilar besar, matanya tertuju pada sebuah sosok yang sedang duduk di bangku kayu kecil—satu-satunya benda yang bukan berasal dari toko furnitur mewah Italia—di sudut balkon yang tertutup kaca.
Sosok itu adalah Lana. Ia sedang menjahit kancing bajunya yang lepas. Lana mengenakan kaos katun berwarna kuning pudar yang sudah agak melar di bagian lehernya, dipadukan dengan celana kain santai bermotif batik parang yang warnanya sudah mulai "turun". Rambutnya hanya dijepit seadanya dengan jepitan badai plastik murah berwarna hitam.
Di sekelilingnya, terdapat lampu-lampu kristal seharga ratusan juta, sofa kulit berkualitas tinggi, dan lantai marmer yang bisa memantulkan wajah. Lana tampak seperti setitik warna pudar di tengah lukisan yang terlalu cerah.
"Lo lagi ngapain, Lan? Kurang kerjaan banget jahit kancing baju kayak gitu," celetuk Arka sambil berjalan mendekat.
Lana tersentak, hampir menusuk jarinya sendiri. "Eh, Kak Arka. Ini... kancing baju kesukaan Lana lepas, Kak. Sayang kalau nggak dipakai lagi, bahannya adem banget buat tidur."
Arka memperhatikan baju yang sedang dijahit Lana. Itu adalah kemeja flanel tua yang mungkin sudah berusia tahunan. "Buang aja, Lan. Gak asik banget lo masih nyimpen baju rombeng gitu di rumah gue. Nanti kalau ada tamu liat, dikira gue nggak ngasih lo makan."
Lana menunduk, sedikit malu. "Tapi Kak, ini baju kenang-kenangan dari Ibu pas Lana lulus SMA. Masih bagus kok, cuma kancingnya aja yang lepas satu."
Tak lama kemudian, Jeno dan Kenzo muncul dari arah lift pribadi. Jeno masih mengenakan jaket bomber tim E-Sport-nya yang penuh dengan logo sponsor, sementara Kenzo tampil sangat modis dengan kacamata hitam yang disampirkan di kerah kemeja bermotif macan tutulnya.
"Wih, ada sesi menjahit nasional ya?" ledek Jeno sambil meletakkan tasnya di meja. Ia mendekati Lana dan memperhatikan gaya berpakaian gadis itu. "Lan, serius deh. Lo mau kuliah besok lusa pakai baju begini? Lo mau kuliah apa mau jualan jamu di depan gerbang kampus?"
Lana memegang ujung celana batiknya yang sedikit kusam. "Emangnya kenapa, Kak Jeno? Ini celana paling nyaman yang Lana punya. Bahannya dingin, nggak bikin gatel."
Kenzo, sang aktor yang sangat memuja estetika, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis. Ia mendekat, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Lana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata yang sangat teliti, seolah-olah sedang mengaudisi pemeran figuran.
"Sayang... dengar ya," ucap Kenzo dengan nada suara yang lembut namun tegas. "Dunia luar itu kejam, apalagi kampus elit tempat Rian ngajar. Kalau lo tampil dengan 'gaya minimalis' begini, yang ada lo bakal jadi bulan-bulanan mahasiswi lain yang tasnya aja seharga motor gede Jeno."
"Emang kenapa kalau Lana sederhana, Kak Kenzo? Kan yang penting Lana pinter belajarnya," jawab Lana dengan kepolosan yang membuat Kenzo ingin menangis di tempat.
"Aduh, polosnya lo itu emang nggak ada obat, Lan," Kenzo menghela napas. Ia menyentuh jepitan rambut plastik Lana. "Jepitan ini... ini bencana fashion. Ini cuma boleh dipakai kalau lo lagi mandi atau lagi ngulek sambal di dapur tersembunyi. Jangan pernah lo bawa keluar dari pintu lift ini."
Lana meraba jepitan rambutnya. "Tapi ini kuat banget, Kak. Belinya di pasar malem desa cuma dua ribu perak."
Jeno tertawa keras, sementara Arka hanya bisa memijat keningnya. Di saat yang sama, Ezra keluar dari ruang kerjanya membawa gulungan denah. Ia berhenti di samping Kenzo dan ikut mengamati Lana. Sebagai seorang arsitek yang sangat peduli pada bentuk dan warna, Ezra merasa ada yang "tidak simetris" dalam penampilan Lana.
"Struktur berpakaian lo itu nggak punya konsep, Lan," komentar Ezra datar. "Warna kuning baju lo nabrak sama warna cokelat celana lo. Secara visual, lo itu polusi mata di tengah rumah yang udah gue desain capek-capek."
Meskipun bicaranya ketus, Ezra sebenarnya merasa gemas melihat betapa kecilnya tubuh Lana di dalam kaos yang kebesaran itu. Ia merasa ingin membungkus Lana dengan kain kasmir yang lembut agar gadis itu tidak terlihat seperti "anak ilang".
"Lana minta maaf ya Kakak-kakak semua... Lana nggak tahu kalau baju Lana bikin Kakak-kakak pusing," bisik Lana pelan. Ia mulai melipat kembali bajunya yang sudah selesai dijahit dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Melihat ekspresi Lana yang mulai sedih, Arka langsung berdeham keras, memberikan kode pada saudara-saudaranya untuk berhenti meledek. "Udah, berisik lo semua. Lana nggak salah, dia cuma belum punya pilihan."
Arka berjalan menuju sofa dan duduk dengan wibawa. "Rian mana? Katanya dia mau beliin peralatan kampus buat Lana?"
