"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAYAT ?
BAB 20
Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan bagi Alisya tapi herannya wanita itu masih terus melakukannya, siapa yang dia tunggu?
Tentu saja suaminya!
Tama pulang telat malam ini, ada beberapa hal yang harus dia selesaikan malam ini juga, Tama tidak bisa menundanya, karena jika sudah berurusan dengan pekerjaanya Tama pasti mendahuluinya.
Seprofesional itu memang Tama.
“Tidurlah lebih dulu Non, Ibu hamil tidak baik bergadang..” Alisya menoleh karena seseorang mengusap pundaknya, begitu lembut sehingga menciptakan kenyamanan tersendiri.
“Tidak Bi, aku mau menunggu Mas Tama! Kenapa dia jam segini belum pulang? Dia tidak memberitahuku akan pulang telat, ponselnya juga tidak aktif.”
Kedua mata wanita itu sudah berkaca – kaca, berulang kali Alisya mencoba menghubungi Selin tapi tetap saja tidak ada jawaban, entah kemana perginya mereka.
“Di minum dulu Non..” Alisya menoleh lagi.
“Apa ini Bi?”
“Ini susu Hamil Non, sangat baik buat perkembangan janin Non..” Alisya tersenyum dia bahkan belum memberi kandungannya nutrisi apapun, beruntung ada Bibi Fatimah yang peka dengan keadaan Nona mudanya.
“Bi terimakasih sudah baik sama aku.”
“Non Ini ngomong apa? Sudah seharusnya dong, ayo di minum nanti keburu dingin.”
Alisya mengangguk dia meminum Susu buatan Bibi Fatimah hingga habis tak tersisa.
Lama menunggu akhirnya Alisya tertidur juga, bahkan dia tidak menyadari kedatangan Suaminya .
Pukul tiga pagi Tama pulang, lelaki itu memasuki rumah dengan sikap yang sangat tenang, namun saat membuka pintu ketenangannya berubah meenjadi keterkejutan.
“Astaga, Bibi Belum tidur?”
Wanita setengah paruh baya itu tersenyum, menghampiri Tuan mudanya dan meraih jas hitam di tangannya.
“Bagaimana Saya bisa tidur Den, Nona terus terjaga.” Tama mengamati wajah sang Istri yang sudah tertidur di sofa, namun Lelaki itu tak berani menyentuhnya.
“Maafkan saya Bi” Fatimah mengangguk dan membantu membawakan tas milik sang Majikan.
“lepaskan dulu bajunya Den, banyak darahnya itu, biar Bibi langsung cuci..”
Tama tersenyum sejak Tama kecil Fatimah memang sudah tinggal bersamanya, bahkan bisa di bilang Fatimah ini adalah ibu ke dua bagi Tama, jadi Fatimah sangat tau bagaimana majikannya itu.
Setelah membersihkan diri Tama membawa sang istri ke kamarnya, di gendong dengan perlahan, sangat takut cantiknya itu terbangun.
“Sayang... Maafkan aku membuat kamu menunggu..”
Tama menyelimuti tubuh mereka sehingga keduanya terlelap.
Pagi harinya, Alisya terbangun lebih dulu, semalam dia sudah sangat mengantuk, di tengoknya sang suami yang masih terpejam, Alisya tersenyum.
“Pulang jam berapa kamu mas? kenapa aku sampai tidak sadar kamu pulang..” Alisya mengecup pipi sang Suami sehingga membuat tidurnya terganggu.
“Maaf Mas..”
“Hmmm sayang, sudah bangun?” Alisya mengangguk, rasanya dia enggan untuk bangun, tapi Alisya tidak bisa bersantai, dia harus membuat sesuatu untuk suaminya makan.
“Hey mau kemana?” Tama menahan tangan Alisya yang ingin beranjak, Alisya menoleh padahal tangannya masih sibuk menguncir rambutnya
“Aku mau buatkan kamu Sandwich..” Tama langsung menggeleng, dia menarik tangan Alisya sehingga wanita itu kembali terjatuh di pelukannya.
“Jangan kemana – mana, tetaplah disini..”
Alisya mengalah, namun perutnya terasa tidak nyaman.
“Mas minggir!” Alisya langsung berlari.
“Huueeekkk!!”
“Astaga, sayang kamu kenapa?”
“Kamu bau mas! Bau banget anyir!”
Tama mengerutkan dahinya, bau anyir? Bagaimana mungkin? Semalam dia sudah membersihkan seluruh tubuhnya dengan baik, dan Tama yakin semua kotoran, virus bahkan dosa dalam dirinya sudah musnah, bagaimana bisa istrinya mencium bau Anyir?
“Bau Anyir, maksud kamu Sayang?”
“Apa kamu terluka Mas? Kamu bau sekali Darah!”
Deg!
Tama mengamati wajah Istrinya yang memerah, tapi dia masih terheran – heran.
“Mas kamu luka tidak?”
Tama tersadar saat Alisya memeriksa tubuhnya, tapi memang saat pulang semalam Tama tidak meninggalkan luka.
“Aku baik – baik saja sayang, aku tidak terluka sedikitpun..”
Alisya mengendus kembali tubuh sang Suami yang ternyata tidak tercium bau apapun.
“Lantas tadi bau Anyir dari mana Mas?”
Tama memeluk tubuh Istrinya, rasa takut dalam dirinya kembali muncul, rasa takut kehilangan yang sangat mendalam.
“Semua karena kesalahan dalam hidupku sayang, kesalahan yang membuat aku seakan tak pantas berada di pelukanmu, bagaimana jika suatu saat kamu mengetaui kebenarannya? Apakah kamu akan memaafkan aku?”
Tama membatin, dia melinangkan air matanya, dia tak kuasa menahan tangis saat terbayang kembali tentang masalah dalam hidupnya.
“Kamu kenapa Mas? Kenapa diam saja?” Alisya mengusap wajah Tama yang sejak tadi terdiam, bahkan tatapan Pria itu sangat kosong.
“Tidak sayang.. aku hanya lelah, semalam aku lembur.”
Alisya menganggukan kepala kembali di peluknya sang suami sehingga membuat Pria itu merasa nyaman.
“Ah, aku rindu pelukan ini sayang..” Alisya tertawa, ada – ada saja memang lelakinya ini, hampir setiap malam dia memeluknya bahkan tangan jail ini tak pernah lepas memegang tubuhnya, tapi masih bisa dia berkata rindu.
“Mas?”
“Hmmm?” Wajah tampan nan mempesona itu menoleh.
“Mas bolehkah aku tanya sesuatu?”
“Tentu saja, mau tanya apa sayang?”
Tama memiringkan sedikit tubuhnya, kali ini dia sangat penasaran mau bertanya tentang apa Istrinya itu.
“Pria yang waktu itu di Italia, yang kita jumpai di pesta..”
“Yang mana sayang?” Tama mencoba mengingat namun lama menatap Tama mengingat akan sesuatu.
“Aku tidak tau siapa Mas, tapi sepertinya rekan kerja kamu..”
Kini Tama tau siapa yang Istrinya maksud, tapi ada apa? Kenapa Istrinya ini bertanya dengan Pria yang di jumpainya itu?
“Kenapa dengan dia sayang? Kenapa secara tiba – tiba kamu bertanya tentang dia? Apa kamu mengenalnya?”
“satu – satu pertanyaanya Mas...” Alisya tertawa namun Tama masih dengan wajah dinginnya.
“Aku hanya bertanya Mas, apa dia teman kerja kamu? Karena beberapa waktu lalu aku jumpai dia di Cafe,”
Sontak saja kedua mata Tama melotot, satu kabar yang sangat membuatnya terkejut..
“Kapan?” tanpa sadar Tama menaikan nada bicaranya.
“Beberapa waktu lalu..” Jawab Alisya dengan santai.
“Dimana?”
“Cafe mas, aku lupa waktu itu aku bertemu dengan dia..”
“dia melakukan sesuatu padamu? Atau melukai kamu?” Alisya menggeleng dia pun merasa kebingungan kenapa Suaminya ini terlihat cemas sekali.
“Kamu tuh kenapa Mas?”
Tama menormalkan kecemasannya, menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, dia baru menyadari bahwa Kevin sudah bertindak sangat jauh.
“Sayang dengarkan aku!”
Tama memegang kedua bahu sang Istri dan mulai memberikannya pengertian.
“Sayang.. Dengarkan Mas, apapun yang terjadi jangan dekat – dekat sama dia ya,, jika dia yang mendekati kamu atau tidak sengaja bertemu dengannya, menjauhlah, atau minta pertolongan dengan seseorang.”
Alisya mengerutkan dahinya dia sangat tidak mengerti.
“Kenapa Mas? Dia tidak berbuat apapun, kami hanya berkenalan..”
“Dengarkan saja ucapan Suamimu ini sayang..”
“Baiklah..”
Lebih baik Alisya menurut saja, walaupun dia sangat penasaran tapi dia tidak berani bertindak lebih jauh lagi, karena saat ini wajah suaminya sudah memerah, sudah menandakan bahwa Tama tengah menahan emosinya.
“Mas?”
“Iya sayang?”
“Besok Mas kerja?”
“Iya, kenapa hhmm?” walaupun dalam keadaan marah Tama masih terlihat tenang, dia bisa mengambil sikap dengan istrinya.
“Besok aku mau keluar lagi sama Jessika, Boleh Ya?”
Kali ini Tama langsung mengangguk, setidaknya ada Argo yang bisa dia percaya untuk memantau Istrinya.
“Baiklah,, tapi Mas tetap meminta Argo memantaumu ya..” Alisya mengangguk dengan bahagia, dia begitu Happy suaminya tidak melarang dia.
“Makasih sayang..”
“Sama – sama..” Keduanya berpelukan dan dalam sekejap amarah Tama pun mereda, mana bisa juga dia marah dengan Istrinya, jangankan marah menaikan nada bicara saja sangat jarang terjadi.
Alisya menoleh saat mendapati ponsel suaminya menyala, satu panggilan dari PEDANG ABADI.
Dan itu berarti dari sang asisten suaminya.
“Angkat sayang.”
Alisya menekan logo biru hingga panggilan terhubung, si cantik itu menekan pengeras suara.
“Kenapa Sein?”
“Sudah bangun?”
“Hmmm, Why?”
“Mau diapakan mayat ini Tam?”
Deg!
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya