NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Montgomery-Caleb, memantulkan cahaya pada peralatan makan perak yang tertata rapi.

Suasana pagi itu seharusnya tenang, namun ada ketegangan halus yang menggantung di udara saat Alistair duduk di kursinya. Ia mencoba menundukkan kepala sedalam mungkin, pura-pura sangat fokus pada sereal di mangkuknya. Namun, ia lupa bahwa ibunya, Freya Montgomery, memiliki mata seorang pengacara yang mampu mendeteksi kebohongan sekecil apa pun.

Freya meletakkan cangkir tehnya dengan suara denting halus yang membuat Alistair sedikit berjengit.

"Alistair, tatap Mommy sebentar," suara Freya terdengar tenang, namun mengandung nada perintah yang tak bisa dibantah.

Alistair mendongak perlahan. Di sudut bibir kirinya, sisa kejadian semalam masih terlihat jelas. Luka pecah itu sudah mengering, meninggalkan bekas kebiruan yang samar di bawah kulitnya yang putih.

Freya terdiam beberapa detik, memperhatikan luka itu dengan saksama. Alistair sudah bersiap untuk mendengar ceramah panjang tentang keamanan atau risiko klub motor. Namun, yang keluar dari mulut ibunya justru sebuah tawa kecil yang terdengar sangat bangga.

"Wah, anak Mommy sudah pintar berkelahi ya sekarang?" ucap Freya sambil tersenyum simpul. Ia menoleh ke arah Lucky yang baru saja turun mengenakan setelan kantornya. "Dad, lihat. Anakmu sudah benar-benar besar. Wajah pangerannya sudah punya tanda perang pertama."

Lucky mendekat, berdiri di samping kursi Alistair. Ia meletakkan tangan besarnya di bahu sang putra, lalu membungkuk sedikit untuk memeriksa luka itu. Alih-alih marah, Lucky justru mengulas senyum bangga yang sama dengan istrinya.

"Pecah sedikit," komentar Lucky singkat. "Siapa yang kena pukul olehmu, Al? Kalau melihat bekasnya, sepertinya kau menang."

Alistair sedikit tertegun. Ia lupa bahwa orang tuanya bukanlah pasangan biasa. Mereka adalah dua orang yang pernah berjuang melawan tradisi keluarga besar dan tekanan dunia demi cinta mereka. Mereka paham bahwa luka adalah bagian dari proses menjadi pria.

"Aku hanya membela diri, Dad. Namanya Jax dari klub rival," jawab Alistair jujur.

"Bagus. Jangan pernah mencari gara-gara, tapi jangan pernah lari jika orang lain yang mencarinya," ucap Lucky sambil menepuk bahu Alistair dua kali. "Habiskan makanmu, Jagoan. Kau harus ke sekolah."

Freya berdiri, mengusap kepala Alistair dengan penuh kasih sebelum berangkat ke kantor. "Jangan lupa bersihkan lukanya lagi nanti siang. Mommy tidak mau punya anak yang wajahnya cacat gara-gara infeksi."

.

.

Saat motor cafe racer Alistair menderu masuk ke parkiran Beverly Hills High, semua mata langsung tertuju padanya. Kabar tentang insiden di Sunset Boulevard sudah menyebar secepat kilat di media sosial, meski dalam versi yang simpang siur. Namun, saat Alistair melepas helmnya dan menampakkan luka di bibirnya, seluruh sekolah seolah mendapatkan konfirmasi.

Berry Klatten sudah berdiri di sana, di dekat pintu masuk koridor. Ia tidak memedulikan tatapan teman-temannya saat ia langsung menghampiri Alistair.

"Alistair! Kau berdarah!" Berry berseru dengan nada panik, tangannya hampir menyentuh wajah Alistair sebelum pria itu sedikit menjauhkan wajahnya dengan sopan.

"Video semalam itu benar, kan? Kau bertarung dengan geng motor itu? Apa kau ke rumah sakit? Kenapa tidak membalas pesanku dengan benar?"

Alistair hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tenang, yang selalu berhasil membuat Berry kehilangan kata-kata.

"Aku baik-baik saja, Berry. Hanya luka kecil," jawab Alistair lembut.

