AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 9
Wira membawa mobilnya seperti orang kesetanan. Harga dirinya jelas terluka melihat istrinya pergi dengan lelaki lain.
Saking mengebutnya dia, sampai-sampai mobilnya sudah mendahului motor Dean. Dengan gerakkan presisi Wira memutar setir mobil hingga mobilnya melintang memaksa Dean menghentikan laju motornya secara mendadak.
Dugh!
Aduh!!
Helm yang di pakai Dean dan Audrey saling beradu cukup keras.
"Drey, kamu gapapa kan ?" tanya Dean memastikan keadaan Audrey.
"Iya, gue gapapa." Jawab Audrey sambil membuka helm nya.
Dibelakang, mobil James pun ikut berhenti.
Sebelum semuanya menyadari, Wira sudah lebih dulu turun dari mobilnya. Dia berjalan dengan kepala tegak ke arah Audrey.
Tanpa mengucap sepatah katapun Wira langsung mengangkat tubuh mungil Audrey hingga membuat kedua kaki gadis itu kembali menginjak tanah lagi.
Wira menggenggam tangan Audrey, erat.
"Lepasin!" Audrey memberontak.
James dan Lula sudah turun.
"Jangan membuatku semakin marah!!"
"Lepasin Audrey!!" Dean ikut turun, "Jangan kasar sama perempuan!!" Dean menggenggam tangan Audrey yang lain membuat kemarahan Wira hampir sampai puncak.
"Lepaskan tangan mu sebelum kupatahkan!!" Suara Wira berat dan dingin. Ekspresi nya tetap datar meski sudah sangat marah.
Dengan sekali hentakan, Audrey sudah berada di balik tubuh Wira. Wira berdiri tepat di hadapan Dean.
"Sekali lagi aku melihat mu menyentuh istri ku, kuhabisi kau!!"
Setelah mengatakan itu, Wira langsung membawa Audrey masuk ke dalam mobil.
"Dean, lo gapapa ?" James menyentuh bahu Dean yang masih mematung di tempat nya meski mobil Wira sudah tak kelihatan lagi.
"Gila! Suaminya si Audrey kalau marah serem banget, kek mau makan orang, njirr! Merinding gue.." Timpal Lula sambil mengusap seluruh bulu harus di lengan nya yang tiba-tiba meremang.
🏵️
Wira menghentikan mobilnya di tempat yang cukup sepi. Dia harus meluruskan sebelum masalah semakin besar.
"Jangan kamu ulangi lagi!!" Wira berkata dengan tegas.
Audrey bergeming. Gadis itu diam saja tak bereaksi.
"Dengar tidak ?"
Audrey tetap diam.
Wira mencopot sabuk pengamannya dengan kasar, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Audrey hingga jarak wajah mereka tinggal beberapa centi saja.
Audrey tertegun sambil menggigit bibir bawah.
Hening beberapa saat menyelimuti mereka berdua.
"Jangan pernah melakukan hal seperti tadi lagi!!" Suara Wira parau dan terdengar jauh lebih lembut. "Jangan pergi dengan pria manapun selain dengan ku, hum ?!"
Jantung Audrey berdegup kencang.
Wajah Wira semakin dekat, tinggal sedikit lagi bibir tebal nya menempel di bibir Audrey.
Sampai tiba-tiba....
Hoek!
Audrey merasakan guncangan hebat di perutnya. Dia mendorong tubuh Wira menjauh lalu keluar dari mobil untuk mengeluarkan isi perutnya.
Hoek! Hoek.
Audrey muntah.
Wira yang khawatir bergegas menyusul dan membantu Audrey dengan memijat tengkuknya.
Audrey terus muntah sampai wajahnya berubah pucat. Tanpa Wira tau, ketika Wira hampir menciumnya, sekelebat bayang-bayang pelecehan yang Audrey alami saat kecil melintas di depannya. Membuat Audrey merasakan mual dan jijik yang luar biasa.
