“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP11
Flashback.
Malam itu, di kediamannya, atau lebih tepatnya di ruangan kerja Edwin — Rico mengetuk pintu dan masuk membawa sepucuk surat bersegel tinta merah.
“Tuan, ada surat untuk Anda,” ucap Rico dengan suara pelan mengingat sang tuan sangat suka suasana tenang di dalam ruangan kerja.
Alis Edwin terangkat sebelah. “Dari?”
“Anonim. Apa saya harus membuangnya?” tanya Rico hati-hati.
Edwin terdiam sesaat, merenung dengan tatapan kosong. Wajah-wajah para korban yang nyawanya ia renggut, kembali terbayang. Bisa saja kan, salah satu dari anggota para korban tak percaya bahwa ia telah tewas akibat insiden lakalantas yang direkayasa sang nenek — lalu mati-matian berusaha mencari tau kebenarannya serta keberadaannya, kemudian menyusun rencana buruk yang mengancam keselamatan keluarga kecilnya? Begitu pikiran Edwin saat itu.
“Bawa kemari,” perintah Edwin akhirnya.
Rico mendekat, jemarinya terulur gugup saat memberikan surat, ia lekas keluar dari ruangan setelah Edwin meraih amplop kuning gading itu.
Setelah pintu tertutup rapat dan memastikan suara jejak kaki Rico menjauh, Edwin membuka segel amplop. Ia membaca tiap bait dengan kening berkerut.
Untukmu Mr. Tommy Edwin Mangkujiwo.
Kami V.I.P mengundang Anda bersenang-senang.
Edwin menatap amplop bertuliskan to Mr. Keenan, lalu menatap lagi isian surat yang menulis nama aslinya. Ini tidak bisa diremehkan. Maka, ia mengetik alamat situs yang tertera pada surat ke mesin pencarian Google.
Ia dibawa berseluncur ke situs gelap tanpa alamat jelas. Matanya menyipit ketika di halaman utama hanya ada satu direktori bertuliskan ‘Mr. Edwin’.
Edwin lekas membukanya, dan isinya berhasil membuat dada pria itu bergemuruh hebat.
“Bangsat!” umpatnya sambil menggebrak meja.
Di layar laptop, foto Langit dan Bintang terpampang di situs, sedang berdiri di luar pagar sekolah menunggu jemputan. Yang membuat Edwin murka adalah titik laser merah yang terarah tepat di dada keduanya. Anak-anaknya dibidik oleh orang bersenjata dari kejauhan, entah siapa yang mengancamnya.
Edwin segera meraih ponsel di atas meja dan mencari kontak Bella, ia menatap bimbang foto profil istrinya — lalu kembali meletakkan ponsel itu ke tempat semula.
“Aku nggak bisa ngelibatin Bella,” gumamnya.
Ia seperti sedang menuai karma atas semua dosa. Mata Edwin terarah ke layar cukup lama, jemarinya bergetar hebat.
“Sial, sial, sial ...!” Amarahnya pada diri sendiri tak terbendung.
Edwin meraih jam pasir di sudut meja, lalu melemparkannya ke dinding tanpa ragu.
Prang!
Kaca itu pecah berhamburan, butir-butir pasir tumpah ke lantai seperti waktu yang runtuh sekaligus—tak bisa diputar ulang.
“Apa yang harus aku lakukan?!” desisnya.
Tatapannya kembali terpaku pada layar. Tepat di bawah foto Langit dan Bintang, tertera sepenggal tulisan singkat yang terasa seperti ejekan.
Anda setuju akan bersenang-senang?
Edwin menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu membukanya kembali. Kursor bergerak pelan ke arah tulisan itu. Jemarinya berhenti tepat di atas tombol persetujuan.
“Kalau ini harga yang harus kubayar atas semua perbuatanku dulu,” gumamnya tanpa emosi, “maka aku akan datang.”
Klik.
Di layar, setelah Edwin menyetujuinya — satu kalimat baru pun muncul.
Selamat datang kembali, Mr. Edwin.
Tulisan itu memudar, berganti deretan koordinat, jadwal, dan satu nama lokasi. Tak ada penjelasan panjang, hanya waktu keberangkatan, titik temu, dan satu perintah singkat, yaitu ‘datang sendiri’.
Malam itu juga, ia mulai menghilang dari rutinitasnya. Selang sehari, ia menempuh perjalan udara. Pada akhirnya, petunjuk di situs itu membawa kakinya menginjak Pulau Darasila. Bertemu sang ketua.
“Selamat datang Mr. Keenan,” sambut sang ketua dengan kedua tangan terbuka lebar. “Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan sosok legendaris seperti Anda.”
Edwin diam saja, sorot matanya kosong, ekspresi seperti orang tak memiliki hati nurani — persis seperti sosoknya yang lama, sosok si penggila nyawa.
Sang ketua mengulurkan jemarinya dengan senyum lebar yang berlebihan, penuh harap agar sosok idola yang selama ini ia puja sudi menyambut jabatan tangannya.
“Anda lebih suka dipanggil dengan nama Keenan atau ... Edwin?” tanyanya dengan tangan tetap terulur meskipun Edwin tak menyambutnya.
Edwin memiringkan kepalanya. “Apa yang kau inginkan dariku?”
*
*
*
k dehwa lekas sembuh 😩