NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Riuh Rendah di Balik Pesta

​Halaman Balai Desa Makmur Jaya berubah jadi lautan manusia. Bau sate ayam yang terbakar lemaknya sendiri bercampur dengan aroma melati dari sanggul ibu-ibu PKK. Malam ini bukan sekadar perayaan setahun pernikahan Arum dan Baskara, tapi syukuran warga karena "merdeka" dari cengkeraman tengkulak.

​Baskara berdiri di sudut pendopo, membetulkan letak jam tangannya berkali-kali. Matanya tak lepas dari Arum yang sedang tertawa bersama Mbak Lastri di dekat meja soto. Istrinya itu hanya memakai kebaya kutubaru sederhana bermotif kembang-kembang kecil, tapi di mata Baskara, Arum malam ini jauh lebih bersinar daripada lampu hias yang melilit pohon beringin.

​"Mas, jangan dipelototi terus. Ibu Kades nggak bakal lari kok," goda Marno sambil menyodorkan segelas es cendol.

​Baskara tersenyum kecut. "Aku cuma masih nggak percaya, Mar. Bulan lalu tempat ini hampir disegel, sekarang warga malah pesta pora."

​"Itu karena Ibu Kades otaknya encer, Pak. Tapi..." Marno merendahkan suaranya, "Bapak sudah dengar soal tamu yang menginap di penginapan kecamatan? Katanya orang dari Jakarta. Mobilnya mewah sekali, tapi kacanya gelap semua."

​Kening Baskara berkerut. "Siska lagi?"

​"Bukan. Katanya laki-laki. Dia tanya-tanya soal lokasi Gudang Tua yang terbakar itu."

​Di sisi lain, Arum merasa punggungnya sedikit merinding. Bukan karena angin malam, tapi perasaan tidak enak yang selalu muncul sebelum badai datang. Ia mencoba tetap tersenyum saat Bu Tejo memuji-puji keberaniannya melawan preman tempo hari.

​"Jeng Arum itu ya, sudah cantik, jago silat, jago angka lagi! Pak Kades ini untung besar!" cerocos Bu Tejo sambil mengunyah kacang rebus.

​"Ah, Bu Tejo bisa saja. Semuanya kan karena bantuan doa ibu-ibu juga," jawab Arum rendah hati.

​Tiba-tiba, seorang pria asing dengan setelan safari abu-abu melangkah masuk ke kerumunan. Langkahnya tenang, namun auranya sangat berbeda dengan warga desa. Ia berjalan langsung menuju arah Arum, melewati Baskara tanpa menoleh sedikit pun.

​"Nyonya Arum Ayundari?" suara pria itu berat dan teratur.

​Arum meletakkan gelas tehnya. "Ya, saya sendiri. Bapak siapa?"

​Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tinta emas. "Hendrawan. Kurator Koleksi Nasional."

​Arum menatap kartu itu, lalu menatap mata pria di depannya. Dingin. "Kurator? Malam-malam begini ke desa terpencil hanya untuk pesta rakyat kami?"

​"Saya tidak tertarik dengan pestanya," ujar Hendrawan sambil melirik ke arah gudang tua di kejauhan yang masih menyisakan puing hitam. "Saya tertarik dengan apa yang Anda temukan di bawah tanah sebelum gudang itu terbakar. Kabar soal lempengan kuningan itu sudah sampai ke telinga kolektor kami di Jakarta. Dan saya di sini untuk memastikan benda-benda itu jatuh ke tangan yang... 'tepat'."

​Arum merasakan detak jantungnya meningkat. Ia tahu Hendrawan bukan petugas pemerintah biasa. Bahasa tubuhnya lebih mirip predator daripada kurir seni.

​"Maaf, Pak Hendrawan. Semua temuan sudah kami serahkan ke pihak berwajib untuk diteliti," jawab Arum tenang, meski tangannya mulai mengepal di balik kain kebayanya.

​Hendrawan tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Nyonya Arum, jangan naif. Beberapa hal di dunia ini terlalu berharga untuk sekadar jadi pajangan museum yang berdebu. Kolektor saya bisa memberikan dana pembangunan untuk desa ini... jumlah yang cukup untuk membangun sepuluh balai desa baru."

​Baskara yang menyadari situasi mulai tidak nyaman, segera mendekat. "Ada masalah di sini?"

​Hendrawan menatap Baskara sebentar, lalu kembali ke Arum. "Tidak ada masalah, Pak Kades. Hanya penawaran bisnis yang sangat menguntungkan. Pikirkan baik-baik, Nyonya. Terkadang, menjaga sejarah itu jauh lebih berbahaya daripada membakarnya."

​Pria itu berbalik dan menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Arum dan Baskara dalam keheningan di tengah musik gamelan yang masih bertalu-talu.

​Arum merogoh ponsel di saku kebayanya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang ia gunakan untuk memantau server desa.

​"Peringatan: Upaya peretasan terdeteksi pada folder 'Arsip Gudang Tua'. Lokasi IP: Jakarta Pusat."

