Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Salah Paham
"Cih, dasar Liya si gendut tidak tahu malu, menggoda bergilir! Kemarin Bayu, sekarang ditambah menggoda Pidi!" Feyyi, si angsa cantik itu mengejek.
"Tampan jelek seperti babi hutan banyak gaya!" Dia menatap penuh kebencian pada Liya. 'Huh, aku mau lihat berapa banyak lagi nyawamu? Pasti nanti malam akan mati!' Feyyi tersenyum evil.
"Jika butuh bantuan, kami bisa bantu kamu Liya," kata Pidi. Liya menoleh, tangannya penuh dengan tanah liat.
Tungkunya tanpa sekam jerami, karena tak ada jerami, jadi dia memakai daun ilalang di sekitar, dicampur pasir.
Pidi dan Bayu berjongkok. "Ini tungku?"
"Ya, tungku. Memasak jadi lebih nyaman, hemat kayu bakar. Lubang yang ini, untuk memasukkan kayu bakar, lalu di geser ke sini untuk arang, di sekitar di tutupi, hanya menonjolkan dua lubang di atas saja."
"Tadi, katanya kalian mau bantu aku 'kan? Kebetulan sekali, nanti malam maukah kalian membantuku?" Liya teringat Loki datang tadi malam dengan marah, menuduh diberikan obat perangsang, seingat Liya, pemilik tubuh ini hanya melakukan sekali, itu pun juga di hasut oleh Feyyi.
Jadi, Liya ingin menjadikan dua suaminya ini sebagai saksi, sementara dua suaminya itu saling pandang dengan meneguk saliva, menggeleng dengan ragu. Mereka salah paham besar.
"Baik, aku akan datang nanti malam," kata Pidi.
Mengingat makanan enak, Bayu ingin sekali, tapi dia tidak ingin kawin dengan Liya, sungguh! "A-aku nanti malam sepertinya tidak bisa Liya, ada keperluan," tolak Bayu.
"Oh, ya sudah, kalau begitu aku sama Pidi saja. Kamu beneran mau 'kan Pidi?" tanya Liya.
"Iya, saya mau," jawab Pidi tegas.
Saat langit mulai gelap, Pidi kembali ke tempat Liya, dia berpakaian rapi dan wangi. Rambutnya di sisir, kuku dan giginya di gosok kinclong. Senyumannya lebar sepanjang jalan.
"Liya." Panggilnya di depan pintu rumah, segan jika langsung masuk, takut di tolak.
"Kamu sudah datang Pidi!" Liya muncul dari dalam rumah, di keluar sambil membawa sesuatu.
Liya menatap ke arah Pidi, melihat dari atas hingga bawah, suami harimaunya ini sangat tampan, wangi, kulitnya eksotis, senyumannya manis memikat. Pakaiannya tampak indah, sayang rasanya jika baju sebagus ini di ajak berendam.
"Ayo!" Liya menarik tangan Pidi ke arah hutan kecil dekat rawa-rawa.
Saat baru sampai, Liya menatap Pidi lagi dari atas hingga bawah. "Lepaskan bajumu!"
"Ah, sekarang, di sini?" Wajah Pidi merah, telinganya juga, malu-malu mau. Ekornya sedikit bergoyang, dia melepas bajunya dengan patuh.
"Sayang banget kalau baju kamu sebagus ini jadi kotor kan?" kata Liya.
"Tidak apa-apa kotor, jika itu untuk betinaku." Suara Pidi lembut, nafasnya menjadi hangat.
"Oh, ayo kita mulai." Liya langsung berjalan ke rawa. Meletakkan yang dibawa, memasukkan ke dalam lubang di rawa.
Pidi tercengang, masih melongo dengan memegang baju yang baru dia buka.
"Cepat kemari Pidi, letakkan bajumu di daratan itu, agar tidak kotor!" teriak Liya yang tidak tahu isi kepala jantannya.
Pidi mendekat, ikutan jongkok di samping betina gendutnya. "Ini namanya ngapain Liya?" Pidi berbisik.
"Lagi nangkap ikan lele dan belut rawa! Ih, enak sekali ini. Tanah di sini tidak tercemar, pasti dagingnya manis! Nanti buat goreng belut dan pepes ikan lele," ucap Liya.
Mendengar makanan, Pidi langsung mengeruk lubang lain di sebelah Liya, langsung dapat lele. Liya menoleh.
"Kamu bisa menangkap ini dengan mudah pakai tangan? Nggak perlu di pancing dulu?" Hahahaha, Liya tertawa kecut. Tubuhnya ini yang lemah, suaminya tidak.
