"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELAS PECAH YANG BERHENTI MENGISI
Dina melangkah kembali menuju meja kerjanya dengan ritme jantung yang lebih teratur. Sapu tangan biru tua pemberian Rama ia simpan dengan rapi di dalam saku tasnya, seolah benda kecil itu adalah jimat pelindung yang baru saja ia temukan. Lorong kantor yang tadinya terasa dingin dan menekan, kini tampak sedikit lebih bersahabat.
Sesampainya di kubikel, ia melihat Manda sedang sibuk menelepon, sementara Maulana tampak fokus pada layar monitornya. Kehadiran mereka, ditambah pengakuan Rama yang tak terduga tadi, menciptakan sebuah kesadaran baru di benak Dina. Selama ini, ia merasa rumah adalah satu-satunya poros dunianya—sebuah poros yang rusak dan terus menyakitinya. Namun hari ini, ia menyadari bahwa dunia tidak sesempit dinding rumah yang penuh makian itu.
Ia duduk kembali, jemarinya mulai menari di atas papan tik dengan kecepatan yang lebih stabil. Pikiran untuk segera pindah kos—yang tadi sempat membuatnya merasa bersalah dan takut dicap sebagai anak durhaka—perlahan mulai bergeser.
“Untuk apa aku terburu-buru melarikan diri dari rumah jika di luar sini, aku punya dunia yang jauh lebih luas?” batinnya.
Dina menatap sekeliling kantornya. Ia melihat Manda yang sesekali meliriknya dengan tatapan khawatir namun penuh dukungan. Ia melihat Maulana yang siap membelanya kapan saja. Dan ia tahu, di ruangan ujung sana, ada Rama yang diam-diam menjaganya agar tetap tegak.
Logika Dina mulai bekerja dengan cara yang berbeda. Baginya sekarang, rumah hanyalah sebuah tempat untuk memejamkan mata, sebuah persinggahan sementara yang tidak lagi memiliki kuasa untuk mendefinisikan siapa dirinya. Jika ayahnya memaki, biarlah suara itu lewat seperti angin lalu. Jika ibu tirinya menghina, biarlah itu menjadi sampah yang tidak perlu ia simpan di hati. Karena saat ia melangkah keluar pintu rumah setiap pagi, ada orang-orang yang benar-benar menghargai keberadaannya.
Ia tidak lagi merasa perlu "diselamatkan" oleh seorang pria yang mengasihaninya, karena ia sudah memiliki sistem pendukung yang jauh lebih sehat. Rasa sayangnya pada diri sendiri mulai tumbuh bukan dari keinginan untuk kabur, melainkan dari keberanian untuk tetap berdiri tegak di tengah badai, karena ia tahu ada tempat di mana ia selalu diterima tanpa syarat.
Dina menarik napas panjang, sebuah senyum tipis yang tulus benar-benar muncul di bibirnya. Ia membuka folder laporan logistik yang harus segera diselesaikan. Pekerjaan ini, meja ini, dan orang-orang di kantor ini adalah bukti bahwa ia berharga. Ia tidak butuh validasi dari rumah yang beracun jika ia bisa menemukan rumah yang sebenarnya di hati orang-orang yang tulus menyayanginya.
Sinar matahari sore yang keemasan mulai meredup, tergantikan oleh lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Bunyi lonceng tanda jam kantor berakhir bergema di lobi, memicu arus karyawan yang bergegas pulang. Maulana melambaikan tangan singkat sebelum menghilang ke arah parkiran motor, sementara Manda memberikan pelukan kilat dan pesan singkat agar Dina segera beristirahat sebelum ia menyeberang jalan menuju pangkalan ojek online.
Dina melangkah sendirian ke arah halte, namun kali ini langkahnya tidak seberat biasanya. Tas bahunya terasa lebih ringan, meski ia tahu di rumah nanti "badai" yang sama mungkin sudah menunggunya. Saat ia sampai di halte yang mulai dipadati calon penumpang, ia melihat sesosok pria berdiri tenang di pojok bangku beton.