​Arum menatap suaminya dengan wajah pucat. "Mas... pesta ini harus berakhir. Mereka bukan cuma mengincar tanah kita lagi."

​"Lalu apa?" tanya Baskara cemas.

​Arum berbisik lirih, "Mereka mengincar sesuatu yang lebih tua dari desa ini. Sesuatu yang kalau terungkap, bisa membuat seluruh Desa Makmur Jaya terhapus dari peta."

​Tepat saat itu, lampu di seluruh Balai Desa mendadak mati total. Kegelapan pekat menyergap, diikuti suara teriakan panik dari warga. Di tengah kegelapan, Arum merasakan sebuah tangan kasar membekap mulutnya dari belakang.

Tubuh Arum menegang hebat. Bau tembakau cengkih yang menyengat dari lengan yang membekapnya membuat paru-parunya serasa tersumbat. Ia mencoba meronta, tumitnya menendang ke belakang sekuat tenaga, namun penculiknya jauh lebih kuat. Ia diseret menjauh dari pendopo, menembus rimbunnya pohon kamboja yang aromanya mendadak terasa seperti bau kematian.

​"Diam atau lehermu yang patah!" desis sebuah suara di telinganya.

​Di tengah kegelapan total, Arum mendengar suara ricuh di pendopo. Suara Baskara yang meneriakkan namanya terdengar panik, namun suaranya kian menjauh tertutup oleh riuh warga yang saling tabrak karena gelap.

​Mas Baskara... batin Arum pilu.

​Tiba-tiba, senter kecil dari ponsel penculiknya menyala, menyorot jalanan setapak yang licin menuju arah sungai. Saat itulah Arum melihat kesempatan. Ia tidak lagi meronta menjauh, melainkan justru melemaskan tubuhnya, menjatuhkan berat badannya ke bawah.

​Teknik beban mati ini membuat si penculik kehilangan keseimbangan sejenak. Dengan gerakan kilat yang ia pelajari dari kelas bela diri taktis, Arum menggigit lengan yang membekapnya sekuat tenaga.

​"AAARGH!"

​Pekikan itu tertahan, namun cukup untuk membuat pegangan pria itu mengendur. Arum segera melepaskan diri, berguling di tanah yang becek, dan berlari ke arah berlawanan. Namun, ia tidak lari ke arah kerumunan pesta. Ia tahu di sana ia akan mudah terjepit. Ia berlari ke arah kantor BUMDes yang pintunya menggunakan kunci digital berbasis baterai satu-satunya tempat yang masih bisa ia akses tanpa listrik PLN.

​TAP! TAP! TAP!

​Langkah kaki berat mengejarnya di belakang. Arum bisa merasakan adrenalin memompa jantungnya hingga telinganya berdenging. Ia sampai di depan pintu BUMDes, jemarinya bergetar saat menekan kode akses di panel yang menyala redup.

​1-9-0-7...

​CEKLEK.

​Pintu terbuka. Arum menghambur masuk dan segera mengunci pintu dari dalam. Detik berikutnya, suara hantaman keras menghantam daun pintu kayu jati itu.

​DUAK! DUAK!

​"Buka pintunya, Nyonya! Anda tidak bisa lari!" teriak pria dari luar.

​Arum bersandar di pintu, napasnya memburu, peluhnya menetes merusak riasan bedaknya yang tipis. Ia meraba ponsel di sakunya. Layarnya masih menyala, menampilkan data peretasan yang tadi sempat ia lihat. Tangannya yang gemetar mulai mengetik sesuatu di layar. Ia tidak menelepon polisi, ia tidak menelepon Baskara. Ia tahu sinyal sedang diacak.

​Ia masuk ke sistem cadangan server desa melalui jalur satelit terbatas yang ia pasang secara rahasia bulan lalu.

​"Kalau kalian mau data ini, kalian tidak akan mendapatkannya dalam keadaan utuh," bisik Arum pada kegelapan ruangan.

​Jemarinya menari di layar, mengaktifkan protokol self-destruct pada folder 'Arsip Gudang Tua'. Namun, di tengah proses itu, layar ponselnya mendadak berubah menjadi putih total. Sebuah logo organisasi yang tidak ia kenali muncul, dan sebuah suara mekanis keluar dari speaker ponselnya.

​"Selamat malam, Arum Ayundari. Anda baru saja menyentuh aset yang bukan milik Anda. Kami beri waktu lima menit untuk menyerahkan kunci enkripsi asli, atau suami Anda di luar sana tidak akan pernah melihat matahari esok pagi."

​Arum membeku. Di luar, suara hantaman di pintu mendadak berhenti. Digantikan oleh suara Baskara yang merintih kesakitan, diikuti suara tawa dingin Hendrawan yang terdengar dari balik pintu.

​"Arum... buka pintunya, atau aku pastikan wajah tampan suamimu ini cacat selamanya," suara Hendrawan terdengar santai, namun mematikan.

​Air mata Arum jatuh, membasahi kain kebayanya. Ia terjebak. Di tangannya ada sejarah besar desa yang bisa menyelamatkan ribuan warga, tapi di luar sana, nyawa pria yang ia cintai sedang dipertaruhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!