NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberangkatan

Malam itu, aula pesantren terasa lebih hening dari biasanya. Sinar lampu kekuningan menyinari wajah tenang Qais yang baru saja menutup kitabnya. Angin malam berhembus pelan melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi.

Qais merapikan sorban putih di bahunya, lalu menatap satu per satu santri yang duduk bersila di hadapannya dengan tatapan lembut—tatapan khas seorang d

guru yang penuh kasih sayang.

"Sebelum kita akhiri pertemuan malam ini," suara Qais memecah kesunyian, begitu tenang namun berwibawa. "Ada satu amanah yang ingin saya sampaikan langsung kepada kalian semua.”

Para santri serentak menegakkan punggung, merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam nada bicaranya.

"Besok, in syaa Allah, saya akan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan saya di sana. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, kursi di depan ini akan diisi oleh ustaz lain.”

Suasana aula seketika berubah riuh rendah dengan bisikan sedih, namun Qais hanya tersenyum tipis, senyuman sabar yang selalu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Ia mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar para santri kembali tenang.

"Ilmu ndak terputus karena jarak," lanjutnya. "Saya pergi untuk belajar bagaimana cara menyembuhkan lebih banyak orang, dan saya harap, selama saya tidak di sini, kalian tetap menjaga semangat belajarnya. Jaga adab, jaga hafalan, dan seng paling penting... jaga hati kalian agar tetap terpaku pada rida Allah.”

Ia menghela napas pendek, menatap langit-langit aula sejenak sebelum kembali menatap mereka.

"Saya pamit. Maafkan jika selama mengajar ada kata yang melukai atau sikap yang kurang berkenan. Doakan perjalanan saya lancar, sebagaimana saya akan selalu menyelipkan nama kalian dalam doa-doa saya di sana.”

Malam itu, perpisahan itu terasa berat namun penuh rida. Qais turun dari podium dengan langkah yang tenang, meninggalkan aula yang kini dipenuhi rasa haru dari para santri yang akan merindukan sosok Gus penyabar itu.

Malam itu langkah kaki Qais terdengar pelan menyusuri lorong pondok yang mulai sepi menuju kamarnya. Sesampainya di dalam, ia melepaskan jubah putihnya dan duduk di tepi tempat tidur, menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada perjalanan besok—Jerman, masa depan, dan tanggung jawab baru yang menantinya.

Pandangannya kemudian tertuju pada meja kecil di sudut kamar. Di sana, tertumpuk beberapa buku yang akan ia bawa. Di antara buku-buku tebal ilmu kedokteran dan kitab-kitab, terselip sebuah buku dengan sampul sederhana namun indah yang berjudul 'Istikharah Cinta'.

Qais tersenyum tipis, senyuman yang menyimpan kerinduan sekaligus penerimaan yang dalam. Ia meraih buku itu, mengusap sampulnya pelan dengan ibu jari. Buku inilah yang dulu dipilihkan oleh Aiza—seseorang yang begitu ia cintai dalam diam, sebelum takdir menuntun Aiza menjadi istri orang lain.

Ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu, juga pada kalimat yang pernah Aiza ucapkan.

**Flashback**

“Buku ini cocok untuk Gus yang pembawaannya selalu lembut.” Aiza tersenyum malu sambil memberikan buku itu pada Qais.

Qais menatap buku itu sebelum akhirnya tersenyum.

"Kenapa memilih buku dengan judul ini?” tanyanya.

"Karena buku ini adalah pengingat, bahwa jika nanti jalan kita ndak berujung sama, saya sudah lebih dulu belajar untuk mencintai keputusan Allah melebihi keinginan saya sendiri, Gus.”

**Flashback off**

Qais tersenyum, dengan lembut, ia memasukkan buku tersebut ke dalam tas besarnya, menjadi bekal pengingat untuk tetap menjaga batas dan rida pada ketentuan-Nya, bahkan di negeri orang nanti.

***

Pagi itu, Bandara Soekarno-Hatta tampak sibuk, namun Gus Qais berjalan dengan langkah tenang yang terjaga. Ia hanya membawa koper minimalis dan tas ransel yang berisi buku-buku pentingnya.

Kyai Mukhtar berdiri gagah meski matanya berkaca-kaca, sementara Umi Khasanah berkali-kali merapikan kerah kemeja putra tunggalnya itu, seolah memastikan tidak ada debu yang menempel.

Pagi itu ia diantar olah kedua orang tuanya, dan juga dokter Hendra yang turut mendampingi untuk sementara sampai ke Jerman.

Kyai Mukhtar meletakkan tangan kanannya di bahu Qais, meremasnya pelan.

"Qais," suara sang Kyai berat namun penuh penekanan. "Jerman itu jauh. Ilmu di sana luas. Tapi ingat, sejauh apa pun kamu melangkah, jaga salatmu, jaga wudhumu, dan jaga marwahmu sebagai santri. Jadilah dokter yang ndak hanya menyembuhkan raga, tapi juga menenangkan jiwa.”

Qais menunduk takzim, mencium tangan ayahnya lama. "Doakan Qais, Abah. Supaya ndak lalai dan bisa kembali dengan ilmu yang berkah.”

Umi Khasanah tak bisa lagi menahan air matanya. Ia memeluk Qais erat, mencium kening putranya itu cukup lama. "Hati-hati di sana, Le. Makan seng teratur. Jangan memaksakan diri kalau sakit. Umi akan selalu doakan Qais di setiap sujud.”

"Umi jangan sedih. Qais pergi untuk belajar, insya Allah segera kembali," tutur Qais lembut, berusaha menenangkan sang ibu meski hatinya sendiri bergetar.

Dokter Hendra maju, menepuk bahu Qais bersahabat. "Qais, pegang teguh prinsip kita. Man jadda wajada. Kita butuh dokter yang kompeten, saya yakin kamu akan pulang dengan membawa kesuksesan.

“Aamiin. Terima kasih, dokter Hendra."

Dokter Hendra tersenyum hangat.

"Mari kita berangkat. Dokter Hermawan sudah menunggu kita di Jerman.”

Qais mengangguk. Dokter Hendra berjalan lebih dulu, sementara Qais menatap kedua orang tuanya cukup lama.

"Assalamualaikum, Umi, Abah."

Hanya ucapan salam yang keluar dari bibirnya. Tenggorokannya terasa tercekat untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.

Qais berbalik tanpa menoleh lagi pada Umi Khasanah dan kyai Mukhtar. Meskipun hatinya berat, tapi dia tahu dia pergi untuk menimba ilmu, bukan mengabdi selamanya di sana.

___

Beberapa jam kemudian, pesawat yang membawanya telah membelah awan, meninggalkan tanah air menuju benua biru. Di kursi kelas ekonomi yang tenang, Qais menatap keluar jendela sejenak, melihat hamparan awan putih yang luas, sebelum akhirnya ia meraih tasnya.

Ia mengeluarkan buku Istikharah Cinta itu lagi. Di bawah cahaya lampu kabin yang temaram, jemarinya yang terampil itu membuka lembar demi lembar dengan sangat hati-hati, seolah takut merusak kenangan di dalamnya.

Saat ia sampai di pertengahan halaman, sebuah benda tipis terjatuh ke pangkuannya.

Qais tertegun. Itu adalah secarik kertas kecil yang terselip rapi. Dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang, ia membuka lipatan kertas itu.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
BundaNazwa: Hooh. Dibalikin nggak bisa lagi. Auto nangis dah tu🤧
total 1 replies
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
BundaNazwa: Siap😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!