Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gladi Bersih Pacar Palsu
Pagi itu, udara Yogyakarta terasa lebih sejuk dari biasanya. Matahari baru saja naik, sinarnya menembus sela-sela pepohonan di pinggir jalan. Orang-orang mulai sibuk dengan aktivitasnya pedagang membuka warung, mahasiswa berangkat kuliah, dan para pekerja menuju kantor.
Namun bagi Bayu, pagi itu terasa seperti hari terakhir hidupnya.
Ia duduk di sebuah bangku taman dekat kantor, memegang dua gelas kopi dengan tangan gemetar.
"Raka… aku tidak tidur semalaman."
Di depannya, Raka duduk santai sambil meminum kopi.
"Bagus."
"Lho kenapa bagus?"
"Supaya kau punya waktu merenungkan dosa-dosamu."
Bayu memegang kepalanya.
"Aku cuma bilang punya pacar. Kenapa sekarang seperti mau menikah?"
Raka menatapnya datar.
"Karena kau terlalu percaya diri."
Bayu menatap langit.
"Kenapa hidupku seperti sinetron."
Raka menepuk bahunya.
"Karena kau penulis skenario yang buruk."
Tidak lama kemudian, Nadia datang berjalan ke arah mereka.
Hari itu ia memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam. Penampilannya rapi seperti biasa.
Bayu langsung berdiri seperti melihat penyelamat.
"Nadia!"
Nadia tersenyum kecil.
"Pagi."
Raka mengangkat tangan.
"Pagi."
Bayu langsung berkata panik,
"Kita harus latihan."
Nadia mengangkat alis.
"Latihan?"
Bayu mengangguk cepat.
"Iya! Kalau nanti orang tuaku bertanya macam-macam?"
Raka menambahkan dengan santai,
"Mereka pasti akan bertanya."
Bayu menunjuk Raka.
"Kau juga harus ikut latihan!"
Raka mengernyit.
"Aku?"
"Iya!"
"Kenapa aku?"
Bayu berkata serius,
"Karena kau saksi hubungan kami."
Raka menutup wajahnya dengan tangan.
"Aku menyesal lahir ke dunia ini."
Nadia tertawa kecil.
Mereka akhirnya duduk di bangku taman.
Bayu membuka ponselnya.
"Oke. Kita mulai."
Raka menghela napas.
"Ini seperti latihan drama sekolah."
Bayu mengabaikannya.
Pertanyaan pertama.
"Kapan kita pertama kali bertemu?"
Nadia menjawab cepat,
"Acara perusahaan."
Bayu mengangguk.
"Bagus."
Ia menoleh ke Raka.
"Kau harus ingat itu."
Raka menjawab datar,
"Aku ingat. Karena aku juga ada di sana dalam imajinasimu."
Bayu melanjutkan.
"Pertanyaan kedua."
Ia membaca dari ponsel.
"Hal pertama yang membuatmu suka padaku?"
Nadia menatap Bayu beberapa detik.
Kemudian berkata dengan wajah serius,
"Kau baik."
Bayu tersenyum bangga.
Raka langsung berkata,
"Itu bohong."
Nadia meliriknya.
Raka mengangkat bahu.
"Apa? Aku hanya menjaga realisme cerita."
Bayu menunjuknya.
"Diam kau!"
Latihan itu berlangsung hampir satu jam.
Bayu bertanya berbagai pertanyaan aneh.
"Kapan ulang tahunku?"
"Apa makanan favoritku?"
"Film favorit kita?"
Raka akhirnya berkata,
"Aku punya pertanyaan."
Bayu menatapnya.
"Apa?"
Raka berkata,
"Kenapa aku masih di sini?"
Nadia tertawa lagi.
Bayu menepuk punggung Raka.
"Karena kau sahabat terbaikku."
Raka menjawab cepat,
"Aku ingin mengundurkan diri dari jabatan itu."
Saat mereka hampir selesai latihan, tiba-tiba Nadia berkata sesuatu yang membuat suasana sedikit berubah.
"Ada satu masalah."
Bayu langsung panik.
"Apa?!"
Nadia menatapnya.
"Kalau orang tuamu bertanya bagaimana kau menyatakan cinta padaku?"
Bayu langsung membeku.
"..."
Raka tersenyum miring.
"Bagus. Bagian ini belum ada."
Bayu memegang kepalanya.
"Kenapa aku tidak memikirkan ini?!"
Nadia berkata tenang,
"Kita harus membuat cerita."
Raka bersandar di bangku.
"Aku penasaran."
Bayu menatap Nadia.
"Oke… bagaimana kalau aku menyatakan cinta di taman?"
Nadia menggeleng.
"Terlalu biasa."
Raka berkata santai,
"Bagaimana kalau di tengah banjir?"
Bayu melotot.
"Apa?!"
Raka mengangkat bahu.
"Romantis."
Nadia tertawa kecil.
Bayu akhirnya berkata,
"Oke… aku tahu."
Mereka menatapnya.
"Aku menyatakan cinta di kafe."
Raka mengangguk.
"Itu masuk akal."
Nadia menatap Bayu.
"Lalu?"
Bayu berpikir keras.
"Lalu… aku berkata…"
Ia tiba-tiba gugup.
"Aku… aku…"
Raka menyela,
"Aku suka kamu, mau jadi pacarku?"
Bayu menunjuknya.
"IYA! Itu!"
Raka menghela napas.
"Aku baru saja menembak atas nama orang lain."
Nadia menatap Raka beberapa detik.
Entah kenapa…
Tatapan itu terasa berbeda.
Sore mulai turun.
Latihan mereka akhirnya selesai.
Bayu terlihat sedikit lebih percaya diri.
"Terima kasih kalian."
Raka berdiri dari bangku.
"Aku harap kita selamat dari makan malam ini."
Nadia tersenyum kecil.
"Kita akan selamat."
Bayu mengangguk.
"Iya."
Tapi kemudian ia berkata sesuatu yang membuat Raka kembali tidak nyaman.
"Karena kita pasangan yang meyakinkan."
Nadia mengangguk pelan.
"Iya."
Raka hanya diam.
Entah kenapa kalimat itu membuat dadanya terasa aneh lagi.
Saat mereka berjalan keluar taman, Bayu tiba-tiba mendapat telepon.
Ia menjawab.
"Iya Yah?"
Beberapa detik ia mendengarkan.
Lalu wajahnya berubah.
"Apa?!"
Raka menoleh.
"Ada apa?"
Bayu menutup telepon.
Menatap mereka dengan wajah panik.
"Masalah besar."
Nadia bertanya,
"Apa?"
Bayu berkata pelan,
"Ayahku mengundang keluarga besar malam ini."
Raka langsung berhenti berjalan.
"Berapa orang?"
Bayu menjawab dengan suara kecil.
"Mungkin… dua puluh."
Raka menatap langit.
Lalu berkata pelan,
"Aku ingin pindah negara."
Dan tanpa mereka sadari…
Makan malam itu tidak hanya akan menjadi ujian bagi sandiwara mereka.
Tetapi juga…
akan mengubah hubungan mereka bertiga.
Karena terkadang…
perasaan yang sebenarnya justru muncul saat seseorang berpura-pura.