akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 – Pertarungan Pertama
Langit sore itu tampak kelabu. Awan menggantung rendah di atas kota, seolah menekan gedung-gedung tinggi hingga tampak lebih sempit dari biasanya. Rey berdiri di balkon rumahnya, menatap jalanan yang masih ramai oleh kendaraan dan manusia yang tidak menyadari apa yang akan segera terjadi.
Dadanya terasa sesak.
“Sudah waktunya…” gumamnya.
Sejak pagi tadi, layar statusnya terus berkedip dengan peringatan samar. Getaran aneh terasa di udara, seperti sesuatu sedang berusaha menembus batas dunia. Rey tahu tanda itu. Ia pernah merasakannya di kehidupan sebelumnya—saat monster pertama muncul dan segalanya berubah.
Teleponnya bergetar.
Leoni.
“Rey, kamu ngerasa nggak? Udara kayak berat banget.”
Rey membalas cepat.
“Iya. Jangan keluar rumah. Kalau ada suara aneh, sembunyi.”
Belum sempat mengirim pesan berikutnya, sebuah suara dentuman keras mengguncang udara.
DUAAARRR!!
Asap hitam membubung dari arah pusat kota. Orang-orang berteriak. Kendaraan berhenti mendadak. Suara klakson bercampur dengan jeritan panik.
Rey berlari ke luar rumahnya dan melompat turun ke jalan. Di kejauhan, sebuah lubang besar terbuka di tengah persimpangan, seolah bumi itu sendiri robek.
Dari dalamnya, sesuatu merayap keluar.
Tubuhnya besar, berwarna keabu-abuan, dengan empat kaki bengkok dan lengan panjang berujung cakar. Mulutnya terbelah hingga ke dada, dipenuhi barisan gigi runcing.
Monster.
“Sudah mulai…” bisik Rey.
Orang-orang berlarian. Beberapa terjatuh. Monster itu mengaum keras, suaranya membuat kaca-kaca gedung bergetar.
Rey mengangkat tangannya. Tameng energi langsung menyelimuti tubuhnya.
“Aku tidak akan membiarkan ini terulang.”
Ia berlari ke arah monster.
Leoni berlari keluar dari rumahnya dengan napas tersengal. Senjata sniper otomatis muncul di sampingnya, melayang mengikuti langkahnya.
“Rey bilang jangan keluar…” gumamnya. “Tapi kalau monster itu terus maju…”
Ia melihat kepulan asap dan mendengar suara auman yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Tidak mungkin aku cuma sembunyi.”
Leoni menaiki motor dan melaju ke arah pusat kota.
Monster itu mengayunkan lengannya ke arah mobil yang terparkir. Mobil itu terlempar seperti mainan, menghantam tiang lampu dan meledak.
Rey berdiri di hadapannya, jantungnya berdebar kencang.
“Perhatianmu ke aku.”
Ia melompat dan meninju kaki monster itu, dilapisi tameng energi. Benturan itu membuat monster terhuyung.
Monster mengaum dan mencakar Rey. Rey mengangkat tamengnya.
KRAAANG!!
Tameng bergetar hebat, nyaris retak. Rey terpental beberapa meter, berguling di aspal.
“Masih terlalu kuat…”
Monster itu melompat, siap menghancurkannya.
BRAAANG!!
Tiba-tiba, cahaya biru menembus udara dan menghantam kepala monster.
Leoni berdiri di kejauhan, membidik dengan satu tangan.
“Rey! Nunduk!”
Monster menggeram, kepalanya mengeluarkan asap.
“Timing kamu bagus,” teriak Rey sambil berdiri.
“Jangan santai! Aku cuma bisa nahan dia sebentar!”
Monster berbalik ke arah Leoni dan berlari dengan kecepatan mengejutkan.
“Dia mengincarku!” seru Leoni.
Rey berlari mengejar monster itu, mengaktifkan tameng dalam bentuk dinding besar.
“Leoni, ke kanan!”
Leoni melompat ke samping saat Rey menabrakkan tamengnya ke tubuh monster. Monster itu terhempas ke dinding gedung.
Gedung retak, debu beterbangan.
“Sekarang!” teriak Rey.
Leoni membidik mata monster.
Cahaya biru melesat.
DUAARR!!
Salah satu mata monster pecah. Cairan hitam muncrat ke jalan.
Monster meraung, mengamuk tak terkendali.
Ia mengayunkan lengannya ke arah Leoni.
Rey melompat di depannya.
KRAAANG!!
Tameng Rey menahan cakar monster, tapi retakan menyebar di permukaannya.
“Leoni, mundur!”
“Tapi—”
“MUNDUR!”
Leoni melompat ke belakang, sementara Rey memusatkan seluruh energinya ke tameng.
“Aku tidak akan mati di sini…”
Tameng itu berubah lebih tebal, lebih terang.
Monster menekan dengan seluruh berat tubuhnya.
Rey berteriak menahan tekanan itu.
“Sekarang… hancurkan dia!”
Leoni membidik bagian mulut monster yang terbuka lebar.
Sniper otomatisnya berdenyut lebih terang dari sebelumnya.
“Jangan bergerak…”
Cahaya itu melesat lurus menembus mulut monster dan keluar dari belakang kepalanya.
BOOOM!!
Tubuh monster itu berhenti bergerak. Perlahan, ia runtuh ke aspal.
Asap hitam keluar dari lukanya, lalu tubuhnya mulai menguap seperti bayangan yang tersapu angin.
Hening menyelimuti persimpangan itu.
Rey jatuh berlutut, napasnya tersengal.
Leoni berlari menghampirinya.
“Kamu nggak apa-apa?!”
Rey tersenyum lemah.
“Masih hidup.”
Leoni tertawa gugup, lalu duduk di sampingnya.
“Kita… benar-benar membunuh monster.”
Rey menatap sisa-sisa asap yang menghilang.
“Dan ini baru yang pertama.”
"Kamu tidak takut saat berhadapan dengan monster itu? " tanya Rey.
"Sebenarnya takut, tapi melihat kamu yang berani melawannya sendiri.. " lanjutnya "Aku tidak takut lagi"
Di udara, layar transparan muncul di depan mereka berdua.
Monster Kelas Awal dikalahkan
Pengalaman diperoleh
Kemampuan meningkat
Leoni membaca layar itu dengan mata membesar.
“Jadi… ini nyata.”
Rey mengangguk.
“Dan mulai hari ini, dunia tidak akan sama lagi.”
Di kejauhan, sirene polisi mulai terdengar. Orang-orang mengintip dari balik gedung, wajah mereka dipenuhi ketakutan dan kebingungan.
Leoni menatap Rey.
“Rey… setelah ini, apa yang kita lakukan?”
Rey berdiri perlahan.
“Kita bersiap.”
“Untuk apa?”
“Untuk gelombang berikutnya.”
Ia menatap langit yang mulai menggelap, awan bergerak membentuk pusaran samar.
“Karena setelah monster pertama muncul… yang lain akan menyusul.”
Leoni mengepalkan tangan.
“Kalau begitu, kita akan hadapi bersama.”
Rey mengangguk.
Namun di balik ketenangannya, ia tahu satu hal:
di suatu tempat di kota ini, monster yang jauh lebih kuat telah membuka matanya.
Pertarungan pertama dimenangkan, tetapi itu hanya awal.
Rey dan Leoni telah melangkah ke medan perang dunia baru.