NovelToon NovelToon
Benih Yang Tertukar

Benih Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.

Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.

Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.

Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11. kesalahan fatal

Bella berkedip dua kali ketika kata-kata itu kembali terngiang di kepalanya.

Segalanya di sekelilingnya seakan mengabur. Ia hampir tak mendengar apa pun selain suara detak jantungnya sendiri. Pandangannya hanya tertuju pada bibir Dokter Tina yang bergerak menjelaskan sesuatu yang rasanya tak mampu ia cerna sepenuhnya.

“Apa?” suara Rafael akhirnya memecah keheningan, menarik Bella kembali ke kenyataan.

Tadi pagi, Bella bangun dengan perasaan bahagia. Ia akan memiliki seorang bayi. Namun kini, kebahagiaan itu terasa goyah, runtuh perlahan saat ia mengetahui bahwa ayah dari anak yang dikandungnya adalah seorang pria yang manja, arogan, dan jauh dari kata sopan.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Bella.

Dokter Tina menarik napas pendek sebelum menjelaskan, “Tim kami keliru mengira Anda sebagai Nyonya Harper yang lain. Kalian berdua memiliki inisial nama depan yang sama, serta nama belakang yang identik.”

Bella mengerutkan kening. Jika perempuan itu sudah menikah, mengapa ia tidak mengganti nama belakangnya dengan nama belakang suaminya?

“Apakah itu sebabnya Isyana tidak hamil?” tanya Rafael.

Bella bisa merasakan betapa pasangan itu sangat menginginkan seorang anak. Tapi mengapa? Rafael bukan tipe pria yang terlihat mudah puas dengan hidupnya atau dengan orang-orang di sekitarnya.

“Kemungkinan besar, ya. Sperma beku cenderung memiliki tingkat keberhasilan yang lebih rendah dibandingkan sperma segar,” jawab dokter Tina.

Tak ada yang berbicara setelah itu. Ketegangan menggantung di udara, semakin pekat membuat ruangan terasa sempit dan menyesakkan.

“Saya sungguh menyesal atas kesalahan ini. Kami akan bertanggung jawab dan memastikan masalah ini ditangani dengan sebaik mungkin,” lanjut Dokter Tina berusaha terdengar tenang.

Kesalahan?

Bagi mereka, ini hanyalah sebuah kesalahan administratif. Namun bagi Bella, ada kehidupan yang sedang tumbuh di dalam tubuhnya. Sesuatu yang nyata. Sesuatu yang tak bisa begitu saja dihapus atau dibatalkan.

“Bagaimana maksud Anda memperbaiki ini? Aku sudah hamil!” Suara Bella meninggi tanpa bisa ia kendalikan. Setidaknya, itulah yang ia yakini meski ia masih harus menjalani tes darah untuk memastikan semuanya.

Rafael menoleh ke arahnya. Untuk sesaat, Bella menangkap sesuatu di mata pria itu, kelembutan atau mungkin rasa bersalah. Namun secepat itu pula Rafael memalingkan wajahnya, menghindari tatapannya.

“Kamu memiliki beberapa pilihan,” ujar Dokter Tina akhirnya.

Bella menelan ludah. Ia tahu, apa pun yang akan dikatakan selanjutnya, ia tidak akan menyukainya. Ia sudah menyusun rencana hidupnya dengan begitu rapi. Dan kini, semuanya hancur berantakan.

“Kita bisa melakukan aborsi. Itu… jika kalian berdua memang tidak menginginkan bayi ini,” ujar Dokter Tina dengan cemas.

Aborsi. Kata itu menghantam Bella begitu keras hingga dadanya terasa sesak. Bukankah tempat ini seharusnya membantu menciptakan keluarga bukan mengakhiri sebuah kehidupan?

“Klinik akan menyediakan sampel sperma baru. Semua biaya akan dibatalkan. Kami juga akan mengembalikan seluruh pembayaran yang telah Anda lakukan,” lanjut Dokter Tina.

Semua terdengar begitu mudah.

Namun Bella tak akan pernah bisa hidup dengan tenang jika memilih jalan itu. Ia tak mungkin menggugurkan bayinya hanya karena siapa ayahnya. Terlebih lagi, ia menginginkan anak ini sejak awal. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai anak lain di masa depan jika ia mengorbankan yang satu ini?

Bayinya bukan sebuah kesalahan. Mungkin kehadiran kecil itu memang memiliki alasan.