"Kecil katamu? Ini bisa meninggalkan bekas, Al! Dan kau... kau bisa saja terluka parah!" Berry terus memberondongnya dengan pertanyaan bertubi-tubi sambil berjalan di samping Alistair menuju loker.

"Siapa yang melakukannya? Ayahku bisa melaporkan mereka ke kepolisian, kau tahu? Kita bisa menuntut mereka—"

"Ber," Alistair menghentikan langkahnya, menatap Berry dengan mata cokelatnya yang jernih. "Terima kasih sudah khawatir. Tapi ini masalah klub motor, bukan masalah hukum. Aku sudah menyelesaikannya semalam."

Berry terdiam, menatap luka itu dengan rasa pedih di hatinya. "Kau selalu begitu. Menjauhkan aku dari duniamu seolah aku ini orang asing."

Alistair menghela napas pendek. "Kau bukan orang asing, Berry. Kau teman baikku. Dan aku ingin kau tetap menjadi teman yang tidak perlu ikut berdarah-darah di jalanan. Paham?"

Kalimat "teman baik" itu kembali keluar. Berry tahu itu adalah tembok yang sengaja dibangun Alistair. Meski Alistair tersenyum dan memperlakukannya dengan sangat sopan, tidak ada binar romantis di mata pria itu.

Bagi Alistair, Berry adalah sahabat yang pintar, rekan diskusi yang menyenangkan, namun belum ada percikan asmara yang mampu menggetarkan hatinya seperti melodi gitar yang ia ciptakan.

"Ayo ke kelas. Pak Henderson tidak suka kalau kita terlambat pelajaran sejarah," ajak Alistair, seolah tidak terjadi apa pun yang besar semalam.

Pelajaran sejarah berlangsung selama dua jam berikutnya. Di dalam kelas yang sejuk, Alistair duduk dengan postur tegak. Ia membuka buku catatannya, jemarinya bergerak lincah menuliskan poin-poin penting tentang Revolusi Industri.

Bagi Alistair, belajar adalah cara ia menghargai perjuangan ibunya yang dulu lulus dari Oxford dalam kondisi yang sangat sulit. Ia memiliki kapasitas otak yang luar biasa—warisan genetik Montgomery yang tak terbantahkan. Di saat teman-temannya sibuk berbisik membicarakan luka di bibirnya, Alistair justru tenggelam dalam konsentrasi yang dalam.

Sesekali, ia melirik ke arah Berry yang duduk di baris depan. Gadis itu tampak terus mencuri pandang ke arahnya, memastikan bahwa Alistair benar-benar tidak kesakitan. Alistair hanya memberikan anggukan kecil setiap kali mata mereka bertemu, sebuah kode tanpa suara yang mengatakan, "Aku oke, fokuslah belajar."

Alistair sadar, umurnya baru 16 tahun. Dunia asmara yang diributkan oleh teman-temannya terasa seperti bahasa asing baginya. Ia merasa jauh lebih hidup saat tangannya kotor karena oli di markas bersama Daniels, atau saat ia beradu argumen tentang filsafat hukum dengan kakeknya, William.

Cinta, bagi Alistair, adalah sesuatu yang sakral dan berat. Ia melihat ayahnya melepaskan gelar bintang dunia demi cinta. Ia melihat ibunya menanggung aib keluarga demi cinta. Dan Alistair merasa, sebelum ia menemukan wanita yang membuatnya rela melakukan hal yang sama, ia lebih baik tetap pada status "teman baik".

Bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran berakhir. Alistair segera membereskan bukunya. Ia memiliki jadwal pertemuan di markas sore ini untuk membahas strategi keamanan bersama Ethan, Rhys, James, dan Thomas.

"Al, kau mau ke kantin?" tanya Berry penuh harap.

"Maaf, Ber. Aku harus ke markas. Daniels menungguku," jawab Alistair sambil menyampirkan tas ranselnya di satu bahu.

Ia berjalan keluar kelas dengan langkah yang pasti. Luka di bibirnya mungkin terlihat samar, namun keberanian yang tumbuh di dalam dirinya semakin nyata. Ia adalah Alistair Caleb, putra dari seorang legenda pop dan seorang penguasa bisnis, yang kini sedang menuliskan sejarahnya sendiri—satu pukulan dan satu senyum sopan dalam satu waktu.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!