Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Dari Ibu Kota
Malam di Desa Sukamaju selalu membawa sunyi, namun di teras rumah Ustadz Yusuf, sunyi itu terasa begitu berat bagi Arka. Di depannya, sebuah mushaf Al-Qur'an masih terbuka, baru saja ia menyelesaikan pelajaran tentang hukum mad. Namun, getaran ponsel di saku celananya membuyarkan fokus yang baru saja ia bangun dengan susah payah.
Terlihat pada layar ponselnya "Papa Calling.." Arka menarik napas panjang sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Pa."
"Arka, Papa sudah bicara dengan Sekretaris Jenderal di kementerian. Surat mutasi mu sedang diproses. Bulan depan kamu ditarik kembali kesini. Sudah cukup kamu di desa itu. Kariermu akan jauh lebih cepat melesat di pusat," suara Pak Baskara terdengar otoriter, tanpa ruang untuk negosiasi.
Arka terdiam sejenak, menatap remang lampu di teras.
"Pa, Arka sudah bilang, Arka ingin menyelesaikan masa tugas di sini. Kontrak penugasannya satu tahun. Masih ada sisa waktu beberapa bulan lagi. Banyak program yang sedang berjalan, yang belum selesai."
"Program apa? Memperbaiki jembatan kayu? Kamu itu disiapkan untuk kursi yang lebih tinggi, Arka. Jangan buang waktu jadi kades di pelosok. Papa tidak mau dengar alasan lagi. Segera siapkan berkas mu."
"Maaf Pa, Arka menolak. Arka akan tetap di Sukamaju sampai masa jabatan Arka selesai secara terhormat," jawab Arka dengan nada yang rendah namun sangat tegas.
Telepon itu ditutup secara sepihak oleh Pak Baskara dengan nada marah yang terlihat. Arka menyandarkan kepalanya di tiang kayu teras. Beban di bahunya terasa berlipat ganda. Di satu sisi, ia ingin memantaskan diri demi Zahwa dan desa ini, di sisi lain, akar keluarganya di kota mencoba mencabutnya paksa dari tanah yang baru saja ia cintai.
***
Keesokan harinya, Arka duduk di kursi kerjanya dengan tatapan kosong. Tumpukan berkas di depannya seolah tidak bermakna. Namun, ketenangan itu kembali terusik saat pintu kantornya terbuka tanpa ketukan.
Dokter Citra masuk dengan gaya yang sangat santai, membawa dua gelas kopi kekinian yang ia beli dari minimarket di kecamatan.
"Selamat siang, Pak Kades idola," sapanya sambil meletakkan kopi itu di meja Arka.
"Wajahnya murung sekali, Kenapa? Bosan ya tinggal di desa yang cuma ada pohon teh begini?"
Arka menegakkan duduknya, mencoba kembali profesional. "Ada perlu apa ya Dokter Citra? Kenapa Anda selalu tiba-tiba masuk ruangan saya tanpa persetujuan? Saya sedang banyak pekerjaan."
"Ayolah, Pak Arka. Kita ini satu nasib. Sama-sama orang kota yang dibuang ke sini. Aku tahu rasanya penat bicara sama warga yang pola pikirnya kaku. Makanya, aku bawain kopi kota supaya kamu ingat kalau dunia kita yang sebenarnya bukan di sini," Citra duduk di depan Arka, menatapnya dengan pandangan yang terlalu intens.
Arka menggeser gelas kopi itu sedikit menjauh. "Saya tidak merasa dibuang, Dokter. Dan bagi saya, dunia saya sekarang adalah Sukamaju. Maaf, saya sedang tidak ingin diganggu."
Tanpa berkata lagi, Citra keluar dari ruangan Arka, ia mendengus kesal, ia merasa sangat tidak dianggap oleh Arka.
Arka menghempaskan tubuhnya ke senderan kursi, memijat pelipis nya sedikit keras, cukup pening yang ia rasa.
"Apa-apaan sih Dokter Citra itu.. Ck.."