"Lagi di jalan, katanya tadi ada rapat senat dulu," jawab Gaza yang baru saja masuk dengan kaos tanpa lengan, memperlihatkan otot tangannya yang besar setelah latihan beban di lantai bawah. Gaza menatap Lana sejenak, lalu mendekat ke arah gadis itu.
"Lan," panggil Gaza pendek.
"Iya, Kak Gaza?"
Gaza merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah jam tangan olahraga berwarna hitam yang tampak sangat tangguh. "Nih, pakai. Biar lo tahu waktu kalau di kampus nanti. Jangan sampai telat masuk kelas gara-gara nggak punya jam."
Lana menerima jam itu. "Wah, ini bagus banget, Kak! Tapi kok banyak tombolnya?"
"Nanti gue ajarin. Intinya, lo jangan sampai kelihatan lemah di depan orang lain. Pakai barang-barang yang ada 'tenaga'-nya," ucap Gaza dengan gaya bicaranya yang kaku. Padahal sebenarnya, jam tangan itu adalah jam tangan military grade yang sangat mahal, sengaja ia berikan agar ia bisa melacak keberadaan Lana lewat fitur GPS yang tersembunyi di dalamnya.
Kenzo tersenyum miring melihat tingkah Gaza. "Dih, si polisi mulai duluan kasih kado. Gak asik banget lo, Gaz. Jam tangan cowok gitu mana cocok sama Lana yang mungil begini."
Kenzo kemudian menoleh ke arah Arka dan Ezra. "Eh, gimana kalau kita kasih 'kejutan' buat Lana sebelum dia masuk kampus? Gue punya kenalan desainer ternama, atau kita bawa dia ke butik langganan gue di pusat kota?"
Arka tampak berpikir sejenak. Ia melihat ke arah kaki Lana yang hanya mengenakan sandal jepit karet berwarna biru. Sandal itu sudah sangat tipis di bagian tumitnya. "Gue yang urus masalah itu. Besok gue bakal minta staf gue buat kirim beberapa pilihan ke sini."
Ezra menyahut, "Gue yang bakal pilih warnanya. Biar nggak nabrak-nabrak lagi kayak hari ini."
"Gue yang pilih sepatunya! Gue tau merek yang paling enak buat lari kalau lo dikejar-kejar kakak tingkat yang rese," timpal Jeno penuh semangat.
Lana hanya bisa terdiam bingung melihat para pria elit itu mulai sibuk berdiskusi tentang penampilannya. Ia merasa seperti sebuah proyek pembangunan baru yang sedang digarap oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Di satu sisi, ia merasa senang karena mereka sangat perhatian, namun di sisi lain, ia merasa takut. Apakah ia masih bisa menjadi Lana yang lama jika penampilannya berubah total?
"Kak... Lana nggak usah dikasih baju mahal-mahal. Nanti kalau kena noda bakso di kantin, Lana nangis," ucap Lana mencoba memprotes.
"Nggak ada tapi-tapian, Lan," potong Arka tegas. "Di rumah ini, penampilan lo itu representasi dari kita semua. Kalau lo tampil berantakan, itu berarti gue gagal jaga lo. Ngerti nggak lo?"
Lana mengangguk lemah. "Ngerti, Kak Arka."
Malam itu, setelah Lana kembali ke kamarnya, ketujuh pria itu masih berkumpul di ruang tengah. Suasananya mendadak serius, seperti sedang merencanakan strategi perang atau akuisisi perusahaan besar.
"Gue liat dia minder banget tadi pas kita singgung soal kampus," ucap Bumi yang sejak tadi hanya menyimak dari pojokan. Sebagai dokter, ia paling peka dengan kondisi mental Lana. "Dia takut nggak bisa baur sama anak-anak kota."
"Makanya, kita harus buat dia ngerasa setara, atau bahkan lebih," sahut Rian yang baru saja bergabung. "Gue udah liat daftar mahasiswi di angkatan dia. Isinya anak-anak pejabat sama pengusaha semua. Lana bakal 'dimakan' hidup-hidup kalau dia nggak punya 'perisai'."
"Perisai itu bukan cuma baju, tapi kepercayaan diri," tambah Kenzo. "Gue bakal ajarin dia cara jalan dan cara natap orang biar nggak kelihatan kayak domba yang mau disembelih."
Arka mengetukkan jarinya di meja marmer. "Besok pagi, semua 'hadiah' harus sudah ada di sini. Rian, lo mastiin semua urusan administrasinya beres. Kenzo, lo urus gaya rambut dan makeup dasarnya. Ezra, pilihkan tas yang elegan tapi nggak berlebihan. Gue yang akan urus semua biayanya."
"Siap, Bos!" sahut mereka hampir bersamaan.
Di kamarnya, Lana tidak tahu bahwa di ruang tengah sedang terjadi konspirasi kemewahan demi dirinya. Ia menatap jepitan rambut dua ribu peraknya di depan cermin, lalu menatap jam tangan gagah pemberian Gaza di pergelangannya. Ia merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi lusa nanti. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya, dari seorang gadis desa yang sederhana menjadi "adik kesayangan" dari tujuh penguasa kota.
Lana memejamkan matanya, memeluk gulingnya erat. Ya Tuhan, semoga Lana nggak malu-maluin Kakak-kakak yang baik ini di kampus nanti, doanya dalam hati sebelum akhirnya terlelap, tidak sadar bahwa besok pagi, ia akan bangun dan menemukan kamarnya telah berubah menjadi butik paling mewah di Jakarta.