Tanpa sadar, tangan Bella bergerak meraba perutnya, seolah refleks naluriah untuk melindungi kehidupan yang tumbuh di dalam sana.

“Aku tidak bisa melakukannya,” katanya akhirnya, suaranya terdengar bergetar. “Aborsi,” ia memperjelas.

Bella pernah mendengar cerita tentang perempuan yang tak bisa hamil lagi setelah menjalani prosedur itu. Ia tak pernah ingin hidup dengan ketakutan semacam itu atau penyesalan yang tak berujung.

Ruangan kembali diliputi keheningan.

Bella tahu, keputusannya akan membuat situasi ini jauh lebih rumit bagi Dokter Tina.

Ia juga tahu, Rafael mungkin tidak akan menerimanya dengan mudah. Pria itu terlalu tinggi menilai dirinya sendiri untuk rela memiliki seorang anak dengannya.

“Aku akan menuntut klinik ini. Aku akan memastikan tempat ini tidak akan pernah beroperasi lagi,” ancam Rafael.

Di tengah kekacauan itu, Isyana tetap diam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Bella bisa membayangkan rasa sakit yang dirasakan perempuan itu. Tak seorang pun pantas berada dalam situasi seperti ini, bahkan jika suaminya adalah seorang playboy.

“Tolong, Tuan, jangan sampai sejauh itu,” pinta Dokter Tina dengan suara tertahan.

Bella merasakan firasat buruk mengalir di nadinya. Segalanya terasa akan berubah menjadi jauh lebih buruk. Ia tak ingin berada di sana. Sejak kecil, setiap kali konflik muncul, nalurinya selalu sama, pergi, menjauh, dan melindungi diri sendiri.

“M-maaf,” ucap Bella.

Ia tak tahu apakah ada yang benar-benar mendengarnya. Bella bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh kembali.

Ia telah merencanakan segalanya. Bahkan sudah membuat daftar kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Namun tak satu pun dari skenario itu menyerupai kenyataan yang baru saja menghantamnya. Ketidakpastian kini mengelilinginya dari segala arah.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Bagaimana masa depan bayinya?

Bella tak ingin menggugurkan anak itu, apa pun kata Rafael. Baginya, kehamilan ini bukan gangguan yang bisa dihapus begitu saja. Bukan ketidaknyamanan yang harus diselesaikan.

Langkahnya semakin cepat saat ia keluar dari klinik. Ia harus pergi. Menjauh. Dan berharap tak pernah kembali ke tempat itu lagi. Ia akan melakukan apa pun demi melindungi bayinya. Bahkan jika itu berarti meninggalkan negara ini dan memulai hidup baru di tempat lain.

Di parkiran, Bella merogoh tasnya dengan panik, mencari kunci mobil. Tangannya gemetar hebat hingga kunci itu hampir terjatuh berkali-kali.

Begitu berhasil membukanya, ia membuka pintu mobil dengan tergesa dan langsung masuk. Tasnya dilempar begitu saja ke kursi penumpang.

Melalui kaca spion, Bella melihat sosok Rafael bergegas keluar dari klinik. Ia harus menjauh darinya. Sejauh mungkin.

Saat mobilnya keluar dari area parkir, Rafael melambaikan tangan sambil berteriak memintanya berhenti.

Bella tidak menghiraukannya. Ia tak sanggup.

Pikirannya terlalu kacau untuk rasional. Stres menekan begitu kuat hingga ia nyaris tak mampu bernapas dengan benar.

Setiap kali hidupnya terasa terlalu berat, Bella selalu mencari satu cara untuk mengalihkan diri. Dan kali ini, ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia perlu bekerja.

Hari itu Sabtu, hari tersibuk di kafe. Tempat itu hampir pasti penuh pelanggan, dan mereka mungkin membutuhkan bantuan tambahan. Saat kafe ramai dan ia tidak terlalu kewalahan, Bella biasa membantu melayani meja. Ia tak pernah keberatan. Lagipula, pekerjaan pertamanya dulu memang sebagai pelayan.

Dalam perjalanan menuju kafe, lalu lintas terasa lebih lancar dibandingkan pagi tadi. Waktu tempuhnya jauh lebih singkat.

Namun saat tiba, ia terpaksa memarkir mobil hampir satu blok dari kafe. Area parkir di depan sudah penuh sesak oleh kendaraan pelanggan yang datang dan pergi. Itulah sebabnya Bella biasanya datang lebih awal agar tak perlu berjalan jauh.

Ia melangkah menuju kafe, sepatu menghentak beton dengan irama cepat.

