Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. AMSALIR
Malam itu juga, Kaisar telah membuat dekrit tentang pengangkatan Zhen Yi sebagai selir. Kabar itu pun sampai ke kediaman Permaisuri Zi-Wei dan tentu saja itu menyulut amarahnya.
"Tidak! Aku tidak rela wanita jalang itu menjadi selir istana ini. Entah kenapa aku merasa punya firasat buruk terhadapnya," gerutunya. Kedua tangan mengepal kuat.
Dayang Xia Yue mendekat. Tatapannya penuh dengan keprihatinan. "Sabarlah Yang Mulia. Anda harus memikirkan kesehatan Anda. Lagi pula, ini masih belum terlambat."
"Belum terlambat? Apa maksudmu?" Zi-Wei tampak sangat antusias dan penasaran.
Xia Yue berjalan lebih dekat, berusaha membisikkan sesuatu.
Pandangan yang semula redup itu tiba-tiba menangkap binar kecil. Senyum permaisuri Zi-We mengembang, senyuman penuh dengan rencana tersembunyi.
"Bagus, Xia Yue. Persiapkan semuanya, pastikan wanita jalang itu tau posisinya."
Xia Yue menautkan kedua tangan, tubuhnya sedikit membungkuk. "Baik Yang Mulai. Saya akan mengatur semuanya."
Paviliun Miror kembali diselimuti kesunyian. Permaisuri Zi-We menatap ke arah pintu yang menelan bayangan Xia Yue dengan senyum penuh arti.
*
*
Pagi itu dimulai dengan kesempurnaan yang hampir malas. Sinar matahari menyelinap di antara celah gorden, membawa debu-debu halus yang menari dalam cahaya keemasan.
Namun, ketenangan itu pecah di dalam istana utama.
Istana utama penuh dengan pejabat, anggota keluarga dan Zhen Yi tentunya. Hari ini kaisar memerintahkan semua berkumpul untuk mendengar dekrit darinya.
Tapi siapa sangka jika peramal kepercayaan istana mengatakan, jika bintang Kaisar dan Zhen Yi tidak cocok.
"Lebih baik Yang Mulia dengarkan kata Jing Tu. Jika dia mengatakan hal itu, itu berarti Yang Mulia harus menghentikan rencana pernikahan ini," timpal Permaisuri Zi-Wei.
"Iya Yang Mulia. Saya setuju dengan Permaisuri Zi-Wei. Alangkah baiknya jika Yang Mulia memikirkannya lagi," tambah Selir Ling Xiang.
Sang Kaisar menatap mereka dengan tatapan menelisik. Pasalnya kedua istrinya itu tak pernah sependapat tapi kali ini tiba-tiba mereka saling mendukung.
Jemari sang Kaisar memutih, mencengkeram erat ukiran kepala naga di ujung sandaran singgasananya. "Kalian sependapat kali ini, ada apa? Apa kalian senang jika aku tidak jadi menikahi Zhen Yi, iya?"
Seketika Permaisuri Zi-Wei dan Selir Ling Xiang tertunduk saat tatapan Kaisar menghujam tajam ke arah mereka. "Ampun Yang Mulia. Bukan maksud kami seperti itu, tapi ... bagaimana jika pernikahan ini akan berdampak buruk pada kerajaan. Bukankah Jing Tu mengatakan jika pernikahan ini terjadi akan banyak nasib buruk yang menimpa kita."
"Benar yang dikatakan oleh Permaisuri. Lebih baik Kaisar mohon untuk memikirkannya lagi," sahut salah seorang pejabat.
Para pejabat istana mulai kasak-kusuk mengenai hal itu. Tentu mereka juga menentang. Jika ingin menikah setidaknya harus memberikan kontribusi besar bagi istana, sedang Zhen Yi hanya wanita penghibur biasa tak memiliki harta ataupun kekuasaan.
Mendengar begitu banyak penghalang, Zhen Yi tak panik. Padahal Dali sedari tadi sudah sangat gelisah di sampingnya.
"Nona, bagaimana ini. Peramal itu pasti mencoba menggagalkan semuanya," Dali berbisik dengan sangat lirih.
Zhen Yi hanya mengusap lembut punggung tangan Dali, mengisyaratkan untuk tenang. Ia bangkit dari kursinya, membungkuk dengan penuh hormat, kedua tangan bertaut rapat. "Maafkan atas kelancangan saya Yang Mulia. Tapi ... apa yang dikatakan peramal Jing Tu itu memang benar."
Seketika pernyataan itu membuat semua orang tersentak kaget. Mereka berfikir dirinya akan membantah semua tudingan itu, namun nyatanya ia justru mengiyakan.
Senyum tipis tersungging di bibir Pangeran Wang Zihan. Pernikahan itu harus gagal, karena ia tak akan pernah rela wanita yang dicintainya menjadi milik ayahnya. Sambil menyesap teh dengan perasaan ringan, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu berukir naga yang megah itu.
Kaisar bangkit dengan mata membelalak. "Apa maksudmu? Apa yang kau katakan itu benar adanya, Nona Zhen Yi?"
"Benar, Yang Mulia. Sejak hamba kecil, seorang peramal termasyhur telah meramalkannya. Meski bintang biduk hamba membawa nasib buruk, ia akan menjadi berkah luar biasa bagi pasangan hamba kelak," tutur Zhen Yi dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran murni.
"Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan!" sahut Selir Ling Xian tidak sabar. "Langsung ke intinya, jangan berbelit-belit!"
Semua tatapan tajam menghujam ke arahnya bak bilah pedang yang siap mencabik. Zhen Yi menarik napas panjang, berusaha meredam debar jantung dan rasa gugupnya.
Pangeran Wang Zihan yang semula merasa lega, seketika menegang. Alisnya bertaut, mencoba menerka arah pembicaraan wanita itu.
Zhen Yi melangkah ke tengah aula, berdiri tepat di hadapan sang penguasa. "Maksud hamba adalah, meski bintang biduk hamba pembawa sial, jika hamba menikah, segala kemalangan yang seharusnya menimpa suami atau keluarga akan terserap ke dalam diri hamba. Hamba akan menjadi perisai yang menelan kesialan itu, demi menjamin keselamatan bagi Yang Mulia."
"Omong kosong! Mengapa aku baru mendengar bualan macam ini? Kau mencoba menipu kami semua, hah?!" pekik Permaisuri Zi-Wei meradang.
"Hamba bisa membuktikannya. Hamba tidak sedang bersilat lidah, Yang Mulia," sahut Zhen Yi. Tatapannya mendadak nanar dan rapuh, membuat sang Kaisar didera rasa iba.
"Cukup omong kosongmu, wanita jalang! Pengawal! Seret penipu ini keluar!" Perintah Permaisuri Zi-Wei menggema, menggetarkan setiap sudut aula.
Beberapa pengawal bergegas maju, namun Kaisar segera berteriak lantang, "Hentikan! Tak ada yang boleh menyentuh Nona Zhen Yi, termasuk kau, Permaisuri!"
"Tapi Yang Mulia ..."
Sang Kaisar mengangkat tangannya dengan tegas, memberi isyarat bagi Permaisuri Zi-Wei untuk bungkam saat itu juga.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