Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 21
"Sebagai tamu undangan yang terhormat, seharusnya Anda memberi ucapan selamat terlebih dulu kepada Zenna karena sudah menjadi istri sah Bram Atmaja--bukan begitu, Nyonya Wangsa?"
Kalila menegur tajam dengan nada penuh penekanan, seakan menyindir. Ekspresi Kalila yang biasanya hangat dan ramah pada siapa saja, kali ini berubah dingin dan sekeras baja.
Aurel melirik Kalila sinis.
"Kelihatannya kamu dekat dengan istri Bram. Apa kamu sedang mencari kesempatan untuk naik kasta? Keluargamu cuma pengusaha travel, tak setara dengan para konglomerat dan pejabat yang hadir di sini malam ini..."
"Jaga bicaramu, Aurel!" desis Kalila. "Kamu bisa saja merasa selalu di atas angin, tapi apa kamu tahu, kalau kamu tidak hati-hati, aku bisa saja membongkar semua rahasia kelammu dan merilisnya ke publik? Kamu ingin jatuh dan hancur dengan cara itu?"
Aurel tertawa, bukan dengan nada gembira, dan raut mukanya kian menghina.
"Coba saja. Apa kamu yakin mampu melakukannya? Salah-salah, kamu yang akan berakhir di penjara, karena tuduhan mencemarkan nama baik. Hukum akan berpihak padaku, sebaiknya kamu camkan itu...!"
Kalimat terakhir Aurel membuka ingatan lama Zenna. Rendy pernah mengatakan hal yang sama ketika pertama kali bertemu Zenna dan menyelamatkannya.
Kilasan ingatan dan perselisihan tak terduga ini membuat hati Zenna kembali diliputi resah.
"Ada apa ini?"
Umi Sarah kembali muncul, ekspresinya ramah tetapi sorot matanya mengawasi dengan tajam.
"Ah, Nyonya Aurel Sanjaya. Istri Tuan Rendy Wangsa, benar? Terima kasih sudah berkenan hadir di resepsi pernikahan Zenna dan Bram. Apa Anda menikmati pestanya? Semoga hidangan yang disajikan cocok di lidah Anda, ya..."
Umi Sarah sungguh pandai mengalihkan suasana dengan basa-basi ramah. Aurel menatap malas Umi Sarah dan mendengus.
"Pesta ini bukan seleraku. Tapi karena aku sudah diundang, ya apa boleh buat. Selamat atas pernikahanmu, Zenna. Semoga kamu berbahagia... dengan mantan kekasihku itu."
Aurel tersenyum sinis sebelum melangkah pergi, meninggalkan tanya yang seketika mengganjal benak Zenna.
Aurel dan Bram... mereka pernah pacaran?
"Dasar lonte!" gerutu Kalila geram.
"Kalila, jaga ucapanmu!" tegur Umi Sarah. "Kalau kamu berulah lagi, Umi tak akan segan meminta security mengusirmu keluar! Jangan merusak pesta Zenna dan Bram--paham?"
Kalila memalingkan wajah dengan masam, sementara Zenna memandangnya dengan bertanya-tanya.
"Zenna, sini, Sayang, kenalan dan ngobrol dulu sama tamu-tamu lainnya," ajak Umi Sarah, nada suaranya kembali hangat dan ramah, seakan tak terjadi apa-apa.
Para tamu wanita itu kebanyakan istri, saudari, atau anak-anak perempuan para konglomerat hingga pejabat. Obrolan permukaan terjalin ringan di sela musik dan nyanyian yang mengalun dari panggung kecil di sudut ballroom yang berkilauan.
Zenna tak bisa ingat semua nama dan wajah yang ditemuinya malam itu. Ia kebanyakan hanya tersenyum, mengucapkan terima kasih, dan mengangguk, sementara Umi Sarah yang selalu di sisinya lebih mendominasi percakapan dengan antusias yang menyenangkan.
Mata Zenna lebih sering melirik ke layar, yang menayangkan suasana pesta. Wajahnya yang tertutup cadar tentu saja sering menghiasi layar, karena ia salah satu bintang utama acara itu, selain Bram.
Bram juga sering disorot kamera. Ia terlibat dialog dengan banyak tamu pria, yang justru lebih dikenal Zenna daripada para tamu wanita yang menyalaminya. Zenna pernah berurusan dengan para pengusaha kaya raya itu ketika masih menjadi sekretaris Rendy, entah ikut menghadiri rapat, menjawab telepon, atau berbalas pesan seputar bisnis dengan mereka.
Dan ketika Rendy mendekati Bram untuk menyalaminya dan mengucapkan selamat, rongga dada dan perut Zenna lagi-lagi terasa seakan diremat.
Bram dan Rendy mengobrol cukup lama. Entah apa yang mereka bicarakan. Raut muka keduanya cukup serius.
Ketika beberapa pebisnis memutuskan mendekati mereka dan ikut meramaikan percakapan, Rendy mundur sejenak dan menoleh ke arah kamera.
Seakan tahu wajahnya tampil di layar dan disaksikan Zenna, Rendy mengangkat gelasnya tinggi dan tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. Netra hitamnya berkilat, seolah memancarkan kekuatan gelap--seperti monster.
"Zenna...! Zenna!"
Kalila mengguncang bahu Zenna untuk melepasnya dari sensasi ngeri dan beku.
"Y-ya...?" Zenna mengerjap linglung.
"Pembawa acara menyebut namamu dan Bram--apa kamu tidak dengar? Kembalilah ke panggung, saatnya bersulang dan menutup pesta," kata Kalila.
Zenna menarik napas dalam-dalam untuk menata hati, dan berjalan agak limbung menuju panggung.
"Kamu baik-baik saja?" Bram dengan cepat memegang tangan Zenna ketika keduanya menaiki tangga berlapis karpet merah menuju panggung. Matanya tajam menelisik ekspresi dan gestur Zenna.
"Ya... hanya agak lelah, maaf," lirih Zenna, setengah berdusta.
"Tak perlu minta maaf. Pesta hampir selesai. Setelah ini, kamu bisa beristirahat dengan tenang di kamar," kata Bram menenangkan.
Zenna mengangguk, berusaha tersenyum, meski lemah.
Setibanya di atas panggung, seorang pelayan muncul membawa nampan perak yang berisi dua gelas mocktail dingin.
"Orange Ginger Fizz untuk Anda, Tuan Bram. Dan Hibiscus Iced Tea Sparkler untuk Nyonya Zenna, sesuai pesanan Tuan," ujar pelayan seraya memberikan gelas dengan warna berbeda kepada Bram dan Zenna.
"Terima kasih," ucap Zenna pelan.
"Kepada tamu pesta, terima kasih sudah berkenan hadir untuk memberi restu dan memeriahkan acara..."
Zenna tak sepenuhnya mendengarkan kata-kata sang Pembawa Acara. Tatapannya yang sayu tertuju ke lantai, seiring batinnya tak henti bergulat dengan trauma masa lalu.
Namun ketika confetti pesta diletuskan dan orang-orang berseru, "Selamat untuk Bram dan Zenna! Semoga berbahagia selamanya!" Zenna pun ikut mengangkat gelasnya dan mereguk minuman itu di balik cadarnya. Rasanya manis-sepat dengan sensasi soda tajam menyengat.
Begitu pesta selesai, orang-orang mulai bergerak meninggalkan ruangan, termasuk Bram dan Zenna.
Namun baru beberapa langkah meninggalkan panggung, tiba-tiba kepala Zenna berputar hebat. Jantungnya berdebar kencang. Perutnya bagai ditikam pedang, dan ia merasakan mual yang tak tertahankan.
"Zenna, kamu baik-baik saja?" tanya Bram was-was, saat Zenna mendadak limbung di sisinya.
Tetapi Zenna tak bisa menjawab. Ia muntah sejadinya hingga lututnya goyah dan membentur lantai pualam.
"Zenna!"
Bram merengkuh Zenna dengan panik. Darah mulai mengalir dari mulut Zenna, seiring sensasi nyeri di tubuhnya meningkat, dan organ-organnya seperti terbakar.
"B-Bram...," Zenna megap-megap, kepalanya bagai dihantam badai dan ia tak bisa lagi melihat sekitar dengan jelas. "Tolong..."
Suara Zenna terputus. Neraka asing itu kian dahsyat membakar tubuh dan dengan cepat menyurutkan kesadarannya.
Teriakan Bram adalah hal terakhir yang didengar Zenna, sebelum ia terbenam sepenuhnya dalam kegelapan total tanpa makna.
***