"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau yang sunyi
Andersen tidak terbangun di masa lalu. Ia justru mendapati dirinya berdiri di tepi sebuah danau yang airnya hitam pekat dan tenang seperti cermin. Langit di atasnya berwarna kelabu tanpa cahaya matahari.
"Mengapa kamu masih belum bisa mengatasi hal ini?"
Andersen berbalik dan tersentak. Di hadapannya berdiri sosok makhluk yang; tubuhnya jangkung dengan kulit yang sangat keriput, berwarna abu-abu gelap seolah terbuat dari debu dan kematian.
"Apakah kamu tidak bisa mengalahkan mereka semua?" makhluk itu melangkah mendekat, matanya yang cekung menatap tajam ke arah Andersen. "Aku merasa kasihan kepadamu, Nak..."
"Kau pasti bingung siapa yang sedang berbicara denganmu saat ini, bukan?" Makhluk itu melangkah di atas permukaan air danau yang tidak beriak, seolah gravitasi tidak berlaku baginya. "Mungkin kau pernah mendengar sebutan 'Soul In The Ocean'?"
Andersen hanya menggeleng pelan. Kepalanya masih terasa berdenyut akibat sisa perasaan akan peluru yang menembus dadanya. Namanya terasa asing.
"Yah, setidaknya kau bisa mencoba mencari literatur tentang sebutanku itu nanti," makhluk itu terkekeh. "Walaupun, akan sangat sulit menemukannya. Sebutan itu hanya diucapkan oleh satu orang... seseorang yang memiliki nasib terkutuk yang sama persis denganmu. Sayangnya, dia sudah lama tiada."
Andersen mendongak, menatap mata cekung makhluk abu-abu itu. "Apakah kau masih mengingat nama orang itu?"
Makhluk itu terdiam sejenak, menatap cakrawala kelabu yang tak berujung. "Entahlah, waktu sudah berjalan terlalu lama. Mungkin seribu tahun yang lalu? Ingatanku mulai memudar seperti debu. Yang aku ingat, dia adalah salah satu jenius yang berhasil menciptakan sesuatu yang melampaui zamannya. Jika tidak salah, sebuah mesin besi yang bergerak di atas rel... Kereta."
Andersen terpaku. Kereta? Seribu tahun yang lalu?...
"Dia gagal melampaui nasibnya," lanjut makhluk itu sambil menyentuh bahu Andersen dengan jari-jarinya yang panjang dan keriput. "Pertanyaannya adalah...
Apakah kau akan berakhir menjadi bangkai atau mayat sekali lagi, atau kau akan menggunakan 'Keberuntungan'...
"Tetapi kau tidak bisa berlama-lama di sini, Nak," ucap sosok abu-abu itu. Ia mengetukkan tongkat kayunya yang rapuh ke permukaan air hitam beberapa kali. Suara ketukan itu bergema seperti lonceng kematian yang menarik paksa kesadaran Andersen kembali ke dunia nyata.
Deg!
Andersen tersentak saat pintu kaca akses parkiran basement terbuka di hadapannya. Ia kembali ke titik awal pertemuannya dengan Seila.
Di sana, di bawah pendar lampu neon yang berkedip, Seila berdiri sambil melambaikan tangan dengan riang. Kali ini, kedua tangan Seila kosong—tidak ada dua gelas minuman dingin yang ia bawa di garis waktu sebelumnya.
Menyadari situasi telah berubah, Andersen mengambil inisiatif. "Seila, apakah kau mau ke kafe di dalam mal dulu sebelum kita masuk ke aula?" tanyanya, suaranya tetap sedingin es meski jantungnya masih berdegup akibat sisa pertemuan dengan makhluk tadi.
Seila memiringkan kepalanya, senyum jahil tersungging di bibirnya. "Wah, apa ini? Apakah kau baru saja mengajakku berkencan, Andersen?" goda Seila dengan nada nakal, matanya berbinar menatap reaksi pemuda itu.
"Apakah memang seperti itu ya? Membuat kata kencan terdengar seperti candaan adalah kebiasaan orang Eropa?" sahut Andersen dingin. Ia tidak bermaksud menyindir, namun logikanya yang kaku tidak bisa memproses candaan.
Seila tertawa kecil, sedikit tersipu melihat kejujuran Andersen yang pahit. "Mungkin saja. Ayo, aku tahu tempat yang bagus."
Seila tertawa renyah, suara tawanya memecah ketegangan yang sempat menggantung di antara mereka. "Ternyata kamu orang yang kaku sekali ya, Andersen? Mungkin sifat ini yang membuatmu kurang populer di mata gadis-gadis lain," godanya lembut, lalu ekspresinya melunak. "Tapi, aku minta maaf ya kalau candaanku tadi membuatmu tersindir."
Mendengar itu, sudut bibir Andersen sedikit terangkat, membentuk sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat. Meski begitu, ia segera menarik kembali ekspresi itu dan mempertahankan nada bicaranya yang datar.
Andersen tidak ingin Seila salah paham. Ia tidak ingin gadis di sampingnya ini menganggap bahwa ia adalah pria yang mudah jatuh hati atau mudah luluh hanya dengan sedikit perhatian.
Pikirannya melayang sejenak ke masa lalu, saat ia selalu berakhir sebagai pihak yang kalah dalam "tarian" manipulatif para gadis... momen-momen di mana perasaannya dipermainkan.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam kafe, pikiran Andersen tidak sedikit pun tertuju pada menu. Ia sedang memikirkan caranya lari dari tempat ini.
Namun, saat mereka duduk berseberangan, pandangan Andersen tak sengaja terkunci pada Seila untuk waktu yang cukup lama.
Gadis itu sedang menunduk, fokus memilih hidangan. Tangan kirinya menyangga dagu dengan anggun, sementara jemarinya menelusuri daftar menu dengan sangat teliti. Cahaya lampu kafe yang hangat jatuh di wajahnya, menciptakan pemandangan yang menenangkan.
Sial, batin Andersen sambil membuang muka dengan gusar. Inilah yang paling tidak ia sukai. Mengapa wanita selalu punya cara untuk membuatnya "menari" di atas telapak tangan mereka?...
Andersen memaksa matanya untuk melihat ke sekeliling kafe, Ia sedang mencari cara agar penyerangan pasukan itu gagal, atau setidaknya, meminimalisir pertumpahan darah yang akan terjadi.
"Apakah aku sudah terlihat membosankan?" tanya Seila tiba-tiba, membuyarkan lamunan Andersen. "Kenapa kamu mendadak membuang muka dariku?"...
Andersen kembali menatap wajah gadis itu. Ia tidak menjawab pertanyaan Seila, melainkan melemparkan pertanyaan sangat aneh. Hal ini disebabkan Andersen sudah sangat Frustasi dengan keadannya. Kematian yang berulang ditempat yang sama...
"Seila... apakah kamu memiliki teman atau koneksi yang saat ini berada di Inggris?"
Pertanyaan itu membuat Seila tertegun. Di tengah suasana kafe yang santai, pertanyaan Andersen terdengar sangat janggal.
"Aku mengenalnya, bahkan aku menyimpan nomornya," jawab Seila sambil mencoba mengingat-ingat.
"Tapi, dia bukan orang Inggris asli... Karena ibunya berasal dari Inggris dan ayahnya berasal dari Firlandia. Humnnn, dia orang yang sedikit menyebalkan dan selalu memberiku perintah untuk tidak keluar rumah...
Ucap Seila sambil mengerucutkan bibirnya dan menggunakan nada yang terkesan, seperti dirinya jengkel terhadap orang yang dia maksud.
Dia kakak laki-lakiku, dan dia juga menghadiri acara ini sekarang. Kalau tidak salah, dia diundang karena suatu urusan mendesak... entahlah, aku tidak terlalu peduli. Lagipula, dia memang tipe orang yang seperti itu..."
Saat Seila sedang asyik menumpahkan kekesalannya tentang sang kakak, seorang pria yang baru saja melangkah masuk ke kafe mulai mendekat.
Andersen, yang sejak awal waspada, segera menyadari kemiripan struktur wajah antara pria itu dan Seila. Garis rahang dan sorot mata mereka hampir identik.
Andersen menyadari bahwa subjek pembicaraan mereka kini berdiri tepat di belakang Seila.
"Apakah kakakmu memang semenyebalkan itu? Sampai-sampai kau harus membicarakannya di belakangnya?" Sebuah suara memotong perkataan Seila.
Seila tersentak dan menoleh dengan cepat. Pria itu berdiri, menatap adiknya dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Fröken Seila," lanjut pria itu dalam bahasa Swedia, memberikan penekanan formal pada sebutan 'Nona' untuk adiknya sendiri.