***
Sore hari, Arka meminta Pak Sugeng untuk menemaninya di ruang belakang kantor, jauh dari jangkauan staf yang lain. Hanya kepada pria tua inilah Arka bisa menumpahkan segala isi di kepalanya. Ia hanya bisa nyaman berbicara dengan Pak Sugeng kali ini.
"Orang tua saya ingin saya pulang, Pak Sugeng," Arka memulai ceritanya dengan nada getir. "Papa marah besar karena saya menolak mutasi ke kementerian."
Pak Sugeng mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk perlahan. "Lalu, apa yang membuat Bapak begitu berat untuk pergi? Apakah hanya karena program desa?"
Arka menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.
"Awalnya mungkin iya. Tapi sekarang... Bapak tahu sendiri alasannya. Setiap kali saya belajar mengaji di rumah Ustadz Yusuf, setiap ayat yang saya baca, saya selalu membayangkan apakah suatu saat nanti saya bisa membacanya di depan Kiai Hasan, dan.. Di depan Zahwa."
Pak Sugeng tersenyum bijak. "Ujian laki-laki itu ada tiga, Pak Arka. Harta, tahta, dan wanita. Sekarang Bapak sedang diuji ketiganya sekaligus. Jabatan di kota itu tahta, kemarahan orangtua Bapak itu soal prinsip, dan Neng Zahwa... dia adalah tujuan yang Bapak pilih."
"Tapi saya merasa terjepit, Pak Sugeng. Dokter Citra selalu datang mengganggu, menganggap saya ini setipe dengannya, karena sama-sama dari kota yang ditugaskan di desa ini. Sementara orang tua saya menganggap saya menyia-nyiakan masa depan. Ditambah lagi, saya masih merasa ilmu agama saya sangat jauh di bawah standar pesantren. Saya takut kalau saya bertahan, saya hanya akan mengecewakan semua orang."
Pak Sugeng menepuk pundak Arka dengan tangan yang kasar namun hangat. "Pak Arka, dengar saya. Ikan yang kuat adalah ikan yang berenang melawan arus, bukan yang mengikuti aliran air."
"Soal ilmu agama," lanjut Pak Sugeng, "Allah tidak melihat seberapa cepat Bapak hafal, tapi seberapa tulus Bapak berusaha. Teruslah mengaji dengan Ustadz Yusuf. Jangan biarkan gangguan dari Dokter itu atau tekanan dari kota menghentikan langkah Bapak."
Arka menatap Pak Sugeng, merasa sedikit beban di kepalanya terangkat. "Bapak benar. Saya sudah memulai ini, saya tidak boleh berhenti di tengah jalan."
"Satu lagi," tambah Pak Sugeng dengan kedipan mata jenaka.
"Neng Zahwa itu tipe perempuan yang tidak suka laki-laki yang mudah menyerah."
Arka tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu. "Pak Sugeng bisa aja.. Oya Pak.. Bisa minta tolong?."
"Sebisa saya, saya bantu Pak"
Arka membetulkan posisi duduknya.
"Tolong, jika tiba-tiba Dokter Citra datang, jangan biarkan dia masuk ruangan saya tanpa permisi, terlebih jika tidak ada kepentingan."
"Siap Pak Kades... Laksanakan!"
Arka hanya mengangguk tersenyum melihat Pak Sugeng dengan gaya hormatnya.
Malam harinya, Arka kembali ke rumah Ustadz Yusuf. Di tengah cahaya lampu temaram, ia kembali membuka mushafnya. Di sela-sela bacaannya, ia teringat wajah Zahwa yang sedang memanah.
"Jika dia bisa begitu fokus pada sasarannya, aku pun harus begitu," batinnya.
Arka memutuskan. Ia akan menghadapi kemarahan Papanya. Ia akan tetap menolak Citra dengan cara yang lebih tegas. Dan ia akan terus belajar. Sebab di ujung jalan yang berliku ini, ada sebuah senyum di balik gerbang pesantren yang ingin ia menangkan secara terhormat, bukan dengan jabatan kementerian, tapi dengan keteguhan hati seorang laki-laki yang telah menemukan rumahnya.
...🌻🌻🌻...