Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan dadakan
Saat Bel istirahat semua orang pergi berhamburan keluar dari kelas, ada yang ke kantin, toilet dan tempat lainnya. Begitu juga dengan Ara, dia bangkit dari duduknya lalu keluar dari kelas bersama dengan Rafael.
" Ra, Lo mau kemana?" tanya Rafael.
Ara terdiam, sejenak menoleh ke arah Rafael." Gue mau kekantin," jawabnya dengan singkat.
" Ayo," lanjut Ara.
Rafael yang memang tahu Ara mengalami amnesia langsung saja menarik tangannya sembari memimpin jalan menuju Kantin.
" Rafael lo gila, kenapa narik tangan gue," teriak Ara.
" Diam Ra, kalau tidak begini Lo nanti nyasar bego," jawabnya dengan sarkas.
Ara memutar bola matanya dengan malas dia baru kali ini, di perlakukan seperti itu oleh otang lain. Padahal biasanya semua orang sangat takut bersama dengan Ara yang berjiwa Alea.
Sesampainya di kantin Ara langsung saja memesan makanan kesukaannya begitu juga dengan Rafael.Namun, baru saja Ara sedang memesan makananan tiba-tiba saja banyak siswa berlarian keluar dari kantin dengan tergesa-gesa seperti orang yang sangat ketakutan.
" Refael, itu mereka kenapa?" tanya Ara.
" Mana gue tahu Ra," jawabnya sembari mengedikan bahu.
Rafael dan Ara sama -sama menatap ke arah para siswa yang berlari meninggalkan Kantin, sedangkan mereka berdua malah bengong saat melihat para siswa.
"Arabella," teriak Kenzo saat melihat Ara dan Rafaell yang masih berada di kantin.
"Hmm," jawab Ara.
" Cepat masuk ke kelas, ngapain lo masih di sini sama Rafaell," kata Kenzo dengan tegas.
Ara menatap tajam ke arah kakaknya itu, dia kesal baru saja dia sampai kantin, tapi tiba-tiba saja Kenzo mengusirnya.
" Apaan dih lo, gue itu mau makan baru kalau udah kenyang gue pergi," jawab Ara dengan sarkas.
" Arabella cepetan ini bahaya," bentak Kenzo kepada Ara.
Ara dan Rafaell tidak tahu apa yang terjadi di sekolahnya sampai mereka harus segera masuk kelas sedangkan Kenzo dia justru malah keluar gerbang bersama dengan Kenzi, Devan dsn Farrell.
" Kenzo cepetan mereka sudah berada di depan gerbang," teriak Kenzi adik iparnya.
Kenzo menoleh cepat ke arah Kenzi begitu mendengar teriakannya. Wajahnya langsung menegang.
“ Sial,” gumam Kenzo pelan.
Devan yang sejak tadi diam langsung mempercepat langkahnya.
“ Mereka berani juga datang ke sini,” ucapnya dingin.
Farrell mengepalkan tangannya.
“ Sepertinya mereka memang sengaja nyari masalah.”
Sementara itu di dalam kantin, Ara mulai merasa ada yang tidak beres. Suasana yang tadinya ramai kini mendadak sepi. Beberapa meja bahkan ditinggalkan begitu saja, lengkap dengan nampan makanan.
“ Raf, ini sekolah kenapa jadi kayak gini sih?” tanya Ara pelan.
Rafael menatap sekeliling dengan waspada.
“ Kayaknya ada yang nggak beres, Ra.”
Belum sempat Rafael melanjutkan ucapannya, suara teriakan kembali terdengar dari arah luar kantin.
“ Arabella! Rafael! Masuk kelas sekarang!” teriak Kenzo lagi.
Ara mendecakkan lidahnya kesal.
“ Ribet banget sih hidup gue,” gerutunya.
Namun baru saja Ara melangkah, dari kejauhan terdengar suara bentakan kasar.
“ Nah itu dia!”
Ara menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah suara itu, alisnya mengernyit.
“ Siapa lagi sih?” gumamnya.
Beberapa siswa yang tadi masih bersembunyi kini kembali berlarian, wajah mereka pucat. Rafael refleks berdiri sedikit di depan Ara.
“ Ra, belakang gue aja,” ucap Rafael serius.
Ara menatap Rafael sekilas, lalu terkekeh kecil.