Bella tahu ini seharusnya menjadi hal terakhir yang ia cemaskan. Namun tetap saja, di sudut hatinya terselip harapan kecil, ia ingin bayinya memiliki mata hijau. Kini kenyataannya berbeda. Bayinya kemungkinan akan mewarisi mata coklat dingin seperti Rafael… atau matanya sendiri.

Orang-orang selalu mengatakan mata cokelatnya indah. Tapi Bella tahu, ia terlalu sering mendengar pujian kosong untuk benar-benar mempercayainya.

Ia mendorong pintu kafe dan langsung terkejut melihat keramaian di dalam. Jauh lebih padat dari yang ia perkirakan.

Sebagian besar pelanggan adalah wajah-wajah familiar dan sudah ia kenal.

Bernard mengangkat tangannya begitu melihat Bella masuk. Senyumnya ramah seperti biasa. Hari ini ia berada di belakang konter. Biasanya, Bernard membantu melayani meja.

“Aku tidak menyangka kau akan datang hari ini,” katanya.

“Aku juga tidak berpikir akan datang. Tapi… ada sesuatu yang terjadi,” jawab Bella.

Bernard menatapnya sekilas, seolah menangkap nada berbeda dalam suaranya, namun memilih tidak bertanya lebih jauh.

“Kenapa kamu tidak di belakang konter saja hari ini? Aku akan membantu Karin dengan meja-meja,” usulnya.

Bella mengangguk, disertai senyum kecil penuh terima kasih. Itulah yang ia butuhkan. Duduk sambil bekerja tanpa harus terlalu banyak bergerak atau berpikir.

Di hadapannya, etalase kaca besar memajang berbagai jenis kue. Semuanya tersusun rapi dan menggoda.

Kafe ini terkenal dengan kue kejunya. Salah satu yang terbaik di kota setidaknya menurut pelanggan setia mereka. Resepnya berasal dari nenek Bella, diwariskan dengan penuh kesabaran.

Ia sempat berpikir untuk membuka toko roti sendiri suatu hari nanti. Namun untuk sekarang, mimpi itu harus menunggu.

Pintu kafe kembali terbuka. Andrew dan pacarnya, Marin, masuk dan langsung menuju konter.

Mereka selalu datang setiap Sabtu hanya untuk memesan kue keju. Sudah menjadi ritual mingguan mereka.

“Hai, Bella,” sapa Marin ceria. “Sudah lama tidak melihatmu di sini. Kamu ke mana saja?”

“Aku sibuk. Seperti biasa?” jawab Bella dan berkata sambil melirik Andrew.

Andrew tersenyum kecil dan mengangguk.

“Ya, seperti biasa.”

Bella mulai menyiapkan pesanan mereka, bersyukur karena untuk beberapa menit ke depan, pikirannya bisa teralihkan oleh rutinitas pekerjaan.

Bella mengemas dua potong kue keju yang telah dipotong rapi ke dalam kotak kecil dekoratif dengan logo kafe tercetak di sisinya.

Andrew menyerahkan selembar uang dua puluh dolar. Bella memberikan kembaliannya sepuluh dolar tanpa banyak bicara.

“Terima kasih, Bella,” ucap Marin sambil melambaikan tangan kecil ke arahnya.

“Ya, sampai jumpa,” jawab Bella singkat.

Lonceng kecil di atas pintu berbunyi nyaring saat mereka keluar. Bunyi itu selalu terdengar setiap kali seseorang masuk atau pergi.

Tiba-tiba, rasa pusing menyerangnya. Mungkin ia seharusnya pulang saja. Bella meraih botol air di bawah konter dan meneguk beberapa kali hingga rasa mual itu sedikit mereda. Setelah itu, ia menarik napas dalam, berusaha menguatkan diri sebelum kembali bekerja.

Kepalanya masih tertunduk ketika sebuah suara berdehem keras terdengar tepat di depannya. Bella mendongak.

Sepasang mata coklat dingin menatapnya tanpa berkedip. Jantungnya seolah terhenti sesaat. Rafael.

Pria itu berdiri tepat di depan konter, terlihat tenang, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” gumam Bella.

Matanya membelalak ketika Rafael terus menatapnya, seolah sedang menilai sesuatu yang tak kasatmata.

“Aku akan langsung ke intinya,” kata Rafael dingin. “Berapa yang kamu mau?”

Bella terdiam.

“Untuk bayi itu. Anak itu punya harga tertentu, bukan?” lanjutnya tanpa ragu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!