Rama. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, namun jasnya sudah tersampir di lengan.
"Tumben sudah pulang? Sudah nggak sedih?" tanya Rama pelan saat Dina berdiri di sampingnya. Suaranya hampir tenggelam di antara deru mesin kendaraan, namun cukup jelas untuk membuat Dina menoleh.
Dina tersenyum tipis, kali ini senyum itu sampai ke matanya. "Sudah membaik, Mas. Terima kasih ya buat yang tadi di kantor."
Dina melirik ke arah jalanan, mencari tanda-tanda bus bernomor trayek yang biasa ia tumpangi. "Mas Rama naik bus yang sama juga hari ini?" tanya Dina, sedikit heran karena biasanya seorang manajer operasional sepertinya punya kendaraan pribadi.
Rama mengangguk kecil, pandangannya lurus ke depan. "Sekali-sekali ingin menikmati macetnya kota tanpa harus pegang setir. Lagipula, bus sore ini sepertinya bakal lebih tenang kalau ada temannya, kan?"
Dina tertegun sejenak, lalu terkekeh pelan. Ada sesuatu yang menenangkan dari cara Rama menanggapi pertanyaannya. Tidak ada kesan menggurui, tidak ada nada kasihan yang berlebihan. Hanya kehadiran yang solid.
Tak lama kemudian, bus yang mereka tunggu merapat ke tepi halte. Pintu terbuka dengan suara desis udara yang khas. Penumpang berebut masuk, namun Rama dengan sigap memberikan ruang bagi Dina untuk masuk lebih dulu. Di dalam bus yang cukup padat itu, mereka berhasil mendapatkan dua kursi kosong di barisan tengah.
Dina duduk di dekat jendela, sementara Rama duduk di sampingnya. Hujan sisa tadi siang masih menyisakan butiran air di kaca, membiaskan cahaya lampu kota menjadi warna-warni yang abstrak.
"Dina," panggil Rama pelan saat bus mulai melaju membelah kemacetan. "Tadi di kantin, aku nggak sengaja dengar sedikit pembicaraan kalian. Soal kos."
Dina terdiam, jemarinya memainkan ujung sapu tangan biru tua yang masih ia pegang di dalam saku jaketnya.
"Kamu nggak perlu merasa nggak bertanggung jawab hanya karena ingin menyelamatkan kesehatan mentalmu sendiri," lanjut Rama tanpa menoleh, seolah ia hanya sedang berbicara pada udara di depannya. "Kadang, jarak justru cara terbaik untuk memperbaiki hubungan yang sudah rusak. Kamu nggak bisa menuang air dari gelas yang pecah, kan?"
Dina merenungkan kalimat itu. Gelas yang pecah. Itulah dirinya selama ini di rumah. Ia mencoba memberi perhatian dan tanggung jawab, tapi hatinya sendiri sudah hancur berkeping-keping.
"Aku cuma takut dicap buruk, Mas," bisik Dina.
"Orang yang mau memandangmu buruk akan tetap melakukannya, seberapa baik pun kamu bersikap," jawab Rama tenang. "Tapi orang-orang yang sayang sama kamu, mereka cuma ingin melihat kamu bahagia. Termasuk teman-temanmu... dan mungkin, aku."
Dina menoleh cepat ke arah Rama, namun pria itu tetap menatap ke jendela dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Meski begitu, ada kehangatan yang merayap di hati Dina. Di bus yang sesak dan bising ini, ia merasa lebih aman daripada di rumah besar yang sunyi.
Dina terpaku. Suasana di dalam bus yang bising oleh deru mesin dan obrolan penumpang lain seketika terasa senyap di telinganya. Kalimat Rama barusan bukan sekadar kalimat penenang, melainkan sebuah pengakuan yang teramat jujur hingga membuat dada Dina berdesir hebat.