“ Lo pikir gue cewek lemah?” tanyanya sinis.
Namun tawa Ara langsung menghilang saat melihat sekelompok siswa laki-laki berdiri tidak jauh dari pintu kantin. Wajah mereka penuh tatapan menantang.
“ Itu mereka?” tanya Ara pelan.
Rafael mengangguk.
“ Iya, anak-anak luar. Musuhnya Kenzo.”
Ara menghela napas.
“ Pantesan sekolah jadi kayak pasar bubar.”
Di luar gerbang, Kenzo menghentikan langkahnya tepat di depan sekelompok siswa tersebut. Tatapannya tajam, penuh amarah yang ditahan.
“ Ngapain lo ke sini?” tanya Kenzo dingin.
Salah satu dari mereka maju selangkah, menyeringai.
“ Cuma mau silaturahmi, Kenzo.”
Kenzi mengepalkan tangannya.
“ Bohong. Kalian nggak pernah datang tanpa tujuan.”
Kenzo tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
“ Kalau mau ribut, jangan libatin sekolah gue.”
Sementara itu, dari dalam gedung, Ara memandang ke arah gerbang. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul, seolah-olah kejadian ini pernah ia alami sebelumnya.
Ara memegang kepalanya.
“ Kenapa kepala gue pusing?” gumamnya.
Rafael langsung menoleh.
“ Ra, lo kenapa?”
Ara menggeleng pelan.
“ Nggak apa-apa, cuma aneh aja.”
" Gue yakin pasti ada yang tidak beres," ucap Ara dalam hati.
Dia tanpa menghiraukan Rafaell langsung saja keluar dari dalan kelas, berlari ke arah gerbang untuk melihat apa yang terjadi.Namun, saat Ara telah sampai di sana dia melototkan matanya dengan sempurna.
Ara melihat di depan gerbang banyak siswa sekolah lain sedang baku hantam dengan Kenzo dan juga teman-temannya. Namun, yang tidak di sadari Kenzo kalau dari belakangnya ada orang yang diam -diam ingin memukulnya dengan balok.
" Astaga, Kenzo awas," teriak Ara.
Belum sempat Kenzo dan yang lain bereaksi Ara sudah Salto dua kali depan lalu menendang orang itu dengan sangat keras sehingga dia jatuh tersungkur.
Brak
Kenzo dan yang lainnya syok saat melihat Ara sudah berada di hadapannya saat ini.
" jangan ngelamun bego," bentak Ara saat musuhnya yang lain ingin melukai Kenzo dan teman-temannya.
Dengan sigap Ara langsung saja menahan pukulan dengan satu tangannya yang dilayangkan musuh Kenzo kepada Ara.
" Sialan Lo," bentak musuh Kenzo dengan kesal.
Bagaimana tidak, dia tadi hampir saja berhasil mencelakakan Kenzo. Andai saja Ara tidak datang tepat waktu mungkin Kenzo sudah celaka.
" Lo yang bajikan keparat," bentak Ara.
Dengan kesal Ara langsung saja menendang perut siswa itu dengan keras, tidak lupa dia juga memukulnya bertubi-tubi sampai pria itu mundur beberapa langkah kebelakang.
Bugh Bugh Bugh
Brak
" Ah, bangsat," kata siswa itu saat dia jatuh tersungkur dengan wajah yang sudah babak belur.
Ara hanya tersenyum miring menatap ke arah siswa itu sambil bersidekap dada.
" Makanya jangan sok jago jadi orang," kata Ara dengan sarkastik.
Orang itu hanya terdiam sembari menahan nyeri di seluruh tubuhnya terutama wajahnya yang terlihat sudah sangat bengkak dan memerah seperti babi.
Setelah mengatakan itu Ara menoleh menatap ke arah Kakaknya." Kenzo, kalau lo mau selamat, jangan bertingkah ceroboh," ucap Ara dengan tajam.
" Lo...." Tunjuk Kenzo kepada Ara, Namun, dia tidak melanjutkan ucapannya.
Sedangkan Kenzi, Devan dan Farell mereka terdiam membisu bagaikan orang bodoh saat melihat aksi seorang Arabella Kalandra.
" Dan kalian bertiga, harus banyak belajar lagi biar gak payah kayak tadi," Lanjut Ara kepada mereka bertiga.
" Arabella, Lo...."