Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua wanita cerdik
"Kita bisa makan sekarang?"tanya pria paruh baya memecah keheningan di meja makan bundar.
"Tunggu Dominic sebentar mas."ucap Devina istri pria paruh baya itu.
Semua orang tengah berkumpul di meja makan, orang tua Vallerie juga kedua orang tua Eleanor. Ibu Vallerie seperti biasa datang dengan suaminya, yang bukan ayah kandung Vallerie dengan anak kecil sekitar umur lima tahun di dekat mereka, anak ibu Vallerie dengan suami barunya. Vallerie tersenyum singkat saat wanita itu begitu menyayangi anaknya dari laki-laki baru nya, tapi menyianyiakan anak lain yang jelas juga butuh perhatian, sejak kecil sudah ditelantarkan, saat besar dibuang.
"Kemana anak itu? Buat malu saja!"kesal pria paruh baya itu.
"Tidak apa-apa, Vincent. Tunggu sebentar tidak masalah."ucap Esmeralda ibu Eleanor.
Tidak lama setelah mereka diam menunggu Dominic, orang yang ditunggu itu datang sambil menggandeng seorang wanita, penampilan wanita itu sederhana, namun cukup cantik.
Vallerie yang berada disebelah Eleanor memegang tangan nya saat wanita itu hendak berdiri. Vallerie menggeleng kecil, Eleanor tidak boleh gegabah, dia tidak boleh melabrak wanita itu, setidaknya bukan sekarang.
Semua orang menatap Dominic yang menarik kursi untuk Aleta duduki, dan setelah itu duduk disebelah wanita itu.
"Maaf menunggu lama."ucap Dominic yang di angguki semua orang.
Makan malam berjalan dengan lancar. Sesekali para orang tua bercerita kecil tentang masa-masa muda mereka sementara Eleanor sibuk menatap tajam Aleta.
Vallerie yang paham emosi Eleanor berdiri dari duduknya membuat semua mata tertuju padanya. Setelah pamit undur diri, Vallerie menarik tangan Eleanor pergi dari sana.
Vallerie membawa Eleanor duduk di kursi yang disediakan di dekat kolam renang.
Lampu yang berpendar temaram memantul di permukaan air kolam yang tenang, menciptakan suasana sunyi. Eleanor masih mengatur napasnya yang memburu, emosinya masih tersulut melihat betapa perhatian nya Dominic terhadap wanita itu.
"Ternyata Dominic benar-benar membawa dia kesini? Aku tidak menyangka ini!"kesal Eleanor.
"Tenangkan dirimu, Elea. Dia kesini," bisik Vallerie pelan.
Benar saja, dari arah pintu kaca yang menghubungkan ruang makan ke area kolam, sosok Aleta muncul. Ia berjalan perlahan dengan jemari yang saling bertautan, tampak canggung dan ragu. Begitu sampai di depan Eleanor dan Vallerie, ia menunduk dalam.
"Maaf... Eleanor, Vallerie," suara Aleta terdengar lembut, hampir seperti bisikan. "Aku hanya ingin meminta maaf. Aku tau kehadiranku di sini membuat suasana menjadi tidak nyaman bagi kalian. Aku tidak bermaksud mengacaukan acara keluarga ini."
Eleanor dan Vallerie berdiri, melipat tangannya di depan dada dengan dagu terangkat angkuh. "Tau diri juga rupanya. Lalu kalau sudah tau mengacau, kenapa masih menginjakkan kaki di sini? Apa harga dirimu memang serendah itu sampai harus menempel pada Dominic di acara formal seperti ini?"
Aleta mendongak, matanya berkaca-kaca. "Bukan begitu... Dominic yang memintaku datang. Aku hanya ingin mencoba diterima."
"Diterima?" Eleanor berkata dengan tawa hambar. ia berjalan memutari Aleta seperti predator yang mengincar buruan. "Aleta, kamu tahu kan ini dunia apa? Kamu tidak akan pernah cocok di sini, sekeras apa pun kamu berpura-pura menjadi polos."
"Aku tidak berpura-pura," bela Aleta pelan, suaranya mulai bergetar. "Aku benar-benar tulus pada Dominic."
"Tulus?" Eleanor berhenti, berdiri didepan, memangkas jarak hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. "Tulus atau hanya mengincar harta? Katakan, berapa harga yang harus kubayar agar kamu pergi?"
"Aku tidak bisa dibeli dengan uang, Eleanor. Tolong, jangan bicara seperti itu," ucap Aleta, air mata mulai jatuh di pipinya.
"Tunggu dulu,"Vallerie menyela sambil menatap Aleta dari bawah ke atas. "Diluar kantor, kamu merasa setara? Kamu berani panggil saya dan Eleanor hanya dengan nama?"
Aleta menunduk dalam. "Dominic yang meminta agar aku tidak terlalu sopan, karena dikantor aku sudah menjadi asistennya."
Vallerie dan Eleanor yang mendengar itu terkekeh kecil sambil memalingkan wajah mereka sekilas, tidak habis fikir dengan itu. "Wau! Sudah bisa sombong?"ucap Vallerie sementara Eleanor tidak bisa berkata-kata lagi.
Selama ini Vallerie membantu Aleta dari bullyan Eleanor, tapi ternyata semua sikap polosnya selama ini hanyalah topeng?
Vallerie sempat mendengar dikantor Aleta berbicara lewat telepon, cara bicaranya berbeda, Vallerie juga mendengar sekilas kalau dia akan meminta uang kepada Dominic, dengan sedikit sentuhan drama kesedihan nya pasti Dominic menurutinya.
Awalnya Vallerie tidak begitu yakin, tapi melihat nya kali ini. Vallerie benar-benar percaya kalau wanita itu hanya sandiwara. Jadi, sandiwara nya harus diimbangi bukan?
Vallerie melirik ke arah pintu kaca. Ia menangkap bayangan siluet pria yang berjalan menuju ke arah mereka. Ia memberi kode melalui tatapan mata pada Eleanor. Eleanor yang seakan mengerti melangkah lebih dekat di hadapan Aleta.
"Jangan menyentuhku!" teriak Eleanor tiba-tiba dengan suara yang cukup keras hingga menggema.
"Aku tidak menyentuhmu, Eleanor-"
"Berhenti bersikap seolah-olah kamu adalah korban!" Eleanor meraih tangan Aleta secara paksa, membuatnya seolah-olah mereka sedang tarik-menarik. Saat ia merasakan kehadiran Dominic sudah sangat dekat di belakang mereka, Eleanor memberikan dorongan kecil pada bahu Aleta, namun justru ia sendiri yang menghempaskan tubuhnya ke belakang.
BYURRR!
Air kolam yang dingin meledak ke atas saat tubuh Eleanor tenggelam.
"Eleanor!" teriak Vallerie dengan nada panik yang dibuat-buat.
Dominic berlari kencang, melewati Aleta yang masih mematung dengan tangan gemetar di udara. Dominic segera menceburkan diri untuk menarik Eleanor ke tepi. Saat Eleanor berhasil diangkat, ia terbatuk-batuk, tubuhnya menggigil hebat sementara tangisnya pecah.
"Elea! Kamu tidak apa-apa?" Dominic bertanya dengan nada sangat khawatir, mendekap bahu Eleanor yang basah kuyup. Bagaimana pun juga, dia dan Eleanor pernah tumbuh bersama, dia pasti menyayangi wanita itu meskipun hanya kasih sayang sebatas sahabat.
"Dominic... Dia datang meminta maaf padaku, tapi dengan cara menyindir ku, membuatku emosi. Saat aku balik menyindir nya, dia tiba-tiba marah dan mendorongku," isak Eleanor, suaranya terdengar sangat rapuh dan meyakinkan.
Dominic menoleh ke arah Aleta dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan yang besar di sana. "Aleta? Kamu melakukannya?"
"Tidak, Dominic! Aku tidak melakukannya! Dia sendiri yang-"
"Cukup, Aleta!" potong Vallerie dengan nada tajam. "Aku melihatnya sendiri. Kenapa kamu tega melakukan ini pada Eleanor? Aku pikir selama ini kamu benar-benar baik"
Aleta menggeleng cepat, wajahnya pucat pasi melihat tatapan kecewa dari Dominic. Pria itu tidak membelanya seperti biasa, ia hanya diam, menatap Eleanor yang tampak menggigil kedinginan. Untuk pertama kalinya, benteng kepercayaan Dominic pada Aleta retak.
"Tidak! Dominic kamu percaya aku kan?"
Apa yang diharapkan Aleta akhirnya sirna. Dominic hanya diam sambil memeluk Eleanor yang kedinginan, tidak lama setelah itu ia menggendong Eleanor ala bridal style dan membawanya melewati Aleta.
"Kamu siap-siap, aku akan mengantar mu pulang."ucap Dominic sebelum benar-benar menjauh.
Eleanor tersenyum kemenangan saat melewati Aleta. Untuk pertama kalinya dia benar-benar bisa membuat Dominic memilih nya bukan Aleta.
Vallerie berdiri dengan melipat tangan di depan dada, mengamati drama itu dengan senyum miring yang hampir tak terlihat. Ia sama sekali tidak merasa iba. Baginya, kepolosan Aleta hanyalah topeng yang membosankan, dan membantu Eleanor menghancurkan topeng itu jauh lebih memuaskan.
Namun, di atas balkon lantai dua yang gelap, sepasang mata elang memperhatikan segalanya. Victor berdiri di sana, menyesap minumannya dengan tenang. Ia melihat bagaimana Vallerie mengatur skenario itu dengan sangat rapi.
Bukannya marah melihat kelicikan itu, Victor justru menyunggingkan senyum tipis yang misterius. Matanya tetap terkunci pada Vallerie, wanita yang menurutnya jauh lebih menarik ketika sedang menunjukkan sisi gelapnya yang cerdik.