Wira mengambil sebotol minum dari dalam mobil lalu dia membantu Audrey untuk meminumnya. Namun belum sempat Audrey menelan air bening tersebut, gadis itu tiba-tiba lunglai tak sadarkan diri.
Untungnya Wira sigap menahan tubuh Audrey hingga tubuh mungilnya tak sampai menyentuh aspal.
Dengan panik Wira membaringkan Audrey di kursi belakang. Kemudian dia membawa Audrey ke klinik terdekat.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok ?" Tanya Wira saat dokter umum itu selesai memeriksa Audrey.
"Pasien mengalami shock. Biasanya Shock ini dialami jika pasien mengalami trauma ekstrem. Mungkin sebelum pasien pingsan, ada hal yang memicu trauma nya kembali. Tapi untuk saat ini biarkan pasien beristirahat sampai cairan infusnya habis."
Setelah mendengar penjelasan dokter, Wira masuk kembali ke dalam ruang rawat inap di klinik itu.
Wira duduk di samping brangkar, menatap Audrey dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Trauma," Gumam Wira dalam hati.
Wira berpikir keras, kira-kira apa yang memicu trauma Audrey sampai-sampai membuat Audrey muntah-muntah sampai pingsan.
🏵️
Setelah siuman, Wira langsung mengantar Audrey pulang kerumahnya. Ke Mansion milik keluarga Bimasena.
"Aku mau pulang." Kata Audrey dengan suara lemah.
"Jangan buat orang tua mu khawatir. Sementara tinggal-lah disini sampai keadaan kamu lebih baik."
Wira membawa Audrey masuk ke kamar nya di lantai tiga dengan menggunakan lift.
Kesan pertama masuk ke kamar Wira sungguh luar biasa. Kamar itu sangat besar bahkan lebih besar dari kamar Audrey. Kamar Wira di dominasi oleh warna black and gold. Warna yang memberi kesan elegant dan misterius.
"Istirahatlah. Aku mau ambil koper mu di mobil."
Wira meninggalkan Audrey sendirian di kamar nya.
Pandangan Audrey menyusuri setiap detail di kamar Wira.
"Di kamar sebesar ini tapi dia tidak memajang satu foto pun.." ucap Audrey dalam hati.
Audrey duduk di tepi ranjang, mengusap sprei yang terasa dingin tapi amat lembut.
"Kak, sikap mu sungguh membingungkan. Semalam kau meninggalkan ku, dan tadi kau justru mengejarku dan bahkan mau mencium ku...Ada apa dengan dirimu sebenarnya ?!" Batin Audrey
Selang beberapa menit Wira masuk kembali ke dalam kamar nya.
"Ini kopermu." Wira mendorong koper ke sisi Audrey. "Kata dokter kamu harus banyak istirahat supaya tidak pingsan lagi seperti tadi!"
Tanpa berkata Audrey naik ke atas tempat tidur, dia berbaring sambil menarik selimut tinggi-tinggi.
"Kalau sudah selesai tolong keluar, aku mau istirahat!" Ucap Audrey tenang namun dingin.
Wira menatap Audrey yang berbaring membelakangi nya. "Ini kamarku! Aku tidak akan pergi kemanapun!"
Audrey bangun lagi, membalas tatapan tajam Wira tepat di bola matanya.
"Semalam kakak sendiri yang bilang tidak mau sekamar dengan orang lain, aku masih ingat setiap detail kalimat yang kakak ucapkan. Jadi sebelum perdebatan ini semakin panjang, silahkan keluar dari sini!!"
Wira terdiam. Tapi hanya sebentar. Dan didetik berikutnya dia kembali berkata sinis.
"Itu kemarin, bukan berarti hari ini pun begitu."
Audrey tersenyum getir. "Jangan permainkan hati seseorang atau kelak kakak akan menyesalinya!!"