Rama menoleh perlahan, menatap manik mata Dina yang masih menyiratkan keterkejutan. "Salah satunya aku," ulang Rama dengan nada yang lebih dalam, seolah ingin memastikan kata-katanya tertanam di hati gadis itu. "Aku juga sayang, Dina. Cuma kamu nggak sadar dan mungkin selama ini menganggap aku hanya atasan, atau orang personalia yang peduli pada karyawan mana pun."
Dina meremas jemarinya yang mendadak dingin. "Mas Rama... maksudnya?"
"Aku sudah melihatmu cukup lama," lanjut Rama, mengalihkan pandangan kembali ke jalanan yang macet di depan mereka. "Aku melihat caramu bekerja, caramu menelan pahitnya makian di telepon dari rumah saat jam istirahat, dan caramu tetap tersenyum pada semua orang meski matamu berteriak minta tolong. Itu bukan sekadar kepedulian atasan pada bawahan, Dina. Aku peduli karena itu kamu."
Bus ngerem mendadak, membuat tubuh Dina sedikit terhuyung ke depan, namun tangan Rama dengan sigap menahan bahunya agar tidak terbentur kursi di depan. Sentuhan itu singkat, tapi hangatnya meresap hingga ke balik jaket Dina.
"Selama ini aku diam karena aku tahu kamu sedang berjuang dengan 'pahlawan' gadungan yang cuma memberimu rasa kasihan," ucap Rama, merujuk pada pria di kafe itu tanpa menyebut namanya. "Aku nggak mau jadi orang kesebelas yang datang hanya untuk menambah bebanmu. Aku ingin jadi orang yang menunggumu siap untuk melihat dirimu sendiri sebagai sosok yang berharga, bukan sebagai beban."
Dina menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Air mata yang kali ini jatuh bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa haru yang menyesakkan. Sepuluh kali ia dikhianati, berkali-kali ia dianggap aib di rumahnya sendiri, namun di sini, di atas bus kota yang berdesakan, ada seseorang yang mengaku menyayanginya justru karena ketangguhannya dalam hancur.
"Kenapa Mas baru bilang sekarang?" bisik Dina lirih.
"Karena hari ini aku melihat kamu sudah mulai berani bilang 'cukup' pada hal yang menyakitimu," jawab Rama sambil tersenyum tipis. "Dan aku nggak mau kehilangan momentum untuk memberitahumu bahwa ada tempat yang lebih baik daripada sekadar bertahan dalam derita."
Bus perlahan mendekati halte tujuan Dina. Rama berdiri lebih dulu, memberikan jalan bagi Dina untuk keluar. Saat mereka melangkah turun ke trotoar yang masih basah sisa hujan, angin malam menyambut mereka.
Dina berhenti sejenak, menatap rumahnya yang terlihat dari kejauhan—bangunan yang biasanya ia masuki dengan perasaan ngeri. Namun malam ini, dengan Rama yang berdiri di sampingnya, rumah itu tidak lagi terlihat menakutkan.
"Terima kasih, Mas Rama. Untuk semuanya," ucap Dina dengan suara yang jauh lebih mantap.
Rama mengangguk, sorot matanya penuh keyakinan. "Pulanglah. Ingat, kamu nggak berutang apa pun pada mereka yang nggak menghargaimu. Kalau besok kamu butuh bantuan buat cari kos, kamu tahu harus cari siapa."
Dina mengangguk kuat. Ia membalikkan badan, melangkah menuju rumahnya dengan kepala tegak. Di dalam sakunya, ia menggenggam erat sapu tangan biru tua itu, sebuah simbol bahwa mulai malam ini, ia tidak akan lagi membiarkan siapa pun menganggapnya sebagai aib. Ia adalah Dina, dan ia layak dicintai dengan tulus, bukan dikasihani.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib