Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil Tanpa Perhatian
Tiga bulan Lestari mengandung anak Dyon.
Perutnya mulai kelihatan. Nggak besar—cuma sedikit buncit, kayak abis makan banyak. Tapi kalau dipake daster ketat, kelihatan. Kelihatan jelas.
Rambutnya makin rontok. Setiap sisir, pasti ada belasan helai nempel di sisir. Kulitnya kusam. Bibir nya pecah-pecah parah, nggak ada lipstik atau pelembab apapun.
Matanya cekung. Lingkaran hitam makin gelap. Pipinya makin cekung, tulang pipi nya menonjol banget.
Dia kurus. Kurus kering.
Tapi perutnya tumbuh.
Kontras yang... aneh. Menyedihkan.
---
Pagi itu—Kamis pagi, awal bulan ketiga kehamilan—Lestari lagi jalan ke ujung gang. Gang yang sempit, gang yang becek abis hujan semalam.
Di punggungnya ada karung goni—karung goni putih bekas beras yang sekarang diisi sama tumpukan baju kotor. Baju tetangga.
Sekarang Lestari kerja. Kerja serabutan. Buruh cuci baju tetangga.
Wulandari yang ngatur—lebih tepatnya maksa. "Lo mau makan, lo harus cari duit sendiri! Gue udah bilang kan?! Hamil bukan alasan buat ngemis!"
Jadi Lestari keliling kampung, nawarin jasa cuci baju. Lima ribu per kilo. Murah banget—lebih murah dari laundry. Jadi beberapa tetangga mau.
Sekarang dia dapet langganan tiga orang. Ibu Sumi—penjual sayur yang rumahnya tiga rumah dari rumah Pak Dengklek. Ibu Tini—buruh pabrik yang anaknya empat, baju kotor numpuk. Sama Pak Ramli—bujangan tua yang bajunya bau banget, penuh oli, dia mekanik motor.
Setiap hari Lestari ngambil baju kotor mereka. Bawa pulang. Cuci. Jemur. Setrika—kalau diminta setrika, bayar tambah dua ribu. Terus antar lagi.
Dari tiga langganan itu, sehari dia dapet dua puluh ribu. Dua puluh ribu sehari. Enam ratus ribu sebulan.
Tapi uang itu nggak buat dia.
Lima belas ribu dari dua puluh ribu itu harus disetor ke Wulandari. "Uang ngontrak! Uang listrik! Uang air! Lo kan pake juga!"
Jadi Lestari cuma dapet lima ribu sehari.
Lima ribu.
Buat makan? Nggak cukup. Buat beli susu hamil? Mimpi.
Lima ribu itu cuma cukup buat beli tempe dua potong, atau nasi bungkus pake tahu aja tanpa lauk lain.
Tapi ya... itu lebih baik dari nggak ada.
---
Pagi itu, Lestari sampai di rumah Ibu Sumi. Rumahnya kecil, tembok nya retak-retak, cat hijau pudar. Di depan rumah ada gerobak dorong—gerobak yang biasa dipake jualan sayur keliling.
"Ibu Sumi!" panggil Lestari dari luar pagar yang nggak ada pintu—cuma kawat berkarat dipinggir.
Ibu Sumi keluar—perempuan gemuk, usia empat puluhan, rambutnya diikat kuncir kuda, mukanya bulat, kulitnya sawo matang gelap kena matahari terus.
"Oh, Lestari! Udah dateng? Nih, bajunya udah gue pisahin." Ibu Sumi ngasih kantong plastik hitam gede—isi nya tumpukan baju. Bau keringetan nyengat banget.
Lestari nerima dengan senyum tipis. "Makasih, Bu. Besok sore gue anterin ya."
"Iya. Eh, kamu kelihatan pucat ya? Udah makan belum?"
"Udah, Bu. Aku baik-baik aja kok." Bohong. Lestari belum makan dari kemarin malam—cuma minum air putih doang.
"Ya udah. Hati-hati jalan ya. Kamu kan lagi hamil."
Lestari ngangguk, senyum lagi—senyum yang dipaksain—terus jalan keluar.
Langkahnya berat. Karung di punggung makin berat. Tambah baju dari Ibu Sumi, sekarang beratnya mungkin sepuluh kilo lebih.
Punggungnya sakit. Pinggang nya kayak ditarik ke bawah. Kaki nya pegel, betis nya kram.
Tapi dia terus jalan.
Jalan menyusuri gang yang becek. Sandal jepit nya—sandal jepit lusuh yang solnya udah tipis banget—nyemplung ke genangan air, bikin kaki nya basah, kotor lumpur.
"Ugh..." Lestari mengerang pelan. Pusing. Pusing banget. Kepala nya berputar, pandangan nya kabur sebentar.
Dia berhenti. Sandar ke tembok rumah orang yang catnya udah mengelupas. Napas nya terengah-engah.
Nggak boleh pingsan. Nggak boleh.
Dia tarik napas dalam. Buang pelan. Lagi. Lagi.
Setelah agak enakan, dia jalan lagi. Pelan. Satu langkah. Dua langkah.
Sampai di rumah—rumah Dyon—dia liat Bu Ratih lagi nyapu depan rumahnya. Pak Dengklek duduk di teras, lagi mengupas singkong sambil dengerin radio yang sember.
"Lestari!" Bu Ratih manggil, tapi Lestari nggak denger. Pusing nya makin parah. Pandangan nya makin kabur.
Dia sampai di belakang rumah—tempat biasa dia cuci baju—terus turunin karung dari punggung.
Karung nya jatuh—BRUG—keras. Lestari limbung, tangan nya menyangga tembok.
Gelap.
Pandangan nya gelap total.
Terus—
Tubuhnya jatuh.
BRUG.
Lestari pingsan. Jatuh ke lantai semen belakang rumah. Kepala nya nabrak sedikit—nggak keras, tapi cukup buat bikin memar nanti.
---
"YA ALLAH NENG! BAPAK! BAPAK TOLONG! NENG LESTARI PINGSAN!"
Suara Bu Ratih teriak keras dari rumah sebelah. Dia liat—dari atas pagar bambu—Lestari tergeletak di lantai belakang.
Bu Ratih langsung lompat—lompat sebenarnya nggak tinggi, pagar nya cuma setinggi pinggang—terus lari ke arah Lestari.
"Neng! Neng Lestari! Bangun!" Bu Ratih mengguncang bahu Lestari pelan. Nggak ada respon.
"BAPAK! BAPAK TOLONG NENG LESTARI PINGSAN!"
Pak Dengklek di teras rumahnya ngangkat kepala. "HAH?!"
"NENG LESTARI PINGSAN, PAK!"
"HAH?! PINTU RUSAK?!"
Bu Ratih melotot. "BUKAN! PINGSAN! PIIIING-SAAAN!"
"OOOOH! MAKANAN!" Pak Dengklek berdiri, jalan ke dapur rumahnya. "BAPAK AMBIL NASI YA!"
Bu Ratih nyaris nangis. "Bapak budek beneran sekarang!" Dia nyerah manggil bapaknya. Dia harus bawa Lestari sendiri.
Bu Ratih—walaupun badannya kecil—punya tenaga lumayan. Dia angkat Lestari—posisi gendong kayak orang nikahan—terus bawa keluar gang.
"Neng... bertahan ya... Ibu bawa ke puskesmas..."
Lestari nggak sadar. Napas nya pelan, muka nya pucat pasi.
Bu Ratih jalan cepet—hampir lari—keluar gang, ke jalan raya, naik angkot. Supir angkot kaget liat perempuan pingsan.
"Bu ini kenapa?!"
"Dia pingsan, Pak! Tolong anter ke puskesmas Ciroyom!"
"Naik naik! Cepet!"
Angkot langsung melaju. Bu Ratih peluk Lestari erat, mengelus kepala Lestari pelan. "Kamu harus kuat, Nak... kamu punya bayi di perut... kamu harus kuat..."
---
Puskesmas Ciroyom.
Gedung nya kecil, tembok nya warna krem kotor, cat nya udah mengelupas. Halaman nya sempit, penuh motor sama sepeda.
Bu Ratih bawa Lestari masuk. Perawat langsung datang, membantu angkat Lestari ke brangkar, bawa ke ruang periksa.
Dokter nya dokter muda—perempuan, usia tiga puluhan, rambutnya dikuncir, pake seragam putih. Namanya dokter Rina.
"Dia kenapa?" tanya dokter Rina sambil cek tekanan darah Lestari.
"Dia pingsan, Dok. Dia lagi hamil tiga bulan. Kondisinya... kondisinya nggak baik, Dok. Dia kurus banget, kerja berat terus..."
Dokter Rina cek tekanan darah—90/60. Rendah.
Cek nadi—lemah.
Liat mata—kelopak mata dalem nya pucat, tanda anemia.
Dokter Rina ngeluarin napas panjang. "Dia kekurangan gizi parah. Anemia berat. Tekanan darah rendah. Dia butuh istirahat total, makan bergizi, minum vitamin, zat besi. Kalau nggak... janin nya bisa kenapa-kenapa. Atau bahkan dia sendiri bisa kolaps."
Bu Ratih matanya berkaca-kaca. "Dok... dia... dia tinggal di lingkungan yang... yang nggak mendukung. Keluarganya nggak peduli sama dia. Malah maksa dia kerja keras."
Dokter Rina natap Lestari yang masih pingsan. Mukanya prihatin. "Ini kasus kekerasan dalam rumah tangga ya?"
Bu Ratih ngangguk pelan.
Dokter Rina menggeleng, ngeluarin napas lagi. "Saya bisa kasih vitamin, zat besi, sama surat istirahat. Tapi... kalau dia balik ke lingkungan yang sama, percuma. Dia tetep bakal drop."
"Saya... saya coba bantu sebisanya, Dok. Tapi saya juga nggak bisa terlalu campur tangan... takutnya malah bikin masalah..."
Dokter Rina ngangguk paham. Dia nulis resep, ngasih ke Bu Ratih. "Ini resep vitamin sama zat besi. Beli di apotek luar, yang di puskesmas lagi kosong. Terus ini surat istirahat—minimal dua minggu dia nggak boleh kerja berat. Dan dia harus makan tiga kali sehari. Nasi, lauk, sayur. Nggak bisa cuma nasi sama garam."
Bu Ratih nerima resep itu. Matanya baca—total biaya obat sekitar seratus ribu.
Seratus ribu.
Bu Ratih menelan ludah. Uang nya pas-pasan juga. Suami nya gajinya tiga juta sebulan, tapi buat bayar kontrakan, listrik, air, makan sekeluarga. Nggak banyak sisa.
Tapi... dia nggak bisa nggak bantu Lestari.
"Baik, Dok. Makasih."
---
Setengah jam kemudian, Lestari sadar. Mata nya terbuka pelan, pandangan nya masih kabur. Dia liat langit-langit putih—langit-langit puskesmas.
"Neng? Neng udah sadar?" Suara Bu Ratih.
Lestari noleh pelan. Liat Bu Ratih duduk di samping brangkar, mukanya lega tapi matanya merah—abis nangis kayaknya.
"Bu... Ratih?" Suara Lestari serak, pelan banget.
"Iya, Nak. Kamu pingsan tadi. Ibu bawa kamu ke puskesmas."
Lestari ngerem. Ngerti sekarang. Dia pingsan. Dia... dia lemah. Dia nggak kuat.
"Bayiku... bayiku gimana, Bu?" Tangan Lestari langsung mengelus perut.
"Bayi kamu aman, Nak. Dokter bilang aman. Tapi kamu harus istirahat. Kamu kekurangan gizi. Kamu harus makan yang bener."
Lestari nutup mata. Air mata keluar dari sudut mata, ngalir ke pelipis.
"Aku... aku nggak punya uang buat beli makanan, Bu... aku... aku cuma dapet lima ribu sehari... itu pun nggak tiap hari... kadang nggak dapet sama sekali..."
Bu Ratih pegang tangan Lestari. Tangannya hangat. "Ibu tau, Nak. Ibu tau. Makanya Ibu bantu sebisanya."
Bu Ratih ngeluarin dompet dari kantong celananya—dompet kain lusuh warna cokelat. Dia buka, keluarin uang lima puluh ribu. Dikasih ke Lestari.
"Ini buat kamu. Beli makanan. Jajan yang bergizi. Jangan kasih ke Dyon atau Wulandari. Ini buat kamu sama bayi kamu."
Lestari natap uang itu. Lima puluh ribu. Uang yang... uang yang sangat berharga buat dia.
"Bu... ini... ini kebanyakan... aku nggak bisa terima—"
"Terima. Ibu ikhlas. Ibu nggak mau kamu sama bayi kamu kenapa-kenapa. Udah, simpen. Jangan bilang siapa-siapa."
Lestari nerima uang itu dengan tangan gemetar. Dia lipet kecil, masukin ke dalam bra—tempat paling aman, Dyon nggak pernah pegang-pegang bra nya kalau lagi... lagi itu.
"Makasih, Bu... makasih... aku nggak tau harus bales gimana..."
"Nggak usah dibales. Kamu sehat aja udah cukup." Bu Ratih senyum tipis, mengelus kepala Lestari. "Yuk, kita pulang. Tapi nanti kamu istirahat ya. Jangan cuci baju dulu hari ini."
Lestari ngangguk.
Mereka pulang naik angkot lagi. Lestari duduk diem, natap jendela angkot. Liat orang-orang di jalan yang jalan santai, yang senyum-senyum, yang... yang hidup normal.
Hidup yang nggak pernah dia rasain.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