"Aku bisa Liya. Kamu mau berapa banyak?" tanya Pidi perhatian. Tadi dia mengira Liya akan mengajaknya kawin di rawa-rawa ini. '*Pikiran yang memalukan, untung saja aku sebelum menggigit lehernya*.'
"Banyak. Nanti aku simpan di ruang penyimpanan sisanya, jadi kalau pengen makan lele atau belut waktu lain, gak repot-repot malam-malam nangkep ke sini lagi!" jawab Liya.
"Aku tidak merasa repot, kalau Liya mau, tiap malam aku bisa tangkap." Sambil menjawab, tangannya tetap bekerja.
Liya senang liar biasa, malam ini panen raya ikan lele dan belut rawa. Tak cukup satu jam, sudah dapat banyak.
"Ayo, kita kembali Pidi, aku akan langsung memasaknya. Kamu belum pernah makan dua ikan ini kan?"
"Iya, belum pernah, aku menanti masakan Liya."
"Hm, tapi tubuhku kotor, bertanah begini dan harus membersihkan ikan dulu juga, apa ... kamu nggak apa-apa kalau ke sungai dulu?"
"Ayo aku gendong kalau begitu, biar cepat!" Pidi langsung bersujud, tubuhnya berubah menjadI harimau besar sepenuhnya, dia membesarkan wujud hewannya lebih besar lagi, agar Liya bisa nyaman duduk di punggungnya. "Silahkan naik Liya."
Liya naik dan tertawa geli saat menunggangi harimau, dia menutup mulutnya agar tidak terdengar tertawa di sepanjang jalan. Saat mereka sampai di sungai, ada Bayu juga di sana rupanya.
"Kalian sampai kotor begini, bergumul dimana?" Bayu merinding sebadan-badan, memikirkan Pidi di perkosa Liya sampai babak belur. '*Untung aku tidak datang, aku masih perjaka*!'
"Cari ikan di rawa!" jawab Pidi singkat, lalu Liya turun dari punggungnya, membersihkan ikan dengan belati yang diberikan Pidi.
Setelahnya Liya membersihkan diri. Pidi mencuri-curi pandang, Liya sangat berbeda dari sebelumnya. Liya sekarang bersih, sopan, pandai masak dan tidak berkata kasar, tidak pernah memaksa dan egois. Dia tambah suka!
"Beneran cari ikan?" tanya Bayu yang mengikuti Pidi berjalan mendekat ke tepi sungai.
"Iya, aku buka baju biar tidak kotor terkena tanah." Setelah berkata seperti itu, dia segera jongkok, membersihkan tangannya yang bertanah sebelah, habis mengeruk lubang-lubang di rawa."
Awalnya Bayu tak percaya, tapi melihat banyak ikan aneh yang dibersihkan Liya, dia baru percaya. "Ini ikan apa? Aku baru lihat!"
"Ini ikan lele, kalau ini ikan belut! Mereka sering hidup di rawa-rawa, tanah basah, tidak di air mengalir seperti sungai. Kalau ikan bakar kemarin, namanya ikan sungai dan banyak juga nama jenis nya, lain kali aku kasih tahu! Aku dan Pidi harus cepat kembali, mau makan belut goreng dan pepes lele!"
'*Makan? Makan goreng belut dan pepes lele*!' Bayu menyesal, dia mau makan juga, makan enak!
"Itu ... aku sudah selesai, baru saja selesai, apa ada yang bisa aku bantu kerjakan?" tanya Bayu tergesa-gesa. Dia mau itu! Matanya tak lepas dari ikan-ikan yang dipegang Liya.
Pidi jelas gak suka! Tadi Bayu menolak, kini dengar makanan langsung mau. '*Dasar tak tahu malu*!' Menatap kesal Bayu.
Liya berpikir, kemudian tersenyum, menunjuk ke arah sungai nan berbatu. "Bagaimana kalau kamu bantu aku bawa batu-batu kecil dan batu yang besar itu ke tempat tinggal ku, bawa yang banyak ya, aku tunggu sambil masak, mau?"
"Mau!" jawab Bayu cepat, langsung ke sungai, mengeluarkan kekuatan elemennya, menarik batu-batu kecil sampai terkumpul menggunung kecil.
"Ayo Pidi, bawa aku keliling sekitar sana dulu, aku mau ambil daun untuk bungkus pepes, tadi aku lihat di sini ada pohon pisang hutan dan beberapa tanaman lainnya!"
"Baik."